Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Dengan langkah lebar dan kedua telapak tangan terkepal, Luth mendatangi ruangan CCTV. Dadanya bergemuruh hebat mendengar Dara mendapatkan pelecehan. Gadis itu bilang kejadiannya di lift, kemarin pagi. Dara sudah pulang sekarang, dan ia tak bisa menahannya kali ini.
"Cek CCTV lift kemarin pagi!" titah Luth pada operator yang menjaga ruangan CCTV.
"Baik, Pak." Tanpa banyak tanya, laki-laki tersebut segera membuka rekaman yang di minta Luth.
Luth memicingkan mata, memperhatikan lebih fokus. Ia bisa melihat Dara yang tak nyaman saat masuk sana.
"Perbesar suaranya."
Luth ingin tahu apa yang diucapkan perempuan tersebut hingga Dara mengamuk dan mendorongnya. Melihat Dara didorong dan tubuhnya membentur laki-laki di belakang, telapak tangannya mengepal kuat.
Puncaknya adalah apa yang diucapkan laki-laki itu. Darahnya seketika mendidih. Di lift ada banyak perempuan, bisa-bisanya tak ada yang membela Dara sama sekali. Dadanya nyeri melihat Dara berjongkok di lift, menangis sambil memeluk kedua lututnya.
Luth meminta salinan rekaman tersebut, termasuk rekaman CCTV pantry. Ia meninggalkan ruang CCTV, langsung ke bagian HRD dan meminta mereka memanggil orang-orang yang terlibat.
...----------------...
Setelah beberapa hari yang melelahkan sekaligus membuat tak nyaman, khirnya malam ini, Dara bisa tidur nyenyak karena sudah benar-benar keluar dari kantor. Pagi ini, ia bahkan belum bangun meski sudah jam 7 pagi.
Tok tok tok
"Ra, Dara. Kamu gak kerja?" panggil Mami dari balik pintu kamar Dara. "Dara, ini sudah siang."
Dara mengerjab mendengar suara maminya. Tangannya terulur ke arah nakas, menarik jam digital di atas sana. Sambil mengucek mata, ia melihat layar jam nya. Pukul 07.10 WIB.
"Dara, kamu masih tidur?" Mami Nisa kembali memanggil.
"Aku gak kerja, Mi," sahut Dara.
"Kenapa? Mami masuk ya?"
"Iya."
Mami Nisa menarik gagang pintu, membukanya lebar. Ia mendapati putrinya masih rebahan di atas ranjang, bergelung di bawah selimut tebalnya. Ia masuk, berjalan ke arah Dara.
"Kamu sakit?"
"Enggak." Dara menguap. Meski sudah tidur semalaman, masih saja rasanya ngantuk.
"Terus, kenapa gak kerja?" Mami Nisa duduk di tepi ranjang. Telapak tangannya terulur, menyentuh kening Dara. Tidak panas.
"Aku gak sakit kok, Mi." Dara tersenyum.
"Terus, kenapa gak kerja?"
"E..." Dara menyingkap selimut, bangun, menyadarkan punggung di kepala ranjang.
"Kenapa, ada masalah?" Mami Nisa menggenggam tangan Dara.
"Aku udah resign, Mi."
Mami mengernyit. "Resign?"
Dara mengangguk.
"Ada masalah?"
"Sedikit."
Mami Nisa menyentuh luka di pipi Dara yang sudah kering. "Kamu berantem sama siapa sih?" Dari kemarin ia penasaran soal ini.
"Orang gila." Dara mendengus. Mengingat Valerie membuatnya kesal.
"Lo gak kerja?"
Suara dari ambang pintu membuat Dara dan Mami Nisa kompak menoleh. Elang berdiri disana. Laki-laki itu masuk, berjalan ke arah ranjang.
"Sakit, lo?" Sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana, Elang memperhatikan wajah Dara.
Dara menggeleng. "Aku udah resign."
Elang mengernyit. "Bukanya lo bilang bulan depan. Dan lo baru ngirim surat resign nya?"
"E..." Dara menunduk, memainkan jemari. "Aku bayar penalti."
"What!" Mata Elang terbelalak lebar, mulutnya terbuka. "Penalti?" ulangnya, dan Dara hanya mengangguk. "Lo baru kerja dua bulan, terus sekarang harus bayar penalti. Mana gaji lo disana kecil." Ia geleng-geleng kepala. "Yang ada lo nombok, Ra." Membuang nafas kasar.
Mami Nisa menatap Dara. "Emang masalahnya serumit apa, sampai kamu milih bayar penalti? Apa gak bisa, bertahan sebentar?"
Dara hanya menunduk sambil meremat guling.
"Ada masalah apa?" tanya Elang. Nada suaranya sangat tegas, menunjukkan kalau dia serius ingin tahu.
"Cuma masalah kecil kok." Dara masih tetap menunduk.
Elang tersenyum kecut. "Ya kali masalah kecil bikin lo sampai rela bayar penalti."
"Aku bayar pakai uangku sendiri," ujar Dara.
