Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 2: Aku Dituduh Fitnah Padahal Aku Korban
Seruyan jam 2 pagi tidak seperti Sukamandang.
Kalau di Sukamandang hujan itu wangi tanah dan kayu gaharu, di Seruyan hujan itu bau solar, bau ikan asin di pasar yang tutup, dan bau knalpot truk.
Aku turun dari travel terakhir dengan koper hijau yang rodanya sudah patah satu. Gamis abaya hijauku masih basah, tapi sudah tidak kuyup. Kerudung robek itu masih ku pegang erat di dalam genggamanku, ku sembunyikan di dalam jaket.
Aku tidak punya tujuan. Aku hanya punya satu nama di kepala ,Kak Wulan.
Kak Wulan adalah alumni Al-Hidayah angkatan tiga tahun di atasku. Dulu dia juga dikeluarkan tiba-tiba. Alasannya resmi: tidak betah. Tapi sebelum dia pergi, dia sempat berbisik padaku di dapur pondok, "Kalau suatu hari kamu merasa pondok ini neraka, cari aku di Seruyan. Aku kerja di konveksi dekat Masjid Besar."
Aku menemukan konveksi itu jam 6 pagi, setelah berteduh di warung kopi. Konveksi kecil, mesin jahitnya masih jadul.
Kak Wulan kaget melihatku. Sangat kaget.
"Laila? Ya Allah... kamu ngapain di sini jam segini? Baju kamu..."
Aku tidak bisa menjawab. Begitu melihat wajah yang kukenal, bendungan yang kutahan sejak semalam jebol. Aku menangis di lantai konveksi itu, di antara tumpukan kain.
Aku ceritakan semuanya. Dari panggilan hafalan, tarikan kerudung, suara kressek itu, sampai kalimat "Jangan membuat fitnah di rumah Allah ini."
Kak Wulan tidak langsung memelukku. Dia mengunci pintu konveksi dari dalam dulu. Lalu dia menarik kerudungnya sendiri sedikit. Di lehernya, ada bekas luka lama, tipis memanjang.
"Aku juga," bisiknya.
Darahku berhenti mengalir.
"Dua tahun lalu, La. Modusnya sama persis. Transfer berkah. Aku lapor ke Ustadzah Maryam juga. Dan jawaban beliau sama persis: Istighfar, kamu fitnah."
Aku menatapnya. Jadi aku bukan yang pertama.
"Terus Kakak kenapa keluar?"
"Karena kalau aku tidak keluar, aku yang akan dikeluarkan dengan surat yang sama seperti punyamu. Fitnah keji terhadap pengasuh. Orang tuaku di Pembuang malu, La. Sampai sekarang mereka tidak percaya sama aku. Mereka bilang aku kerasukan jin karena menolak dinikahkan sama pilihan Kyai."
Hari itu aku paham, yang robek bukan hanya kerudungku. Tapi seluruh sistem di Al-Hidayah.
Kak Wulan memberiku tempat tinggal sementara di kos di belakang konveksi. Sebuah kamar petak 3x3 dengan satu kipas angin berisik. Dia juga memberiku pekerjaan: melipat baju gamis dan menulis alamat paket.
"Untuk sementara, lepas dulu gamis hijaumu itu, La. Pakai kaos punya aku dulu. Di Seruyan ini banyak orang Sukamandang yang jualan. Kalau mereka lihat seragam Al-Hidayah, mereka akan langsung lapor ke pondok."
Aku menurut. Untuk pertama kalinya sejak umur 20 tahun, aku melepas abaya hijau kebanggaanku dan memakai kaos oblong dan celana training.
Saat kaca kecil di kos itu menampilkan bayanganku dengan kaos oblong, rambutku yang masih basah terurai karena kerudung robek itu belum kupakai lagi, aku tidak mengenali diriku sendiri. Laila si hafizah 15 juz sudah mati di gerbang pondok semalam.
Siang harinya, fitnah itu menyusulku lebih cepat dari yang kuduga.
Aku dan Kak Wulan sedang makan siang di warung depan konveksi. Tiba-tiba satu grup WhatsApp pondok yang masih ada di HP ku bergetar hebat.
[INFO PONDOK AL-HIDAYAH SUKAMANDANG]
Assalamualaikum. Mohon doanya untuk santriwati kita Laila Nuraini binti H. Suriansyah yang telah resmi dikembalikan kepada orang tua karena melakukan FITNAH KEJI terhadap Pengasuh Pondok, Kyai Rahman. Anak tersebut mengalami gangguan kejiwaan karena tekanan hafalan dan masalah keluarga. Mohon tidak terprovokasi dan ikut mendoakan kesembuhannya. Bagi yang melihatnya, harap segera hubungi pihak pondok.
