Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: HITUNGAN TERAKHIR
#
*Klik.*
Itu bunyi pelatuk ditarik setengah. Bukan tembakan, tapi cukup untuk membuat semua orang di pabrik itu berhenti bernapas.
"Letakkan senjatamu, Nak," kata Gandara. "Lalu ikut kami. Anak ini pulang ke bos, dan kamu tidak perlu melihat apa yang terjadi kalau kamu menolak."
Kenzo tidak menurunkan pistolnya. Ia juga tidak menembak. Tangannya masih mengarah ke dada Gandara, tapi matanya sudah pindah ke tempat lain.
Ke tangan Axel.
Tangan kiri Axel baru dilepas dari ikatan. Jari-jarinya yang gemetar menggaruk paha, pelan, seperti orang gugup. Tapi Kenzo tahu bahasa itu sejak berumur tujuh tahun. Itu bahasa kecil mereka, yang dibuat di balik tumpukan karung beras dan tidak pernah dipakai siapa pun selain mereka berdua.
*Tiga.*
Satu jari menekuk.
*Dua.*
Kenzo menarik napas dalam-dalam, seolah menyerah.
"Oke," katanya, dan menurunkan pistolnya setengah. "Oke. Jangan sakiti dia."
"Anak pintar."
*Satu.*
Axel menjatuhkan seluruh berat tubuhnya ke lantai.
Gandara tersentak. Pistolnya meledak di atas kepala Axel dan peluru itu menghancurkan dinding kaca sampai berhamburan seperti hujan. Kenzo sudah bergerak. Satu tembakan mengenai lengan kiri Gandara, dan pistol itu terlepas dan meluncur ke kegelapan.
"Tiarap!" teriak Silva.
Pabrik itu meledak oleh suara tembakan.
---
Lingkar Hitam menembak dari semua sisi. Silva bergulir ke balik tong besi dan menembak tiga kali, dan tiga orang jatuh. Pada saat yang sama sebuah suara kecil berbisik di telinganya.
*Tim Satu, tiga puluh detik, Nyonya.*
Ia tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya malam itu, bibirnya melengkung tipis. Ia sudah menelepon tiga tim cadangan sebelum meninggalkan klinik, dan seluruh percakapan dengan Bram tadi hanya untuk mengulur waktu.
Di tengah ruangan, Kenzo dan Gandara saling menerjang.
Gandara kehilangan pistol dan lengannya berdarah di dua tempat, tapi gerakannya tidak melambat. Tinjunya menghantam rusuk kanan Kenzo, tempat tulang yang dulu retak di Kota Tua. Kenzo mendengar sesuatu patah. Ia terlempar ke mesin pengalengan, dan dunia sempat memutih.
"Sudah kubilang," kata Gandara, napasnya mulai berat. "Bagus saja tidak cukup."
"Aku... memang nggak... lagi cari bagus."
Kenzo menyambar pecahan kaca dari lantai dan menyayatkannya ke paha Gandara. Orang itu mundur setengah langkah. Cukup untuk Axel, yang merangkak di belakangnya, menarik kaki jasnya sampai ia terhuyung, dan Kenzo menghantamkan lutut ke dagunya. Gandara jatuh berlutut.
Tidak lama. Tangan kirinya yang berdarah mencengkeram pergelangan Kenzo, dan senyumnya muncul lagi.
"Cukup main-mainnya."
Dari sisi laut pabrik, pintu baja didobrak dari luar. Asap putih bergulung masuk dan sepuluh orang berpakaian gelap menyerbu dalam formasi rapi. Mata Senja.
Gandara melepaskan Kenzo. Ia menatap pasukan baru itu, menimbang, lalu bangkit pelan.
"Dua kali sudah aku diselamatkan perhitungan orang lain," katanya. "Itu tidak sehat."
Ia melangkah mundur ke tepi lantai, tempat jendela besar menghadap laut, tempat sebuah speedboat hitam sudah menunggu di bawah karang. Kemudian ia menoleh ke Axel, yang berlutut di lantai dengan pergelangan berdarah.
"Nak. Dua puluh enam tahun kamu tidak tahu namamu." Suaranya rendah, hampir kasihan. "Orang yang tahu namamu itu bernama Victor Pradana. Dia membawanya ke kuburan."
Axel membeku. Kenzo, yang berdiri di sebelahnya, merasakan kalimat itu menghantam lebih dulu pada dirinya sendiri.
Gandara melompat ke bawah. Mesin speedboat meraung, dan bayangan hitamnya lenyap di balik ombak.
---
Pertempuran belum selesai. Itu yang Kenzo sadari terlambat.
