Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009
Pindah ke SCBD
Dalam perjalanan dari Kelapa Gading ke Kuningan, Louisa tidak banyak bicara.
Nathanael juga tidak memaksanya.
Mobil melaju melewati jalan yang padat, suara klakson sesekali masuk seperti garis tipis di antara kesunyian. Louisa menatap gedung-gedung yang bergerak mundur di balik kaca. Di dalam kepalanya, suara Renata terus berulang.
Jangan mudah berutang budi pada keluarga orang.
Kalimat itu bukan pelukan. Bukan restu. Namun juga bukan penolakan.
Mungkin itu cara Mama menjahitkan selimut untuknya, hanya saja jarumnya selalu terasa lebih dulu daripada kainnya.
"Aku akan ambil beberapa barang saja," ucap Louisa ketika mobil berhenti di depan apartemen Kuningan.
"Tidak perlu buru-buru pindah semua."
"Tapi kita harus tinggal bersama, kan?"
Nathanael menoleh. "Hanya kalau kamu nyaman."
Louisa hampir tertawa kecil. Kata nyaman terasa terlalu mewah untuk situasi mereka. Mereka sudah menikah, Darren sudah tahu, Renata sudah tahu, Engkong bahkan sudah memberi cincin zamrud. Kalau setelah semua itu ia tetap tinggal sendiri, ia akan merasa seperti seseorang yang membeli tiket pesawat tapi menolak naik.
"Aku tidak nyaman," jawabnya jujur. "Tapi mungkin aku perlu mulai membiasakan diri."
Nathanael mengangguk. "Kita mulai dengan barang yang kamu butuhkan untuk beberapa hari."
"Kalau aku berubah pikiran?"
"Aku antar kamu kembali."
Tidak ada jebakan dalam suaranya.
Louisa turun dari mobil dengan dada sedikit lebih ringan.
***
Apartemen kecil Louisa terlihat lebih sempit setelah ia tahu akan meninggalkannya.
Di atas meja masih ada cat air, kuas, kotak cincin zamrud, dan mug bergambar jeruk yang dibeli Darren saat bazar kampus. Di kursi tergantung blazer yang ia pakai saat menemui Renata. Tempat itu tidak mewah, tetapi selama beberapa tahun terakhir menjadi satu-satunya ruang di mana ia tidak perlu terlalu sopan.
Ia mengeluarkan koper kecil.
Nathanael berdiri di dekat pintu, tidak masuk lebih jauh sebelum Louisa mengizinkan.
"Kamu boleh duduk," katanya.
"Aku di sini saja. Kalau perlu bantu angkat, bilang."
Louisa membuka lemari. "Aku bukan pindahan perusahaan."
"Aku tahu."
"Kamu berdiri seperti bodyguard."
"Bodyguard biasanya lebih ekspresif dari aku."
Louisa menoleh, memastikan ia tidak salah dengar. Nathanael tetap berwajah datar, tetapi sudut matanya sedikit melembut.
Untuk pertama kalinya di apartemen itu, Louisa tertawa pelan.
Suara itu membuat ruangan terasa tidak terlalu penuh debu.
Ia memasukkan pakaian kerja, dua dress sederhana, satu piyama, alat mandi, charger, buku sketsa, dan kotak cat air kecil. Saat tangannya menyentuh kotak beludru hijau tua, ia berhenti.
"Bawa saja," kata Nathanael pelan.
"Aku takut menghilangkannya."
"Kalau hilang, Engkong akan membeli lemari besi, bukan memarahimu."
"Itu tidak membantu."
"Maaf."
Louisa akhirnya memasukkan kotak itu ke dalam pouch kain dan meletakkannya di bagian paling dalam koper.
Ponselnya menyala di meja.
Kevin: Kamu belum masuk kantor dua hari. Ada masalah?
Louisa menatap pesan itu.
Dua hari.
Butuh dua hari bagi Kevin untuk bertanya apakah ada masalah. Dan bahkan pertanyaan itu terasa lebih seperti pemeriksaan absensi daripada kekhawatiran.
Nathanael mengikuti arah pandangnya, tetapi tidak membaca layar.
"Kamu ingin menjawab?"
Louisa mengunci ponsel. "Nanti."
Kata nanti pernah menjadi milik Kevin. Nanti aku balas. Nanti aku jemput. Nanti aku lihat kamu. Hari ini, untuk pertama kalinya, Louisa mengembalikan kata itu kepadanya.
***
Apartemen Nathanael berada di salah satu tower tinggi dekat Pacific Place, SCBD.
Lobby-nya wangi, dingin, dan terlalu tenang. Lantai marmer hitam memantulkan lampu gantung panjang. Petugas resepsionis menunduk kepada Nathanael dengan hormat.
"Selamat sore, Pak Nathanael."
"Sore."