Di bawahnya, ada foto surat pengembalian santriku. Dan foto screenshoot profil Facebook ku yang masih memakai seragam pondok.
Warung yang tadinya ramai, mendadak sepi. Ibu warung yang tadi ramah, tiba-tiba menatapku tajam.
"Kamu Laila, kan? Yang dari Al-Hidayah itu?"
Kak Wulan langsung berdiri. "Bukan, Bu. Dia sepupu saya."
Tapi terlambat. Dua orang bapak-bapak di meja sebelah sudah berbisik, "Oh yang itu... yang katanya fitnah Kyai Rahman itu ya? Astaghfirullah... masih kecil udah berani fitnah kyai..."
Aku ingin berteriak. Aku ingin menunjukkan robekan di kerudungku yang masih kusimpan di tas. Ini buktinya! Ini bukan fitnah!
Tapi Kak Wulan mencengkeram tanganku kuat.
"Jangan, La. Jangan pernah tunjukkan itu di sini. Tidak akan ada yang percaya. Mereka akan bilang kamu yang merobeknya sendiri biar dikasihani."
Aku kembali menjadi patung. Sama seperti di balai desa dalam bayangan cerita Aisha kemarin, tapi ini nyata, ini aku.
Malamnya, di kos sempit itu, aku membuka HP ku. Ratusan chat masuk. Dari teman santri, dari keluarga.
Ibu: Laila, kamu apa-apakan Kyai? Kenapa pondok bilang kamu fitnah? Pulang nak, jangan bikin malu abah!
Siti sahabatku: La, maaf ya. Ustadzah Maryam bilang kalau kita masih chat sama kamu, kita akan dianggap ikut memfitnah. Aku takut, La.
Tidak ada satupun yang bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"
Semua bertanya, "Kenapa kamu memfitnah?"
Aku mematikan HP. Aku mengambil kerudung hijau robek itu dari dalam tas. Kain hijau kesayanganku. Jahitan tepinya masih rapi, kecuali di bagian dekat telinga yang robek itu. Robekan kecil, tapi cukup untuk merobek seluruh hidupku.
Aku tidak menangis lagi. Air mataku sudah habis di Sukamandang.
Aku menatap ke luar jendela kos yang menghadap ke jalan besar Seruyan. Lampu-lampu truk lewat.
"Tuhan," bisikku lagi, doa yang sama seperti semalam di gerbang pondok, tapi kini lebih dingin, lebih mantap. "Tadi malam aku minta izin untuk berdosa. Malam ini aku tidak minta izin lagi. Aku akan berdosa."
Aku mengambil gunting dari meja jahit Kak Wulan.
Bukan untuk melukai diriku sendiri.
Aku menggunting kerudung hijau robek itu menjadi dua. Satu bagian kubakar sedikit dengan korek api, biar terlihat seperti bukti yang dramatis. Satu bagian lagi kusimpan rapi di dalam plastik.
Kak Wulan yang baru masuk langsung kaget. "Laila! Apa yang kamu lakukan?"
Aku menatapnya dengan mata yang sudah bukan mata santriwati lagi.
"Kak, kalau aku bilang aku korban, tidak ada yang percaya. Mereka butuh cerita yang lebih besar dari sekadar kerudung robek. Mereka butuh pendosa."
"Kamu mau ngapain, La?"
Aku tersenyum untuk pertama kalinya setelah dua hari. Senyum yang membuat Kak Wulan mundur selangkah.
"Aku mau jadi pendosa beneran, Kak. Aku mau masuk ke tempat yang paling dibenci Kyai Rahman. Tempat di mana tidak ada orang yang akan percaya omongan seorang kyai suci. Di Seruyan ini ada kafe remang-remang, kan? Yang di belakang terminal?"
"Laila! Jangan gila! Kamu hafizah!"
"Bekas hafizah, Kak," koreksiku. "Dan bekas hafizah tidak akan didengar. Tapi seorang perempuan yang sudah hancur dan bekerja di tempat hina... kalau dia bicara, semua orang akan mendengarkan, karena semua orang suka melihat orang suci jatuh oleh tangan seorang pendosa."
Malam itu juga, aku tidak tidur di kos. Aku berjalan ke arah terminal Seruyan. Bukan dengan gamis hijau. Tapi dengan kaos oblong, celana jeans pinjaman, dan rambut yang kuikat seadanya. Tanpa kerudung.
Di belakangku, konveksi dan masjid besar Seruyan semakin jauh.
Di depanku, lampu warna-warni sebuah kafe remang-remang berkedip.
Dan di dalam tas kresek hitam yang kujinjing, ada setengah kerudung hijau yang robek, yang akan menjadi senjata pertamaku.
Hujan di Seruyan malam itu berhenti. Tapi badai di dalam diriku baru saja dimulai.