Pasukan Silva menyapu lantai bawah, dan Lingkar Hitam yang tersisa mundur satu per satu. Pabrik mulai sunyi. Silva berdiri di tengah ruangan, napasnya masih terengah, dan menoleh mencari seseorang.
Bukan Axel. Bukan Bram.
Kenzo.
Ia menemukan Kenzo berlutut di samping Axel, bahunya naik turun, tangan menekan rusuknya. Dada Silva mengendur dengan sesuatu yang tidak ia izinkan dirinya beri nama. Ia melangkah mendekat.
Di atas kepala mereka, di rangka baja gelap, sebuah titik merah kecil menyala di dada mantel abu arang.
Kenzo melihatnya lebih dulu.
"Silva! *Turun!*"
Ia melompat, tapi jaraknya tiga meter dan rusuknya patah. Terlalu jauh.
Sesosok tubuh berjas hitam sudah lebih cepat. Bram, dengan bahu berdarah dan wajah pucat, berdiri dari lantai tempat ia tersandar dan melemparkan seluruh tubuhnya ke depan Silva.
*Dor. Dor.*
Dua tembakan tanpa peredam. Bram jatuh di pangkuan Silva dengan dua lubang di dada.
Kenzo menembak ke kegelapan di atas, ke arah kilatan moncong yang masih terlihat. Satu tembakan, dan sebuah tubuh jatuh dari jembatan baja dan menghantam lantai beton dengan bunyi basah.
Keheningan jatuh seperti selimut.
"Bram?" Suara Silva tidak keluar seperti biasa. Kecil, parau, seperti anak yang memanggil di tengah malam. "Bram. Kamu bodoh. Kamu... kamu baru saja ngaku mengkhianatiku."
"Iya, Nyonya." Bram tersenyum di sela darah di giginya. "Dan saya baru sadar... saya tidak bisa menjual yang satu itu."
"Jangan bicara."
"Mereka... mereka bukan Letnan." Napasnya tersendat. "Letnan tidak dibunuh Alexander. Ada... dua tuan, Nyonya. Satu yang membangun Menara. Satu lagi... yang tidak berani muncul. Saya melayani yang tidak berani muncul. Dia... dia menangis tiap kali menyebut nama anak itu."
Ia menoleh dengan susah payah ke Kenzo. Tangan berlumur darah itu merogoh dalam jasnya dan mengeluarkan kaleng pipih sebesar telapak tangan, tutupnya bertuliskan *A.W.* Ia menaruhnya di telapak Kenzo.
"Milik Anda. Saya ambil... supaya tidak ada yang mengambil... lebih dulu."
"Bram..."
"Jaga dia." Matanya bergeser pada Silva. "Dia tidak pernah bilang... tapi dia sendirian... lama sekali."
Dada Bram naik sekali lagi, lalu diam. Silva menunduk menatap wajah yang sembilan tahun selalu berdiri di belakangnya. Ia tidak menangis. Hanya tangannya yang gemetar, dan tanpa sadar jari-jari bersarung kulit itu mencari sesuatu untuk dipegang, lalu menemukan ujung lengan jaket Kenzo.
Kenzo tidak menariknya. Ia berlutut di sebelah Silva dan membiarkan tangan itu menggenggam, sambil menatap wajah Bram yang tenang.
"Dia mati melindungi kamu," katanya pelan. "Itu bukan khianat."
Silva memejamkan mata dan mengangguk satu kali, kaku.
Di sudut ruangan, Axel berdiri dengan pergelangan terbalut kain robek. Ia melihat tangan Silva di lengan jaket Kenzo. Ia melihat Silva tidak melepaskannya. Ia melihat Kenzo tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Sesuatu di wajah Axel bergerak sebentar, lalu padam. Ia memalingkan muka, menatap laut gelap di balik jendela yang pecah, dan tidak menggerakkan tangannya sama sekali.
---
Mereka mengangkut jenazah Bram dalam diam. Dua orang Mata Senja membungkusnya dengan mantel hitam, dan tak satu pun berani menyentuh Silva. Dokter Wening datang, memeriksa rusuk Kenzo dengan wajah masam.
"Dua patah. Kamu tidak boleh berlari, melompat, atau berkelahi minimal tiga minggu."
"Oke."
"Kamu bohong."
"Iya."
Mereka berdiri di dermaga kecil di belakang pabrik, menunggu mobil. Angin laut dingin, dan ombak menghantam karang dengan bunyi yang tidak berhenti. Axel duduk agak jauh di atas peti kayu, tablet di pangkuan menyala redup.
Kenzo mendekat dan duduk di sampingnya, rusuknya berdenyut. Lama tidak ada yang bicara.
