NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Jingga baru selesai mengganti pakaian kerja ketika sebuah pesan dari Samudera masuk ke ponselnya.

Samudera: [Akhir pekan ini kamu jadi datang? Arka sudah menghitung hari sejak aku memberitahunya.]

Jingga tersenyum. Ia membalas bahwa dirinya akan datang selama tidak ada perubahan jadwal kerja. Tak lama kemudian, Samudera mengirim foto Arka yang sedang menggambar dengan krayon. Di atas kertas itu terdapat tiga orang dengan bentuk tubuh tidak beraturan dan sebuah rumah kecil.

Jingga: [Ini gambar siapa saja?]

Samudera: [Kata Arka, itu Papa, Arka, dan Tante Suster.]

Jingga terdiam menatap layar. Ia tahu gambar anak kecil tidak seharusnya dimaknai berlebihan, tetapi ada sesuatu yang menghangatkan sekaligus menyentuh hatinya.

Jingga: [Gambarnya bagus. Bilang pada Arka, Tante Suster suka.]

Samudera: [Nanti kusampaikan, sepertinya dia akan sangat senang.]

Jingga menyimpan ponselnya dengan senyum tipis. Ia mulai menyadari bahwa kehadiran Samudera tidak lagi sekadar membuatnya merasa nyaman. Ia mulai menantikan percakapan mereka, bahkan hal-hal kecil yang berkaitan dengan Arka.

Namun, ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan perasaannya.

Sore harinya, Samudera menghampiri Jingga di ruang perawat.

“Ada waktu sebentar?” tanyanya.

Jingga mengangguk. “Ada apa, Mas?”

“Aku ingin membicarakan program pelatihan keperawatan lanjutan yang kamu ikuti. Hasil seleksinya akan diumumkan minggu depan. Aku sudah memastikan penilaiannya dilakukan secara independen.”

Jingga menghela napas lega. “Terima kasih. Aku sempat khawatir karena ada beberapa orang yang menganggapku mendapat perlakuan khusus.”

“Karena aku mengenalmu, bukan berarti kamu tidak pantas mendapatkan kesempatan itu“Aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri.”

“Dan itulah yang harus kamu lakukan.” Samudera tersenyum. “Apa pun hasilnya, jangan biarkan pendapat orang lain membuatmu meragukan dirimu.”

Perkataan Samudera membuat Jingga merasa semakin dihargai. Pria itu tidak menawarkan jalan pintas atau menggunakan kedudukannya untuk membantunya. Ia justru memastikan Jingga memperoleh kesempatan yang adil.

Sebelum mereka berpisah, sebuah suara menyela.

“Maaf mengganggu.”

Leo berdiri di dekat pintu sambil membawa map. Ia menatap Samudera sebentar sebelum mengalihkan perhatian kepada Jingga. “Aku datang untuk menyerahkan dokumen kerja sama program kesehatan. Sekalian, aku ingin memastikan apakah kamu bersedia menghadiri acara makan malam bersama tim mitra minggu depan.”

“Kalau acaranya berkaitan dengan pekerjaan, aku perlu melihat jadwalku terlebih dahulu,” jawab Jingga.

“Tidak masalah. Aku akan mengirimkan undangannya.”

Leo kemudian melirik Samudera. “Kebetulan sekali kita bertemu lagi.”

“Kami sedang membahas pelatihan keperawatan.” Samudera membalas dengan tenang

“Aku tidak bertanya tentang itu.”

“Kalau begitu, sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan.”

Jingga mengembuskan napas, mulai tidak nyaman dengan persaingan yang perlahan terlihat di antara keduanya.

“Kalau kalian sudah selesai bertukar sindiran, aku masih punya pekerjaan,” katanya tegas.

Leo tertawa kecil, sedangkan Samudera hanya tersenyum tipis.

“Baiklah, aku tidak akan mengganggu,” ujar Leo sebelum pergi.

Setelah suasana kembali tenang, Jingga menatap Samudera. “Mas, kamu tidak perlu menanggapi Leo seperti tadi.”

“Aku tidak bermaksud bersaing dengannya.” Samudera memasukkan kedua tangannya ke saku jas. “Aku hanya tidak suka ketika seseorang berusaha mengubah percakapan sederhana menjadi perlombaan.”

