Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Amukan Erlangga
Udara di dalam ruang perawatan High Tower terasa makin tipis seolah oksigen sedang dihisap keluar oleh ketegangan yang merayap di dinding marmer. Bau kue jahe yang baru saja dibawa Bayu dari Panti Cahaya Sauh menyeruak, memberikan kontras yang aneh dengan aroma antiseptik rumah sakit yang dingin. Nayara duduk tegak di tempat tidur, jari-jarinya meraba permukaan kotak kayu yang terasa hangat di pangkuannya. Meskipun kain kasa masih membalut matanya akibat luka bakar sihir saat menghadapi invasi santet, ia bisa merasakan kehadiran Bayu yang berdiri kaku di sudut ruangan.
"Kue ini masih hangat, Nyonya. Ibu Fatimah sendiri yang menitipkannya melalui kurir rahasia tadi subuh," ucap Bayu. Suaranya rendah, berusaha tidak menggetarkan ketenangan semu di ruangan itu.
Nayara tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak rapuh di bawah balutan kain putih itu. "Bau jahe ini adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tempat ini, Bayu. Di sini, semuanya beraroma kepalsuan dan parfum mahal yang menyesakkan."
"Tuan Arkananta sedang berada di pusat komando untuk memastikan administrasi Segel Utama telah terenkripsi sepenuhnya. Beliau berpesan agar Anda menghabiskan kue ini sebelum obat penenang berikutnya diberikan," lanjut Bayu sembari meletakkan nampan kecil di atas meja nakas.
"Arkan terlalu khawatir. Ia lupa bahwa batin saya lebih kuat daripada mata saya yang sedang beristirahat ini," sahut Nayara. Ia mulai membuka tutup kotak kayu itu, menghirup aroma tanah Terra yang seolah menempel pada tekstur kue tersebut.
Tiba-tiba, dentuman keras menghantam pintu ganda ruangan itu. Suara engsel baja yang dipaksa terbuka berderit memilukan, menghancurkan keheningan yang baru saja terbangun. Langkah kaki yang berat dan terburu-buru masuk, diikuti oleh aroma parfum maskulin yang sangat tajam dan dominan—parfum yang selalu digunakan oleh Erlangga dalam setiap debat politiknya.
"Luar biasa. Di saat seluruh dewan keluarga sedang gempar karena pencurian Segel Utama, kau malah duduk bersantai sambil menikmati makanan sampah dari pemukiman kumuh itu, Nayara!" teriak Erlangga. Suaranya menggelegar, penuh dengan getaran amarah yang tidak tertahan.
Nayara tidak bergerak. Ia tetap memegang kue jahenya, meskipun napasnya mulai memberat. "Pintu ini memiliki protokol privasi, Erlangga. Masuk tanpa izin adalah tanda bahwa martabat Anda tidak lebih tinggi dari apa yang Anda sebut sebagai makanan sampah ini."
Erlangga tertawa sinis, langkahnya makin mendekat hingga ujung sepatunya beradu dengan kaki meja nakas. "Martabat? Kau bicara soal martabat saat kau baru saja menggunakan cara-cara klenik untuk menipu Arkan agar menyerahkan otoritas Empire Group padamu? Lihat dirimu, Nayara. Kau buta! Kau cacat! Bagaimana mungkin dewan keluarga membiarkan seorang wanita penyakitan memegang hak veto perusahaan raksasa?"
"Cacat atau tidak, Segel Utama itu sudah melingkar di jari saya secara sah," balas Nayara dengan nada suara yang tetap tenang namun tajam. "Jika Anda ingin mengeluh, silakan bicara pada dokumen hukum yang sudah ditandatangani, bukan berteriak pada wanita yang sedang menjalani pemulihan."
Erlangga menggeram. Matanya menatap benci pada cincin logam berat yang melingkar di jari manis Nayara yang pucat. Dengan gerakan kasar, ia menepis nampan di samping tempat tidur. Prang! Piring porselen itu hancur berkeping-keping di atas lantai marmer, dan kotak kue jahe dari panti itu terlempar, isinya berhamburan tepat di bawah kaki Erlangga.
"Tuan Erlangga, saya harus meminta Anda untuk keluar sekarang juga," potong Bayu, melangkah maju untuk menghalangi jalan Erlangga.
"Diam kau, anjing penjaga! Kau pikir aku tidak tahu kau juga terlibat dalam persekongkolan ini?" Erlangga menunjuk wajah Bayu, lalu dengan sengaja menginjakkan sepatu kulit mahalnya di atas remahan kue jahe yang berserakan. Suara renyah kue yang hancur di bawah beban tubuhnya terdengar seperti penghinaan fisik bagi Nayara. "Makanan sampah ini memang layak berada di bawah kakiku, sama seperti asal-usulmu, Nayara!"
Nayara meremas sprei tempat tidurnya. Meskipun ia tidak bisa melihat, pendengarannya menangkap setiap detail kehancuran kue itu. "Anda baru saja menginjak kasih sayang orang-orang yang tulus, Erlangga. Itu adalah kesalahan yang tidak akan bisa Anda bayar dengan seluruh saham yang Anda incar."
