NovelToon NovelToon
Mengejar Cahaya di Musim Panas

Mengejar Cahaya di Musim Panas

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Naomi Tan tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total saat ia pindah dari Semarang ke Jakarta untuk bersekolah di SMA Nusantara Unggul — sekolah paling prestisius di Indonesia. Gadis cerdas dengan nilai akademik sempurna ini tiba-tiba harus bertahan di dunia yang dikuasai anak-anak konglomerat.

Di hari pertamanya, saat ia mengikat tali sepatunya, seseorang berjalan melewatinya — meninggalkan aroma mint yang tak bisa ia lupakan. Darren Lim, pewaris Lim Corporation, tampan dengan aura dingin namun jahil, adalah mahkota tak resmi di sekolah ini. Semua orang mengenalnya. Semua gadis menginginkannya. Dan ia sama sekali tidak tertarik — sampai Naomi mengalahkan nilainya di ujian pertama.

Cinta mereka tumbuh perlahan, dari tatapan yang dicuri di kelas hingga kencan rahasia di Taman Rahasia. Tapi dunia konglomerat tidak membiarkan cinta berjalan mulus. Vanessa Koh, putri keluarga rival yang terobsesi dengan Darren, menganggap Naomi sebagai ancaman. Richard Lim, ayah Darren yang kejam, menolak hubungan putranya dengan gadis biasa. Dan rahasia kelahiran Naomi — bahwa ia adalah anak di luar nikah dari kepala keluarga Koh — mengancam segalanya.

Mereka putus dua kali.

Pertama, karena kebohongan yang mereka percaya saat masih terlalu muda untuk bertanya. Mereka masuk ujian nasional dengan hati yang hancur — dan keluar dengan nilai tertinggi yang sama, seolah jiwa mereka tetap terhubung meski hati mereka berdarah.

Kedua, karena Darren rela berlutut di hadapan ayahnya sendiri demi melindungi Naomi. Ia pergi ke Cambridge, mengatur segalanya dari jauh agar Naomi aman — sambil menangis sendirian di kamar setiap malam.

Dua tahun berlalu. Naomi menjadi "Bintang Universitas Nusantara". Darren menjadi legenda di Cambridge. Richard Lim jatuh karena dikhianati kekasihnya sendiri.

Dan di sebuah pesta, mereka bertemu lagi.

Satu tatapan. Dua tahun kesakitan. Dan cinta yang tidak pernah padam.

Kali ini, Darren tidak akan melepaskannya. Ia melamar Naomi di Dubai, dengan air mancur menari dan kembang api yang menuliskan "I Love You Nao" di langit malam. Ia membangun kembali kerajaan keluarganya. Ia membawa Naomi ke hadapan kakek-neneknya untuk menerima gelang giok pusaka — simbol bahwa ia adalah nyonya rumah Lim yang sah.

Dan di musim panas yang sama dengan saat mereka pertama kali bertemu, mereka menikah.

"Naomi yang berusia tujuh belas tahun dan Naomi yang berdiri di hadapanku saat ini — aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."

Mencintaimu adalah satu-satunya hal yang tak pernah berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 - Foto yang Dipotong

`Kamu pikir semua orang di dekatmu benar-benar memihakmu?`

Naomi membaca kalimat itu dua kali.

Chelsea yang berdiri di belakangnya langsung mengambil kertas tersebut dengan wajah berubah keras.

"Siapa yang taruh ini?"

Naomi melihat koridor asrama. Beberapa pintu tertutup, satu pintu di ujung terbuka sedikit karena ada siswi yang sedang menjemur handuk. Tidak ada orang mencurigakan. Tidak ada langkah menjauh.

"Aku nggak tahu."

Chelsea membalik kertas itu. Kosong. "Ini sengaja. Orang ini mau bikin lo curiga sama semua orang."

Naomi tidak menjawab.

Masalahnya, kalimat itu berhasil menyentuh titik paling lelah dalam dirinya. Setelah Susan yang makin aneh, Vanessa, Vincent, Wenny, akun anonim, Naomi mulai merasa hidupnya seperti ruangan dengan terlalu banyak pintu setengah terbuka.

