Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ban 25 teror mantan yang mengerikan
Sudah 2 minggu berlalu sejak pernikahan mewah dan indah Una dan Pak Arya Mahendra yang viral di seluruh kota. Hidup Una sekarang benar-benar seperti di dalam surga dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap pagi ia dibangunkan dengan kecupan lembut di kening dari suaminya yang tampan dan kaya. Setiap siang ia makan makanan bergizi yang dimasakkan oleh koki pribadi bintang lima. Setiap malam ia dipeluk hangat oleh suaminya sambil mengelus perutnya yang hamil 3 bulan yang kini mulai sedikit terlihat membuncit dengan jelas dan ia terlihat semakin cantik, glowing, dan bahagia.
Pak Arya sangat memanjakannya seperti seorang ratu. Ia membelikan baju hamil mahal dari butik terkenal, sepatu impor, tas branded, bahkan membelikan mobil baru khusus berwarna putih untuk Una agar nyaman saat kontrol ke dokter kandungan. Semua pelayan di rumah sangat sayang pada Una karena Una sangat baik dan tidak sombong.
Namun kebahagiaan bagaikan di surga itu ternyata tidak bertahan lama. Teror mengerikan itu dimulai lagi, lebih kejam dari sebelumnya.
Hari Senin pagi jam 7, saat Una sedang sarapan bubur ayam kesukaannya yang dibuatkan koki di meja makan besar yang mewah dari kayu jati, tiba-tiba seorang kurir ojek online datang membawa paket kotak hitam misterius yang dibungkus plastik hitam.
Satpam menerima dan memberikan kepada Pak Arya. Pak Arya yang membukanya langsung marah besar sampai urat di lehernya keluar. Wajahnya merah padam menahan amarah. Di dalam paket kotak hitam itu ada bangkai tikus mati yang sudah bau busuk, foto pernikahan Una yang dicoret-coret dengan spidol merah dengan tulisan kasar "PELACOR MURAHAN" dan "JAN** HAMIL HARAM", serta surat ancaman yang ditulis dengan huruf kapital.
Surat itu berbunyi sangat mengerikan: "UNA, KAMU AKAN MATI! BAYI HARAMMU AKAN MATI DI DALAM PERUTMU! KEMBALIKAN HARTA SUAMI BARUMU ATAU AKU BAKAR RUMAH MEWAHMU MALAM INI! AKU AKAN DATANG! - RIZAL MANTAN SUAMIMU"
Una yang melihat bangkai tikus itu langsung mual hebat, muntah-muntah di meja makan, pusing, dan akhirnya pingsan tak sadarkan diri di atas meja makan karena syok berat melihat ancaman sekejam itu. Pak Arya sangat panik dan langsung berteriak memanggil dokter pribadi dan semua satpam.
"GANTI SEMUA CCTV DENGAN YANG BARU DAN LEBIH JELAS! TAMBAH 10 SATPAM LAGI YANG BADANNYA BESAR-BESAR! LAPORKAN KE POLISI SEKARANG JUGA! SAYA TIDAK MAU ISTRI SAYA KENAPA-NAPA!" teriak Pak Arya dengan amarah yang belum pernah terlihat sebelumnya oleh para pelayan. Wajahnya yang biasanya lembut kini terlihat sangat menyeramkan.
Dokter pribadi datang dengan cepat dan memeriksa Una yang sudah siuman di kamar dengan infus. Dokter berkata dengan wajah serius, "Pak Arya, Ibu Una stres berat. Kandungan 3 bulan ini sangat rawan sekali. Ini trimester pertama yang paling berbahaya. Jika Ibu Una terus syok, kaget, dan stres seperti ini, bayinya bisa keguguran dan pendarahan. Tolong jangan buat Ibu Una stres lagi, buat dia bahagia terus."
Pak Arya mengangguk dengan mata berkaca-kaca dan memeluk Una yang masih menangis ketakutan di ranjang dengan selimut tebal.
"Maafkan aku sayang, aku suami yang gagal tidak bisa melindungimu dengan sempurna. Mulai hari ini, kamu tidak boleh keluar rumah sendirian satu langkah pun. Aku akan selalu di sampingmu 24 jam. Aku akan cuti dari kantor," kata Pak Arya sambil mencium kening Una.
Tapi teror kejam itu tidak berhenti sampai di situ saja, malah semakin menjadi-jadi.
Malam harinya, jam 2 malam yang sunyi, saat Una dan Pak Arya sedang tidur pulas di kamar mewah mereka dengan AC dingin, tiba-tiba terdengar suara lemparan batu yang sangat keras dan besar ke jendela kaca kamar mereka. "PRANGGGG! DOR!"
Kaca jendela yang tebal pecah berantakan. Pecahannya hampir mengenai wajah Una. Una terbangun dan menjerit histeris sangat keras sampai satu rumah terbangun. Ada batu besar sebesar kepala bayi dibungkus kertas koran.
Pak Arya dengan sigap berlari dan mengambil kertas koran itu meski tangannya berdarah terkena pecahan kaca. Tulisannya lebih mengerikan: "KELUAR DARI RUMAH MEWAH INI ATAU AKU BUNUH BAYIMU DENGAN PISAU! AKU TAHU KAMU HAMIL 3 BULAN DAN AKU TAHU KAMARMU DI SEBELAH TAMAN! AKU MENGINTAIMU!"
Una menangis ketakutan sambil memeluk perutnya erat-erat. "Mas, aku takut Mas, aku takut sekali Mas, aku takut bayi kita kenapa-napa. Rizal benar-benar sudah gila, dia ingin membunuh kita Mas!"
Pak Arya langsung mengambil pistol dari laci pengaman di kamarnya, tapi ia tahan emosinya. Ia tidak mau bertindak bodoh dan masuk penjara.
Ia langsung telepon Kapolres yang merupakan teman baiknya sejak kuliah hukum. "Halo, Pak Kapolres, ini saya Arya Mahendra. Rumah saya di Pondok Indah nomor 10 diteror mantan suami istri saya yang bernama Rizal. Istri saya hamil 3 bulan hampir keguguran karena teror. Saya minta perlindungan polisi 24 jam sekarang juga di rumah saya!"
Dalam 15 menit saja, 2 mobil polisi dengan sirine meraung-raung datang dan menjaga rumah mewah itu dengan senjata lengkap. Warga komplek perumahan mewah ikut terbangun dan melihat.
Keesokan harinya, pagi