Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Laras
Seminggu kemudian, sekolah mengadakan acara besar yaitu lomba pidato antar kelas. Setiap kelas harus mengirimkan satu perwakilan. Bu Ratna menunjuk Laras karena nilainya di pelajaran Bahasa Indonesia selalu paling tinggi.
Laras awalnya senang, tapi begitu tahu hari perlombaan bertepatan dengan jadwal pemeriksaan kesehatan rutin yang diadakan di rumah sakit tempat ibunya bekerja, dia jadi gelisah. Itu satu-satunya waktu dalam sebulan yang bisa dia gunakan untuk menemani ibunya yang sedang sakit ringan tapi tetap harus bekerja.
Saat jam istirahat, Laras duduk cemas di bangku taman sekolah sambil memegang kertas pengumuman lomba itu erat-erat. Arka yang lewat melihatnya dan langsung berjalan mendekat.
"Lu kenapa terlihat bingung banget dari tadi?" tanyanya sambil duduk di sebelah Laras.
Laras menghela napas panjang. "Gue diminta ikut lomba pidato hari Rabu depan. Tapi itu juga hari gue harus nemenin Ibu ke rumah sakit. Beliau sendirian dan nggak ada orang lain yang bisa gue minta tolong. Kalau gue tolak Bu Ratna pasti kecewa, tapi kalau gue ikut, gue nggak tenang meninggalkan Ibu sendirian di sana."
Arka berpikir sejenak. "Rabu depan gue nggak ada kegiatan sekolah kok. Gue bisa temenin Ibu lu ke rumah sakit. Lu fokus lomba pidato aja. Gue pastikan beliau sampai pulang dengan selamat."
Laras melotot tak percaya. "Serius lu tawarin diri buat lakuin itu? Itu bukan tugas lu lho, Ka. Gue nggak mau nyusahin lu."
"Lu nggak nyusahin gue. Kita kan teman, kalau teman kesulitan harus saling bantu kan? Lagian lu sudah dipilih, jangan sia-siakan kepercayaan Bu Ratna. Ibu lu pasti juga mau lihat lu berprestasi," jawab Arka tenang.
Setelah banyak pertimbangan, Laras akhirnya setuju. Dia memberi tahu alamat rumah sakit, jam pertemuannya, dan nomor telepon ibunya ke Arka.
Hari yang ditunggu pun tiba. Laras berdiri di panggung dengan jantung berdebar kencang. Di belakang panggung, dia terus mengecek ponselnya, menunggu kabar dari Arka. Tak lama kemudian pesan masuk:
..."Semua lancar. Ibu lu sudah diperiksa, sekarang lagi istirahat. Lu fokus aja, gue tunggu sampai beliau selesai. Semangat ya, Laras!"...
Laras tersenyum lega. Kepercayaan dirinya kembali utuh. Dia berbicara dengan lantang dan tulus, dan saat namanya diumumkan sebagai juara pertama, dia merasa bahagia bukan karena piala itu, tapi karena dia berhasil melakukan keduanya , yang pertama membanggakan sekolah dan kedua tidak mengecewakan ibunya.
Saat Laras berlari keluar gerbang sekolah, dia melihat Arka berdiri di sana sambil tersenyum menunggunya. Di sampingnya berdiri ibunya yang terlihat jauh lebih segar dan tersenyum bahagia melihat anaknya memegang piala tinggi di tangan kanannya.
"Selamat ya Nak, Ibu bangga banget sama kamu," ucap ibunya sambil memeluk Laras erat. "Terima kasih juga ya Arka, kamu benar-benar anak yang baik."
Arka tersenyum sopan. "Sama-sama Bu. Saya senang bisa membantu."
Saat ibunya masuk ke dalam rumah, Laras menatap Arka dengan mata yang berbinar penuh terima kasih. "Gue nggak tahu harus bilang apa lagi. Lu menyelamatkan hari gue, Ka. Benar-benar terima kasih banyak."
Arka menatapnya lembut. "Lu nggak perlu selalu berterima kasih ke gue. Karena buat gue, melihat lu senang itu sudah cukup buat gue ikut senang."
Laras merasakan pipinya memanas. Dia buru-buru menunduk agar Arka tidak melihat wajahnya yang merah padam. Di saat itu dia sadar bahwa rasa ini bukan sekadar suka biasa. Dia jatuh cinta. Sungguh-sungguh jatuh cinta.