Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
_____🌺
Malam hari.
Kretek! Tuk!
"Aduh, Mas Dimas! Kamu bisa diam nggak sih tidurnya? Jangan banyak gerak dong! Ini kasurnya keras banget, kamu miring dikit aja batu gioknya langsung nusuk ke tulang rusukku lho!" omel Nisa di tengah malam buta.
Matanya sudah sangat mengantuk dan perih, tapi tubuhnya menolak keras untuk diajak beristirahat di atas ranjang yang permukaannya sekeras lantai beton garasi ini.
"Gimana mau diam anteng, Nis? Ini punggungku rasanya udah rata sama triplek! Terus ini suhunya kenapa kepanasan banget sih? Tombol pemanas inframerahnya ditaruh di angka berapa tadi sore sama Mama? Punggungku rasanya beneran kayak lagi dipanggang di atas bakaran sate ayam, panas banget sampai keringetan sebadan-badan!" keluh Dimas merana sambil mengipasi lehernya menggunakan bantal tipis.
"Mana aku tahu, Mas! Tadi kan mamamu yang nyetting remotenya sambil ngomel-ngomel! Katanya harus suhu empat puluh derajat biar sel-sel telurnya pada mateng sempurna. Mateng apanya? Yang ada daging kita berdua yang mateng well done malam ini!" rutuk Nisa setengah menangis menahan sakit di area pinggulnya.
"Matiin aja deh colokannya, Nis. Aku nggak kuat beneran ini. Bisa-bisa besok pagi kita berdua ditemuin udah jadi dendeng manusia krispi di atas kasur sepuluh juta ini," Dimas berusaha meraih kabel di dekat meja nakas, tapi seketika ia menjerit pelan. "Aw! Shhh ... aduh, urat pinggangku ketarik, Nis! Sakit banget sumpah, kayak mau putus rasanya!"
Nisa buru-buru bangkit dan duduk dengan susah payah.
"Tuh kan! Baru juga dibilangin jangan banyak gerak. Ini kan kasurnya nggak ada empuk-empuknya sama sekali. Kamu tidur aja udah di bawah, Mas. Gelar karpet bulu kek, atau pakai bed cover. Daripada kita mati muda gara-gara kasur terapi orang jompo ini."
"Nggak bisa, Nis. Karpet bulunya udah disita sama Mama tadi sore pas kasur ini datang. Katanya biar kita nggak ada alasan buat kabur tidur di bawah. Mamaku kalau udah niat menyiksa anak mantunya emang totalitas tanpa batas banget. Rencananya rapi banget kayak agen rahasia," jawab Dimas pasrah luar biasa.
Malam itu menjadi malam terpanjang dan paling menyiksa bagi sepasang suami istri tersebut.
Mereka terpaksa tidur dengan posisi telentang kaku bagaikan ikan asin yang sedang dijemur di bawah terik matahari, tak berani miring ke kanan atau ke kiri karena takut tulang rusuk mereka memar berbenturan dengan batu giok super keras itu.
_____🌺
Keesokan paginya, tepat pukul enam, pintu kamar mereka digedor dengan sangat barbar dan brutal dari luar.
"Dimas! Nisa! Bangun! Jangan bilang kalian keenakan tidur di kasur batu giok sampai lupa bangun pagi buat sholat subuh! Gimana? Mantap luar biasa kan kasurnya? Semalam kalian pasti langsung on fire kan rahimnya kena sinar inframerah?" teriak bu Ratna penuh semangat menggebu-gebu dari balik pintu.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka perlahan.
Dimas muncul dari balik pintu dengan penampilan yang sangat mengenaskan. Rambutnya acak-acakan, matanya menghitam seperti mata panda, dan yang paling parah, posisi tubuhnya membungkuk parah nyaris membentuk sudut sembilan puluh derajat.
Pria muda berusia tiga puluh tahun itu berjalan tertatih-tatih sambil memegangi pinggang belakangnya, persis seperti kakek-kakek yang sudah berusia sembilan puluh tahun.
"Astaghfirullahaladzim, Dimas! Kamu kenapa jalannya bungkuk kayak orang lagi rukuk sholat gitu? Tegap dikit badannya, laki-laki kok lemes banget pagi-pagi!" tegur bu Ratna kaget melihat postur tubuh anak kandungnya.
"Tegap apanya, Ma? Ini punggung Dimas rasanya udah remuk redam hancur berkeping-keping! Jalan aja Dimas harus tahan napas karena tulang ekor Dimas ngilu banget! Mama mau bunuh anak kandung sendiri ya pelan-pelan pakai kasur batu sialan itu?" protes Dimas dengan suara menahan tangis dan rasa sakit yang luar biasa.
Di belakang Dimas, Nisa ikut keluar kamar dengan postur yang tak jauh beda. Nisa berjalan sambil menyeret kakinya dan memegang tembok lorong kamar. Wajahnya ditekuk masam penuh penderitaan.
"Tuh lihat menantu kesayangan Mama! Nisa juga jalannya jadi kayak zombie kurang gizi! Boro-boro mau on fire bikin anak semalam, Ma. Buat napas aja dada Nisa sesak karena punggung Nisa kaku semua tiduran di aspal batu giok itu! Nisa mau balikin aja kasur busa Nisa yang lama hari ini juga!" ancam Nisa berani, rasa sakit di pinggangnya membuat nyalinya untuk melawan mertua mendadak naik berkali-kali lipat.
Wanita tua itu melotot tajam, matanya membesar tak terima mendengar protes dua sejoli itu. Ia berkacak pinggang menatap mereka berdua dengan angkuh.
"Heh! Ngawur aja kalian kalau ngomong! Jangan sembarangan nyalahin barang mahal! Itu namanya proses detoksifikasi tulang rawan! Kasur itu lagi berusaha ngelurusin urat-urat kalian yang bengkok gara-gara kelamaan tidur di kasur busa murahan! Nanti lama-lama juga terbiasa dan badan kalian bakal sesegar atlet binaragawan!" omel bu Ratna ngotot membela produk yang sudah menguras uang dua puluh jutanya itu.
"Atlet binaragawan dari Hong Kong, Ma! Dimas nggak mau tahu, pokoknya nanti malam Dimas mau tidur di sofa ruang tamu aja! Biarin pinggang Dimas patah di sofa daripada hancur di atas batu!" bantah Dimas sambil berjalan tertatih menuju meja makan.
"Berani kamu tidur di sofa, Mama kunci pintu depan dari luar biar kamu tidur sama nyamuk di teras sekalian! Kasur itu harganya sepuluh juta satu biji, Dim! Mama beli dua biji habis dua puluh juta cuma buat ngebungkam mulut si RW sombong itu! Kalian harus hargai pengorbanan Mama!" teriak bu Ratna tak mau kalah ego.
Nisa yang sedang menuangkan air putih ke gelas langsung menoleh kaget. "Loh? Beli dua, Ma? Berarti kasur busa di kamar Mama juga diganti pakai kasur batu giok ini dari semalam?"
"Iya dong! Mama juga harus rasain khasiat awet mudanya batu giok Korea ini! Biar nanti pas arisan bulan depan, muka Mama jauh lebih glowing bersinar daripada ibu-ibu lainnya! Udah, sana kalian mandi pakai air anget biar ototnya agak lemes. Jangan banyak ngeluh terus kerjanya!" titah bu Ratna sebelum berbalik pergi menuju kamarnya sendiri.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh