Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau ke Pesta
"Masih bingung, Sya?"
Kyle bertanya sebab entah sudah berapa lama Marsya mengacak-acak lemari pakaian untuk mencari gaun pesta yang akan dia gunakan di acara birthday party salah satu temannya. Sejak Kyle pulang kerumah, makan, membersihkan diri, aktifitas Marsya masih sama, mencari gaun pilihannya. Padahal berbagai model dan warna Marsya miliki, entah istrinya ini sedang mencari gaun dengan model seperti apa lagi. Sudah sebanyak ini Marsya belum juga menentukan pilihannya.
Tersisa dua jam lagi menuju pesta, Marsya merasa frustasi, dia belum mempersiapkan apapun juga. Kyle membuang nafas panjang, melihat kamar berantakan membuat kepalanya mulai sakit. Baik lah, sepertinya Kyle harus bertindak. Dia meminta Marsya bersiap dan segera membawanya membeli gaun. Setelah itu mereka akan mendatangi salon kecantikan untuk merias Marsya sebelum berangkat ke pesta. Ya, itu adalah cara yang paling cepat dari pada melihat Marsya berlama-lama berkutat dengan lemari pakaiannya. Sangat memusingkan.
Sekarang, Marsya hanya perlu mempersiapkan aksesoris, tas pesta dan sepasang heels. Sepatu hitam dengan aksen strap berwarna emas dan hak runcing setinggi 10 centi meter menjadi pilihannya. Warna netral yang cocok untuk segala warna gaun. Kyle jinjing tas dan heels itu menuju mobilnya, sementara Marsya sibuk dengan wadah berisi potongan buah segar ditangannya, mulutnya sibuk mengunyah sepanjang jalan sampai mereka tiba di butik tujuan.
Tidak memiliki banyak waktu untuk memilih, Marsya hanya mengambil tiga gaun cantik diantaranya. Dia bawa semua gaun itu menuju fitting room dan akan dia coba satu persatu dan menunjukkannya pada Kyle. Setelah dicoba, dua gaun pertama masih kurang cocok menurut Marsya, tersisa gaun ketiga yang merupakan gaun pilihan Kyle. Gaun satin bernuansa champagne gold yang memancarkan kesan mewah, elegan dan glamor klasik telah sukses menjadi penentuan akhir. Marsya sangat menyukai gaun pilihan Kyle ini.
Setelah memakai gaun itu, sekali lagi Marsya tunjukkan kepada Kyle. Suaminya itu tercengang, gaun pendek sebatas paha membuat Marsya semakin cantik dari sebelumnya. Lekuk tubuh Marsya terlihat sempurna dalam balutan gaun itu. Bagian dada yang sedikit terbuka terlihat sangat bulat dan padat, membuat kesan sexy dan sensual. Kyle meneguk ludah seketika.
"Aku suka yang ini. Bagus, ya?" Marsya bertanya pendapatnya, Kyle pun mengangguk setuju. Namun sedetik kemudian, dia berubah pikiran. Kyle teringat sesuatu, jika gaun ini menjadi pilihan Marsya, sepertinya dia tidak akan menyetujuinya. Sebab banyak bagian tubuh Marsya yang terekspos. Menggunakan gaun ini disebuah pesta yang sudah pasti dihadiri banyak orang, Kyle merasa khawatir karena akan banyak laki-laki yang menatap istrinya ini, Kyle tidak akan rela.
"Sya, cari yang lain, ya? Ini terlalu terbuka. Gue nggak mau disana lo jadi tatapan buaya darat mata keranjang"
Ucapan Kyle membuat Marsya tertawa, dia lupa mengatakan kalau pesta ini hanya dihadiri oleh perempuan, tidak ada laki-laki disana, jadi suaminya itu tidak perlu khawatir. Kyle pun merasa lega dan tenang. Sekarang, Kyle akan segera membawa Marsya menuju salon untuk merias diri dan menata rambut, sebab waktu mereka tidak banyak, hanya tersisa satu jam lagi.
Akhirnya, Marsya tiba dilokasi lima belas menit sebelum acara dimulai, dia pun bersiap turun dari mobil setelah bercermin dan memastikan penampilannya sekali lagi. Kyle tersenyum menatap Marsya, malam ini istrinya terlihat sangat-sangat cantik. Mulutnya tidak berhenti menyanjung dan memuji Marsya, membuat Marsya merasa malu dan tertawa geli.
"Kalau udah selesai kabarin, nanti gue jemput"
"Iya. Aku turun, ya" Setelah melepas sabuk pengamannya, Marsya mendekat dan memberi kecupan dibibir Kyle. Mata Kyle membulat sempurna sebelum tersenyum, cukup terkejut rasanya mendapat ciuman mendadak dari istrinya ini. Kejadian yang langka menurutnya, sebab Marsya yang biasanya malu-malu saat dicium, kini menciumnya lebih dulu tanpa diminta. Hal ini membuat Kyle mulai percaya diri bahwa Marsya juga mulai menyukai dirinya.
Sepeninggal Marsya, Kyle menghampiri tempat kerja Leo, coffee shop. Tempat itu akan menjadi tempatnya untuk menunggu Marsya menyelesaikan acaranya. Melihat kedatangan Kyle, Leo bergegas menghampiri dan meminta sahabatnya itu untuk duduk di area outdoor, area favorite mereka saat berkumpul. Kyle berikan satu buah kartu pembayaran kepada Leo dan Leo pesankan air mineral, secangkir kopi kesukaan Kyle dan sebungkus rokok diatas meja.
Sejujurnya, Kyle tidak terlalu suka merokok, sangat jarang dia menyentuh barang itu. Tetapi malam ini Kyle menginginkannya. Mungkin tidak masalah menghisap satu atau dua batang rokok untuk sesekali, pikir Kyle. Dan dia akan melepas jaket, berkumur dan memakan permen sebelum menjemput Marsya nanti, dia tidak mau istrinya itu merasa terganggu dengan aromanya. Setelah menyalakan pemantik gas, satu hisapan Kyle nikmati dengan perlahan, hembusan asap putih dia terbangkan ke udara. Sangat tenang rasanya, didukung suasana kafe yang tidak terlalu ramai dan berisik.
"Marsya nggak ikut? Kemana dia?"
"Ada acara"
"Acara nemenin ayang Erik dirumah sakit? Hahaha" Candaan Leo tidak digubris, Kyle hanya melirik dan kembali menghisap rokoknya. Mendengar nama Erik membuatnya moodnya buruk seketika.
"Kak, boleh minta nomernya, nggak?" Tanya seorang gadis yang menghampiri meja Kyle dan Leo. Dua orang gadis muda yang dengan berani menyodorkan ponselnya pada Kyle, berharap Kyle bersedia menuliskan nomer ponselnya disana. Kyle sudah muak, bukan sekali dua kali dia didatangi gadis-gadis yang mengajaknya berkenalan bahkan sampai meminta nomer ponsel. Tidak perlu menolak dengan kata-kata, lirikan tajam Kyle sudah memberi jawaban.
"Hehehe, jangan, dia udah punya istri. Nomer gue aja mau nggak?" Leo berusaha mencairkan suasana. Bagaimana tidak, tatapan Kyle membuat gadis-gadis itu mematung ketakutan, suasana mendadak tegang. Dan sekarang, tawaran Leo pun ditolak, para gadis itu kembali ke meja mereka. Terdengar nafas Leo yang terasa berat, dia kecewa ada perempuan yang menolak menyimpan nomer ponselnya. Ya, memang begitu alurnya, para gadis lebih tertarik dengan Kyle atau Erik, padahal dia tidak kalah tampan dari dua sahabatnya itu, batin Leo dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
"Eh bro, lo sama Marsya udah having sex?" Pertanyaan Leo membuat Kyle tersedak asap rokok. Sial, dadanya terasa sesak, dia langsung menyambar air mineral diatas meja dan meneguknya dengan brutal. Sementara Leo, dia tertawa keras melihat itu, reaksi terkejut dari Kyle terlihat sangat natural membuatnya tidak berhenti tertawa.
"Santai, gue cuma nanya. Jangan gugup lah, hahahaha"
"Bodoh, kayak nggak ada pertanyaan lain"
"Hahaha, apa salahnya gue nanya? Bro, nge-sex enak nggak sih?"
"Berisik lo. Udah, gue mau cabut" Kyle menyambar kunci mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi untuk menjemput Marsya. Dia tidak memperdulikan Leo yang masih tertawa mengejeknya.
Makhluk itu sudah gila, batin Kyle. Tanpa ragu bertanya hal pribadi ditempat umum, memalukan. Tetapi jika dipikirkan baik-baik, pertanyaan Leo tidak bisa dia jawab karena dia sendiri belum pernah merasakannya. Pernikahannya dengan Marsya baru berjalan beberapa hari dan belum ada kesempatan untuk melakukan malam pertama dengannya. Ditambah keadaan Marsya yang sedang datang bulan membuatnya harus menunda sedikit lebih lama lagi.
Sejujurnya itu tidak masalah, Kyle sangat bersedia menunggu sambil terus membuat Marsya jatuh cinta padanya. Maka dengan begitu, malam pertama akan terasa sangat indah.
"Gimana? Happy nggak?" Kyle bertanya sambil membungkus tubuh Marsya dengan selimut yang dia ambil dari mobilnya. Udara malam itu terasa dingin, ditambah istrinya memakai gaun yang cukup terbuka membuat Marsya menggigil kedinginan.
"Happy banget. Acaranya seru, meriah dan ternyata tamunya cantik-cantik lho, Kyle"
"Oh? Tapi nggak ada yang secantik istri gue"
"Ish, kamu gombal terus. Ayo pulang" Marsya memeluk lengan Kyle dan membawa laki-laki itu menuju mobilnya.
Masih terbawa suasana pesta, Marsya begitu semangat dan tampak senang, senyumnya tidak luntur sejak tadi. Tangannya masih erat memeluk lengan Kyle bahkan sesekali kepalanya bersandar dibagian tubuh kekar itu. Langkah Marsya yang riang gembira, perlahan mulai melambat dan akhirnya berhenti ditempat. Terdengar Marsya meringis, dia menunduk dan memperhatikan sesuatu dibawah sana.
"Kenapa?" Kyle sedikit panik, tangannya langsung mengusap-usap perut Marsya, tentu dia tidak lupa kalau istrinya ini sedang datang bulan. Kyle hanya takut terjadi sesuatu, "Perutnya sakit? Periksa dulu ya sebelum pulang?"
"Bukan perut, tapi kaki. Kaki aku pegal kelamaan pakai heels, hehe"
"Ck, dasar. Gue cium baru tau rasa. Ayo, dimobil ada sandal, pakai aja" Kyle menggandeng tangan Marsya sampai mereka tiba diparkiran. Kyle tahu istrinya itu sudah tidak nyaman dengan sepatu hak nya. Untuk itu, setelah mengeluarkan sandal, Kyle berjongkok dan melepaskan satu persatu sepatu Marsya dan dia ganti dengan sandal miliknya. Kyle menahan tawa, gemas sekali melihat kaki Marsya yang begitu kecil memakai sandalnya yang berukuran besar.
"Kenapa ketawa?" Tanya Marsya sambil membungkuk, jelas dia mendengar Kyle sedang menertawakan sesuatu.
"Nggak apa-apa, yuk pulang" Jawab Kyle dengan senyuman, dia tuntun Marsya kedalam mobil dan segera pergi meninggalkan lokasi.
...••••...
To be continued yaaaa
guys jangan lupa komen, like dan subscribe
Jgn lupa dukungannya biar cerita ini makin berkembang 🥰🥰🥰