"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 Makan Malam Penuh Sandiwara
Sarah duduk angkuh di kursi utama bagaikan seorang penguasa rumah. Di sisi kanannya, Siska dengan sengaja memilih kursi yang menempel tepat di sebelah Ardy.
Sesekali, wanita itu memiringkan tubuhnya, menyandarkan bahu ke lengan Ardy sambil tersenyum manja, seolah ingin menegaskan kepada seluruh penghuni rumah siapa yang kini paling berhak berada di sisi pria itu.
Sedangkan Kirana, datang paling akhir. Ia menarik kursinya dengan tenang, lalu duduk tanpa memedulikan tatapan mengintimidasi dari tiga orang di hadapannya.
“Selamat malam, semuanya,” sapa Kirana santai, seolah tanpa beban.
Hening. Tak ada satu pun yang menjawab sapaannya. Kirana hanya tersenyum samar, lalu mulai mengambil sup hangat ke dalam mangkuk. Baru dua suap kuah kaldu itu menyentuh lidahnya, tiba-tiba terdengar suara rintihan yang dibuat-buat.
“Hoekkk..” Siska buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya mendadak dipucatkan, matanya memicing menahan mual.
Ardy yang sedang memotong daging langsung meletakkan pisaunya dan menoleh panik. “Siska? Kamu kenapa?”
Wanita itu memegang dadanya sambil memejamkan mata erat-erat. “Nggak tahu Mas, rasanya mual banget.”
Belum sempat ada yang memberikan gelas air, Siska langsung berdiri tergesa-gesa sambil membekap mulutnya. Ia berlari menuju wastafel di dekat pantri.
Ardy refleks berdiri, membuang serbet nya dan ikut mengejar Siska. “Siska! Pelan-pelan jalannya!”
Sarah yang juga ikut panik, bangkit dari kursinya. “Astaga, Siska?”
Di tengah kepanikan itu, Kirana hanya melirik sekilas dari sudut matanya, lalu kembali menyendok supnya dengan tenang, seolah yang baru saja terjadi hanyalah angin lalu.
Di wastafel, Siska sengaja memuntahkan sedikit ludahnya agar terdengar meyakinkan.
“Hoekkk!”
Begitu langkah kaki Ardy terdengar mendekat, Siska langsung memutar tubuh dan menjatuhkan dirinya ke pelukan pria itu.
“Mas, kepalaku pusing banget,” rengeknya manja. Sengaja mencari perhatian lelaki itu.
Ardy memeluk pundaknya erat, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. “Kita ke rumah sakit sekarang, ya? Biar diperiksa.”
Siska buru-buru menggeleng. “Nggak usah, Mas. Aku nggak mau ke rumah sakit.”
“Tapi wajahmu pucat sekali, Siska.”
Siska menggigit bibir bawahnya, menatap Ardy dengan mata berkaca-kaca.
“Dua bulan pertama kehamilan memang begini kan, Mas? Kata dokter kemarin, mual dan muntah di trimester pertama itu sangat normal.”
Sarah, yang menyusul di belakang mereka, ikut mengangguk setuju dengan senyum lebar. “Iya, Ardy. Namanya juga perempuan hamil. Dulu Mama waktu mengandung kamu juga persis begitu. Mabuk parah.”
Siska memanfaatkan momen itu. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang Ardy.
“Mas, aku cuma butuh ditemani sama kamu.”
Ardy menghela napas, lalu mengusap punggung Siska pelan. “Iya, aku temani. Kamu jangan terlalu banyak bergerak dan kelelahan.”
Melihat pemandangan harmonis itu, Sarah tersenyum sangat puas. Ia lalu menoleh ke meja makan, menatap menantunya.
“Nah, begitu dong. Suami memang harus perhatian sama ibu dari bayinya,” ucap Sarah dengan suara yang dikeraskan. Ia tersenyum mengejek ke arah Kirana.
“Kalau ada perempuan yang mandul sih, memang nggak akan pernah tahu rasanya hamil dan disayang suami!” lanjut Sarah sinis.
Di pelukan Ardy, Siska diam-diam mengintip wajah Kirana dari kejauhan. Ia sangat berharap wanita itu akan meledak marah atau lari menangis. Namun, harapan Siska hancur. Kirana justru meletakkan sendoknya perlahan. Ia mengambil tisu, lalu mengusap sudut bibirnya dengan sangat anggun. Setelah itu, ia menatap lurus ke arah mereka bertiga dan tersenyum tipis.
