NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Musuh Baru

"Kenapa..." gumam Sebastian, "tidak sakit?"

Pertanyaan itu jatuh di aula kecil seperti gelas pecah.

Felicia menatap tangannya sendiri, lalu tangan Sebastian. Kontak kulit sudah lepas, tetapi efeknya belum selesai. Siswa Kelas Olimpiade yang biasanya tenang kini berdiri kaku. Guru di depan layar tampak ingin bertanya, tetapi tidak tahu apakah pertanyaan itu akan mempermalukan pewaris keluarga Widjaja.

Sebastian akhirnya mengangkat mata.

Tatapannya langsung mengunci Felicia.

"Feli," katanya pelan.

Nama itu terdengar formal di mulutnya, tetapi seluruh aula mendengarnya seperti sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Sebastian Widjaja tidak memanggil orang tanpa alasan. Ia juga tidak membiarkan siapa pun cukup dekat untuk mendapat alasan.

Felicia menjawab ringan, "Kopinya tidak kena."

"Bukan itu yang kutanyakan."

"Aku tahu."

"Kalau begitu?"

Felicia melihat tisu antiseptik di meja, lalu kembali pada Sebastian. "Kumpulkan data dulu. Kesimpulan setelah itu."

Sebastian terdiam.

Untuk seorang jenius yang terbiasa memberi jawaban sebelum orang lain selesai membaca soal, ditahan pada tahap pengumpulan data jelas bukan pengalaman menyenangkan.

Namun ia tidak marah.

Mata biru gelapnya justru makin fokus.

Sis berbisik, "Tuan Rumah, dia tertarik."

"Mereka semua mulai tertarik."

"Itu bagus, kan?"

Felicia melirik siswa-siswa yang pura-pura tidak merekam dengan ponsel diturunkan setengah. "Tergantung siapa yang ikut terganggu."

Jawabannya datang sebelum jam makan siang.

Video Sebastian yang tidak langsung membersihkan tangannya menyebar lebih cepat daripada video bulu tangkis. Dalam satu jam, grup-grup siswa penuh potongan rekaman tanpa konteks. Ada yang memperbesar wajah Sebastian. Ada yang memperlambat bagian ketika jari telanjangnya menyentuh telapak Felicia.

Caption paling populer sederhana.

Sebastian bisa disentuh Felicia?

Di koridor utama, Felicia melihat reaksi pertama dari orang yang benar-benar merasa terganggu.

Clarissa Tanuwijaya berdiri di tengah lorong dengan dua siswi di belakangnya.

Ia cantik dengan cara yang mahal. Rambutnya jatuh bergelombang rapi, tas kecilnya jelas bukan barang yang dibeli karena fungsi, dan caranya berdiri membuat orang lain otomatis menepi. Matanya menyapu Felicia dari sepatu sampai rambut, lalu berhenti di wajah.

"Jadi ini yang bikin sekolah ribut sejak kemarin," katanya manis.

Felicia berhenti. "Kamu siapa?"

Salah satu siswi di belakang Clarissa langsung tersinggung. "Kamu nggak kenal Clarissa Tanuwijaya?"

"Harus?"

Wajah Clarissa tidak berubah, tetapi jari-jarinya mengencang di tali tas.

Sis cepat memberi data. "Clarissa Tanuwijaya. Kerabat keluarga Tanuwijaya. Status sosial tinggi. Tidak suka tubuh lama Tuan Rumah karena dianggap noda di lingkaran keluarga."

"Kerabat Calvin?"

"Iya. Dan dari cabang keluarga yang merasa lebih pantas mendapat perhatian."

Clarissa tersenyum lebih lebar. "Aku dengar kamu belakangan ini sering sekali dekat dengan F4. Calvin, Jayden, Nathan, bahkan Sebastian. Hebat juga untuk seseorang yang dulu menunduk saja gemetar."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Aku tetap menerimanya."

Bisikan muncul di kanan kiri lorong. Beberapa siswa jelas menikmati pertemuan dua dunia ini: gadis Kelas F yang mendadak naik dan nona Tanuwijaya yang sejak lahir berada di atas.

Clarissa melangkah mendekat. "Dengar baik-baik. Paviliun F4 bukan tempat untuk orang yang tidak tahu diri. Calvin juga bukan mainan yang bisa kamu tarik dengan wajah polos."

Felicia menatapnya tanpa minat. "Sudah selesai?"

Senyum Clarissa pecah sedikit.

Sebelum ia sempat membalas, suara lembut datang dari belakang kerumunan.

"Clarissa, koridornya jadi macet."

Kerumunan membuka jalan.

Yesika Prasetyo berjalan masuk dengan senyum yang membuat suasana langsung berubah. Seragamnya sama dengan siswa lain, tetapi ia memakainya seolah sekolah yang mengikuti bentuk tubuhnya. Rambutnya panjang, wangi parfumnya halus, dan matanya cukup hangat untuk membuat orang lupa bahwa ia baru saja mengambil alih panggung.

Kalau Clarissa adalah pisau yang dipamerkan, Yesika adalah sarung sutra yang menyembunyikan pisau lebih tajam.

Bisikan di lorong berubah nada begitu nama Yesika muncul.

Dewi Akademi.

Wajah utama video promosi sekolah.

Pemilik akun media sosial siswa paling rapi, paling aman, dan paling sering dibagikan ulang oleh akun resmi Akademi Bintang Mulia. Guru menyukainya karena ia selalu tahu kapan harus menunduk sopan. Siswa menyukainya karena ia memberi senyum yang membuat orang merasa dipilih meski hanya lewat satu detik.

Felicia langsung memahami jenis kekuatannya.

Clarissa menekan orang dengan nama keluarga.

Yesika membuat orang menekan diri sendiri demi tetap disukai olehnya.

Di dunia lama, tipe seperti ini tidak berdiri di garis depan. Mereka berdiri di belakang peta, memindahkan bendera kecil, lalu membuat orang lain mati dengan sukarela.

"Felicia, kan?" Yesika tersenyum. "Aku Yesika. Senang akhirnya bisa bicara langsung."

"Akhirnya?"

"Sejak kemarin namamu ada di mana-mana." Yesika tertawa kecil, ramah di permukaan. "Sulit tidak penasaran."

Clarissa mendecih. "Kamu terlalu baik pada orang seperti dia."

Yesika menoleh pelan. "Aku hanya tidak mau ada keributan di lorong. Tidak enak dilihat guru."

Kalimat itu terdengar menenangkan.

Tetapi Felicia menangkap bagian yang tidak diucapkan: keributan boleh terjadi di tempat yang lebih tepat, dengan penonton yang lebih berguna.

Felicia tersenyum tipis.

Yesika melihat senyum itu. Untuk pertama kalinya, matanya berhenti menjadi hangat.

Hanya sepersekian detik.

Cukup.

"Kalau tidak ada urusan," kata Felicia, "aku mau makan."

Ia berjalan melewati keduanya.

Clarissa menahan amarah sampai Felicia hilang di belokan. Setelah itu, ia berbalik pada Yesika. "Kamu lihat? Dia sengaja."

Yesika tetap memandang arah Felicia pergi. "Aku lihat."

"Dia pikir bisa mempermainkan semua orang karena empat cowok itu mulai memperhatikan dia."

"Mungkin dia memang bisa," jawab Yesika lembut.

Clarissa menatapnya tajam. "Kamu membela dia?"

Yesika tersenyum lagi, kali ini tanpa penonton. "Tidak. Aku hanya tidak suka meremehkan lawan."

Sore itu, di ruang klub kosong dekat aula, Clarissa meletakkan ponselnya di meja. Di layar, ada potongan video Felicia menarik tangan Sebastian, foto Nathan memberikan air, dan pesan anonim tentang balapan Jayden.

Yesika duduk di seberangnya, jari mengetuk pelan permukaan meja.

"Dia suka panggung," kata Yesika.

Clarissa menyipit. "Maksudmu?"

"Kalau begitu, kita beri panggung."

Clarissa mulai tersenyum.

Yesika menggeser ponsel, membuka jadwal acara sekolah minggu itu: seleksi perwakilan turnamen campuran dan sesi dokumentasi OSIS untuk media sosial akademi.

"Di tempat paling ramai," lanjut Yesika. "Dengan kamera resmi."

"Cabangnya?"

"Ganda campuran. Peserta mendadak, pasangan ditentukan panitia." Yesika menatap Clarissa. "Kalau pasangan Felicia sengaja dibuat lemah, semua orang akan melihat dia tidak bisa menang sendirian."

Clarissa mengetik cepat. "Dan kalau dia marah?"

"Lebih bagus. Kamera resmi suka drama yang terlihat seperti ketidaksopanan."

Clarissa menatap nama Felicia di layar yang baru saja ia ketik.

"Bagus," katanya. "Kita lihat dia masih bisa sombong lagi atau tidak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!