"Jangan mengguruiku! Aku akan membawa tim hukum paling kejam untuk membuktikan bahwa kau tidak stabil secara mental. Kebutaanmu ini akan menjadi bukti bahwa kau tidak mampu menjalankan fungsi otoritas!" Erlangga kemudian berbalik, menatap kamera pengawas yang berkedip di sudut ruangan. Dengan sekali sentakan dari tongkat yang ia bawa, ia menghantam lensa kamera tersebut hingga pecah dan mati total. "Sekarang, tidak ada rekaman yang bisa membuktikan aku pernah masuk ke sini. Kau hanya wanita buta yang berhalusinasi, bukan begitu?"
Di tempat lain, di dalam lift privat yang sedang meluncur naik menuju lantai perawatan, Arkananta tiba-tiba mencengkeram dadanya. Rasa terbakar yang luar biasa menjalar di belakang lehernya, sebuah resonansi dari amarah dan luka batin yang sedang dialami istrinya. Rahangnya mengunci rapat, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia bisa merasakan setiap getaran kebencian Erlangga melalui ikatan luka yang mereka bagi.
"Tuan, suhu tubuh Anda meningkat drastis!" ucap salah satu staf keamanan yang mendampinginya.
Arkan tidak menjawab. Napasnya kini keluar secara manual, berat dan penuh tekanan. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang terbuat dari logam mengkilap. Matanya berkilat dengan kegelapan yang dalam, sebuah tanda bahwa energi hampa di dalam dirinya mulai bereaksi terhadap gangguan pada martabat istrinya.
"Percepat liftnya," perintah Arkan dengan suara yang begitu rendah hingga staf di sampingnya merasa seolah udara di sekitar mereka baru saja membeku.
Kembali ke dalam kamar, Erlangga kini berdiri tepat di depan wajah Nayara, membungkuk hingga napasnya yang berbau alkohol dan tembakau menyentuh wajah wanita itu. "Serahkan cincin itu sekarang, atau aku akan memastikan Panti Cahaya Sauh diratakan dengan tanah sebelum matahari terbenam."
Nayara mengangkat wajahnya, meskipun matanya tertutup kasa. "Jika Anda menyentuh satu bata saja dari panti itu, Arkan akan memastikan Anda tidak akan memiliki tempat untuk berdiri di kota ini."
"Arkan hanyalah seorang pecundang yang beruntung menemukan Segel itu! Dia tetaplah anak buangan yang tidak diinginkan ibunya sendiri!" Erlangga kembali berteriak, suaranya melengking penuh kemenangan palsu.
Tepat saat itu, pintu ruangan yang sudah rusak itu terbuka kembali. Namun kali ini, tidak ada suara dentuman. Hanya kesunyian yang mencekam. Arkananta berdiri di sana, kemeja putihnya tampak kontras dengan aura gelap yang seolah menyelimuti tubuhnya. Suhu di ruangan itu anjlok seketika, membuat uap dingin keluar dari mulut setiap orang yang ada di sana.
"Lanjutkan kalimatmu, Erlangga. Aku ingin mendengar bagaimana kau merencanakan kehancuran tempat tinggalku," ucap Arkananta. Suaranya datar, tanpa emosi, namun mengandung daya tekan yang membuat Erlangga secara insting mundur satu langkah.
Erlangga mencoba mengatur ekspresi wajahnya, berusaha tetap terlihat dominan. "Kau datang tepat waktu, Arkan. Aku baru saja mendiskusikan masalah kesehatan istrimu yang... memprihatinkan ini."
Arkan tidak menatap Erlangga. Matanya tertuju pada lantai marmer, pada remahan kue jahe yang hancur di bawah sepatu Erlangga. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang pelan dan teratur. Setiap langkahnya seolah memberikan beban gravitasi tambahan di ruangan itu.
"Kue itu dikirim dari tangan seorang ibu yang tulus," bisik Arkananta. Ia berlutut di lantai, tepat di depan sepatu Erlangga yang masih menginjak remahan kue. "Dan kau menginjaknya seolah-olah itu adalah debu di jalanan."
"Itu memang sampah, Arkan! Sama seperti pengabdianmu pada wanita buta ini!" balas Erlangga, meskipun suaranya sedikit gemetar.
Arkan mendongak, menatap Erlangga dari posisi berlututnya. Tatapannya begitu dingin hingga Erlangga merasa seolah-olah sebilah es sedang ditusukkan ke jantungnya. "Keluar dari radius oksigenku sekarang, Erlangga. Sebelum aku memutuskan bahwa kau tidak lagi berhak bernapas di dalam bangunan ini."
Erlangga mendengus, mencoba menutupi rasa ngeri yang mulai merayap di sumsum tulangnya. Ia bisa merasakan tekanan udara yang makin memadat, seolah-olah ruangan ini sedang diisolasi dari dunia luar oleh kehendak Arkananta. "Radius oksigen? Kau pikir kau siapa, Arkan? Kau hanya beruntung memiliki sepotong logam di jari istrimu. Tanpa restu Nyonya Besar, kau tetaplah debu yang bisa disapu kapan saja!"
