NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19 - Kartu Di Atas Meja

Kakek Hadi dirawat selama enam hari.

Enam hari itu cukup untuk membuat Safira mengerti bahwa membagi tanggung jawab di atas kertas tidak otomatis membuat orang berubah.

Bambang datang di malam pertama jadwalnya, tetapi tertidur di sofa setelah satu jam. Rania datang sore hari dengan wajah muram, lebih banyak menerima telepon butik daripada bicara dengan Kakek. Kevin datang bersama perawat pendamping, lalu mengeluh sinyal rumah sakit jelek.

Ratna tetap mengatur semua orang dari kursi, tetapi jarang benar-benar melakukan sesuatu.

Safira tidak heran.

Tapi ia tidak lagi mengambil alih semuanya.

Saat jadwal Rania, Safira pulang. Saat jadwal Kevin, ia hanya menelepon perawat untuk memastikan Kakek makan. Saat Ratna lupa membawa obat yang diminta dokter, Safira tidak berlari ke rumah; ia menyuruh Bambang mengambil.

Rasanya aneh.

Seperti melepaskan beban yang selama ini sudah menyatu dengan kulit.

Pada hari ketujuh, Kakek diperbolehkan pulang dengan syarat rumah disiapkan lebih aman. Arga mengatur pemasangan pegangan di kamar mandi dan alas anti-slip. Safira memastikan biaya dicatat sebagai pengeluaran keluarga.

Ratna mengeluh.

"Dulu tidak perlu macam-macam begini."

Safira menjawab, "Dulu Kakek belum jatuh."

Tidak ada yang bisa membantah.

Malam setelah Kakek pulang, Safira kembali ke rumah kontrakan dengan tubuh hampir habis. Ruko baru belum sempat diurus. Pesanan menumpuk. Keluarga menguras tenaga. Kepalanya penuh angka biaya, jadwal fitting, dan catatan dokter.

Ia membuka pintu rumah.

Aroma sup ayam menyambutnya.

Arga keluar dari dapur memakai apron abu-abu.

"Cuci tangan. Makan."

Safira berdiri di depan pintu, tiba-tiba ingin menangis.

"Aku belum mandi."

"Makan sedikit dulu."

"Aku bau rumah sakit."

"Saya juga beberapa hari ini bau rumah sakit."

"Kamu tidak jijik?"

Arga menatapnya seolah pertanyaan itu tidak masuk akal.

"Kamu istriku."

Safira menunduk, melepas sepatu.

Ia cuci tangan, lalu duduk di meja makan. Sup ayamnya hangat. Ada perkedel kentang, tahu goreng, dan sambal kecap. Makanan sederhana, tetapi tubuh Safira menerimanya seperti pulang.

Arga duduk di depannya.

"Besok jangan ke ruko pagi-pagi."

"Banyak yang harus diurus."

"Kamu perlu tidur."

"Aku bisa tidur setelah..."

"Safa."

Ia berhenti.

Arga jarang memotong dengan nada seperti itu.

"Kamu bukan mesin."

Safira menatap supnya. "Kalau aku berhenti, semuanya tertunda."

"Sebagian hal boleh tertunda."

"Pelanggan tidak suka."

"Pelanggan yang baik akan mengerti kalau kamu menjadwal ulang satu hari."

"Dan yang tidak baik?"

"Tidak semua uang pantas dikejar."

Safira tertawa pelan. "Kamu bicara seperti orang yang tidak pernah takut kekurangan uang."

Kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahan.

Arga tidak tersinggung. Ia justru diam, seolah kalimat itu mengenai tempat yang tepat.

"Mungkin," katanya.

Safira mengangkat wajah.

Arga berdiri, berjalan ke kamar, lalu kembali membawa amplop cokelat dan sebuah kartu debit hitam polos. Ia meletakkannya di atas meja.

"Ini apa?"

"Rekening rumah tangga."

Safira menatap kartu itu. "Maksudnya?"

"Untuk kebutuhan bersama. Makan, transportasi, rumah, kesehatan, kebutuhan ruko kalau mendesak, atau apa pun yang menyangkut hidup kita."

"Mas Arga..."

"Dengarkan dulu."

Safira menutup mulut.

"Saya tahu kamu tidak mau merasa dibiayai. Saya juga tahu kamu takut bantuan berubah menjadi kendali. Jadi ini bukan kartu untuk membuatmu diam atau bergantung. Ini rekening bersama. Kamu pegang kartunya. Setiap pengeluaran kita catat."

Safira tidak menyentuh kartu itu.

"Uangnya dari kamu."

"Untuk sekarang, iya."

"Berarti tetap uangmu."

"Setelah akad, banyak hal menjadi tanggung jawab bersama."

"Tapi aku belum bisa memasukkan jumlah yang sama."

"Tidak ada yang bilang harus sama nominal. Kamu memasukkan waktu, kerja, rumah, makanan, perhatian, dan nanti saat usahamu stabil, kamu bisa memasukkan uang sesuai kemampuan. Pernikahan bukan patungan kos-kosan yang harus lima puluh lima puluh setiap hari."

Safira menatapnya lama.

"Kamu sudah menyiapkan pidato?"

"Sedikit."

Ia hampir tertawa, tetapi dadanya terlalu penuh.

"Kalau aku pakai ini, kamu tidak akan suatu hari berkata semua yang kupakai berasal dari kamu?"

Arga menatapnya tanpa berkedip.

"Tidak."

"Kalau kita bertengkar?"

"Tidak."

"Kalau suatu hari..."

"Safa," Arga memotong lembut, "saya tidak akan memakai uang untuk membuatmu merasa kecil."

