NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diangkat Lalu Dibanting Sekeras Mungkin

Hansen datang bersama Raka, mereka tampak bahagia saat menuju meja makan. Di meja makan ada Jihan yang sedang menyiapkan makanan yang di bawa oleh Hansen.

Makanan yang di bawa cukup banyak, ada dimsum, ayam goreng saos mentega, martabak telor dan juga sate taichan. Semua itu makanan kesukaan Jihan.

Hansen tau, karena sering melihat ke empat makana itu di ruangan tempat Jihan bekerja dan hampir setiap hari Hansen melihat makanan yang sama di meja kerja istrinya tersebut.

Di lain pihak, Jihan tetap bersikap biasa. Tidak ada ekpresi bahagia atau ekpresi yang Hansen harapkan. Ya, tentu saja Jihan bersikap biasa, karena ia tau semua makanan ini bukan untuk nya, melainkan untuk Hansen sendiri dan putra semata wayang mereka.

"Selamat makan, Bunda lanjut melipat baju dulu ya," ucap Jihan seraya membawa paperbag dan beberapa plastik itu menuju dapur.

"Eh, Bunda nggak ikut makan? Makanan ini banyak banget lo, Bun. Kita berdua nggak mungkin habis kan, Pi?" ucap Raka, spontan.

"Bisa di simpan di kulkas nanti. Besok bisa dihangatkan kan." Jihan tersenyum. Lalu kembali melangkah.

Namun sebelum langkahnya sampai ke daput, Hansen langsung meraih lengan Jihan.

"Sesekali temenin kami makan lah, Bun. Masak kamu nggak punya waktu sebentar saja buat nemenin kami makan?" pinta Hansen lembut.

Lagi-lagi Jihan seperti seseorang yang selama ini melakukan kesalahan. Padahal apa yang ia lakukan selama ini hanya untuk menghargai ketidaknyamanan Hansen saat bersamanya.

"Iya, Bun, ayolah sekali kali kita makan bareng. Raka juga pengen lo Bunda sama Papi makan bareng Raka." Raka tersenyum tanpa rasa bersalah.

Tak ingin membuat sang putra kecewa, Jihan pun akhirnya menuruti keinginan tersebut.

"Tapi Bunda nggak ikut makan ya, kan tadi udah makan. Masih kenyang ni."

"Oke, temenin kami saja, nggak apa." Hansen lalu menggandeng Jihan lalu menarik kursi untuknya. Dan ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Pertahanan di hati Jihan sedikit goyah. Namun dengan cepat ia meriset perasannya agar tidak baper terhadap perlakuan Hansen.

Jihan duduk tepat di samping kanan Hansen dan Raka ada di sebelah kiri. Lalu ayah dan anak itu mulai makan makanan yang Hansen bawa.

"Enak, Ka?" tanya Hansen. Serius namun dibarengi senyum.

"Enak, Pi. Papi beli di mana?"

"Di tempat langganan Bunda."

Langganan aku? Eh bagaimana dia tahu?

Batin Jihan bertanya, namun ia segera menepis jawaban yang mungkin akan membuatnya kecewa. Sebab tiba-tiba saja ia merasa Hansen diam-diam memerhatikan dirinya.

"Owwhhhh... pantas saja enak. Bunda emang selalu tau di mana makanan enak itu berada. Bahkan masakan Bunda juga enak. Bu Guru pernah memujinya."

"Hah? Bu Guru, kok bisa?"

"Ya, waktu itu, saat kami makan bersama, Raka tawarin lauk Raka ke Bu Guru dan Bu Guru pun mau mencicipinya, beliau bilang masakan Bunda enak."

"Ohhh. Bunda memang pandai memasak." Hansen tersenyum dan ada rasa bangga di sudut hatinya. Sayangnya Jihan hanya tersenyum, tidak menimpali obrolan mereka. Karena hanya berasa di dekat Hansen saja, rasanya sulit baginya mengendalikan detak jantungnya, apa lagi saat ini ia sedang dipaksa untuk mengubur cinta yang masih membara di hatinya. Ini sulit, sesulit mengikhlaskan sesuatu yang ia sayangi.

"Ayo, Bun, cobain dimsumnya, enak lo," ucap Raka menawari.

Jihan hanya tersenyum lalu menggeleng. Tapi tidak dengan Hansen.

Ia segera mengambil dimsam dengan sumpitnya, lalu mencelupkan ke saos asam manis yang Jihan suka. Lalu..

"Aaa.. Bun," ucap Hansen seraya mendekatkan sambil berisi dimsum itu tepat di depan mulut Jihan. Tentu saja perlakuan itu pun membuat Jihan gugup.

"Ayo, Bun, buka mulutnya, Papi dengan senang hati suapin, Bunda.... " pinta Raka, seolah menunggu ibunya mau menerima suapan itu.

"Ayo buka mulutnya... " Hansen mendorong lebih dekat dimsum tersebut ke bibir istrinya.

Tak ingin membuat sang putra kecewa, Jihan pun akhirnya mau membuka mulut dan... dimsum itu pun masuk ke dalam mulutnya.

Jihan gugup. Bingung. Takut dengan perasaannya sendiri. Untuk itu ia pun mengunyah dimsum itu sembari menunduk. Jihan tak ingin Hansen tau jika dia sedang menyembunyikan sebuah ketakutan.

Di menit berikutnya, Hansen melakukan hal yang sama dan untuk kedua kalinya Jihan menerima suapan suaminya.

"Enak kan, Bun, dimsumnya?" tanya Hansen dengan senyum manisnya.

"Ya." Jihan mengagguk. Lalu kembali mengunyah dimsum itu.

Raka tampak senang. Beberapa kali ia meledek ibu bapaknya. Dia juga meminta Jihan untuk sering makan bersama mereka.

"Bunda, nanti kita sering-sering makan bareng ya, enak kan?" ucap Raka, penuh semangat.

Hansen tersenyum. Namun tidak dengan Jihan. Ia tau permintaan itu pasti akan sulit ia penuhi. Mengingat beberapa hari lagi dia mungkin tidak akan tinggal di sini lagi.

"In Syaa Allah." Jihan mengangguk. Kemudian Hansen dan Raka kembali melanjutkan acara makan mereka.

Setelah semuanya selesai, Jihan pun merapikan meja makan. Lalu menyimpan sisa yang ada di kulkas.

Raka ke ruang TV, sengaja anak itu tak kembali masuk ke kamar karena niatnya dia mau bercengkrama dengan sang ayah.

Tak lama berselang, Hansen datang menghampiri Jihan.

"Aku harap kamu nggak salah mengartikan sikapku tadi Jihan," ucap Hansen tiba-tiba.

"Sikap yang mana?" tanya Jihan, lugu.

"Aku menyuapimu bukan karena keinginan ku, aku harap kamu mengerti."

"Oh itu. Seharusnya nggak usah tadi." Jihan merasa hatinya teremas.

"Aku hanya ingin membuat Raka bahagia. Aku ingin dia merasa kalo bapak ibunya rukun."

"Ya, saya mengerti." Jihan mengelap tangannya.

Lalu memasukkan semua makanan yang sudah dia rapikan ke dalam kulkas.

"Besok pengacaraku akan ke rumah, aku harap kamu nggak bikin masalah," ucap Hansen lagi.

"Baik." Jawaban yang cukup singkat, namun itu bisa membuat Hansen terdiam. Jihan tak minat berbicara apapun dengan Hansen sekarang, ia tau, pria itu sedang mempermainkan perasaannya. Tak ingin semakin sakit, Jihan pun akhirnya pergi meninggalkan Hansen yang masih berada di wastafel dapur.

Demi apapun, setelah ucapan Hansen barusan, Jihan tak ingin mendengar apapun lagi. Ia tau Hansen sama sekali tidak punya niat menjalin hubungan layaknya suami istri dengannya.

Bersambung...

1
Setyowati Setyowati
nahhh menyesalkannnn ..makanya punya istri di sayangi di hargai seperti kamu menghargai dirimu sendiri...sekarang baru tau rasa kamu Hansen setelah Jihan pergi ..dan inilah awal perjuangan mu
Setyowati Setyowati
pengharum ruangan dong thor masak penghargaan ruangan
Rini Sya: Typoku kebangetan mak🤣
total 1 replies
Halimah
Dasar laki" munafik
Halimah
Betul Ji.... Mending km resign n pergi sejauh mungkin biar km ga bs ketemu lg sm Hansen
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
sunaryati jarum
Semoga nanti.Jihan memberi kabar Hanzen
Setyowati Setyowati
lanjut lagi Thor..sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!