Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Keesokan paginya, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden ruang perawatan.
Sebelum memulai jam dinasnya sebagai dokter di rumah sakit tersebut, Kenzo sudah bersiap dengan pakaian rapi.
Namun, ada satu tugas utama yang jauh lebih penting baginya pagi ini.
Kenzo melangkah keluar kamar sebentar dan kembali membawa sebuah ember kecil berisi air hangat serta beberapa waslap steril yang baru saja ia ambil dari perawat.
"Ayo, sekarang kamu aku bersihkan dulu ya, Sayang," ucap Kenzo dengan suara baritonnya yang lembut.
Agar privasi sang istri tetap terjaga, Kenzo berjalan menuju pintu utama, lalu memutar kunci hingga terdengar suara klik.
Pintu terkunci rapat dari dalam. Ia juga menutup gorden pembatas agar suasana semakin nyaman.
Dengan penuh kehati-hatian, Kenzo membantu Liana menanggalkan pakaian pasiennya secara perlahan, memastikan selang infus dan bagian perut istrinya tidak tertekan.
Menggunakan waslap basah beraroma lembut, tangan kekar Kenzo bergerak sangat telaten dan lembut mengusap setiap jengkal kulit Liana—mulai dari leher, lengan, hingga punggung dan bagian tubuh lainnya.
Setiap kali ia menyentuh memar di kulit mulus istrinya, Kenzo membubuhkan usapan yang jauh lebih pelan, seolah takut menyakiti.
Liana yang berbaring hanya bisa menatap wajah tampan suaminya dari dekat.
Rasa haru dan sungkan bercampur menjadi satu di dadanya melihat seorang Kenzo yang perkasa dan dihormati banyak orang begitu tulus melayaninya.
"Kenzo... aku malah jadi merepotkan kamu seperti ini," cicit Liana lirih dengan tatapan bersalah.
Kenzo menghentikan gerakannya sejenak. Ia memeras waslap di dalam ember air hangat, lalu menatap manik mata Liana dengan senyuman hangat yang sanggup meluluhkan segala keraguan.
"Ini sama sekali bukan merepotkan, Sayang," bisik Kenzo lembut seraya mengusap pipi Liana yang merona.
"Ini adalah tanggung jawabku dan bentuk pengabdianku sebagai suamimu. Merawatmu dan anak kita adalah prioritas tertinggiku di dunia ini."
Setelah selesai membasuh tubuh Liana hingga segar, Kenzo memakaikan pakaian ganti yang bersih dan nyaman untuk istrinya dengan sangat perlahan.
Tak berhenti di situ, Kenzo mengambil sisir dari atas nakas, melangkah ke belakang ranjang, dan dengan penuh kelembutan menyisir rambut panjang Liana yang halus, merapikannya hingga tampak cantik kembali.
Selesai merapikan penampilan istrinya, Kenzo berjalan menuju meja depan dan mengambil nampan makanan yang baru saja diantarkan perawat.
Aroma harum dari mangkuk nasi dengan kuah sup ayam hangat dan perkedel emas yang renyah seketika memenuhi ruangan.
Kenzo duduk di sisi brankar, mulai menyuapi Liana dengan sabar.
"Nanti Rista akan kemari menjagamu, Sayang. Aku harus ada jadwal praktik dan visit pasien sampai jam dua siang nanti," ujar Kenzo memberi tahu jadwalnya. Ia mengecup pipi Liana singkat.
"Kamu di kamar jangan bosan ya, Sayang?"
Liana menganggukkan kepalanya dengan patuh sembari mengunyah makanan.
Namun, saat Kenzo hendak menyuapkan sendok berikutnya, Liana mendadak menahan lengan suaminya. Matanya berbinar-binar penuh permintaan.
"Ken... aku mau manisan mangga," bisik Liana dengan nada menggebu-gebu yang menggemaskan.
Kenzo terkekeh pelan, senyuman hangat terkembang di wajah tampannya.
Ia mengusap lembut perut Liana yang masih datar.
"Wah... sepertinya si kecil di dalam sini sudah mulai menggoda ayahnya, ya? Mengidam manisan mangga pagi-pagi begini."
Liana tersenyum malu-malu dan mengangguk pelan.
Kenzo mengecup kening Liana dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Sayang. Nanti siang selesai jadwal praktik, aku langsung carikan manisan mangga yang paling enak buat kamu dan si kecil."
"Sayang, melihatmu cantik dan segar seperti ini, aku jadi malas bekerja," celetuk Kenzo sambil tertawa kecil, menatap wajah istrinya yang kini jauh lebih berseri.
Liana tersenyum manis, jemari lentiknya bergerak menggenggam erat tangan suaminya yang hangat.
Rasa bahagia melingkupi dadanya melihat perhatian Kenzo yang begitu luar biasa.
Tok... tok...
Suara pintu kamar rawat yang terbuka memecah kemesraan mereka.
Pintu terdorong pelan, memperlihatkan Rista yang melangkah masuk.
Namun, pandangan Kenzo dan Liana seketika tertuju pada satu detail yang tak biasa: jemari Rista erat menggenggam tangan Mario yang berjalan di sampingnya!
Kenzo menaikkan sebelah alisnya, menghentikan suapan supnya.
Tatapan matanya berganti antara Rista dan Mario dengan senyum jahil yang terkembang.
"Apakah kalian berdua sudah resmi jadian?" tanya Kenzo langsung tanpa basa-basi, suaranya sarat akan nada godaan.
"Sudah, Bos!" sahut Mario cepat. Pria bertubuh tegap itu menganggukkan kepalanya dengan percaya diri, tanpa ada niat sedikit pun untuk melepaskan genggaman tangannya dari Rista.
"Gara-gara nasi kucing andalan geng kita kemarin malam, akhirnya Rista langsung klepek-klepek sama aku," tambah Mario bangga sambil terkekeh pelan.
Liana yang melihat pemandangan langka itu tak bisa menahan tawa kecilnya.
Matanya berbinar menatap sahabat karibnya yang kini wajahnya sudah memerah padam seperti kepiting rebus.
"Betulkah itu, Sahabatku?" goda Liana dengan nada jenaka.
"Secepat itu kamu takluk sama Mario?"
Rista yang salah tingkah hanya bisa memutar
kedua bola matanya, membuang muka demi menutupi rasa malunya yang membumbung tinggi.
"Habisnya... nasi kucingnya enak banget! Lagipula Mario juga yang maksa!" elak Rista asal, membuat seluruh ruangan kamar rawat itu seketika dipenuhi gelak tawa hangat.
Kenzo kemudian bangkit dari duduknya, merapikan Snelli atau jas putih dokternya yang tergantung di kapstok, lalu memakaikannya dengan sangat rapi di atas tubuh tegapnya.
Aura pimpinan geng jalanan seketika menguap, berganti sepenuhnya menjadi sosok dokter spesialis kandungan yang karismatik dan dihormati.
Ia melangkah mendekati brankar Liana, menunduk untuk mengecup kening sang istri cukup lama, lalu berpindah membisikkan kata manis di telinga Liana.
"Sekarang suamimu ini pamit kerja dulu di lantai bawah ya, Sayang. Ingat, jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi, dan tunggu manisan manggamu siang nanti," bisik Kenzo lembut, dibalas anggukan manis dan senyuman hangat dari Liana.
Kenzo membalikkan badan, menatap Rista yang berdiri di samping Mario dengan raut wajah kepemimpinannya yang tegas namun ramah.
"Rista, aku titip istriku dulu ya. Kalau ada apa-apa atau Liana merasa tidak nyaman sedikit pun, langsung hubungi aku atau panggil perawat jaga," pesan Kenzo penuh penekanan.
Rista menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Siap, Dok! Tenang saja, sahabatku aman di tanganku. Kamu fokus saja menangani pasien di bawah."
"Bagus. Mario, kamu ikut aku sebentar ke ruangan," panggil Kenzo pada anak buah setianya itu.
Mario mengangguk patuh, melepaskan genggaman tangannya dari Rista sebentar setelah menepuk pelan punggung tangan gadis itu.
Kenzo melambaikan tangan sekali lagi pada Liana sebelum melangkah keluar kamar rawat, siap menjalankan tugas medisnya sembari menanti jam istirahat siang untuk memanjakan sang istri tercinta.
Sementara itu, di sebuah sel tahanan kantor kepolisian yang dingin dan lembap, Roy meringkuk di sudut ruangan.
Tubuhnya penuh memar kebiruan dan luka bekas amukan Kenzo kemarin di pelabuhan.
Baju yang mengenakannya kotor bertabur debu dan bercak darah yang mengering.
Ia menatap kosong ke lantai semen yang dingin, napasnya tersengal pelan.
Di dalam benaknya, rasa tidak percaya dan dendam masih membakar hebat. Bagaimana mungkin seorang Kenzo ternyata adalah sosok kryptonite mengerikan yang mampu meratakan geng Red Skull seorang diri dan membuatnya tak berdaya hanya dalam hitungan detik?
"Sialan... Kenzo... aku tidak akan melepaskanmu..." geram Roy dengan suara parau yang tertahan.
TAK! TAK! TAK!
Suara ketukan langkah sepatu pantofel yang tegas memecah keheningan koridor tahanan.
Langkah itu berhenti tepat di depan jeruji besi sel tempat Roy dikurung.
Aura dominan, dingin, dan penuh ancaman mendadak memenuhi ruangan yang pengap itu.
Roy perlahan mendongakkan kepalanya. Matanya terbelalak lebar saat melihat sosok pria bertubuh jangkung dengan setelan jas hitam mahal berdiri di balik jeruji besi.
Pria itu memiliki garis wajah yang mirip dengannya, namun dengan tatapan mata yang jauh lebih kelam dan sadis.
Dia adalah Bagas, kakak kandung Roy sekaligus pimpinan tertinggi jaringan kejahatan underground yang sangat ditakuti karena kekejamannya yang tanpa ampun.
"Lihat dirimu, Roy..." suara Bagas terdengar dingin menusuk, tanpa ada nada iba sedikit pun.
"Tersungkur seperti anjing kurapan hanya karena seorang dokter?"
"K-Kakak..." bisik Roy terbata-bata, rasa takut dan harapan mendadak bercampur menjadi satu melihat kedatangan pria yang terkenal tak memiliki hati nurani tersebut.
"Kak! Tolong keluarkan aku dari sini! Aku tidak tahan lagi, Kak! Tempat ini seperti neraka!" seru Roy histeris, merangkak mendekati jeruji besi dengan mata membelalak penuh keputusasaan.
Bagas menatap adiknya yang menyedihkan itu dari balik jeruji.
Tidak ada sedikit pun raut iba di wajah tegasnya yang dihiasi bekas luka tipis di rahang kanan.
Ia merapikan jam tangan mewahnya dengan santai sebelum membuka suara.
"Tidak semudah itu, Roy," ucap Bagas dingin, menyadarkan adiknya akan kenyataan.
"Kasusmu sudah dipegang langsung oleh kepolisian pusat karena campur tangan petinggi rumah sakit dan jaringan Black Cobra. Jika aku mengeluarkan kamu sekarang, seluruh bisnis kita di kota ini akan ikut hancur terseret."
Wajah Roy seketika pucat pasi, harapannya runtuh seketika. "Tapi Kak—"
"Tapi kamu tenang saja," potong Bagas cepat, melangkah satu pijakan lebih dekat ke besi sel. Matanya menyipit tajam, memancarkan aura membunuh yang teramat pekat hingga membuat bulu kuduk polisi yang berjaga di ujung koridor meremang.
"Aku yang akan menghabisi nyawa dokter itu dengan tanganku sendiri," bisik Bagas penuh ancaman.
"Bukan hanya dia... istri dan anak di dalam kandungannya akan kubuat menyulut penyesalan terdalam karena berani menyentuh adiknya Bagas."
Roy tertegun, lalu seringai licik perlahan terukir di bibirnya yang pecah-pecah.
Ia tahu persis, jika kakaknya sudah turun tangan, tidak akan ada satu pun target yang selamat dari pembantaian darah dingin sang Iblis Underground.
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,
sehat2 selalu kak ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
sumpah kak Lo bikin deg degan