Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Pesta Perusahaan, Brandon Menggila
"Kita lihat seberapa lama Kevin bisa menjagamu."
Brandon Surya tidak menunggu lama untuk membuktikan ancamannya.
Dua hari setelah insiden tiga sekretaris, Surya Group mengadakan mid-year networking party di rooftop lounge salah satu gedung milik grup. Acaranya lebih santai daripada annual dinner, tetapi justru lebih berbahaya. Tidak ada meja panjang keluarga, tidak ada Hendrik yang duduk mengawasi. Yang ada hanya musik, lampu kota Jakarta, mocktail warna-warni, para eksekutif muda, influencer bisnis, dan kamera ponsel yang selalu siap merekam.
Felicia berdiri di depan cermin The Residence, menatap undangan digital di ponsel.
"Ini wajib?"
Kevin, yang sedang memasang jam tangan, menjawab, "Ya."
"Karena?"
"Brandon akan datang."
Felicia menoleh. "Itu justru alasan untuk tidak datang."
"Dia akan bertindak kalau kamu tidak ada di dekatku."
*Logika cowok es batu: kalau ada serigala, masuk kandang serigala sambil bawa pisau. Oke juga.*
Kevin mengangkat mata.
"Aku dengar itu dari wajahmu," katanya sebelum Felicia bertanya.
Felicia menunjuk wajahnya. "Wajah saya makin lama makin informan."
Mereka berangkat bersama Adi dan dua staf keamanan. Di mobil, Si Kepo muncul dengan nada terlalu ceria untuk situasi yang mencurigakan.
***"Host! Misi opsional tersedia: cegah Brandon mempermalukanmu di pesta. Reward: 150 poin. Bonus jika efek malu viral."***
Felicia menahan senyum. "Viral bonus?"
Kevin menoleh. "Apa?"
"Saya bilang pestanya mungkin viral."
"Jangan membuat masalah."
"Saya? Tidak pernah."
*Saya hanya memperbaiki masalah sampai bentuknya lucu.*
Kevin menatapnya lebih lama. "Felicia."
"Baik. Saya akan berhati-hati."
Rooftop lounge sudah ramai saat mereka tiba. Lampu gantung kecil membentuk garis di atas area terbuka. DJ memainkan musik ringan. Di satu sisi ada photobooth dengan logo Surya Group, di sisi lain bar mocktail dan meja canape. Beberapa staf muda langsung berbisik saat melihat Kevin datang bersama Felicia.
"Bu Felicia yang kemarin itu?"
"Yang bikin sekretaris Madam Liem audit restroom?"
"Cantik banget aslinya."
Felicia pura-pura tidak mendengar.
Kevin mendengar lewat perubahan napas Felicia yang sedikit bangga.
*Reputasi baru: ratu WC eksekutif. Tidak apa-apa. Semua kerajaan mulai dari wilayah kecil.*
Kevin hampir batuk.
Brandon muncul lima belas menit kemudian dengan setelan biru tua, senyum percaya diri, dan dua pria muda dari Tim Brandon di belakangnya. Ia menyapa orang-orang seolah audit Hendrik tidak pernah terjadi.
Matanya menemukan Felicia.
Lalu ia datang.
"Felicia," sapanya. "Kamu makin bersinar di setiap acara."
Kevin berdiri di samping Felicia. "Jauh."
Brandon tertawa. "Santai, Kev. Ini acara perusahaan. Kita semua keluarga."
"Keluarga tidak memalsukan chat."
Senyum Brandon menegang. Beberapa orang di dekat mereka langsung pura-pura melihat pemandangan kota.
Felicia mengambil segelas sparkling lychee dari pelayan, lalu tersenyum. "Kak Brandon pasti sibuk sejak audit."
"Tidak sesibuk yang kamu kira." Brandon mendekat sedikit. "Aku justru punya waktu memperhatikan hal-hal menarik."
*Ew. Kenapa kalimatnya licin sekali? Seperti lantai mall baru dipel.*
Kevin mengambil gelas dari tangan Felicia dan menaruhnya di meja.
"Minum dari Adi saja," katanya.
Felicia langsung paham.
Brandon juga paham, tapi ia pura-pura tertawa. "Paranoid sekali."
"Pengalaman," kata Kevin.
Brandon pergi dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
***"Host, peringatan. Tim Brandon membawa dua gelas khusus. Salah satunya mengandung zat ringan pemicu pusing dan hilang fokus. Target kemungkinan kamu."***
Felicia menatap arah bar.
*Oh, jadi mau bikin aku mabuk palsu, lalu direkam? Murahan. Bahkan villain pun harus punya standar.*
"Si Kepo, Happy Crazy Pill tersedia?"
***"Tersedia. Harga 120 poin. Efek: target kehilangan filter malu, hiperaktif, menyanyi/menari/berbicara impulsif 8 sampai 12 menit. Aman, tidak merusak tubuh. Cooldown panjang."***
"Beli."
***"Pembelian berhasil. Inventory diperbarui."***
Kevin yang mendengar rangkaian pikiran itu menoleh tajam.
"Felicia."
"Ya?"
"Jangan."
Felicia tersenyum polos. "Saya belum melakukan apa-apa."
"Aku tahu."
Ia berhenti.
Felicia menyipit.
"Maksudku, aku tahu wajahmu."
"Mas Kevin benar-benar harus berhenti memfitnah wajah saya."
Rencana Brandon berjalan dua puluh menit kemudian. Salah satu anak buahnya, seorang pria bernama Donny Liem, mendekati Felicia dengan dua gelas mocktail.
"Bu Felicia, dari Kak Brandon. Katanya sebagai permintaan maaf kecil."
Felicia tersenyum. "Wah, baik sekali."
Kevin sudah bergerak, tapi Felicia lebih dulu mengambil salah satu gelas. Dalam gerakan memutar tubuh untuk menyapa staf lain, ia menukar posisi gelas dengan gelas Brandon yang ada di meja tinggi dekat bar. Satu butir kecil dari Inventory jatuh ke mocktail Brandon, larut tanpa jejak.
Semua berlangsung dalam dua detik.
Kevin melihat.
Adi juga melihat.
Adi menatap Kevin, menunggu perintah.
Kevin diam.
Felicia mengangkat gelasnya pada Brandon dari jauh, lalu meletakkannya tanpa meminum.
Brandon, yang mengira gelasnya aman, mengambil mocktail di meja dan meneguk setengah.
***"Hitung mundur dimulai."***
Felicia berdiri di sisi Kevin dengan wajah malaikat.
*Tiga, dua, satu...*
Awalnya tidak ada yang terjadi.
Brandon masih berbicara dengan dua direktur muda. Ia tertawa, menepuk bahu seseorang, lalu mendadak berhenti.
Matanya membesar.
"Musiknya kurang seru," katanya.
Direktur muda itu bingung. "Apa, Pak?"
Brandon berbalik ke DJ. "Ganti lagu! Yang bisa bikin hati terbakar!"
DJ mengira itu candaan. Beberapa orang tertawa.
Lalu Brandon naik ke panggung kecil.
Kevin memejamkan mata.
Felicia menggigit bibir agar tidak tertawa terlalu cepat.
Brandon mengambil mikrofon. "Teman-teman Surya Group! Malam ini kita harus jujur!"
Madam Liem yang baru tiba di sisi rooftop langsung berhenti.
"Brandon," panggilnya tajam.
Terlambat.
Brandon menunjuk dadanya sendiri. "Kalian tahu capeknya jadi pewaris sempurna? Capek! Semua orang pikir gue keren, playboy, paling jago. Padahal kadang gue cuma ingin tidur dan tidak dengar Mama ngomel soal Kevin!"
Rooftop membeku.
Lalu ponsel mulai terangkat.
Satu.
Lima.
Sepuluh.
Felicia berbisik, "Viral bonus aktif."
Kevin menatapnya.
"Apa?"
"Tidak ada."
Brandon mulai menyanyi. Bukan lagu yang ada di playlist. Ia menyanyikan potongan lagu cinta lama dengan nada kacau, lalu turun dari panggung dan menari di antara meja cocktail. Gerakannya terlalu percaya diri untuk seseorang yang koordinasinya sedang hancur.
"Kevin!" serunya sambil menunjuk adik tirinya. "Lo pikir lo keren karena diam terus? Gue juga bisa diam kalau mau! Tapi gue memilih bersinar!"
Jason yang entah sejak kapan datang di sisi lain rooftop langsung mengeluarkan ponsel. "Ini sejarah."
