DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23-SEL
Raka melangkahkan kaki, saat kakinya turun.
tubuhnya menghilang dari pandangan, muncul kembali tepat di depan anak kecil yang tengah panik.
melihat Raka muncul di depannya, anak itu terjatuh ke belakang.
"tu tu an, maaf kan aku. A a ku benar benar tak sengaja melakukan semuanya, jika aku aku tau tuan sekuat ini. Bahkan jika langit memintaku untuk melawan anda aku pasti akan menolak" ucap anak itu.
Duar...
langit mulai bergemuruh hebat, dari pusaran awan muncul kepala naga.
seluruh tubuhnya terbuat dari petir.
Burung burung di sepanjang hutan mulai berlari panik, hewan hewan darat berlari tak tentu arah.
"akhirnya muncul." batin bocah itu.
kini tatapan Raka sudah beralih ke langit, tatapannya tetap datar.
"mengganggu saja" ucapnya.
Baru saja senang, karena amarah langit muncul.
Anak itu kembali panik, tubuhnya kini sudah melayang terbang.
Mengikuti tubuh Raka yang melesat ke atas.
"tuan apa yang anda lakukan" ucap anak itu setelah melihat naga petir juga sudah mengarah ke mereka.
Ia mencoba memberontak, namun kekuatannya terlalu lemah untuk melakukan semua itu.
"raka, jangan bodoh" teriak Kirana.
Bom...
Tanah langsung bergetar merasakan getaran di atas langit.
Bahkan Kirana sendiri tak mampu mempertahankan untuk tetap melayang di udara.
Tubuhnya terjatuh menghantam tanah cukup kencang.
Di langit, serpihan daging mulai berjatuhan.
Setelah riak menghilang, tampak dua sosok yang masih melayang.
Sosok Raka dengan wujud barunya, dan naga petir yang terus meraung.
"tubuh ini tak akan mampu menahan kekuatan lagi" gumamnya..
matanya beralih ke arah ke arah naga petir, perlahan kini mulai menyipit.
Wajah dingin bertambah dingin dan mengerikan.
"aku tau kau di balik ini semua, jangan fikir setelah aku ber reinkarnasi kau dapat membunuhku. Sebaiknya jangan ikut campur dengan kehidupan baruku, jika tidak aku tak akan segan segan lagi seperti dulu"
"jadi, atau mati" desisnya.
Gemuruh hebat sebelumnya tiba tiba berhenti seketika, naga petir berbalik masuk ke pusaran awan.
Bersamaan dengan itu, tubuh Raka jatuh tak sadarkan diri.
Kirana yang baru berdiri lagi, ia langsung melesat terbang.
Menangkap tubuh Raka yang sudah terkulai lemah.
Tubuh Raka di baringkan di atas tanah.
Dengan keahlian sihir penyembuhnya tubuh Raka kini di selimuti bayangan hitam.
3 hari berlalu....
Posisi mereka masih sama, namun terlihat mata Kirana sudah sedikit membengkak karena terlalu banyak menangis dan tak tidur sama sekali.
Bahkan bibir merah mudanya kini sudah mulai menjadi putih pucat.
energinya benar benar terkuras, bahkan dengan banyaknya energi dari hantu hantu yang ia bunuh.
Tetap saja energinya terkuras sangat besar, apa lagi selama 3 hari ia sama sekali tak beranjak atau mengurangi energi untuk penyembuhan Raka.
Perjuangan Kirana selam 3 hari ini akhirnya tak sia sia, jantung Raka yang tadinya sudah hampir berhenti kini mulai berdetak normal.
Kirana menyunggingkan sedikit senyum.
"akhirnya."
Raka belum sadar, bahkan belum ada gerakan sedikitpun darinya.
Tapi kerusakan parah di tubuhnya kini sudah membaik sepenuhnya.
Raka membuka matanya perlahan, di sebelahnya Kirana sudah tertidur pulas.
"aw..." Raka meringis.
Tubuhnya terasa remuk.
"ada apa ini "gumamnya.
Kirana yang merasakan pergerakan Raka, membuat tidurnya terganggu.
" kau sudah sadar." tanya Kirana.
Raka mengangguk tipis.
"sebenarnya apa yang terjadi, kenapa tempat ini semakin berantakan"
Kirana mengerutkan kening..