Jingga tertawa pelan. “Kalau begitu, jangan sampai kamu ikut perlombaan yang sebenarnya tidak perlu.”

Samudera menatap wanita dengan mata sendu itu beberapa saat sebelum menjawab, “Aku akan mengingatnya.”

____

Di tempat lain, Rangga duduk berhadapan dengan Dira. Pemeriksaan lanjutan telah selesai, dan dokter memastikan bahwa kehamilan Dira memang masih berlangsung pada tahap awal.

Rangga memandangi hasil pemeriksaan dengan wajah tegang.

“Kita harus membicarakan langkah selanjutnya,” katanya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

Dira mengangguk. “Aku ingin kamu bertanggung jawab. Aku tidak mau anak ini tumbuh tanpa mengetahui siapa ayahnya.”

“Aku tidak mengatakan akan lari dari tanggung jawab.”

“Tapi kamu juga tidak memberikan kepastian.”

Rangga mengusap wajahnya kasar. “Dira, aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Pernikahan kita masing-masing sudah meninggalkan banyak masalah. Kalau kabar ini sampai kepada keluarga, akibatnya bukan hanya untuk kita.”

Dira menoleh tajam. “Jangan membawa-bawa pernikahan seolah aku satu-satunya orang yang bersalah. Kamu juga memilih hubungan ini.”

Rangga terdiam, ia tidak bisa menyangkalnya.

“Aku tahu, aku tidak sedang menyalahkanmu.”

“Lalu apa rencanamu?”

Rangga menatap jalanan di depan dengan wajah muram. “Aku akan menanggung biaya pemeriksaan dan kebutuhanmu selama kehamilan. Kita juga perlu memikirkan bagaimana menyampaikan semuanya kepada keluarga.”

Dira tidak sepenuhnya puas, tetapi ia menerima jawaban itu untuk sementara.

“Jangan berubah pikiran setelah ini, Rangga.”

“Aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku.”

Tetapi setelah Dira turun, Rangga tetap duduk lama di dalam mobil. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hubungan rahasianya akan membawanya ke situasi seperti ini.

Ia ingin menyalahkan keadaan, tetapi setiap kali mencoba mencari alasan, wajah Jingga justru muncul dalam ingatannya. Perempuan yang dahulu selalu mempercayainya kini sudah pergi, sementara dirinya semakin terjerat dalam keputusan-keputusan yang dibuatnya sendiri.

Rangga menerima pesan dari Dira yang mengingatkannya tentang jadwal pemeriksaan berikutnya. Ia membalas singkat, lalu membuka media sosial tanpa tujuan.

Sebuah unggahan rumah sakit menarik perhatiannya. Foto kegiatan pelatihan menampilkan Jingga sedang berdiskusi dengan Samudera. Keduanya tidak melakukan sesuatu yang istimewa, tetapi ekspresi Jingga terlihat begitu nyaman.

Rangga menggenggam ponselnya erat. Ia tahu dirinya tidak berhak cemburu. Tetapi mengetahui bahwa Jingga mulai tersenyum karena laki-laki lain membuat dadanya sesak.

___

Malam itu, Jingga menerima telepon dari Samudera.

“Maaf menelepon malam-malam. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak keberatan kalau makan malam akhir pekan nanti kita siapkan bersama.”

Jingga tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Tentu tidak. Memangnya Mas Samudera mau memasak apa?”

“Sejujurnya, aku sedang mempertimbangkan memesan makanan saja.”

Jingga tertawa. “Kenapa tidak bilang dari awal?”

“Karena aku ingin terdengar seperti tuan rumah yang bisa diandalkan.”

“Kalau begitu, rencana itu gagal.”

Samudera ikut tertawa. Percakapan mereka terasa ringan, tanpa kecanggungan yang dahulu sering muncul. Sebelum menutup telepon, Samudera mendadak berkata lebih serius.

“Jingga, aku senang kamu bersedia datang. Bukan hanya karena Arka menyukaimu.”

“Aku juga senang menghabiskan waktu bersama Mas Samudera,” jawab Jingga jujur, dia tak ingin lagi membohongi hatinya.

“Aku tidak ingin membuatmu terburu-buru. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa perhatianku kepadamu bukan sekadar karena kamu baik kepada anakku.” Suara Samudera terdengar pelan.

Jantung Jingga berdegup lebih cepat. Ia memahami maksud perkataan itu, tetapi belum tahu bagaimana harus membalasnya.

“Aku mengerti, aku masih belajar mempercayai perasaanku sendiri. Tapi aku tidak menutup kemungkinan untuk mengenal Mas Samudera lebih jauh.” Jawab Jingga.

“Bagiku, itu sudah cukup.”

Setelah panggilan berakhir, Jingga duduk diam dengan ponsel di tangan. Kali ini, ia tidak merasa harus melarikan diri dari kemungkinan mencintai seseorang lagi.

1
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
Mundri Astuti
mudah"an ga ada yg rusuh lagi ... akhirnya jingga menemukan bahagianya
Mundri Astuti
kirim org ke buat ngawasin keluarga mendiang istrimu sam...
Mundri Astuti
oiiiii Dira ....ga usah pake nyalahin org ..dah tau lagi berkendara suamimu ...malah ngajak ribut lagi...

denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita
Agunk Setyawan
karma
Sarmini Isang
rasain rangga,dl km mensia siakan anak dan istrimu,sekarangpun Allah ambil anakmu dan bahkan tidak diberikan kesempatan memiliki anak lg selama ber istrikan dira,nikmat kan hasilnya kerena dl menyakiti anak dan istri
Mundri Astuti
nah nikmatin dah hasil mengkhianati dan menyakiti istri sah mu...walau kalian akhirnya bersatu ..kebahagian tdk serta merta mengikuti kalian
Mundri Astuti
ayo samudra ....segera selidiki...keluarga mantanmu ga beres euyyy
Heni Setiyaningsih
preet telat 😂
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Sri Widiyarti
ampun deh keluarga benalu ga tau diri jangan sampe jingga terjebak Thor...
Sarmini Isang
hadeeeh,banyak bngt sampah dan benalu ya di kehidupan jingga,mereka pikir sdh pintar dan nenganggap jingga dan samudera bodoh,sampah rangga dan dira saja tinggal metik karma mereka yg sedang berjalan,tunggu giliran kamu kevin laki2 pecundang yg mau numpang hidup enak,orang tuanya jg sama benalunya
Sarmini Isang
good Leo buktikan km mampu dan lebih baik dr rangga,rangga hanya modal dukungan dr papanya tp kemampuan minus,cuma mampu mengumbar nafsu dan arogan,sekarang tinggal menikmati hasilnya rangga,dl km selalu menyakiti jingga dan mengabaikan anakmu demi anak orang lain,nikmati hidup seperti di neraka dengan dira yg tidak becus ngurus anak,semoga keguguran dan rahimnya diangkat,walaupun anaknya lahir akan cacat dan dira tidak bisa punya anak lg,sedangkan jingga sedang menyambut kebahagiaan dimasa depan bersama samudra
Mundri Astuti
Dira anak have juga ternyata...tapi kelakuannya minus yak
Mundri Astuti
tanggung jawab lah kau Rangga, kamu yg memulai
Sarmini Isang
setelah skandal rangga dan dira pasangan sampah menjijikan itu diketahui oleh keluarga besar cendana,rangga bakal hancur karirnya didepak dr perusahaan dan digantikan Leo,hudup miskin dan br sadar dia sangat mencintai jingga,apa jin dasim dira masih mau sama rangga,setelah diusur keluarganya
Sarmini Isang
mampus km rangga,balan hancur hidupmu,karirmu dan masa depanmu hancurrrr
Mundri Astuti
biar rasa ...cihhh sok lemah si Dira itu...di depan jingga keluar aslinya
Mundri Astuti
diiihhhh dari awal kamu nikahin jingga aja niatnya dah jelek Rangga ...skrg kamu dah dpt apa yg kamu inginkan malah masih ngerecokkin jingga
Mundri Astuti
ga sabar ...segala kebusukkan Rangga dan Dira terbongkar didepan keluarga besarnya Rangga termasuk papanya rangga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!