Tatapan resepsionis beralih kepada Louisa sepersekian detik, cukup sopan untuk tidak bertanya dan cukup cepat untuk membuat Louisa sadar bahwa mulai hari ini, ia akan menjadi bagian dari gosip sunyi gedung ini.
Lift naik tanpa suara.
Angka di panel bergerak dari dua belas, dua puluh, tiga puluh, lalu berhenti di lantai yang membuat Louisa diam-diam menelan ludah. Ketika pintu terbuka, koridornya hanya memiliki dua unit.
Nathanael menempelkan kartu akses.
Pintu apartemen terbuka.
Hal pertama yang Louisa lihat adalah ruang luas dengan dinding putih, lantai abu muda, sofa hitam, meja kaca, dan jendela setinggi langit-langit yang menghadap langsung ke gedung-gedung SCBD. Semuanya rapi. Terlalu rapi. Tidak ada bantal warna cerah, tidak ada foto keluarga, tidak ada buku tergeletak, tidak ada jejak bahwa seseorang pernah pulang dalam keadaan lelah dan sembarangan meletakkan tas.
Apartemen itu indah.
Dan sangat sendirian.
"Ini rumahmu?" tanya Louisa.
"Secara legal, iya."
"Secara perasaan?"
Nathanael terdiam sebentar. "Tempat tidur dan menyimpan jas."
Jawaban itu membuat Louisa menatapnya.
Ia tiba-tiba mengerti kenapa apartemen sebesar ini terasa kosong. Bukan karena tidak ada barang mahal. Justru karena hanya ada barang mahal.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh keluar dari arah dapur dengan senyum ramah.
"Pak Nathanael, makan malam sudah saya siapkan. Ini Bu Louisa?"
"Iya. Bu Sari, ini Louisa."
Louisa membungkuk sopan. "Selamat sore, Bu Sari."
"Selamat sore, Bu. Kamar Ibu sudah saya rapikan sesuai instruksi Pak Nathanael."
Kamar Ibu.
Louisa menatap Nathanael.
Nathanael menjelaskan sebelum ia bertanya. "Kamarmu terpisah. Di ujung koridor kanan. Kamarku di kiri. Kamu bisa kunci dari dalam."
Bu Sari pura-pura tidak mendengar, lalu kembali ke dapur dengan langkah cepat.
Louisa merasa wajahnya hangat. "Kamu tidak perlu menjelaskan bagian kunci di depan Bu Sari."
"Aku ingin kamu tahu sejak awal."
"Aku tahu dari perjanjian."
"Perjanjian ada di kertas. Kunci ada di pintu."
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Louisa memegang gagang koper lebih erat.
Nathanael mengambil koper dari tangannya. "Boleh?"
Louisa mengangguk.
Kamar yang disiapkan untuknya berada di sisi yang menghadap kota. Warna ruangan masih mengikuti selera Nathanael, putih, abu, kayu muda. Namun di meja kecil dekat jendela ada vas kaca berisi dua tangkai mawar putih melati. Di samping tempat tidur, sebuah humidifier kecil sudah menyala, mengeluarkan kabut tipis. Di rak bawahnya ada kotak teh melati tanpa gula dari merek yang biasa Louisa beli saat lembur di Tanuwijaya Group.
Louisa berhenti di ambang pintu.
"Kamu..."
Nathanael berdiri di belakangnya, jaraknya cukup jauh. "Kalau ada yang tidak cocok, Bu Sari bisa ganti."
"Tehnya."
"Kamu sering minum itu."
"Kamu tahu dari mana?"
Nathanael diam terlalu lama.
Lalu ia menjawab, "Aku pernah lihat di meja kerjamu saat acara Tanuwijaya Group."
Louisa menatap kotak teh itu.
Ia tidak ingat kapan Nathanael melihat meja kerjanya. Ia bahkan tidak ingat pernah berbicara cukup lama dengannya sebelum malam itu. Namun teh itu ada di sana, persis jenis yang ia beli sendiri karena aromanya membuat kepalanya lebih tenang saat deadline.
Di antara hitam, putih, dan abu-abu apartemen Nathanael, kotak teh kecil itu seperti seseorang yang mengingat namanya di ruangan asing.
"Terima kasih," ucap Louisa.
"Istirahat dulu. Makan malam jam tujuh kalau kamu mau."
"Kalau aku tidak mau?"
"Aku simpan di warmer."
Nathanael meletakkan koper di samping lemari, lalu berbalik keluar.
Sebelum menutup pintu, ia berhenti. "Louisa."
"Ya?"
"Ini rumahmu juga sekarang. Tapi kalau malam ini terasa terlalu asing, tidak apa-apa kalau kamu menganggapnya hanya tempat menginap."
Pintu menutup pelan.
Louisa berdiri sendirian di kamar itu, mendengarkan suara humidifier yang halus dan jauh.
Di meja, mawar putih melati memantulkan cahaya kota.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia tidak tahu apakah dadanya sakit karena takut, atau karena seseorang terlalu hati-hati menjaga jarak.