"apa kau tak mengingat apapun"
Raka menggeleng tipis.
"aku hanya mengingat saat energiku terisi kembali, dan aku mengaktifkan kekuatan mataku"ungkapnya.
Kirana membantu membetulkan posisi duduk Raka.
"apa kau benar benar hanya mengingat itu...?"
lagi lagi Raka hanya mengangguk.
"baiklah, sebenernya...."
kiran menjelaskan semuanya secara detail, mulai dari wujud dan sikap Raka yang berubah seperti orang lain.
Kekuatan yang meningkat pesat, sampai akhirnya organ dalam Raka yang hampir hancur sepenuhnya.
Jika terlambat sedikit saja, mungkin Raka akan mati karena kekuatannya sendiri.
Tak ada cerita yang terlewat sedikit pun.
bahkan Raka sendiri sulit mempercayai hal itu, namun mau bagaimana lagi.
Apa yang ada di depannya pun mengarah ke sana, bahkan ia sama sekali tak menyangka kekuatan kedua darahnya itu mampu sekuat itu.
di hanya tau, dia memiliki 2 garis darah misterius.
bahkan dulu orang tuanya sepat mencari tau tentang garis darah ini.
Namun hasilnya nihil, mereka hanya menemukan kalau ada dua garis darah yang memiliki sifat berlawanan di tubuhnya.
Dan itu mampu membuat kerusakan di tubuhnya jika di keluarkan.
mereka kembali beristirahat, namun kali ini Kirana mengeluarkan kereta kuda untuk tempat tidur.
Seharian penuh tak ada yang terjadi, keduanya hanya fokus untuk memulihkan diri masing masing.
Setelah benar benar pulih, keduanya memutuskan menerobos gerbang.
Masuk ke istana lembah hantu.
tatapan keduanya memperhatikan sekitar, walau di bilang istana.
Tapi tempat ini sama sekali tak menggambarkan hal itu.
Hanya ratusan sel dengan tulang tulang kering yang berserakan di dalamnya.
Mata Raka menyipit.
"apa itu"
ia berlari meninggalkan kirana.
Kirana yang menyadari, bergegas mengikuti Raka.
Raka berhenti di salah satu sel.
"ada apa ka, kenapa tiba tiba berlari" tanya Kirana yang berhasil menyusul.
Raka tak langsung menjawab, ia malah sibuk mengotak Atik pintu sel.
Kirana memperhatikan gerak gerik aneh Raka.
"ada apa sebenarnya ka, buat apa kau berusaha membuka sel ini..?"
Raka akhirnya menoleh ke arahnya.
"tadi aku menggunakan teknik Indra energiku, aku merasakan ada energi mahluk hidup dari dalam sini. Jadi tolong aku membuka sel."
bukannya membantu, Kirana langsung menyambar tangan Raka.
"ka, jangan gegabah. Bagaimana kalau yang di dalam adalah salah satu iblis lain, kondisi kita sekarang tak memungkinkan untuk kembali bertarung."
Raka menggeleng.
"itu hanya salah satu kemungkinan, lalu jika kemungkinan di dalam ada manusia lain apa kita tak akan menolong...? Dari energi yang ku rasakan tubuh sosok di dalam sudah sangat lemah."
"tapi ka, apa kau bisa memastikan kalau sosok di dalam sel ini tak akan menyerang"
Raka menggeleng.
Saat ini hanya energi yang bisa ia rasakan, apa lagi sel ini tak memiliki cela untuk mengintip.
Namun meski begitu, entah mengapa intuisinya mengatakan kalau yang di dalam adalah manusia.
Perdebatan kecil terjadi, pada akhirnya Kirana tetap menuruti perkataan Raka.
Kini Raka sudah mundur, Kirana lah yang kini berdiri di depan pintu.
"bersiaplah ka, aku akan membuka gembok ini. Jika ada bahaya langsung menyerang saja"
Raka mengangguk tipis.
bayangan di kaki Kirana mulai bergerak, memasuki cela cela lubang kunci.
Memanfaatkan ini, Kirana mencari cela lubang kunci.
Dengan keahliannya.
Cklek...
Gembok itu terbuka, dengan hati hati Kiran membuka pintu.
Sedangkan Raka masih bersiap dengan beberapa belati yang masih melayang di sekitarnya siap menyerang.