Air mata Safira jatuh.

Ia cepat menghapusnya, kesal pada diri sendiri.

"Aku benci menangis soal uang."

"Kamu tidak menangis soal uang."

"Lalu?"

"Kamu menangis karena terlalu lama harus membuktikan bahwa kamu tidak mengambil apa pun."

Safira menutup wajah dengan satu tangan.

Arga tidak mendekat. Ia memberi waktu.

Setelah beberapa saat, Safira menurunkan tangan. Matanya merah, tetapi suaranya lebih stabil.

"Aku akan pegang. Tapi semua dicatat."

"Baik."

"Kalau untuk ruko, aku tetap anggap pinjaman."

"Baik."

"Kalau kamu keberatan dengan caraku mengatur, bicara."

"Baik."

"Jangan diam-diam menambahkan uang tanpa bilang."

Arga berhenti sebentar.

Safira menyipitkan mata. "Mas Arga."

"Baik."

"Kamu tadi ragu."

"Karena saya mulai mengenal istri saya."

Safira mengambil kartu itu akhirnya. Benda kecil itu terasa berat, bukan karena jumlah di dalamnya, tetapi karena makna yang menyertainya.

Setelah makan, Arga mencuci piring. Safira berdiri di sampingnya, mengeringkan. Gerakan itu sekarang terasa akrab.

"Mas Arga."

"Hm?"

"Terima kasih."

"Untuk kartu?"

"Untuk membuatnya jelas."

Arga menaruh piring terakhir. "Kejelasan membuatmu tenang."

"Kamu memperhatikan."

"Saya selalu memperhatikanmu."

Safira mengangkat wajah.

Jarak mereka dekat. Terlalu dekat untuk percakapan biasa. Air dari keran masih mengalir pelan, tetapi tidak ada yang bergerak menutupnya.

Arga mengulurkan tangan, menyentuh pipi Safira dengan punggung jari. Gerakannya lambat, memberi kesempatan untuk mundur.

Safira tidak mundur.

"Boleh?" tanya Arga.

Satu kata itu membuat seluruh tubuh Safira hangat.

Ia mengangguk kecil.

Arga menunduk.

Ciuman pertama mereka yang benar-benar sadar tidak terburu-buru. Tidak seperti adegan dramatis di film. Tidak seperti sesuatu yang memaksa. Bibir Arga hangat, lembut, tetapi menahan kekuatan yang bisa Safira rasakan dari cara tangannya berhenti di sisi meja, bukan di tubuhnya.

Seolah ia sedang berkata: aku ingin, tapi aku menunggumu.

Safira memejamkan mata.

Ketika Arga menjauh, napasnya tidak sepenuhnya stabil.

Safira juga tidak.

Keran masih menyala.

Safira berkata pelan, "Airnya."

Arga menoleh ke keran, lalu mematikannya.

Keduanya diam.

Lalu Safira tertawa kecil, gugup dan malu.

Arga ikut tersenyum.

Malam itu, Safira tidur dengan kartu di laci, catatan pengeluaran di meja, dan rasa hangat di bibir yang tidak bisa ia abaikan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa keluar dari rumah lama.

Ia merasa sedang membangun rumah baru.

Sebelum tidur, Safira membuka buku catatan keuangan baru. Di halaman pertama ia menulis tiga kolom: `rumah`, `atelier`, dan `keluarga Kakek`.

Arga duduk di sampingnya membaca dokumen, tetapi matanya sesekali melirik.

"Kamu membuat negara kecil?" tanyanya.

"Aku membuat hidupku tidak berantakan."

"Judul yang bagus."

Safira menulis tanggal, lalu memasukkan nominal kartu rumah tangga sebagai saldo awal. Di sebelahnya ia menulis: `sumber: Arga, untuk kebutuhan bersama`.

Arga membaca kalimat itu.

"Kamu benar-benar detail."

"Detail menyelamatkanku."

"Dari apa?"

"Dari tuduhan."

Arga tidak bercanda lagi.

Safira menutup pena. "Dulu kalau uang hilang di rumah, Mama tanya aku dulu. Bukan karena aku pernah mencuri. Karena aku yang paling mungkin diam kalau dituduh."

Arga menatapnya. "Sekarang?"

"Sekarang aku akan buka catatan."

"Dan kalau mereka tetap menuduh?"

Safira berpikir sebentar, lalu tersenyum kecil. "Aku kirim invoice konsultasi emosional."

Arga tertawa pelan.

Safira menyukai ketika ia berhasil membuat lelaki itu tertawa. Suaranya jarang keluar, jadi setiap kali terdengar, rasanya seperti menemukan kancing indah di tumpukan kain sisa.

Malam itu, mereka tidur lebih dekat dari sebelumnya.

Tidak saling memeluk.

Belum.

Tapi jarak di tengah ranjang tidak lagi seperti jalan raya. Lebih seperti garis tipis yang suatu hari mungkin akan mereka hapus bersama.

Sebelum lampu dimatikan, Arga berkata, "Safa."

"Hm?"

"Kalau suatu hari kamu merasa kartu itu terlalu berat, kembalikan saja. Kita cari cara lain."

Safira menatap langit-langit. "Aku tidak mau mengembalikan hanya karena takut."

"Baik."

"Tapi aku mungkin akan banyak bertanya."

"Tanyalah."

"Kamu mungkin akan pusing."

"Saya sudah mulai terbiasa."

Safira tersenyum dalam gelap.

Ia menyukai jawaban itu. Bukan karena manis, tetapi karena terdengar seperti seseorang yang memilih tinggal meski tahu akan ada banyak pertanyaan.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!