Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Saat mereka sedang asyik menyantap makanan, tiba-tiba bayangan seseorang berdiri di hadapan meja mereka, membuat suasana yang tadinya riuh seketika terasa sunyi.
"Saya boleh duduk di sini?" tanya seseorang itu dengan suara yang berat dan familiar.
Kila yang masih sibuk mengunyah, langsung terkejut hingga sendoknya hampir jatuh. Sosok yang sudah tidak asing lagi. Dosen yang membuatnya tidak bisa ikut ujian di hari pertama kemarin.
"Ehhh Pak Rhaegar, silahkan duduk, Pak," kata Elvano dengan sigap mempersilahkan, sedikit kaget juga.
"Saya tidak mengganggu kan?" tanya Pak Rhaegar sambil menarik kursi.
"Tidak kok Pak, silahkan duduk," jawab Elvano lagi dengan ramah.
Kila masih diam membeku, tidak mampu mengeluarkan satu kata pun. Malam itu Pak Rhaegar terlihat sangat tampan. Kemejanya rapi, rambutnya sedikit basah karena gerimis, kacamatanya berkilat terkena lampu kafe. Entah kenapa, pesonanya malam itu berkali-kali lipat.
"Ini siapa?" tanya Pak Rhaegar pada Elvano sambil menunjuk ke arah Kila dengan dagunya.
"Bapak nggak tahu? Ini teman kelas saya Pak di kampus, namanya Kila," jawab Elvano.
"Hmmmm. Emang iya? Kirain tadi kamu bawa anak kecil?" celetuk Pak Rhaegar sambil melihat Kila dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan mengejek tapi menahan senyum.
"Hahahaha.... Dia memang seperti anak kecil sih Pak," timpal Elvano yang bukannya membela Kila malah ikut-ikutan mengejek.
"Puas banget yahh kamu ngetawain aku?" kata Kila menatap tajam Elvano, pipinya sudah memerah menahan malu.
"Bagaimana ujian hari ini, kamu tidak terlambat lagi kan?" tanya Pak Rhaegar tiba-tiba, fokusnya kembali pada Kila.
"Hah? Bukannya Bapak nggak ngenalin saya tadi?" tanya Kila heran, bingung dengan perubahan sikapnya.
"Bagaimana saya bisa lupa sama mahasiswi yang terlambat di hari pertama ujian?" jawab Pak Rhaegar dingin, tapi ada nada geli di baliknya.
_Terus ngapain tadi pura-pura nggak ngenalin aku,_ gumam Kila dalam hati sambil manyun.
"Nggak kok Pak, saya nggak telat lagi, lagian kemarin saya telat karena ban motor saya bocor," kata Kila mencoba menjelaskan lagi.
"Apapun alasannya, terlambat itu tetap hal yang salah."
"Iya Pak, saya tahu kok," jawab Kila pasrah, menunduk menatap nasinya.
Tak lama, makanan yang dipesan Pak Rhaegar datang. Mereka melanjutkan makan malam bersama, tapi Kila sudah tidak selera sama sekali. Antara grogi, malu, dan jantungnya yang berdegup terlalu kencang.
Setelah selesai dan membayar masing-masing, mereka keluar menuju tempat parkir. Baru saja keluar dari pintu kafe, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Membasahi pelataran kafe dalam sekejap.
"Gimana nih, cuma ada satu mantel hujan di motor? Mana hujan deras banget," kata Elvano sambil melihat hujan yang tak kunjung reda, wajahnya cemas.
"Ya udah, kita main hujan-hujanan aja," kata Kila tersenyum sumringah. Dia memang sangat suka main hujan sejak kecil.
"Sembarangan kalau ngomong, bukannya kamu mau pulang ke rumah orang tua kamu besok, kalau kamu sakit gimana?" kata Elvano sambil menyentil kepala Kila pelan.
"Ohh iya, lupa, sorry sorry," kata Kila cengengesan.
"Tahu gini aku bawa mobil tadi," Elvano menghela napas.
"Saya bawa mobil kok, mau ikut?" kata Pak Rhaegar yang ternyata sudah berada tepat di belakang mereka, memegang kunci mobil SUV hitamnya.
"Emang boleh Pak? Nggak ngerepotin Pak?" tanya Elvano sopan.
"Kalau kamu ikut Bapak, motor kamu dikemanain?" tanya Kila spontan pada Elvano.
"Bukan aku yang ikut, tapi kamu," jawab Elvano.
"Kok jadi aku? Terus kamu?"
"Aku naik motor lah," jawab Elvano enteng.
"Tapi kan....."
"Nggak ada tapi-tapi, udah sana ikut sama Bapak daripada kamu kehujanan. Lagian rumah kamu sama rumah Bapak searah kan?" kata Elvano lagi memotong kalimat Kila.
"Ya udah... kamu hati-hati, jangan ngebut jalanan licin," kata Kila khawatir, menatap Elvano.
"Iya iya bawel, kamu juga hati-hati," balas Elvano sambil mengacak rambut Kila.