Arkan tidak membalas hinaan itu dengan teriakan. Ia justru berdiri dengan keanggunan seorang predator yang sudah mengunci mangsanya. "Bayu, apakah unit pembersihan batin sudah mengamankan data dari kamera cadangan di langit-langit?"
Bayu, yang sejak tadi berdiri dalam posisi siaga, mengangguk singkat. "Sudah, Tuan. Meskipun kamera utama dihancurkan, sensor tekanan dan perekam audio independen di bawah lantai marmer tetap aktif. Seluruh tindakan Tuan Erlangga, termasuk perusakan properti dan intimidasi terhadap pemegang saham pengendali, telah tercatat secara real-time."
Wajah Erlangga memucat seketika. Ia menoleh ke arah kamera yang tadi ia hancurkan, lalu beralih ke lantai yang ia injak. "Kau... kau menjebakku?"
"Aku tidak perlu menjebak seseorang yang sudah terbiasa menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam lumpur," sahut Arkananta. Ia melangkah satu kali lagi, memangkas jarak hingga ia bisa melihat pantulan ketakutan di mata Erlangga. "Setiap butir kue jahe yang kau injak adalah martabat yang kau remehkan. Dan di gedung ini, menghina martabat Permaisuri berarti menyatakan perang terhadap seluruh sistem keamanan High Tower."
"Arkan, sudah cukup," suara Nayara terdengar lirih namun tegas dari atas tempat tidur. Ia meraba-raba udara, dan Arkan segera menangkap tangannya, meremasnya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan pada Erlangga. "Jangan biarkan kemarahan Anda mengotori tangan Anda lebih jauh. Biarkan dia pergi dengan kehinaannya sendiri."
Arkan menatap istrinya, lalu kembali menatap Erlangga. "Kau dengar itu? Istriku masih memiliki belas kasihan untuk orang sepertimu. Tapi jangan salah paham, Erlangga. Belas kasihannya adalah satu-satunya alasan mengapa kau masih bisa berjalan keluar dari sini dengan kaki yang utuh."
Erlangga meludah ke samping, meskipun tangannya sedikit gemetar saat ia merapikan jasnya yang mahal. "Kita lihat saja di sidang dewan besok. Aku akan memastikan seluruh keluarga besar tahu bahwa kau telah berubah menjadi monster demi wanita buta ini!"
Dengan langkah tergesa-gesa yang tidak lagi berwibawa, Erlangga meninggalkan ruangan. Suara sepatunya yang menjauh terdengar seperti pelarian seorang pengecut. Setelah pintu tertutup, suhu di ruangan itu perlahan-lahan mulai kembali normal. Arkananta mengembuskan napas panjang, sebuah napas manual yang berat, melepaskan ketegangan saraf yang hampir mencapai titik didih.
Ia kembali berlutut di lantai, memunguti sisa-sisa remahan kue jahe yang telah hancur. Bayu mencoba membantu, namun Arkan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ia melakukannya sendiri.
"Maafkan saya, Nayara. Saya gagal menjaga ketenangan Anda pagi ini," bisik Arkananta. Ia menatap telapak tangannya yang kini kotor oleh remahan kue yang bercampur debu lantai marmer.
Nayara melepaskan kain kasa di kepalanya sedikit, meskipun matanya masih tertutup rapat. "Kue itu bisa diganti, Arkan. Tapi keteguhan Anda barusan menunjukkan bahwa Anda sudah siap menjadi Komandan yang sesungguhnya. Saya bisa merasakannya—getaran tulang besi Anda tidak lagi liar, tapi sudah terarah."
Arkan mengusap noda di lantai dengan sapu tangan Terra miliknya, sapu tangan yang selalu beraroma melati panti yang menenangkan. "Erlangga tidak akan berhenti. Dia akan menggunakan segala cara untuk membatalkan legalitas Segel Utama di dewan keluarga. Dia akan menyerang kondisi mata Anda sebagai titik lemah."
"Maka biarkan dia menyerang," sahut Nayara dengan senyum yang mengandung otoritas spiritual yang dalam. "Dia tidak tahu bahwa dalam kegelapan ini, saya justru bisa melihat kebohongan mereka dengan lebih jelas. Saya tidak butuh mata untuk tahu bahwa mereka sedang ketakutan."
Arkan bangkit, mendekati Nayara, dan mengecup kening istrinya dengan khidmat. Rasa pahit yang tadi memenuhi pangkal lidahnya perlahan memudar, digantikan oleh tekad yang membaja. Ia tahu bahwa perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan remahan kue yang hancur di lantai itu akan menjadi pengingat abadi bahwa tidak akan ada lagi penghinaan yang dibiarkan tanpa balasan.
Di luar jendela, langit Astinapura mulai tertutup awan mendung yang berat, seolah alam sedang mempersiapkan diri untuk badai yang akan datang. Arkananta berdiri tegak di samping tempat tidur, menatap ke arah pintu yang rusak, siap menyambut siapapun yang berani mengusik kedamaian di dalam kamar steril itu.