Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Tin…
Tin…
Tin…
Suara klakson mobil kembali terdengar di depan gedung kantor. Dera yang baru saja keluar dari pintu lobi langsung menghentikan langkahnya. Kali ini Mario datang sendiri. Tidak ada David di kursi kemudi. Pria itu menurunkan kaca jendela, tersenyum santai, lalu mengangguk ke arahnya.
“Ayo masuk. Kamu mau pulang, kan?” ucap Mario dari dalam mobil.
Dera langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Beberapa karyawan masih berhamburan keluar, ada yang sedang menunggu ojek, ada yang berjalan menuju parkiran. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak mau ada yang melihat.
Tanpa banyak bicara, Dera segera membuka pintu mobil dan masuk dengan gerakan cepat, lalu menutupnya rapat-rapat. “Buruan jalan. Aku tidak mau ada yang melihat kita,” ucap Dera panik, suaranya pelan tapi penuh desakan.
Mario terkekeh pelan. Ia tidak langsung bertanya, hanya menginjak gas sesuai permintaan Dera. Mobil segera meninggalkan depan gedung dan menyatu dengan lalu lintas sore.
Setelah beberapa menit, Mario menoleh sebentar. “Kenapa? Kamu takut ada yang lihat?”
Dera masih menatap ke depan, tubuhnya kaku. “Iya. Aku tidak mau mereka berpikir aku melet kamu,” jawabnya asal, wajahnya sedikit memerah.
Mario langsung tertawa lepas. Tawanya memenuhi kabin mobil, membuat Dera menoleh dengan ekspresi aneh. Ia menatap pria di sampingnya dengan bingung. Setiap kali bertemu, Mario selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan. Seolah dunia ini penuh hal yang menggelikan baginya.
“Kamu tidak gila, kan?” tanya Dera curiga, alis berkerut.
Mario masih tersenyum lebar, mengusap sudut matanya yang basah karena tertawa. “Tentu saja tidak. Hanya merasa lucu saja. Kamu kelihatan panik sekali. Padahal naik mobil bareng saya bukan kejahatan.”
Dera menghela napas, lalu memalingkan wajah ke jendela. “Buat kamu mungkin biasa. Buat saya tidak. Aku baru kerja di situ. Tidak mau jadi bahan gosip.”
Mario mengangguk pelan, kali ini lebih serius. “Baiklah. Lain kali aku tunggu di tempat yang lebih tersembunyi. Biar kamu tidak panik.”
Dera tidak menjawab. Ia hanya menghela napas lagi, mencoba menenangkan diri. Di luar, matahari sore mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Di dalam mobil, suasana perlahan kembali tenang, meski di dada Dera masih tersisa rasa canggung yang sulit dihilangkan.
Mobil Mario terus melaju membelah jalanan ibu kota yang padat.
Dera yang sejak tadi menatap keluar jendela tiba-tiba mengerutkan keningnya. Jalan yang dilalui mobil tidak mengarah ke kosannya. Lampu-lampu jalan dan rambu yang ia kenali justru semakin menjauh.
“Kita mau ke mana?” tanya Dera, nada suaranya waspada.
Mario tidak langsung menoleh. Matanya tetap fokus ke jalan, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. “Makan malam dulu, kamu pasti lapar kan?” tanya Mario.
Dera langsung menegang. “Hah? Tidak usah. Aku sudah bilang mau pulang. Aku bisa makan di kosan.” seru Dera. Dia tidak nyaman aja makan malam berdua dengan Mario.
“Tenang saja,” kata Mario tenang. “Hanya makan sebentar. Aku lapar, dan kamu juga belum makan sejak siang, kan? Habis itu aku antar pulang.”
Dera menggigit bibirnya Ia ingin menolak lebih tegas, tapi mobil sudah memasuki kawasan yang lebih ramai dengan deretan restoran dan kafe. Bau makanan dari luar sempat masuk saat kaca sedikit diturunkan, membuat perutnya yang sejak tadi kosong mulai berprotes pelan. Pria itu tahu aja kalau dia memang belum makan sejak siang.
“Aku tidak membawa uang banyak,” ujar Dera akhirnya, mencoba mencari alasan lain.
Mario terkekeh pelan. “Siapa bilang kamu yang bayar? Aku yang ajak, aku yang tanggung.” ucap Mario.
Dera terdiam. Ia menatap wajah Mario yang tenang di balik setir. Pria itu selalu berhasil membuat penolakannya terdengar kurang beralasan. Di satu sisi ia kesal karena merasa di paksa, di sisi lain rasa lapar dan kelelahan membuatnya tidak punya banyak tenaga untuk melawan.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah restoran yang tidak terlalu mewah, tapi terlihat nyaman dengan pencahayaan hangat. Mario mematikan mesin, lalu menoleh ke Dera.
“Ayo. Cuma makan malam. Tidak lebih.”
Dera menghela napas panjang. Ia membuka pintu mobil dengan gerakan enggan, masih sempat melirik ke kiri-kanan seolah khawatir ada yang mengenalinya. Di dalam hatinya, satu kalimat terus meyakinkannya. Ini hanya makan malam. Setelah ini aku pulang. Tidak lebih.
Tapi entah mengapa, setiap kali bersama Mario, dia merasa sedikit tenang.
Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam restoran. Cahaya hangat dari lampu gantung menyinari meja-meja kayu, sementara aroma masakan menguar dari dapur terbuka.
Mereka duduk di dekat jendela.
Mario memesan dengan tenang, Dera hanya mengangguk singkat saat ditanya pilihan. Suasana terasa biasa, sampai beberapa menit kemudian.
Dera yang sedang menunduk memandangi meja tiba-tiba membeku. Layar ponselnya menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk kedalam nomornya.
Ia membuka pesan itu, dan seketika wajahnya pucat pasi. Keringat dingin langsung membasahi pelipis dan tengkuknya. Napasnya memburu. Jari-jari yang memegang ponsel gemetar hebat hingga hampir menjatuhkannya.
Tiba-tiba kejadian di masa lalu muncul tanpa di suruh. Dadanya sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya.
“Kamu kenapa?” tanya Mario, suaranya penuh kewaspadaan.
Tidak ada jawaban. Dera hanya menatap layar dengan mata kosong, bibir bergetar tanpa suara. Tubuhnya kaku, seolah sedang kembali ke malam-malam terburuk di Bandung.
Mario tidak menunggu lama. Ia meraih ponsel itu dari tangan Dera yang lemas. Matanya menyipit saat melihat foto yang terpampang di layar ponsel Dera.
Vivian dan Galih dalam pose mesra, saling tersenyum di depan kamera, seolah sengaja dikirim untuk memanasi Dera.
Rahang Mario mengeras. “Mereka siapa?” tanyanya datar, tapi ada nada berbahaya di balik kata-katanya.
Dera menelan ludah. Bibirnya masih bergetar saat menjawab, suaranya hampir tidak terdengar. “Kakakku dan suaminya.”
Mario mengangguk mengerti, sebelumnya dia juga sudah mendapatkan cerita dari Gio.
Tanpa banyak bicara, ia menarik kursi lebih dekat, lalu merangkul bahu Dera dengan gerakan tegas namun protektif. Ia mengangkat ponsel, mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua. Dera masih membeku, matanya kosong, tidak sempat bereaksi.
Klik.
Mario mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menekan tombol kirim. Pesan itu langsung terkirim ke nomor Vivian, foto mereka berdua, dengan Dera di dalam rangkulannya.
“Sudah,” ucap Mario tenang, mengembalikan ponsel ke tangan Dera yang masih kaku.
Dera membeku total. Ia menatap layar, lalu menatap Mario, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena trauma, tapi karena tindakan impulsif pria di hadapannya. Di dalam restoran yang ramai itu, waktu seolah berhenti sejenak. Dera tidak tahu harus marah, takut, atau lega.
"Kamu harus melawannya. Jangan diam terus, atau kakakmu akan selalu menyakitimu" ucap Mario.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa