Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESALAHPAHAMAN
Udara di halaman pekarangan mendadak terasa membeku. Suasana haru dan penuh kehangatan yang baru saja terjalin seketika berganti dengan ketegangan yang pekat.
Nyonya Shen, Tuan Xin, dan anggota keluarga lainnya yang baru saja hendak melangkah ke dalam rumah langsung menghentikan langkah mereka.
Mereka menoleh dengan cemas, mendapati sang jenderal besar berdiri dengan postur siaga, pedang di balik jubahnya seolah siap terhunus kapan saja, sementara matanya menatap tajam ke arah gadis berambut pendek di dekat sumur.
Xiao Luo, yang sedetik lalu masih tersenyum geli, kini mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung melihat reaksi berlebihan dari pria di hadapannya.
"Tunggu, tunggu dulu!" seru Xiao Luo, mengangkat sebelah tangannya seraya mempertahankan dekapan pada Shen Yu Jin yang mulai merengek karena kaget mendengar suara bentakan dingin Shen Munchen.
"Jenderal Shen—atau siapa pun nama Anda—bisa tidak, jangan langsung main tuduh? Aku memang mirip sama istri Anda. Tetapi aku sama sekali tidak tertarik menjadi Nyonya Jenderal!" lanjut Xiao Luo dengan nada sewot, merasa harga dirinya sebagai anak modern yang mandiri tercemar oleh tuduhan ngawur tersebut.
Shen Munchen menyipitkan matanya. Tatapannya semakin lekat meneliti Xiao Luo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian kasual yang tipis dan nyaman, potongan rambut pendek sebahu yang modis, cara bicara yang berani tanpa rasa takut, hingga benda-benda aneh yang sering dibawa gadis itu—semuanya sama sekali tidak cocok dengan perempuan era kuno mana pun yang ia kenal.
Namun, wajah itu... wajah itu sungguh tidak bisa dibohongi. Garis hidung, bentuk mata, dan bibir itu benar-benar replika dari Xin Nian, wanita yang telah dinikahinya.
"Jangan berbohong!" suara Shen Munchen merendah, penuh ancaman tertahan. "Wajahmu persis seperti istriku, Xin Nian. Kalau bukan dia,dimana sekarang istriku? Dia tewas... atau disingkirkan oleh orang-orang istana saat kekacauan itu terjadi. Bagaimana mungkin ada seseorang yang memiliki wajah persis sepertinya, berdiri di tempat terasing ini dengan pakaian aneh?!"
Mendengar nama 'Xin Nian' disebut, Nyonya Shen dan Shen Tingting saling berpandangan dengan ekspresi sedih.
Mereka tahu jika Shen Munchen mengetahui bahwa istri tercintanya telah meninggal,pasti ia akan sangat sedih. Namun mereka tidak bisa membiarkan kesalahpahaman yang semakin melebar.
Nyonya Shen akhirnya maju beberapa langkah. Ia meletakkan tangannya yang gemetar di lengan sang putra, mencoba meredam amarah yang mulai membara di dada pria itu.
"Munchen, tenanglah, Nak," ucap Nyonya Shen dengan suara lembut namun tegas. "Turunkan tanganmu. Jangan bersikap kasar pada Nona Xiao."
Shen Munchen menoleh pada ibunya, kaget melihat pembelaan tersebut. "Ibu? Ibu tidak lihat? Wajahnya... dia sangat mirip dengan..."
"Ibu tahu, Munchen," potong Nyonya Shen sambil menghela napas panjang. "Ibu dan yang lainnya juga terkejut setengah mati saat pertama kali melihat Nona Xiao muncul dari dalam sumur itu beberapa waktu lalu. Tapi, dia bukan Istri mu."
Shen Munchen tertegun. "Maksud Ibu...?"
Sebelum Nyonya Shen sempat menjelaskan lebih jauh, Xiao Luo menghela napas berat. Ia mengusap-usap punggung Shen Yu Jin yang sudah mulai tenang kembali, lalu menatap lurus ke arah Shen Munchen dengan ekspresi jengkel campur sabar.
"Dengar, Tuan Jenderal yang terhormat," ujar Xiao Luo dengan nada bicara yang tegas. "Pertama, aku tidak tahu menahu soal istrimu yang mirip denganku. Nyonya Shen dan Tingting memang pernah cerita soal ini, tetapi aku belum melihatnya secara langsung! "
"Kedua, aku berasal dari dunia yang berbeda—dunia di mana perempuan bebas memotong rambut sesuka hati tanpa harus izin pada suami. Dan ketiga..."
Xiao Luo menunjuk ke arah sumur tua di belakangnya dengan dagunya.
"Aku bisa keluar-masuk pulau ini lewat sumur itu karena keajaiban dimensi, bukan karena aku adalah mata-mata istana atau jelmaan istrimu yang mati penasaran. Jadi, simpan pedangmu dan berhentilah menatapku seperti buronan buron!"
Suasana di halaman itu mendadak hening seketika. Angin laut berembus pelan, menerbangkan ujung rambut pendek Xiao Luo.
Shen Munchen terpaku di tempatnya. Otak strategisnya yang terbiasa menganalisis medan perang dan intrik politik mendadak konslet mendengar penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal itu.
Namun, melihat tidak ada kebohongan di mata gadis tersebut, serta fakta bahwa keluarganya tampak begitu tenang dan akrab dengan keberadaan Xiao Luo, pertahanan logikanya mulai runtuh.
Ia menatap sumur tua itu, lalu beralih menatap wajah Xiao Luo lekat-lekat.
Dunia yang berbeda...? batin Shen Munchen, merasa dunianya sendiri kini benar-benar jungkir balik.
"Mari kita lanjutkan di dalam. Nona Xiao, Anda juga sekalian ikut masuk," ajak Tuan Xin dengan ramah seraya memberi gestur mempersilakan.
Xiao Luo mengerjap pelan, melirik sejenak ke arah pintu rumah yang tampak sederhana namun tertata rapi. "Apakah ruangannya masih muat?" tanyanya ragu, mengingat bagian dalam rumah itu tidak terlalu besar untuk menampung begitu banyak orang sekaligus.
"Hanya tambah satu orang. Bukankah waktu itu juga muat? Biar anak-anak tetap di luar. Bibi Ma, tolong siapkan makanan dan minuman, ya," lanjut Tuan Xin sambil tersenyum menenangkan.
"Biar aku bantu, Bi," sahut istri Xin Meng Ye cekatan, menawarkan diri.
"Mari, Nyonya Muda," balas Bibi Ma dengan hormat.
Karena desakan situasi dan rasa tidak enak untuk menolak, Xiao Luo akhirnya mengangguk.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah sambil tetap mendekap erat Shen Yu Jin di dalam gendongannya. Bayi mungil itu tampak tenang, jemarinya sesekali mencengkeram ujung baju Xiao Luo dengan nyaman.
Mengingat keterbatasan kursi kayu yang ada, Nyonya Shen berinisiatif mengambil tikar jerami dan membentangkannya rapi di atas lantai . Tak lama kemudian, semua orang duduk bersila melingkar di atas tikar tersebut, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus tegang secara bersamaan.
Begitu posisi mereka cukup tenang, Shen Munchen yang sejak tadi menahan gejolak di dadanya langsung melontarkan pertanyaan dengan nada mendesak.
"Jadi... ke mana Nian-nian?" tanya Shen Munchen.
Matanya menatap tajam ke arah sang ibu, menyiratkan ketidaksabaran yang luar biasa.
Nyonya Shen tertegun, raut wajahnya mendadak berubah muram dan diliputi keraguan. Ia melirik sekilas ke arah Keluarga Xin, seolah meminta bantuan untuk menyampaikan kenyataan pahit yang teramat berat itu.
Tuan Xin menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke arah Shen Munchen dengan tatapan penuh simpati. "Sabar, Munchen. Istrimu... telah meninggal tujuh hari setelah tiba di pulau ini. Kami menemukannya di dalam sumur tua. Kami juga memakamkannya tidak jauh dari tempat itu."
Deg!
Dunia seolah berhenti berputar bagi Shen Munchen. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan sorot mata tajam seorang jenderal besar seketika meredup, menyisakan kehampaan yang menghujam ulu hatinya.
"Kalian... sedang tidak bercanda, kan?" suaranya berubah serak, nyaris tak terdengar.
"Kenapa kami harus bercanda tentang hal sepahit itu?" jawab Tuan Xin lirih. "Kami sendiri yang memandikannya dan menguburkannya dengan layak."
"Jadi dia..." Shen Munchen tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dadanya terasa sesak seolah diremukkan oleh ribuan ton batu.
Nyonya Shen ikut bersuara, mencoba menenangkan putranya yang hampir kehilangan kendali. "Dia—Xiao Luo—muncul setelah kepergian Nian-nian. Mungkin, sebelum Nian-nian menghembuskan napas terakhirnya, ia memanjatkan doa yang begitu kuat agar ada seseorang yang datang untuk menyelamatkan dan membantu kita. Itulah sebabnya Nona Xiao Luo tiba-tiba muncul dari sumur itu."
Shen Munchen menggelengkan kepalanya perlahan, benteng logikanya menolak mempercayai cerita yang terdengar seperti bualan putus asa. "Kalian percaya begitu saja pada hal mistis semacam itu?"
"Kami tidak hanya percaya pada kata-kata, Nak," sela Nyonya Shen dengan tegas. "Kami melihat sendiri bagaimana Xiao Luo masuk ke dalam sumur itu dan benar-benar menghilang. Kami bahkan sempat mencoba membuktikannya sendiri, namun sumur itu tidak memberi jalan bagi kami. Dan kalau kau masih ragu... lihatlah barang-barang yang ia bawa."
Mendengar dirinya disebut, Xiao Luo merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah benda persegi tipis berwarna gelap yang memancarkan pendar cahaya redup saat layar sentuhnya ditekan.
Xiao Luo menyodorkan benda itu ke hadapan sang jenderal. "Lihatlah."
Shen Munchen mengerutkan kening, menatap benda pipih asing yang berkilau di telapak tangan gadis itu dengan tatapan penuh curiga dan waspada. "Apa ini?"
"Ini ponsel," jawab Xiao Luo sabar. "Dengan benda ini, aku bisa menghubungi orang yang jaraknya jauh sekali dalam hitungan detik, mencari berita, menonton video, dan melakukan banyak hal menakjubkan lainnya. Apa kau pernah melihat benda semacam ini seumur hidupmu?"
Shen Munchen terdiam. Ia mengamati bentuk benda itu lekat-lekat—tidak ada roda gigi, tidak ada ukiran sihir, dan sama sekali tidak mirip dengan teknologi apa pun yang dikenal di kekaisaran mereka.
Perlahan, bibirnya terbuka, melontarkan satu kata pengakuan yang keluar begitu saja dari tenggorokannya yang kering.
"Tidak pernah."
semangat berkarya thor sampai tamat ok
lanjut sampai tamat ya thor
semangat berkarya thor