*Dia bilang Victor tahu namaku,* tangan Axel akhirnya bergerak.
"Aku dengar."
*Victor nggak pernah cerita.*
"Mungkin dia belum sempat."
*Dua puluh tahun.* Jarinya berhenti. Gerakannya jadi lambat, hati-hati, seperti meraba di kegelapan. *Dua puluh tahun dia punya kesempatan.*
Kenzo tidak punya jawaban. Ia hanya tahu satu hal, dan ia tidak berani mengatakannya: orang terakhir yang bisa menjawab pertanyaan itu terbaring di bawah pohon jambu, karena peluru yang ia tembakkan sendiri.
Axel tidak menuduhnya. Ia hanya menatap tablet, dan di wajahnya yang diam itu Kenzo melihat satu hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sebuah pintu yang perlahan ditutup dari dalam.
"Xel."
*Hm.*
"Kaleng ini." Kenzo mengangkatnya. "Mau buka sekarang?"
Axel menatap kaleng itu lama. *Nanti,* tangannya bergerak. *Aku belum siap tahu satu hal lagi malam ini.*
"Oke."
*Dan Kenzo.*
"Iya?"
*Terima kasih sudah datang.*
Kenzo mengangguk. Ia tidak tahu bahwa kalimat itu, yang tulus dan hangat, adalah yang terakhir dari jenis itu yang akan ia terima untuk waktu yang sangat lama.
---
Mobil hitam Silva berhenti tepat saat sebuah pesan masuk ke telepon Kenzo. Hanya dari Aceng, dan Aceng tidak pernah mengirim pesan tanpa emoji.
*Kak. Telpon sekarang. Penting banget.*
Kenzo menelepon. Aceng mengangkat sebelum nada pertama selesai.
"Kak! Pak Raden..." Suara bocah itu pecah. "Pak Raden nggak ada di markas! Pintu ruang bawah tanah kebuka, papan caturnya jatuh, bidaknya berserakan. Anak buah yang jaga ditemukan pingsan semua. Nggak ada darah. Rapi banget."
Kenzo berhenti melangkah.
"Dan ada satu pesan, Kak. Di layar. Aku nggak ngerti caranya masuk." Aceng menelan ludah. "Videonya cuma sepuluh detik. Aku kirim ke Kak Kenzo."
Telepon itu bergetar. Kenzo membuka video itu dengan jari kaku, dan Silva serta Axel mendekat dari kiri dan kanan.
Gambar buram, cahaya kuning, ruangan tanpa jendela. Raden Wiratama Sanjaya duduk di kursi kayu dengan tangan terikat, kacamata bundarnya retak sebelah, rambut peraknya berantakan. Di depannya, di atas meja kecil, ada papan catur dengan bidak yang berhenti di tengah permainan.
Sebuah tangan bersarung putih menggeser satu bidak. Pion putih ke depan.
Lalu suara itu terdengar dari luar gambar, tenang, hangat, licin seperti sutra di atas pisau.
"Anak muda yang membenciku. Aku bukan orang yang suka basa-basi." Alexander Gunawan tertawa kecil. "Aku punya orangmu. Kamu punya milikku. Besok pukul lima subuh, di Menara Jam Kota Tua yang rusak, tukar. Don Raden untuk Sang Bayangan. Tanpa topeng. Tanpa pasukan."
Kamera bergeser pelan ke wajah Raden. Lelaki tua itu menatap lurus ke lensa, dan di matanya tidak ada ketakutan. Hanya sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat dada Kenzo mengencang.
Ia menggerakkan bibirnya tanpa suara. Kenzo membacanya, dan darahnya dingin.
*Jangan datang. Ini bukan Alexander yang menyuruh.*
Video itu terputus.
Di layar yang gelap, wajah mereka bertiga terpantul: Kenzo yang pucat menahan sakit, Silva yang tegang dengan darah Bram di sarung tangannya, dan Axel yang menatap dengan satu pertanyaan yang tidak sempat ia ketik.
Jauh di pantai utara, di balik tebing karang dan ombak yang menghantam tanpa henti, sebuah speedboat hitam merapat ke dermaga kecil. Gandara turun tanpa bicara, menyeka darah dari lengannya, dan berjalan menuju mobil yang menunggu dengan pintu terbuka. Di kursi belakang, seseorang yang wajahnya tak pernah ia lihat jelas duduk dalam bayangan.
"Dia memegang kalengnya sekarang, Tuan."
"Aku tahu." Suara itu pelan dan dingin. "Biarkan dia membukanya. Aku justru ingin tahu apa yang akan dia lakukan setelah itu."
---
*Bersambung ke Bab 27*