Chelsea meremas kertas itu. "Aku buang."

"Jangan." Naomi mengambil kembali kertas tersebut. "Simpan. Bukti."

Chelsea menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Oke. Bukti. Tapi jangan simpan di kepala."

Naomi ingin tersenyum. "Sulit."

"Aku tahu."

Keesokan harinya, sekolah mengumumkan jadwal ujian akhir semester dan simulasi UTBK. Semua orang mendadak seperti disiram air dingin. Bahkan gosip soal Naomi turun sedikit karena panik akademik lebih nyata daripada drama keluarga orang lain.

Kelas 12A berubah menjadi tempat penuh stabilo, kertas latihan, dan wajah kurang tidur.

Jason menatap jadwal yang ditempel di papan. "Aku merasa dikhianati kalender."

Kevin membalik halaman buku biologi. "Kamu memang tidak pernah percaya kalender."

"Karena kalender selalu membawa penderitaan."

Chelsea menempelkan sticky note di dahi Jason. "Diam. Aku sedang mencoba menjadi pintar."

Brandon mengambil sticky note itu dari dahi Jason dan menempelkannya di buku Chelsea. "Mulai dari halaman ini."

Chelsea menatapnya. "Kamu baru saja mengatur hidupku?"

"Membantu."

"Tipis bedanya."

Naomi tertawa kecil. Untuk beberapa jam, angka, grafik, dan latihan soal berhasil membuat dunia terasa sederhana lagi. Jawaban benar tetap benar. Rumus tidak peduli pada Albert Koh. Pilihan ganda tidak tahu siapa Vanessa.

Darren duduk di sampingnya saat sesi belajar kelompok. Luka di sudut bibirnya sudah memudar, tetapi Naomi masih melihat ia sesekali menahan gerak saat duduk terlalu lama.

"Jangan latihan basket dulu," bisik Naomi.

"Aku cuma duduk."

"Dudukmu juga sok kuat."

Darren tersenyum. "Pacar gue galak."

"Pacar kamu nurut kalau mau sembuh."

"Iya, Sayang."

Chelsea dari seberang meja langsung mengangkat buku menutupi wajah. "Aku belajar. Aku tidak mendengar. Aku tidak ada di sini."

Naomi menendang kaki Darren pelan di bawah meja. Darren hanya tertawa tanpa suara.

Sore menjelang, Darren menerima telepon.

Nama `Pak Surya` muncul di layar.

Naomi melihat wajah Darren berubah seperti pintu yang ditutup dari dalam. Ia menjauh beberapa langkah untuk mengangkat telepon. Pembicaraannya singkat. Terlalu singkat.

Saat kembali, Darren memasukkan ponsel ke saku. "Aku harus pergi sebentar."

Naomi menatapnya. "Ke rumah?"

"Bukan. Ada urusan Papa."

"Tentang Koh?"

Darren berhenti setengah detik. "Mungkin."

Kata itu jujur, tetapi tidak lengkap.

Naomi menggenggam pulpen. "Kamu mau aku tahu setelah selesai lagi?"

Rasa bersalah lewat di wajah Darren. "Aku belum tahu detailnya. Pak Surya cuma bilang Papa minta aku datang ke kantor."

"Aku tidak minta ikut. Aku cuma minta kamu tidak menghilang."

Darren mendekat, menurunkan suara. "Aku kabari. Janji."

"Janji?"

"Janji."

Ia pergi bersama Brandon yang memutuskan ikut sampai parkiran. Naomi mencoba kembali ke soal, tetapi angka-angka tidak lagi patuh.

Brandon kembali sepuluh menit kemudian tanpa Darren.

"Dia sudah naik mobil Pak Surya," katanya sambil menarik kursi di dekat Chelsea. "Gue tunggu sampai mobilnya keluar gerbang."

"Sendirian?" Naomi bertanya.

"Sama sopir kantor. Darren bilang kalau dia lama balas, jangan panik dulu."

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun kata `lama` justru menempel di kepala Naomi seperti duri kecil.

Chelsea menyodorkan buku latihan ke depannya. "Kerjakan nomor tujuh. Kalau kamu terus lihat pintu, pintunya juga nggak akan berubah jadi Darren."

