Larasati gadis berusia 25 tahun berparas cantik, lulusan ekonomi. Dia anak yatim piatu, karena kedua orang tuanya telah tiada. Sebab kecelakaan maut, dari usianya 5 tahun, dia di titipkan oleh pamannya ke panti asuhan. Aset milik orang tuanya ludes tak tersisa oleh sang paman. Laras menikah kontrak dengan seorang CEO muda di indonesia yang bernama Malik Ibrahim, yang sudah beristri tiga. Ketiga istrinya tak juga kunjung memberikan keturunan pada sang CEO dan tak ingin diceraikan oleh suaminya. Istri pertama yang bernama Dian! mencarikan lagi gadis! ya itu Laras untuk dinikahi sang suami. Dengan harapan Laras bisa memberi keturunan pada sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juleha2606, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ular dalam handuk
Saking dekatnya napas pun saling menyapu kulit masing-masing. Sehingga terasa desiran-desiran aneh di tubuh mereka, semakin lama kian dekat saja bibir keduanya. Hampir saja menyentuhnya, mereka di kagetan dengan suara ponsel milik Ibra.
Dengan terpaksa! Ibra melepaskan Laras, berdiri mengambil ponsel yang berada di atas meja.
"Untung saja!" batin Laras sambil mengelus dadanya yang naik turun, napas tak karuan seperti habis lari maraton.
"Iya sayang ada apa? aku baru selesai mandi nih," suara Ibra yang bicara di telepon.
"Dia ... kebetulan ada di kamarku, habis menyiapkan segala kebutuhan ku! kenapa?"
"Siapa sih, kak Dian kali? kenapa seolah menyebut nama ku?" Laras heran.
"Oh. Iya! met malam sayang? jaga diri baik-baik di sana. I Love you." Ibra menutup teleponnya, dan menghampiri Laras kembali.
Laras pura-pura gak lihat Ibra yang kembali menghampirinya. Dia menyisir rambut yang sedikit acak-acakan dengan jari-jarinya.
"Kau tidur denganku malam ini." ucap Ibra duduk kembali di tempat semula.
"Haa ... bukannya tadi Tuan bilang mau tidur sendiri? lagian bukannya malam ini giliran istri Tuan yang lain?" ujar Laras menoleh sekilas kearah Ibra.
"Hak aku mau sama siapa saja. Lagian Dian ingin kau cepat hamil!" tegas Ibra menatap wajah Laras.
Laras tertegun sebentar, kemudian menoleh kembali seraya berkata. "Iya sih hak anda! tapi istri Tuan bukan terbuat sari boneka yang tidak punya perasan! mereka juga punya hak loh."
Ibra menyunggingkan senyumnya. "Tapi suami yang lebih berhak, menentukan pilihan," dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Ish ish ish ... nih orang mau menang sendiri saja."
"Gimana kita bisa mulai sekarang?" menyeringai nakal.
"Apa, mu-mulai apa Tuan?" sedikit terkejut. Laras membuang pandangannya ke sembarang tempat.
"Itu, yang akan membuatmu hamil," ucapan Ibra sangat berani.
"Ma-maaf Tuan aku belum sholat, jadi aku harus kembali ke kamar ku." Laras bergegas beranjak, melangkah melintasi Ibra, tentunya tangan Ibra dengan mudahnya menangkap tangan Laras sehingga tertarik dan terjatuh di pangkuan Ibra.
Dengan sigap! tangan yang satu lagi merangkul pinggang Laras yang ramping, mereka saling tatap. Netra mata mereka bertemu saling menyelami satu sama lain.
Perasaan yang aneh dan jantung yang terus berpacu dengan cepat menghiasi keduanya. Jari Ibra kembali mengangkat dagu Laras, agar dia dengan mudah menyentuh benda kenyal milik Laras yang ranum menggoda. Dengan cepat Ibra mendaratkan kecupan hangatnya di bibir Laras, yang tidak bisa Laras hindari.
Ketika tengah menikmati adegan itu, netra mata Laras turun ke bawah! sekitar perut sixpack Ibra. Tiba-tiba! ada yang menyeruak dari balik handuk yang melilit pinggang Ibra.
Laras terkesiap, sontak melompat dan teriak. "U-ular ... ular dalam handuk." Kemudian membalikkan badan serta menutup mulutnya.
Ibra yang menyadari miliknya bangun langsung menutupinya dan mengeratkan handuknya. "Kau ini, lihat itu saja seperti melihat hantu! seperti belum merasakannya saja. Aneh," gerutu Ibra.
Laras masih berdiri memunggungi Ibra. Perasaan kagetnya masih terasa, ketika melihat menyeruak dan bergerak. Seperti ular, membuatnya bergidik. "Huu ... membuang napas dalam-dalam.
Ibra mendengus kesal, menghampiri tempat tidurnya dan menjatuhkan tubuh dengan cara tengkurap. Ia sangat kecewa ada saja gangguannya bila ingin mencumbu istri mudanya ini, beda dengan yang lain yang lebih agresif. Namun setidaknya barusan dia dapatkan bibirnya yang lembut. Ibra menyeringai sambil terpejam.
Laras menoleh Ibra yang membaringkan dirinya di atas tempat tidur yang mewah itu. "Tuan ... aku balik ke kamar ya? jangan lupa pakai pakaiannya! nanti masuk angin," tutur Laras.