“Hebat juga, ya,” ucap Kirana santai.
Semua orang serempak menoleh.
Sarah mendengus sinis. “Apanya yang hebat?”
“Aktingnya. Sangat hebat dan menjiwai. Sekali pura-pura muntah air, langsung dapat perhatian penuh satu rumah,” jawab Kirana menyandarkan punggungnya ke kursi. “Sementara dulu ada orang yang benar-benar terluka, berdarah, bahkan hampir kehilangan nyawanya, tapi tetap dianggap hanya mencari perhatian.”
Wajah Sarah langsung berubah pias. Ucapan telak itu seperti tamparan keras baginya. Siska yang merasa tersudut segera melepaskan pelukannya dari Ardy dan berusaha tersenyum paksa.
“Mbak Kirana, kamu salah paham. Aku benar-benar mual dan—”
“Oh, ya? Salah paham?” potong Kirana cepat. “Kalau memang kamu merasa menjadi ibu hamil itu sangat berat, seharusnya kamu bisa lebih menghargai perasaan perempuan lain, Siska. Bukan malah bangga merebut suami orang.”
Kirana menumpukan tangannya di meja. “Sebab suatu hari nanti, anak yang ada di perutmu itu akan tumbuh besar. Lalu dia akan bertanya padamu, Mama, dulu kenal Papa bagaimana? Kira-kira kamu akan menjawab apa? Nggak mungkin kan kamu mah menjawab kalau Papa itu suami sah orang lain, Nak. Tapi Mama merebutnya. Begitu?”
Deg! Wajah Siska langsung memerah. Ia menggigit bibirnya. “Mbak!”
Sarah yang tak terima langsung membentak keras. “Kirana! Jaga mulutmu! Bicara apa kamu ini?! Jangan sok tahu!”
Kirana menoleh santai, sama sekali tak terpancing emosi.
“Kenapa marah, Mama mertua? Aku cuma sedang mengkhawatirkan masa depan anak itu. Kasihan kalau nanti dia tahu, awal keberadaannya di dunia ini berasal dari hubungan kotor yang menyakiti perempuan lain.”
“Kamu benar-benar keterlaluan, Kirana!” bentak Sarah.
Seolah menuli, Kirana justru mengulas senyum yang semakin manis. “Lho? Bukannya Mama yang selalu mengajarkan kalau kita harus jujur? Kenapa sekarang malah marah saat aku mengatakan fakta?”
Sarah sampai kehabisan kata-kata. Mulutnya membuka tutup tanpa suara. Sementara itu, Siska mulai mengeluarkan air matanya. Ia menarik lengan kemeja Ardy.
“Mas... aku nggak kuat kalau terus-terusan dihina begini....”
Ardy memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia menatap istrinya dengan lelah.
“Kirana, cukup.”
“Apanya yang cukup, Mas?” tantang Kirana.
“Sudahlah, lupakan.” hanya itu tanggapan lemah yang bisa Ardy keluarkan.
“Lucu sekali. Yang bertindak merebut suami orang merasa menjadi korban yang paling tersakiti. Sedangkan istri sah yang jelas-jelas dikhianati, malah disuruh diam dan mengalah.” kalimat lugas dan menohok itu membuat Ardy terbungkam. Tak satu pun ucapan Kirana yang salah. Semuanya adalah kenyataan.
“Nafsu makanku jadi hilang melihat ini. Silakan lanjutkan makan malam keluarga bahagia kalian,” imbuh Kirana seraya melangkah pergi menjauhi meja. Namun, sebelum benar-benar menaiki anak tangga, Kirana berhenti. Ia menoleh perlahan ke arah Siska.
“Oh ya, Siska. Jaga kandunganmu itu baik-baik. Jangan terlalu sering menggunakan alasan bayi untuk berpura-pura lemah. Nanti kalau kamu terlalu sering berakting kesakitan, bisa-bisa saat terjadi sesuatu yang buruk padamu, orang-orang sudah telanjur muak dan menganggap itu cuma sandiwaramu,” lanjut Kirana lalu melangkah pergi.
Ardy tetap berdiri terpaku, menatap punggung istrinya yang menghilang. Entah sejak kapan, akhir-akhir ini setiap kali Kirana pergi meninggalkannya, justru dadanya yang terasa semakin berlubang dan kosong.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy