Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Ratu Baru Weiyang
Lan Zifey melangkah maju sambil menggendong putranya. Ia berlutut di hadapan Raja, menundukkan kepala, dan membiarkan suaranya bergetar dengan kelembutan yang telah ia latih selama bertahun-tahun.
“Yang Mulia, hamba tidak berani meminta kedudukan yang lebih tinggi. Hamba hanyalah seorang perempuan yang ingin membesarkan putra hamba dengan baik dan mengabdi kepada kerajaan. Berada di samping Yang Mulia yang begitu baik kepada hamba, adalah karunia terbesar”
Ia menatap bayi dalam gendongan pelayan yang berada di sampingnya itu penuh kelembutan seorang ibu.
Raja Han Quan diam membisu, dia terlihat dalam kebimbangan besar. Bukanlah hal yang mudah memindahkan posisi ratu yang telah disandang Wang Laoyin selama ini. Wang Laoyin sudah di akui oleh segenap rakyat sebagai ratu yang berwibawa dan kompeten, tidak ada yang bisa terbesit untuk menggantikannya. Tetapi, desakan para pejabat dan menteri soal kasus Wang Laoyin membuatnya harus melepaskan gelar ratu sementara. Dan di dalam kekosongan yang tak lewat sepenanak teh itu, Qian Bei telah berhasil menghasutnya untuk mempertimbangkan memindah gelar ratu pada orang lain.
"Berilah waktu ini selesai dulu," Ucapnya bimbang, cintanya pada Laoyin masih ada meski tertutup oleh ketakutannya kasus yang terjadi pada ratunya jadi alasan orang- orang mengecam tahtanya.
“Namun, jika kedudukan hamba dapat membantu menjaga ketenteraman istana dan memberi kepastian bagi masa depan putra Yang Mulia, hamba bersedia memikul tanggung jawab itu.” Kalimat itu terucap dengan suara yang di buat selembut mungkin dari bibir Lan Zifei
Ia berhenti sejenak, lalu menundukkan kepala semakin rendah.
“Hamba tidak menginginkan kehormatan untuk diri hamba sendiri. Hamba hanya memikirkan masa depan keluarga kerajaan. Jika kesetiaan dan keberadaanku bisa memulihkan semua rumor dan kecurigaan rakyat, hamba dengan sukarela menerima seberat apapun titah dari Yang Mulia”
Kata-kata itu begitu indah.
Begitu lembut.
Begitu sempurna untuk didengar oleh seorang Raja yang sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang diambilnya adalah demi kepentingan negara.
Lan Zifey tidak pernah berkata bahwa ia menginginkan mahkota.
Ia hanya berkata bahwa ia bersedia menerimanya demi kerajaan.
Dan di istana, perbedaan antara kedua kalimat itu sering kali menjadi selubung paling halus bagi ambisi.
Raja Han Quan memandangnya cukup lama.
Akhirnya, ia mengangkat tangan.
“Bangkitlah, Lan Zifey.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
“Mulai hari ini, di saksikan semua pejabat istana, kau akan menerima gelar Ratu Weiyang. Kau bertanggung jawab menjaga ketertiban kediaman dalam, mendidik para dayang, serta membantu memastikan masa depan keluarga kerajaan berjalan tanpa gangguan. Untuk pengobatan resminya akan diatur oleh departemen perayaan istana.”
Lan Zifey menundukkan kepala hingga dahinya hampir menyentuh lantai.
“Hamba menerima titah Yang Mulia.”
Kepala kasim segera berlutut.
“Selamat kepada Yang Mulia Ratu!”
Para pejabat mengikuti.
“Selamat kepada Ratu! Semoga Ratu panjang umur dan membawa kedamaian bagi kerajaan!”
Suara mereka memenuhi Aula Naga Emas.
Lan Zifey bangkit perlahan. Senyumnya tetap lembut, tetapi matanya berkilat oleh kemenangan yang akhirnya berada dalam genggamannya. Bahkan dia sendiri tak menyangka begitu cepat dia menerimanya hampir tanpa usaha yang berarti di depan raja Han Quan tepat setelah dia menyaksikan mahkota ratu dilepas di depan hidungnya.
Mahkota yang selama bertahun-tahun ia pandangi dari kejauhan kini akan menjadi miliknya.
Ia tidak perlu merebutnya dengan pedang.
Ia tidak perlu menantang Wang Laoyin di hadapan para bangsawan.
Ia hanya perlu membuat sang Permaisuri terlihat tidak layak mempertahankan kedudukannya, lalu berdiri di hadapan Raja sebagai perempuan yang menawarkan jalan keluar.
Dan ketika jalan itu terbuka, ia melangkah masuk.
Dengan senyum.
Dengan air mata.
Dengan seorang bayi di dalam gendongannya.
...***...
Upacara pengangkatan Lan Zifey dilaksanakan tiga hari kemudian. Seluruh halaman Istana Weishan dibersihkan. Batu-batu jalan disiram hingga mengilap, lentera merah diganti dengan lentera baru, dan tirai sutra kuning dipasang di sepanjang koridor yang menghubungkan Aula Naga Emas dengan Paviliun Zhaoyang.
Para pelayan menata bunga peoni di dalam vas porselen. Para musisi kerajaan berlatih memainkan lagu upacara, sementara para juru masak menyiapkan hidangan untuk perjamuan resmi. Bahkan kolam teratai di taman utama dihiasi lampu-lampu kecil yang memantulkan cahaya di atas permukaan air.
Seluruh istana tampak merayakan sebuah kemenangan.
Namun, bagi mereka yang memahami apa yang sebenarnya terjadi, perayaan itu memiliki rasa yang pahit.
Wang Laoyin telah kehilangan mahkotanya sebelum penyelidikan selesai. Kini, perempuan yang kedudukannya meningkat berkat kelahiran seorang putra akan duduk di tempat yang dahulu ditempati oleh sang Permaisuri.
Pada pagi upacara, Lan Zifey berdiri di dalam ruang persiapan Paviliun Zhaoyang.
Ruangan itu dipenuhi cermin perunggu, meja rias berukir bunga, serta lemari kayu cendana yang menyimpan pakaian kebesaran. Tirai sutra merah dan emas menggantung dari langit-langit, sementara aroma bunga peoni dan gaharu memenuhi udara.
Enam orang dayang membantunya mengenakan jubah Ratu.
Jubah itu berwarna merah keemasan, dibuat dari sutra terbaik yang didatangkan dari wilayah selatan. Sulaman phoenix emas membentang di bagian dada dan lengan, sementara pola awan keberuntungan menghiasi ujung pakaian. Benang emasnya begitu halus hingga tampak seperti sinar matahari yang dijahit menjadi kain.
Mahkota Ratu diletakkan di atas meja.
Bentuknya menyerupai phoenix yang sedang melebarkan sayap, dengan batu rubi di bagian kepala dan mutiara kecil yang menjuntai di sisi-sisinya. Setiap kali dayang mengangkatnya, cahaya memantul dari permukaannya, membuat mahkota itu tampak seolah-olah memiliki api sendiri.
Lan Zifey memandangnya tanpa berkedip.
“Angkat dagu Yang Mulia sedikit,” ujar seorang dayang.
Lan Zifey mengikuti instruksi itu.
Mahkota diletakkan di atas kepalanya.
Ketika dayang terakhir merapikan posisi hiasan tersebut, Lan Zifey menatap bayangannya di cermin.
Ia tampak seperti perempuan yang dilahirkan untuk memerintah.
Punggungnya tegak. Bahunya anggun. Wajahnya bercahaya di balik riasan tipis, sementara bibir merahnya membentuk senyum yang begitu sempurna hingga tidak seorang pun akan menduga bahwa di baliknya tersimpan ketakutan dan ambisi yang saling bertaut.
“Bagaimana penampilanku?” tanyanya.
Kepala dayang segera berlutut.
“Yang Mulia Ratu tampak begitu agung. Tidak ada perempuan lain di seluruh Weiyang yang mampu menandingi keindahan Yang Mulia.”
Lan Zifey tersenyum.
“Jangan terlalu memuji. Kecantikan bukanlah hal terpenting bagi seorang Ratu.”
“Benar, Yang Mulia.”
“Yang terpenting adalah kemampuan menjaga ketertiban dan memastikan orang-orang memahami siapa yang kini memegang kendali.”
Dayang itu menunduk lebih dalam.
Lan Zifey mengulurkan tangan, menyentuh sisi mahkota dengan ujung jarinya.
“Panggilkan Qian Bei.”
Tidak lama kemudian, Pejabat Qian Bei masuk melalui pintu samping. Ia telah berganti pakaian resmi untuk menghadiri upacara, dengan jubah biru gelap dan lambang pejabat tinggi yang terpasang di dada.
Ia membungkuk.
“Salam kepada Yang Mulia Ratu.”
Lan Zifey menatapnya melalui cermin.
“Bangkitlah. Apakah semua sudah disiapkan?”
“Benar, Yang Mulia. Para pejabat telah berada di aula. Titah pengangkatan akan dibacakan setelah Raja memasuki singgasana.”
“Bagaimana keadaan Paviliun Fengyi?”
“Wang Laoyin masih berada dalam pengawasan. Ia tidak diizinkan meninggalkan paviliun.”
Lan Zifey terdiam sesaat.
“Apakah ia mengetahui tentang upacara ini?”
“Mustahil baginya tidak mengetahui, Yang Mulia.”
Senyum Lan Zifey menipis.
“Bagus.”
Ia berdiri dari kursi rias, lalu membetulkan lengan jubahnya.
“Biarkan ia mendengar lonceng upacara dari balik jendelanya. Biarkan ia mengetahui bahwa seluruh istana sedang menyambut Ratu baru sementara dirinya tidak lagi memiliki hak untuk memerintah seorang pelayan pun.”
Qian Bei menundukkan kepala.
“Titah Yang Mulia akan hamba perhatikan.”
Lan Zifey berjalan melewati cermin besar dan berhenti di depan pintu.
Namun, sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi kepada Qian Bei.
“Pastikan tidak ada sesuatu yang terlewat. Aku tidak ingin kejadian yang tidak menyenangkan mengganggu hari ini.”
“Yang Mulia dapat tenang.”
Qian Bei membungkuk.
“Segala sesuatu berjalan sesuai rencana.”
Lan Zifey menatapnya sejenak, kemudian tersenyum.
“Semoga begitu.”
Ia melangkah keluar dari ruangan, diikuti enam dayang yang membawa ujung jubahnya agar tidak menyentuh lantai.
Di luar, musik upacara mulai dimainkan.
Dan Ratu baru Weiyang berjalan menuju aula dengan kepala dihiasi mahkota yang pernah menjadi milik perempuan lain.
(Bersambung....terimakasih reader sayang dah mampir di novel ini 🥰)