Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029
Bukan Sekadar Gosip
"Kalau kamu benar-benar menyukainya, dekati dia pelan-pelan."
Kevin tidak langsung menjawab.
Di luar kaca mobil, Rayhan Purnawan menunduk untuk memastikan Kiara duduk dengan aman. Gerakan itu kecil, hampir tidak terlihat jika orang tidak memperhatikan. Tetapi Kevin memperhatikan. Terlalu memperhatikan.
Ia melihat cara Rayhan menahan pintu sampai ujung gaun Kiara masuk seluruhnya. Melihat cara pria itu mengambil tas kecil dari Santi agar Kiara tidak perlu membawa apa pun. Melihat cara Kiara menengadah dan mengatakan sesuatu yang membuat wajah dingin Rayhan melembut hanya untuknya.
Kevin mematikan pandangan itu lebih dulu.
"Tante," katanya akhirnya, "Kiara bukan orang yang bisa didekati dengan strategi."
Melinda tertawa pelan di seberang telepon. "Semua orang bisa didekati dengan cara yang tepat."
"Dia punya pilihan."
"Dan pilihan bisa berubah kalau ada orang yang lebih sabar."
Kevin memejamkan mata sebentar. Ia tidak suka nada itu. Seolah Kiara adalah proyek yang bisa diraih jika waktunya dihitung cukup rapi. Namun ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Setiap kali Kiara berdiri di depannya sebagai Putri Mahkota, sesuatu di dalam dirinya ikut bergerak.
"Aku tidak mau melibatkan urusan keluarga," katanya.
Suara Melinda tetap lembut. "Keluarga selalu terlibat, Kevin. Kamu hanya belum menyadarinya."
Telepon terputus.
Kevin duduk lama dalam mobil yang mulai dingin.
Di layar ponsel, potongan adegan dirinya dan Kiara masih berputar tanpa suara.
Ia menyentuh tombol mati.
Namun wajah Kiara tidak benar-benar hilang.
***
Hari ketiga setelah cuplikan itu viral, studio Gerbang Majapahit menerima kunjungan media terpilih.
Bukan infotainment liar seperti yang mengejar Wenny. Ini media film, reporter budaya, dan beberapa akun review yang biasa membahas sinematografi, kostum, dan kualitas akting. Ci Lucy sendiri yang menyaring daftar tamu, sementara tim produksi menegaskan tidak ada pertanyaan tentang keluarga Tanuwijaya atau insiden hotel.
Kiara berdiri di depan backdrop resmi film dengan kostum Putri Mahkota berwarna biru tua. Riasannya lebih sederhana daripada adegan istana, tetapi justru membuat wajahnya tampak jernih.
Kevin berdiri di sisi lain, cukup dekat untuk kebutuhan foto, cukup jauh untuk tidak memancing Rayhan yang berada di belakang barisan kamera.
Seorang reporter bertanya, "Banyak penonton memuji chemistry Putri Mahkota dan Jenderal Muda. Apa kalian memang banyak berdiskusi di luar adegan?"
Kevin menoleh sedikit pada Kiara.
Kiara mengambil mikrofon lebih dulu.
"Kami berdiskusi sesuai kebutuhan karakter," jawabnya tenang. "Tapi menurut saya, yang membuat adegan itu terasa kuat bukan karena Kiara dan Kevin, melainkan karena Putri Mahkota dan Jenderal Muda sama-sama berada di posisi sulit. Mereka ingin saling percaya, tapi dunia di sekitar mereka penuh pengkhianatan."
Reporter itu mengangguk, lalu bertanya lagi, "Jadi Anda tidak ingin menjual rumor pasangan layar?"
Kiara tersenyum sopan. "Saya ingin menjual film yang baik."
Beberapa orang di ruangan tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan terkesan.
Gunawan Halim yang berdiri dekat monitor langsung bertepuk tangan sekali. "Jawaban bagus. Tolong tulis besar-besar, dia aktris, bukan bahan bakar gosip."
Kevin ikut tersenyum. "Saya setuju. Kiara sangat profesional."
Rayhan tidak berkata apa-apa.
Namun Ci Lucy yang berdiri di sampingnya bisa melihat bahu pria itu sedikit turun. Jawaban Kiara jelas, rapi, dan tidak memberi ruang bagi Kevin untuk menempel terlalu dekat di luar karakter.
Wawancara berlanjut ke topik film. Kiara bicara tentang cara Putri Mahkota menyembunyikan luka di balik tata krama istana. Ia menjelaskan bahwa karakter itu bukan perempuan lemah, melainkan seseorang yang belajar diam sampai diamnya berubah menjadi senjata.