Jason mengangkat tangan. "Kalau berubah jadi Darren, aku pindah sekolah."

"Kamu belum diterima di sekolah lain," balas Kevin datar.

Tawa kecil muncul di meja itu, tetapi Naomi hanya berhasil tersenyum tipis. Ia menulis langkah penyelesaian di kertas, lalu berhenti di tengah karena hurufnya miring tidak karuan.

Di ujung ruangan, Susan lewat membawa map biru. Langkahnya pelan ketika melewati meja mereka.

"Darren pulang duluan?" tanya Susan, suaranya dibuat ringan.

Chelsea langsung menoleh. "Kenapa?"

Susan tersenyum kaku. "Cuma tanya. Tadi lihat dia buru-buru."

"Urusan keluarga," jawab Naomi sebelum Chelsea sempat menyambar lebih tajam.

Susan mengangguk. "Oh."

Ia pergi ke rak buku, tetapi Naomi melihat ponsel di tangan Susan menyala sebentar. Layarnya cepat dibalik. Tidak ada bukti apa pun, hanya gerakan kecil yang mungkin normal. Justru karena mungkin normal, Naomi membenci dirinya sendiri yang langsung curiga.

Kertas anonim di laci kamar seperti punya suara sendiri.

Chelsea mengikuti arah pandangnya. "Jangan mulai menebak semua orang."

"Aku tahu."

"Kalau mau curiga, curiga pakai bukti. Bukan pakai takut."

Naomi menarik napas, lalu mengambil amplop cokelat dari tas. Kertas anonim tadi sudah ia masukkan ke dalam plastik bening bersama foto Susan dan Vanessa yang pernah diberikan Vincent. Di sudut amplop, Chelsea menulis dengan spidol kecil: `bukti, bukan beban`.

Naomi menatap tulisan itu cukup lama.

"Kamu tulis begitu supaya aku patuh?"

"Supaya kamu ingat. Bukti disimpan. Beban dibagi."

Brandon yang sejak tadi diam menambahkan, "Kalau ada pesan aneh lagi, screenshot dulu. Jangan balas."

Naomi mengangguk. Ia ingin menjadi orang yang rapi, rasional, dan tidak mudah dipancing. Ia ingin percaya pada Darren seperti Darren percaya padanya ketika semua orang menuduhnya mengejar nama Koh.

Namun percaya ternyata bukan tombol yang bisa ditekan sekali lalu menyala selamanya. Percaya harus dijaga, dan hari itu terlalu banyak tangan asing yang mencoba mematikannya.

Satu jam berlalu.

Darren mengirim pesan.

`Masih di kantor Papa. Ada Albert. Aku baik.`

Naomi membalas:

`Vanessa ada?`

Pesan itu terbaca.

Tidak langsung dibalas.

Naomi menatap tulisan `dibaca` sampai dadanya mulai sempit.

Lima menit kemudian, Darren membalas.

`Ada sebentar. Bukan urusan pribadi. Aku jelasin nanti.`

Naomi tahu seharusnya ia percaya. Darren sudah berjanji. Darren sudah berkali-kali berdiri di depannya. Darren tidak pernah memilih Vanessa.

Tetapi kertas anonim di laci seperti bergerak lagi dalam ingatannya.

Kamu pikir semua orang di dekatmu benar-benar memihakmu?

Malam itu, saat Naomi kembali ke kamar asrama, pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

Tidak ada kata-kata di pesan pertama.

Hanya foto.

Darren berdiri di lobby gedung kaca, mengenakan seragam sekolah dan jaket gelap. Di sampingnya, Vanessa menatapnya dengan wajah pucat, satu tangan memegang lengan Darren.

Foto itu jelas diambil dari jauh.

Jelas dipotong.

Tetapi potongan itulah yang paling menyakitkan.

Pesan kedua masuk.

`Masih yakin semua orang di dekatmu benar-benar memihakmu?`

Naomi menatap foto itu sampai layar ponsel mengabur.

Di saat yang sama, pesan Darren muncul di bagian atas layar.

`Aku selesai. Bisa telepon?`

Naomi tidak langsung menekan apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!