Kevin menatapnya tajam.
Jason menurunkan ponsel sedikit. "Oke, gue tidak upload. Tapi gue simpan untuk arsip mental."
Brandon berputar, hampir menabrak meja canape. Donny dan dua anak buahnya mencoba menariknya, tapi Brandon justru memeluk Donny.
"Donny! Sepupu terbaik! Jangan pinjam uang gue lagi!"
Donny pucat.
Tawa pecah di beberapa sudut. Orang-orang mulai berbisik lebih keras.
"Itu Brandon Surya?"
"Dia mabuk?"
"Acara corporate kok jadi konser?"
"Eh, live TikTok siapa itu?"
Felicia melihat satu staf muda panik mematikan live, tapi terlambat. Potongan Brandon menyanyi sudah menyebar ke story beberapa tamu.
Madam Liem bergerak cepat. "Matikan musik. Bawa Brandon turun."
Namun Brandon masih punya satu klimaks.
Ia merebut mic lagi dan berteriak, "Siapa yang bilang gue takut audit? Gue tidak takut! Utang itu seni bertahan hidup!"
Hendrik tidak hadir, tapi beberapa direksi senior yang hadir langsung saling pandang.
Kevin berkata pada Adi, "Amankan rekaman internal. Jangan bocor dari pihak kita."
"Baik, Pak."
Felicia meliriknya. "Mas Kevin tidak mau memviralkan?"
"Tidak perlu. Orang lain sudah melakukan."
*Benar juga. Kadang kita cukup buka jendela, angin gosip masuk sendiri.*
Efek Happy Crazy Pill berakhir setelah hampir sepuluh menit. Brandon akhirnya duduk di sofa VIP dengan wajah kosong, napas berat, dan keringat di pelipis. Ia mulai sadar ketika melihat puluhan mata menatapnya.
"Apa yang terjadi?"
Tidak ada yang menjawab.
Madam Liem berdiri di depannya, wajahnya putih karena marah.
Di sisi lain rooftop, dua staf PR Surya Group bergerak panik meminta tamu menghapus story. Usaha itu sia-sia. Dalam hitungan menit, potongan video Brandon sudah muncul di beberapa akun gosip bisnis anonim.
@jakarta_boardroom menulis: Anak konglomerat nyanyi soal utang di rooftop? Surya Group mid-year party katanya private.
Komentar lain menyusul cepat.
Gue kira corporate party, ternyata audisi Indonesian Idol versi direksi.
Utang itu seni bertahan hidup? Quote of the year.
Ada yang punya full video? Teman gue kerja di sana tapi takut kirim.
Felicia melihat sekilas dari ponsel staf yang lewat, lalu menahan tawa. Bukan karena Brandon punya masalah, melainkan karena pria itu baru saja membuka sendiri topeng yang ia pakai untuk menyerang orang lain.
Brandon juga melihat layar salah satu anak buahnya. Wajahnya berubah dari kosong menjadi merah gelap.
"Hapus," geramnya. "Suruh mereka hapus semua!"
Tidak ada yang bergerak cukup cepat.
Felicia, dari kejauhan, menyesap minuman aman yang diberikan Adi.
***"Misi selesai. Reward 150 poin. Bonus viral: 50 poin. Total 200 poin."***
*Not bad.*
Kevin menatapnya dari samping.
"Kamu puas?"
Felicia tersenyum sopan. "Saya tidak tahu maksud Mas Kevin."
"Tentu."
"Tapi kalau seseorang berniat membuat saya pusing dan direkam, lalu malah dia sendiri bernyanyi, itu namanya karma."
Kevin diam sejenak.
"Karma cepat."
"Saya suka efisiensi."
Di sisi lain rooftop, Madam Liem menatap Felicia. Kali ini tidak ada senyum. Hanya kecurigaan tajam.
Ia menoleh pada Richard Liem yang baru datang dengan terburu-buru.
"Panggil Mbah Suryo," katanya pelan.
Richard terkejut. "Sekarang?"
"Besok. Ada sesuatu yang tidak beres dengan perempuan itu."
Di tengah lampu kota dan suara orang yang masih berbisik, Felicia merasakan tatapan itu dari jauh.
Ia mengangkat gelas sedikit ke arah Madam Liem.
*Round berikutnya, Mama? Silakan.*