Salah satu kritikus film senior yang hadir mengangguk beberapa kali.
"Menarik," katanya. "Jarang aktris muda memahami emosi tertahan seperti itu. Biasanya adegan pengkhianatan dimainkan dengan teriakan."
Pipi Kiara menghangat, tetapi ia tetap menjawab, "Saya belajar dari hidup bahwa tidak semua luka punya suara keras."
Ruangan mendadak sunyi sebentar.
Kamera menangkap wajahnya. Bukan wajah korban. Bukan wajah gadis yang kasihan. Melainkan wajah aktris yang tahu apa yang sedang ia lakukan.
Sore itu, artikel pertama keluar dengan judul yang membuat Ci Lucy hampir menjerit di ruang make up.
Kiara Tanuwijaya Bukan Sensasi Sesaat, Ia Paham Luka Karakternya.
Santi membaca keras-keras, mata berbinar. "Kak, ini media film serius!"
Kiara menatap layar ponsel, agak tidak percaya. "Mereka benar-benar menulis soal akting."
"Tentu saja," kata Rayhan dari sofa kecil. Ia sedang memegang botol obat Kiara, memastikan jam minumnya tidak lewat. "Mereka akhirnya mengejar hal yang benar."
Kiara menoleh padanya. "Koko terdengar seperti sudah menunggu lama."
"Aku selalu tahu mereka lambat."
Jawaban itu membuat Kiara tertawa pelan.
Rasa hangat yang tumbuh di dadanya berbeda dari saat Rayhan memanjakannya. Ini bukan karena ia dilindungi. Ini karena dunia, sedikit demi sedikit, mulai melihat pekerjaannya.
Dan itu membuatnya ingin berdiri lebih tegak.
***
Menjelang malam, Kiara berjalan keluar studio bersama Santi. Rayhan sedang menerima telepon singkat dari Adi di depan mobil, memberi jarak beberapa langkah. Kevin muncul dari arah ruang latihan dengan naskah di tangan.
"Kiara," panggilnya.
Kiara berhenti. "Ada apa?"
Kevin tampak ragu sejenak. "Adegan besok cukup berat. Kalau kamu mau, kita bisa latihan dialog sebentar malam ini. Di ruang reading, tentu saja. Dengan staf."
Tawaran itu terdengar sopan. Tidak ada yang salah.
Tetapi setelah telepon Melinda, setelah berita dan komentar yang berulang kali menyandingkan nama mereka, Kevin sendiri tahu kalimat itu membawa harapan yang lebih dari sekadar latihan.
Kiara juga tahu.
Ia menatap naskah di tangan Kevin, lalu tersenyum kecil.
"Besok kita latihan di jam kerja," katanya. "Dengan Om Gunawan. Aku tidak ingin chemistry karakter dipakai orang untuk membaca sesuatu yang tidak ada."
Kevin terdiam.
Penolakan itu halus, tetapi jelas.
"Kamu takut Pak Rayhan salah paham?"
"Tidak." Kiara menoleh sebentar ke arah Rayhan yang masih berdiri di dekat mobil. "Aku menghormati pekerjaanku, dan aku menghormati hubunganku."
Kevin menunduk sedikit. "Aku mengerti."
"Terima kasih sudah menawarkan."
Kiara berjalan pergi bersama Santi. Rayhan selesai menelepon tepat ketika ia tiba. Ia tidak bertanya apa yang Kevin katakan. Ia hanya membuka pintu mobil, seperti biasa.
Kiara duduk, lalu tiba-tiba menahan pintu dengan tangan.
"Koko."
Rayhan menunduk. "Hm?"
"Aku menolak latihan malam dengan Kevin."
Mata Rayhan bergerak.
"Kenapa memberi tahu aku?"
"Supaya Koko tidak perlu menebak-nebak lalu memasang wajah dingin sepanjang jalan."
Rayhan menatapnya dua detik.
Lalu ia tertawa rendah. Sangat pelan, hampir hanya napas.
"Pintar sekali pacarku."
Kiara memerah. "Jangan mulai."
Rayhan menutup pintu dengan hati-hati, tetapi senyum tipisnya tetap ada sampai ia masuk dari sisi lain.
Di kejauhan, Kevin melihat mobil itu pergi.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan Melinda.
Pak Herman: Pulang malam ini. Ada yang perlu kita bicarakan soal Purnawan Group dan Kiara Tanuwijaya.
Kevin membaca pesan itu lama.
Di rumah Wibowo, permainan ternyata baru dimulai.