"Oiya, makasih Pak sebelumnya udah mau nganterin Kila, maaf ngerepotin," kata Elvano pada Pak Rhaegar.
"Iya, nggak masalah," jawab Pak Rhaegar singkat.
Kila berjalan mengikuti Pak Rhaegar menuju tempat mobilnya terparkir. SUV hitam besar yang tadi siang ia lihat di parkiran kampus, kini terlihat gagah di bawah guyuran hujan.
"Ayo masuk," kata Pak Rhaegar setelah ia masuk dan duduk di kursi pengemudi.
"Emmm,, iya Pak," jawab Kila sembari membuka pintu belakang mobil dengan ragu.
"Ngapain?"
"Yahh, mau naik lah Pak, kan tadi Bapak suruh saya buat naik," jawab Kila bingung.
"Iya sih, tapi jangan di belakang juga, kamu pikir saya supir taxi?" kata Pak Rhaegar, suaranya terdengar sedikit kesal tapi lucu.
"Hehehe,, maaf Pak, jadi saya duduk di depan?" tanya Kila agak ragu, merasa bersalah.
"Iya, buruan naik," perintahnya.
"Iya Pak," kata Kila sambil cepat-cepat membuka pintu depan dan duduk di samping Pak Rhaegar.
Untuk waktu yang cukup lama, tidak ada percakapan di dalam mobil. Hanya sunyi dan canggung. Hanya terdengar suara hujan yang menetes di kaca dan suara AC mobil yang berdesir pelan. Kila hanya terdiam menatap lurus ke depan, tapi dari sudut matanya ia terus menatap kagum pada wajah Pak Rhaegar yang nyaris sempurna di bawah cahaya lampu jalan. Tidak salah kalau ia punya julukan Dosen Tampan, karena memang ia sangat tampan. Meskipun kadang sikapnya dingin plus menyebalkan tapi itu tidak bisa membendung pesona yang dimilikinya.
"Apa wajahku setampan itu?" kata Pak Rhaegar tiba-tiba, memecah lamunan Kila tanpa menoleh sedikit pun, matanya tetap fokus ke jalan.
"Hahh? Kenapa Pak?" jawab Kila kaget, seperti maling yang ketahuan.
"Berhenti menatapku seperti itu. Saya tahu saya ganteng, tapi nggak usah kayak gitu juga ngeliatinnya. Jangan-jangan kamu suka sama saya yah?" katanya lagi masih fokus menyetir, tapi senyum tipisnya sudah mulai terlihat.
Deggg...
Rasanya jantung Kila sudah mau copot dan jatuh ke lantai mobil.
"Ya nggak mungkin lah Pak, masa saya suka sama Bapak? Lagian saya nggak liat Bapak kok, saya liat jendela mobil," jawab Kila ngeles secepat kilat, tapi jawabannya malah membuatnya semakin terlihat bodoh dan panik.
"Baguslah kalau kamu tidak menyukaiku, bisa-bisa pacarmu marah," balas Pak Rhaegar santai.
"Hehehe,, yah nggak lah Pak, Ehhh bentar.....pacar? Sejak kapan saya punya pacar? Saya nggak punya pacar Pak!" protes Kila spontan.
"Ohhh, baguslah," jawab Pak Rhaegar singkat.
"Kok bagus Pak?" tanya Kila penasaran, menoleh ke arahnya. Tapi alih-alih menjawab, Pak Rhaegar malah diam seribu bahasa, hanya senyumnya yang semakin jelas terlihat.
Suasana kembali sunyi, hanya terdengar suara kendaraan yang memenuhi jalan malam yang basah itu. Setelah cukup lama dalam kecanggungan yang manis itu, akhirnya mereka sampai di depan rumah Kila.
"Terimakasih banyak Pak udah nganterin saya, maaf ngerepotin," kata Kila setelah turun dari mobil, menunduk sopan.
"Iya lain kali kalau mau keluar naik motor bawa mantel, coba kalau saya nggak ada di situ kamu pasti hujan-hujanan," kata Pak Rhaegar dengan nada dingin yang dibuat-buat, tapi ada perhatian di baliknya.
"Iya Pak siap," jawab Kila.
"Ya sudah, sana masuk di luar dingin, nanti masuk angin."
"Iya Pak, Bapak juga hati-hati di jalan."
Dari dalam mobilnya, Pak Rhaegar masih menatap punggung Kila sampai gerbang rumahnya tertutup rapat. Lampu teras rumah Kila yang temaram memantulkan siluet mungil Kila.
"Baguslah kalau nggak punya pacar," gumamnya pelan, sangat pelan hingga hampir tak terdengar oleh hujan. Senyum gingsulnya muncul lagi, lebih lebar dari biasanya.
Mobil SUV hitam itu kemudian melaju perlahan meninggalkan rumah Kila.
"Deg-degan," gumam Kila sambil memegang dadanya yang masih berdebar kencang di balik pagar.
***
ayok ada dibaca🤭