"Lagian siapa yang mau bayarin lo!" Elang berdecak. Ah, kenapa dia jadi kesal gini, Dara tak habis-habis bikin masalah. "Lo yang salah, ya lo harus tanggung jawab, selesaiin urusan lo sendiri."
"Iya!" Dara menatap Elang dengan bibir mengerut.
"Kalian apaan sih, kok malah berantem." Mami Nisa menatap kedua anaknya bergantian. "Berapa penaltinya?" ia menatap Dara.
"Belum tahu, Mi."
"Biasanya ganti gaji sesuai sisa masa kontrak. Atau kalau enggak, 3x gaji," Elang yang menjawab.
Mami Nisa menatap Dara, mengusap bahunya. "Jadikan ini pelajaran. Lain kali, mau apa-apa dipikir dulu. Kemarin kekeh resign dari perusahaan Papi, sekarang di tempat baru, resign juga. Nyari kerja itu gak mudah. Banyak orang yang bahkan sudah kirim puluhan lamaran, tapi belum sekali pun dapat panggilan. Mami gak tahu masalah kamu apa di perusahaan. Tapi Mami harap, kamu bertanggung jawab atas keputusan kamu."
Dara mengangguk.
"Sebenarnya ada apa sih?" Elang masih penasaran. "Lo dibully di tempat kerja?"
Hening, tak ada jawaban dari Dara.
"Ra!" Elang mendesak.
Dara akhirnya mengangguk.
Brakk
Elang menendang nakas di sebelahnya, telapak tangannya terkepal.
Mami Nisa meraih kedua tangan Dara, menggenggamnya.
"Siapa yang bully lo?" Elang menatap Dara tajam.
Mata Dara berkaca-kaca, tapi ia menahan agar tak menangis di depan Elang.
"Aku gak papa kok." Dara menyunggingkan senyum palsu.
"Perusahaan macam apa itu, membiarkan terjadi pembullyan pada karyawan baru!" Nafas Elang naik turun.
"Udah selesai kok. Aku juga udah balas mereka," ujar Dara. "Aku gak diem, aku balas." Ia ingin Elang tak marah lagi.
"Kamu yakin, semua udah selesai?" Mami menatap Dara.
Dara mengangguk.
"Kalau lo memang keluar karena di bully, gak seharusnya lo bayar penalti. Separah apa mereka bully lo? Apa harus kita tuntut?"
Dara menggeleng. "Gak usah. Mereka orang miskin, kasihan. Apalagi kalau mereka tulang punggung keluarga."
"Sok tahu lo, ngatain mereka miskin. Kayak lo paling kaya aja." Elang nyengir. "Perasaan di rumah ini gak ada gen sombong, cuma lo doang deh kayaknya. Entah deh, dapat turunan darimana." Ia geleng-geleng.
"Sepertinya kamu melupakan seseorang, Lang." Mami Nisa menahan tawa.
"Siapa, Mi?"
"Ah, lupakan." Mami menutup mulut dengan telapak tangan. Ia lalu kembali menatap Dara. "Kamu yakin, baik-baik saja sekarang?"
Dara mengangguk. "Aku baik-baik saja kok, Mi."
"Kalau ada apa-apa, cerita, jangan dipendam sendiri."
Dara mengangguk.
"Gue harap, ini terakhir kali lo bikin masalah ya, Ra. Problematik emang lo."
"Lang..." Mami menatap Elang. "Jangan bilang begitu dong."
"Mending lo nikah aja deh, Ra. Biar ada yang nafkahin, gak perlu kerja lagi," saran Elang.
"Apaan sih!" Dara mendengus.
"Umur udah mau 26, udah pas buat nikah. Eh, lo inget Om Andika gak, klien di perusahaan kita. Denger-denger dia udah jadi duda sekarang."
"Siapa?" Dara mengernyit. "Om Andika?"
"Iya, Om Andika, yang kemarin baru bikin acara akikah buat cucu laki-lakinya. Mending lo nikah sama dia noh."
Bugh
Sebuah bantal langsung melayang ke muka Elang.
"Gila ya lo!" Dara melotot. "Ya kali gue lo suruh nikah sama kakek-kakek. Mana dia lebih tua dari Papi."
Tawa Elang meledak, sementara Mami Nisa geleng-geleng kepala.
tapi ya gitu memastikan apa Dara cinta sama Luth saat ini ketika penampilan nya berbeda di banding ketika SMA ternya Anya gayung bersambut,,,maka. dari itu
Luth mengejar Mu. dan ya sedikit bikin ulah 🤣peran pembantu nya Valeri Bia,,makanya Luth percaya kalau ada Diego karena Luth sudah melihat sebelumnya,,,kayanya satpam dan pegawai hotel yang. membantu. Diego keluar sedangkan Luth sibuk meredakan ketakutan Dara,,,,ya sudah Luth ngaku saja
kalau Luth sudah ingat. sudah. keceplosan
🤭🤭 up lupa Luth bilang Diego 🤣🤣🤣🤣