Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Lembur Sampai Jam 8 Malam
Jam empat sore, Pak Hendra memanggil Arif dan Nadia ke ruangannya.
"Arif, Nadia, laporan bulanan harus kirim ke pusat besok pagi jam tujuh. Data timbangan lapangan bulan lalu masih selisih 5 ton. Kalian harus lembur hari ini sampai selesai. Bisa sampai jam delapan malam, gak apa-apa?" tanya Pak Hendra.
Nadia dan Arif saling lihat.
"Bisa Pak," jawab mereka berdua barengan.
"Bagus. Nanti satpam saya suruh antar nasi kotak jam enam. Kunci kantor utama saya titip ke satpam, jadi kalian kerja di lapangan aja, lebih tenang. Kalau ada apa-apa, telepon saya," kata Pak Hendra, kasih kunci ruang timbangan lapangan.
Jam lima sore, semua karyawan pulang, lapangan sepi, hanya ada satpam jaga malam di pos depan, jaraknya 200 meter dari ruang timbangan.
Nadia dan Arif mulai lembur di ruang timbangan lapangan. Atap sudah dibenerin tadi siang, jadi gak bocor lagi, pintu juga sudah dibenerin, gak macet lagi. Kipas angin besar nyala, agak berisik, tapi lumayan.
Nadia duduk di meja, buka laptop, rambut ekor kuda nya diikat kencang, pakai topi lapangan yang kemarin dibeliin Arif biar gak kepanasan, sekarang topinya ditaruh di meja.
Arif duduk di seberang, buka buku besar timbangan, catat satu-satu data truk bulan lalu.
Jam enam, satpam antar dua nasi kotak dan dua botol air.
"Pak Arif, Bu Nadia, ini nasi dari Pak Hendra, selamat lembur ya," kata satpam, taruh nasi di meja, lalu pergi lagi ke pos jaga.
Tinggal mereka berdua di ruangan kecil itu, makan nasi kotak bareng.
Nadia buka nasi kotak, ada ayam goreng, tahu, sambal.
"Wah, ayamnya besar baget," kata Nadia, senang.
"Ya, Pak Hendra kalau suruh lembur, nasinya enak, biar semangat," jawab Arif, buka nasi kotaknya juga.
Mereka makan bareng, gak ada yang ngobrol banyak, hanya suara sendok dan kipas angin.
Selesai makan jam setengah tujuh, lanjut kerja lagi.
Lampu di ruang timbangan lapangan tiba-tiba kedip-kedip, lalu mati. Listrik mati lagi, kayak kemarin pas hujan, tapi kali ini bukan karena hujan, tapi karena gardu pabrik lagi perbaikan.
Kipas angin mati, ruangan jadi gelap, hanya cahaya dari laptop Nadia dan senter HP Arif.
"Ya ampun, mati lagi lampunya," kata Nadia, agak kaget.
Arif nyalakan senter HP, taruh di atas meja, jadi lampu darurat.
"Gak apa-apa, pakai senter HP dulu. Gardu lagi perbaikan, kata satpam tadi, sejam lagi nyala," kata Arif.
Ruangan jadi remang-remang, cahayanya kuning dari senter HP.
Nadia lihat laptopnya, baterai tinggal 10 persen, gak bisa dipakai lama kalau listrik mati.
"Laptop aku baterai habis, Arif. Gimana?" tanya Nadia.
Arif lihat buku besar timbangan, masih banyak yang harus dihitung.
"Pakai hitung manual aja dulu, pakai kalkulator HP. Nanti kalau listrik nyala, baru pindah ke laptop," kata Arif, kasih kalkulator.
Mereka berdua hitung manual, duduk berdekatan, karena cuma ada satu senter HP yang terang.
Jarak mereka sekarang cuma 30 cm, bahu hampir bersentuhan.
Nadia bisa cium wangi keringat Arif yang campur wangi sabun, wangi yang kemarin ia bilang wangi di handuk.
Arif juga bisa lihat rambut Nadia dari dekat, ikatannya agak miring, beberapa helai rambut keluar, kena cahaya senter, kelihatan mengkilap.
"Nadia," kata Arif pelan, berhenti hitung.