"Hem," sahut Ibra.
Laras membalikkan badan mendekati pintu. Sampai pintu menoleh kearah Ibra yang masih dengan posisi yang sama. Akhirnya Laras meninggalkan kamar pribadi Ibra.
Kini Laras sudah berada di kamarnya, berdiri depan cermin memandangi bibirnya dari arah kanan dan kiri. Menyentuh bibirnya dengan telunjuk sekilas melukiskan senyuman. Laras mesem-mesem sendiri, namun tiba-tiba senyuman itu pudar dari wajahnya.
Laras menunduk. "Aku tidak boleh merasakan apa pun! apa lagi jatuh cinta." mendongak ke langit-langit, rasanya ingin menjerit sekencangnya. Namun bibir seakan terkunci, sepertinya ia mulai mempunyai rasa pada pria yang jadi suaminya itu.
Setelah kepergian Laras. Ibra bangun duduk bersandar menatap pakaian yang Laras siapkan. Dengan hati masih kesal, kecewa! gak bisa menyalurkan hasratnya. Ibra mengambil dan memakai pakaian itu.
Berdiri dekat jendela, pandangan lepas keluar sana yang gelap berhiaskan cahaya lampu-lampu yang bersinar, menatap langit yang hitam pekat! tidak ada bintang satupun.
"Akan ku lukis namamu di langit sana!" gumam Ibra sambil menarik bibirnya tersenyum. "Larasati!" gumamnya lagi.
"Haa ... kenapa Larasati sih?" menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Lama ... berdiri dan termenung di sana hingga akhirnya dia bosan sendiri. Menutupkan gorden, langkahnya mendekati tempat tidur.
Duduk sebentar di tepi tempat tidur, kemudian berdiri jalan mondar-mandir. Akhirnya Ibra memutuskan akan ke kamar Laras. Ibra mengangguk-anggukan kepalanya entah apa yang ada dalam pikirannya.
Langkah Ibra yang lebar mendekati lift, menekan tombol naik. Ibra masuk dan tidak lama lift berhenti, karena sudah sampai di lantai yang dimaksud. Ibra mendekati pintu kamar Laras. gagang nya ia pegang sambil di dorong, kebetulan tidak di kunci juga.
"Kebiasaan suka tidak di kunci! padahal sudah malam nih," gumam Ibra sambil melirik jam di tangannya, yang sudah menunjukkan jarumnya ke angka 23.30 Ibra masuk kemudian mengunci pintu.
Suasana kamar sudah temaram. Laras nampak sudah tertidur pulas sambil memeluk guling. "Dasar ... peluk suami gak mau! guling malah di peluk," perlahan mengibaskan selimut dan masuk.
Ibra berbaring menghadap ke Laras yang tidur begitu pulas, tenang tanpa beban. Ibra tersenyum. dengan pelan Ibra menarik guling dipindahkan nya, menyimpan tangan Laras di pinggang Ibra yang menggeser tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Laras.
Sebelum tidur. Ibra menatap wajah Laras sampai puas dan rasa kantuk pun datang menyerang, dia menguap beberapa kali. Sambil memeluk sang istri Ibra memejamkan matanya, mulai memasuki alam bawah sadar, ya itu alam mimpi.
Pagi-pagi buta. Laras sudah terbangun membuka-buka gorden kamarnya, dia sudah tidak kaget lagi bila tiba-tiba mendapati Ibra tidur bersamanya. Seperti saat ini Ibra masih terlelap tidur! kebetulan hari libur jadi Laras biarkan saja.
Beres menyapu, beres-beres kamar. Laras menuju taman mau berolah raga di sana.
Sesampainya di sana Laras berlari-lari kecil, si tukang kebun tersenyum dan mengangguk hormat pada Laras. Laras pun balas senyuman manisnya.
Si tukang kebun tersebut bernama Hendar, usianya tidak jauh dari Ibra berarti masih muda.
"Kang sedang menyiram bunga ya?" tanya Laras sambil jalan di tempat dengan napas yang ngos-ngosan.
"Bukan Nyonya! saya lagi nyiram kambing," sahut Hendar sekena nya, sambil tertawa.
Laras tersenyum mendengarnya. "Si Akang bisa saja."
"Iya atuh Nya saya sedang menyiram bunga, kalau saya mencuci mobil di tempatnya."
"Iya, iya Kang lanjutkan," sambung Laras sambil mendekati kursi dan duduk di sana, tangannya mengelap keringat di leher dan pelipisnya.
Hendar diam-diam memperhatikan Laras. "Sangat beruntung si bos, dapat beberapa istri yang cantik-cantik dan Bohai! pokonya sedap di pandang mata," gumamnya dalam hati.
"Kang, di kebun sedang musim panen apa?" Laras melirik Hendar.
"Em ... ada beberapa Nyonya, sawi ada, kol, dan banyak lagi, jadi kalau sayuran jarang belanja keluar cukup metik saja dari kebun."
"Oh ... gitu ya, lain kali aku mau ke sana ah, pengen metik sendiri," sambung Laras.
Dari jauh ada seseorang sedang mengawasi Laras. Bahkan dia mengarahkan kamera ponselnya pada Laras yang sedang berbincang dengan Hendar ....
,,,,
Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.