Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.
Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.
Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.
Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.
Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.
Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?
Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkap Kebenaran
POV Fernando
Sebulan telah berlalu sejak aku berpacaran dengan Carolina, dan aku masih belum mengatakan siapa diriku sebenarnya.
Bukan karena tak mau.
Sebaliknya, selama minggu-minggu itu aku berkali-kali berpikir untuk duduk di hadapannya dan menceritakan semua kebenaran, tetapi selalu ada keadaan yang memaksaku menunda. Setelah penculikan Valentina, aku harus mengurus keamanan keluargaku, mencari tahu siapa yang berada di balik upaya itu, dan menata ulang beberapa operasi yang terganggu akibat serangan itu. Masalahnya, begitu kusadari, hari-hari sudah berlalu terlalu cepat dan aku masih menjadi Jorge bagi wanita yang telah merebut sebagian diriku yang tak pernah kubayangkan akan kuserahkan pada siapa pun.
Carolina masih mengira aku hanya bartender.
Namun selama masa itu, satu hal makin jelas bagiku: ia wanita yang kuinginkan di sisiku.
Aku tak lagi ragu bahwa Carolina akan menjadi istriku dan, begitu ia mengetahui kebenarannya, juga wanita sempurna untuk menempati posisi Nyonya Don di sisiku. Ia punya kecerdasan, keberanian, kepribadian, dan kekuatan yang tak perlu dipamerkan agar terasa.
Konfirmasinya datang dengan cara yang tak diduga siapa pun.
Sebulan setelah penculikan Valentina, Carolina dan Catarina keluar dari Vértice di akhir jam kerja. Keduanya sedang mengobrol sambil berjalan ke area parkir ketika empat pria muncul di dekat pintu masuk perusahaan.
Tujuan mereka langsung jelas.
Mereka mencoba mengepung keduanya.
Yang tak diketahui para pria itu adalah bahwa Carolina dan Catarina bertahun-tahun belajar bela diri di Brasil. Antônio memasukkan keduanya untuk berlatih sejak remaja, mengajarkan disiplin, refleks, dan terutama agar tidak panik ketika keadaan lepas kendali.
Keempat pria itu bahkan tak sempat memahami apa yang terjadi.
Ketika Santiago dan Miguel tiba bersama beberapa anak buah kami, keempatnya sudah terkapar, sepenuhnya dilumpuhkan.
Santiago menatap Catarina beberapa detik.
"Kurasa aku terkesan."
Catarina mengangkat alis.
"Itu bagus atau buruk?"
"Aku masih memutuskan."
Miguel tertawa, sementara Carolina membantu Catarina berdiri.
Aku sudah menerima rekaman kamera keamanan beberapa menit sebelumnya dan menyaksikan semuanya. Carolina bergerak ringan, menghindari pukulan, dan memakai tenaga lawan untuk melawan mereka sendiri. Tak ada keputusasaan dalam gerakannya, hanya konsentrasi.
Saat itu aku yakin akan sesuatu yang sudah lama kucurigai.
Carolina tidak butuh seseorang untuk terus-menerus menyelamatkannya.
Ia tahu cara membela diri.
Kami menangkap keempat pria itu dan mulai menginterogasi mereka, tetapi butuh lebih dari dua minggu untuk sampai pada pria yang berada di balik percobaan itu. Ketika akhirnya menemukan pemimpin mereka, kami tak memberi ruang untuk kabur lagi.
Keparat itu tertangkap.
Setelah itu aku mulai memandang Carolina dengan cara berbeda.
Bukan karena aku menemukan kelemahan padanya, justru sebaliknya.
Ia jauh lebih mampu daripada yang ia sangka.
Masalahnya, tanpa mengetahui siapa aku, ia tetap terancam.
Aku harus mengatakannya.
Kuputuskan melakukannya malam itu.
Aku tak bisa begitu saja mengatakan bahwa aku Fernando Garcia Sanchez, presiden Vértice Technologies dan kepala organisasi kriminal yang sudah ada turun-temurun. Kalau kuhadapkan seluruh kenyataan itu padanya tanpa persiapan, aku berisiko menakutinya, dan aku tak ingin ia mengetahui segalanya dalam satu percakapan.
Aku berencana memulai dari sisi pengusaha.
Lalu menjelaskan sisanya.
Aku menjemputnya di rumah dengan penampilan Jorge, seperti yang sudah sering kulakukan. Ketika Carolina masuk mobil, ia tersenyum dan mengecup pipiku.
"Kamu beda hari ini."
"Beda gimana?"
"Nggak tahu. Kamu kelihatan cemas."
Kugenggam kemudi.
"Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu."
Ia melirikku.
"Hal buruk?"
"Semoga bukan."
Ia tidak mendesak.
Sesampainya di restoran, Carolina melihat bagian depannya dan langsung mengerutkan kening.
"Jorge..."
Aku tersenyum.
"Kenapa?"
"Tempat ini mahal banget."
"Aku tahu."
"Kita bisa ke tempat yang lebih sederhana. Kamu tahu aku nggak peduli soal itu."
"Aku tahu kamu nggak peduli."
Kubukakan pintu untuknya.
"Tapi kita harus makan malam di sini hari ini."
Ia masih curiga.
"Kenapa?"
"Karena aku punya sesuatu untuk kuceritakan, dan harus di sini."
Carolina diam beberapa detik, tetapi masuk.
Kami duduk di meja yang lebih tertutup, dan seorang pelayan menghampiri.
"Tuan, ingin memulai dengan minuman?"
"Anggur."
Kutoleh Carolina.
"Kamu?"
"Jus."
"Jus apa?"
"Jus anggur hijau, tolong."
Pelayan mencatat pesanan dan pergi.
Aku memandangi Carolina.
Ia menyadarinya.
"Kamu bikin aku gugup."
Kugenggam tangannya di atas meja.
"Aku nggak mau kamu gugup."
"Kalau begitu cepat ceritakan."
Aku menarik napas dalam.
Saatnya tiba.
"Carolina, namaku bukan Jorge."
Ia membeku.
"Maksudmu?"
"Nama asliku Fernando."
Ia menatapku.
"Fernando siapa?"
"Fernando Garcia Sanchez."