Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sekarang, keadaan telah berubah.
Dan Mikha tidak berniat menjadi satu-satunya orang yang menanggung kerugian.
Sore harinya, Pras pulang dengan tubuh sedikit lelah.
Meeting yang dijalaninya sejak pagi berlangsung cukup panjang. Beberapa keputusan penting harus segera diambil, membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk memeriksa ponsel pribadi.
Begitu memasuki rumah, ia menemukan Mikha sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang ponsel.
Perempuan itu tampak begitu serius memperhatikan layar.
"Kamu sedang apa?" tanya Pras sambil meletakkan tas kerjanya.
Mikha mendongak.
"Oh, Mas sudah pulang?"
Pras mengangguk, kemudian melonggarkan dasinya.
"Iya. Dari tadi kamu di sini?"
"Iya. Aku lagi lihat sesuatu."
"Apa?"
Mikha terdiam sejenak sebelum memiringkan ponselnya, memperlihatkan sebuah foto gelang kepada suaminya.
"Mas, lihat ini. Cantik banget, kan?"
Pras mendekat dan melirik layar ponsel tersebut.
"Gelang?"
"Iya. Gelang mutiara punya teman arisanku. Tadi dia mengunggah fotonya. Bagus sekali, Mas."
Pras memperhatikan gambar itu sekilas.
"Memang bagus."
Mikha langsung tersenyum.
"Kan? Aku suka banget modelnya. Kelihatan elegan, tapi juga mewah. Kalau dipakai ke acara resmi pasti cocok."
Pras mengangguk sambil berjalan menuju sofa.
"Kalau suka, ya, suka saja. Memangnya kenapa?"
Mikha menunduk, memainkan ujung bajunya.
"Enggak apa-apa. Cuma pengin punya juga."
Pras tertawa kecil.
"Kalau cuma gelang, nanti Mas belikan."
Mikha mengangkat wajah dengan mata berbinar.
"Benarkah, Mas?"
"Iya. Memangnya berapa harganya?"
Senyum Mikha sedikit melebar.
"Lima ratus juta."
Pras yang baru saja hendak duduk langsung menghentikan gerakannya.
"Apa?"
"Lima ratus juta," ulang Mikha pelan. "Gelang yang tadi itu."
Pras menatap istrinya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Lima ratus juta untuk gelang?"
Mikha mengangguk.
"Iya. Soalnya mutiaranya berkualitas tinggi, terus ada berliannya juga."
Pras mengembuskan napas panjang, lalu duduk di sofa.
"Mikha, itu uang banyak sekali."
"Aku tahu, Mas."
"Lima ratus juta bukan uang yang bisa dikeluarkan begitu saja. Itu bisa dipakai untuk banyak hal."
Mikha terdiam.
Ia sebenarnya sudah menduga suaminya akan bereaksi seperti itu. Bahkan, beberapa bulan lalu, ia sendiri mungkin akan menganggap permintaan tersebut berlebihan.
Namun, kali ini ia tidak ingin mundur begitu saja.
"Aku enggak minta sekarang juga, kok," katanya dengan suara lembut. "Kalau memang Mas belum bisa, enggak apa-apa."
Pras menoleh.
Mikha menundukkan kepala, memasang ekspresi kecewa yang berusaha disembunyikan.
"Anggap saja aku cuma ingin punya sesuatu yang bagus dari Mas. Teman-teman arisan yang lain juga punya perhiasan mahal. Kadang aku merasa sedikit minder kalau mereka mulai membicarakan koleksi mereka."
"Kamu tidak perlu merasa minder hanya karena tidak punya gelang mahal."
"Iya, aku tahu." Mikha tersenyum tipis. "Aku juga enggak pernah memaksa Mas untuk membelikannya."
Kalimat itu justru membuat Pras merasa tidak nyaman.
Ia tahu selama ini Mikha memang tidak pernah banyak menuntut. Meskipun hidup mereka berkecukupan, istrinya sering mengurungkan keinginan membeli sesuatu dengan alasan masih bisa menggunakan barang yang lama.
Bahkan, ketika teman-temannya membeli perhiasan baru, Mikha lebih sering hanya melihat dan tersenyum.
Melihat ekspresi istrinya yang kini tampak kecewa, hati Pras perlahan melunak.
"Ya sudah. Nanti Mas pikirkan."
Mikha langsung mengangkat wajah.
"Benar, Mas?"
"Iya. Tapi jangan berharap Mas langsung membelikannya besok."
Mikha mengangguk cepat.
"Enggak, kok. Aku bisa menunggu."
Ia kemudian merapat ke sisi Pras, menyandarkan kepala di bahunya.
"Makasih, ya, Mas."
Pras mengusap rambut istrinya.
"Sama-sama."
Mikha tersenyum dalam diam.
Ia berhasil membuat Pras mempertimbangkan permintaannya tanpa harus bertengkar atau mengeluarkan ancaman.
Namun, ia belum tahu apakah lelaki itu benar-benar akan memenuhi keinginannya.
Sementara itu, Pras mulai menghitung berbagai kemungkinan di kepalanya.
Lima ratus juta memang bukan jumlah kecil. Uang sebesar itu setara dengan penghasilannya selama berbulan-bulan, bahkan lebih jika memperhitungkan pengeluaran rumah tangga dan berbagai kebutuhan lainnya.
Ia juga memiliki sejumlah rencana keuangan yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Yaitu rencana pernikahan dengan kekasihnya.
Akan tetapi, ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak tega menolak.
Mikha jarang meminta sesuatu yang benar-benar mahal. Selama ini, perempuan itu lebih sering mengalah daripada memaksakan kehendaknya.
Mungkin, sekali ini saja, tidak ada salahnya mengabulkan keinginan istrinya.
Setelah Mikha kembali ke kamarnya, Pras masuk ke ruang kerjanya.
Ia menutup pintu, kemudian membuka laci meja yang selalu dikuncinya.
Dari dalam laci tersebut, ia mengeluarkan sebuah buku tabungan dan beberapa dokumen keuangan.
Ada satu rekening yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada Mikha.
Rekening itu berisi tabungan yang disisihkannya sedikit demi sedikit sejak awal pernikahan mereka. Ia menyimpan uang tersebut secara diam-diam karena memiliki rencana khusus untuk masa depan rumah tangganya.
Uang itu bukan berasal dari satu kali penghasilan. Sebagiannya dikumpulkan dari bonus tahunan, keuntungan investasi, dan sejumlah pemasukan lain yang sengaja tidak ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Selama ini, Pras selalu berusaha menambah jumlahnya.
Namun, belakangan ini, ia mulai memikirkan kembali tujuan tabungan tersebut.
Lelaki itu menatap angka yang tertera pada buku rekeningnya cukup lama.
"Lima ratus juta," gumamnya.
Ia mengusap wajah, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
Sejujurnya, ia masih merasa berat mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah gelang. Namun, ia teringat bagaimana Mikha menundukkan kepala ketika dirinya mengatakan bahwa uang tersebut terlalu banyak.
Ia tidak ingin membuat istrinya merasa tidak dihargai.
Apalagi, akhir-akhir ini ia memang merasa bersalah karena beberapa hal yang belum bisa dijelaskannya kepada Mikha.
Pras memejamkan mata sesaat.
"Baiklah. Kali ini saja."
Ia mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi perbankan. Setelah memeriksa saldo rekeningnya sekali lagi, ia memindahkan sebagian dana ke rekening yang biasa digunakannya untuk pengeluaran pribadi.
Jumlah itu cukup untuk membeli gelang yang diinginkan Mikha tanpa mengganggu kebutuhan rumah tangga mereka.
Setelah transaksi selesai, Pras mengembuskan napas lega.
Ia kemudian menghubungi salah satu kenalannya yang bergerak di bidang perhiasan untuk menanyakan ketersediaan gelang mutiara tersebut.
Malam itu, Pras berencana memberikan kejutan kepada istrinya.
Ia berharap hadiah itu bisa membuat Mikha tersenyum, seperti dulu, ketika mereka masih sering menghabiskan waktu bersama tanpa ada rahasia yang menghalangi.
Namun, Pras tidak menyadari bahwa keputusan tersebut justru menjadi awal dari perubahan yang lebih besar dalam rumah tangga mereka.
Di kamar, Mikha sedang duduk di depan meja rias ketika ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan dari Pras muncul di layar.
Pras: Gelang yang kamu mau itu masih tersedia. Besok Mas coba urus pembeliannya.
Mikha membaca pesan itu dua kali.
Kemudian, perlahan, sudut bibirnya terangkat.
Ia tidak menyangka Pras akan mengambil keputusan secepat itu.
Mikha: Benarkah, Mas? Makasih banyak, ya. Aku jadi enggak sabar.
Pras: Iya. Tapi jangan terlalu sering memikirkan barang mahal. Kamu sudah punya banyak perhiasan.
Mikha: Iya, Mas. Ini cuma karena aku benar-benar suka modelnya.
Setelah mengirim pesan tersebut, Mikha meletakkan ponselnya di atas meja.
Senyumnya perlahan menghilang.
Ia memandang bayangannya sendiri di cermin, lalu teringat percakapan telepon yang didengarnya semalam.
Sekarang enggak bisa. Besok saja.
Apa yang akan dilakukan Pras besok?
Siapa perempuan yang menghubunginya?
Dan mengapa suaminya harus berbicara dengan begitu hati-hati ketika menyebut status mereka sebagai suami istri?
Mikha menggenggam ujung meja rias.
Ia belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, setidaknya sekarang ia tahu satu hal: Pras masih memiliki cukup banyak uang yang bisa digunakan untuk memenuhi keinginannya.
Jika lelaki itu memang berniat meninggalkannya demi perempuan lain, Mikha tidak ingin menjadi pihak yang hanya bisa menangis dan menerima nasib.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