"Ya?" jawab Nadia, berhenti hitung juga, menoleh ke Arif.
"Kamu ingat gak, pertama kali kita kejebak di gudang arsip, jam delapan malam juga, lampu mati juga, kayak gini?" tanya Arif.
Nadia mengangguk, ingat.
"Ingat. Waktu itu aku takut banget. Takut digosipin, takut difoto. Sekarang, kejebak lagi, jam delapan malam lagi, lampu mati lagi, tapi aku gak takut lagi," jawab Nadia, suara pelan.
"Kenapa gak takut lagi?" tanya Arif.
"Karena sekarang aku tahu, yang diomongin orang belum tentu benar. Dan karena sekarang ada kamu yang berani bela aku di depan meeting kemarin," jawab Nadia, menatap mata Arif, di bawah cahaya senter yang remang-remang.
Arif tersenyum, senyum yang tulus.
"Aku juga gak takut lagi difoto. Kalau ada yang foto kita sekarang, biarin. Kita kan cuma lembur kerja, bukan ngapa-ngapain," kata Arif.
Nadia mengangguk, berani.
"Iya. Kalau difoto lagi, biarin aja. Kita jelasin lagi aja kayak kemarin," kata Nadia.
Jam tujuh lewat lima puluh, listrik nyala lagi, lampu terang, kipas angin nyala lagi, berisik.
Buku timbangan sudah hampir beres, tinggal 2 halaman.
Mereka lanjut kerja cepat, karena listrik sudah nyala.
Jam delapan pas, laporan selesai.
Nadia tutup laptop, Arif tutup buku besar.
"Alhamdulillah selesai," kata Nadia lega.
"Ya, selesai. Besok pagi tinggal kirim ke pusat," kata Arif, rapikan buku-buku.
Mereka berdua keluar dari ruang timbangan lapangan, kunci pintu, jalan bareng ke arah mess, lewat jalan setapak yang gelap, hanya ada lampu pos satpam di jauh.
Jalan setapak itu sepi, tidak ada orang, hanya suara jangkrik dan kodok habis hujan.
Arif jalan di depan, bawa senter HP, terangi jalan biar Nadia gak jatuh, karena jalan masih becek habis hujan kemarin.
Nadia jalan di belakang, pegang ujung baju Arif sedikit, biar gak ketinggalan, karena gelap.
"Pelan-pelan, licin," kata Arif, terangi jalan yang becek.
"Iya," jawab Nadia, pegang baju Arif erat sedikit.
Sampai di pertigaan mess, mereka berhenti.
"Sampai sini aja ya, Arif. Makasih ya udah temenin lembur," kata Nadia.
"Sama-sama, Nadia. Makasih juga udah kuat lembur sampai jam delapan malam. Besok jangan lupa, jam enam pagi harus sudah di lapangan lagi, truk pertama datang," kata Arif.
Nadia mengangguk, lepas pegangan bajunya.
"Siap. Jam enam pagi aku sudah di lapangan, pakai topi," kata Nadia.
Mereka pisah, Nadia ke kiri ke mess putri, Arif ke kanan ke mess putra.
Di mess putri, Nadia tulis lagi di buku catatannya: "Lembur kedua kalinya sampai jam delapan malam. Kejebak lagi, lampu mati lagi, tapi kali ini gak takut. Ada senter HP, ada Arif. Pegang baju dua menit."
Di mess putra, Arif tulis di notes HP: "Lembur sampai jam delapan malam sama Nadia. Lampu mati lagi, kayak di gudang arsip. Tapi kali ini dia gak takut, malah berani tatap mata aku. Dia pegang baju aku."
Dua kali kejebak jam delapan malam, pertama di gudang arsip bikin satu pabrik heboh, kedua di ruang timbangan lapangan bikin mereka makin dekat, karena sudah tidak takut lagi difoto, sudah tidak takut lagi diomongin.
Dan besok pagi, foto lembur mereka jam delapan malam itu akan masuk lagi ke grup WA INFO PKS, tapi kali ini yang kirim bukan Pak Bambang, tapi satpam jaga malam yang lihat mereka jalan bareng di jalan setapak yang gelap, pegangan baju.
Badai baru akan mulai.
Bersambung
---