NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

POV: Amelia

Putusan sela Arga ditolak sehari sebelumnya. Hakim menilai sensor di muka tidak dibenarkan di negeri ini, dan laporan kekerasan itu menyangkut kepentingan umum. Konferensi pers tayang. Aku akan bicara.

Aula hotel penuh. Wartawan dari segala penjuru, kamera televisi, siaran langsung, ponsel terangkat. Pak Bayu di sampingku. Fariz di bagian belakang, tak mencolok, tak mencuri satu detik pun dari acara, tapi hadir, dan aku tahu dia di sana, dan itu menahanku tetap berdiri. Dan aku, sendirian di panggung, berbusana sederhana yang menyembunyikan perut, dengan naskah yang kulatih semalaman dan sudah kuhafal.

Aku menarik napas. Meraih mikrofon. Tanganku tak gemetar, dan aku bangga akan itu.

"Nama saya Amelia Pramesti," aku memulai. "Banyak orang mengenal saya sebagai mantan istri Arga Wiratama. Istri yang dia pamerkan, istri yang dia buang, si penipu, si mandul, tergantung kolom mana yang Anda baca. Hari ini saya datang menceritakan siapa saya di balik kata 'mantan' itu. Tanpa kolom. Tanpa versi siapa pun. Hanya versi saya."

Dan aku bercerita.

Kuceritakan tentang pernikahan yang selama tiga tahun adalah rumah indah dengan kamera di setiap lorong. Kutunjukkan, di layar di belakangku, rekaman penthouse Pondok Indah, lorong-lorong terawasi, perempuan terpojok yang tampak di dalamnya, minum susu hangat di tengah malam tanpa tahu sedang direkam.

"Itu bukan cemburu suami," kataku, dan suaraku memenuhi aula. "Itu pengendalian. Di negeri ini, itu ada namanya, dan namanya tertulis di undang-undang. Kekerasan psikis. Kekerasan ekonomi. Dia memblokir rekening saya di hari saya meninggalkan rumah, membiarkan saya tanpa sepeser pun. Dia menyabotase karier saya selama tiga tahun, satu kontrak demi satu, satu pintu demi satu, dan saya mengira itu nasib buruk."

Ruangan sunyi mutlak, hening orang yang paham sedang menyaksikan sesuatu terjadi.

"Dan ketika saya hamil," lanjutku, dan suaraku patah di sini, dan kubiarkan patah, karena itu jujur, dan kebenaran yang patah lebih meyakinkan daripada pidato yang kokoh, "ibunya memanggil saya ke rumahnya dengan kebohongan tentang nenek saya yang sakit. Dan mendorong saya dari tangga marmer."

Kuputar videonya. Tangga itu. Jatuhnya. Seisi ruangan menahan napas, dan seseorang di belakang berbisik "Ya Allah", dan seseorang menangis.

"Saya kehilangan seorang putri dalam jatuh itu," kataku, lalu berhenti, karena namanya tak mau keluar. "Namanya Anindita. Anin."

Tak kuputar lagi sisa rekaman itu. Tak perlu. Duka sendirian sudah cukup, dan aku tak akan menjadikan kematian putriku tontonan darah. Martabatnya, dan martabatku, lebih berharga daripada rating.

Seorang wartawati mengangkat tangan, ragu.

"Dan Priska? Selingkuhan hamil suami Ibu? Ibu tidak akan bicara soal dia?"

"Soal itu," kataku, "saya punya pertanyaan, bukan jawaban." Kutampilkan kesepakatan bungkam itu di layar, angka-angkanya dikaburkan tapi terbaca. "Kenapa seorang pria membayar fantastis demi bungkamnya perempuan yang katanya mengandung anaknya? Untuk apa membeli diam dari orang yang tak punya apa pun untuk disembunyikan? Saya tidak tahu apakah bayi itu anak Arga. Mungkin dia sendiri pun tidak tahu. Saya hanya meninggalkan pertanyaan itu di udara, untuk Anda semua, yang pandai menyelidik."

Dan di sana, siaran langsung, di depan seluruh negeri, kulihat terjadi sesuatu yang kuimpikan tiga tahun dan sudah kukira mustahil.

Arus berbalik.

Wajah orang-orang di aula berubah. Di ponsel-ponsel, tagar berganti, namaku naik, namanya tenggelam. Media yang tadi menyebutku pencari untung mulai meralat secara langsung, mengedit judul. Merek-merek yang menyponsori Wiratama Tech melepas pernyataan menjaga jarak "mengingat tuduhan serius". Dari "perempuan kampung yang pura-pura hamil demi tunjangan", dalam hitungan menit aku menjadi hal lain. Perempuan yang selamat, yang bicara, yang negeri ini memutuskan untuk dipeluk.

Itu bukan balas dendam kotor. Hanya kebenaran, dikatakan keras-keras, dengan bukti di layar. Dan itu lebih menghancurkan dari kebohongan mana pun, karena kebohongan bisa dibantah, dan kebenaran yang terdokumentasi tidak.

Ketika hendak menutup, seorang wartawati di barisan depan berteriak mengatasi yang lain, cerdik, merasa ada yang kurang.

"Amelia! Dan ayah anak-anak Ibu? Benarkah Arga? Ibu bilang 'seorang putri'. Dan anak yang satunya?"

Ruangan hening lagi, menunggu. Dan itu satu-satunya pertanyaan yang mengejutkanku, karena menyentuh persis apa yang kujanjikan akan kusembunyikan. Ikan Kecil, hidup, di dalam diriku saat itu juga, berdetak, selagi seluruh negeri menonton tanpa tahu sedang menonton dua orang di panggung.

Aku ragu sedetik. Hanya satu. Dan dalam sedetik itu, kuputuskan.

"Anak-anak saya milik saya," jawabku.

Dan itu benar. Setiap katanya. Hanya bukan seluruh kebenaran. Sengaja kubiarkan kalimat itu ambigu, dan ia viral dengan ambigu, dan setiap orang memahami apa yang mereka mau, dan rahasiaku tetap jadi rahasiaku.

Aku turun dari panggung selagi negeri ini menulis ulang, secara langsung, siapa korban dan siapa penjahat dalam cerita ini. Pak Bayu menekan bahuku, bangga. Fariz, di belakang, memandangku dengan cara yang akan kubawa pulang dan kusimpan lama, tatapan orang yang melihatku bersinar sendirian dan mencintaiku lebih karena itu, tanpa perlu muncul.

Di lorong keluar, ponselku berbunyi. Pesan dari Bibi, dari Surabaya, dengan banyak emoji api dan satu kalimat.

"KAKAK MENGHANCURKAN MEREKA. Tanpa teriak, tanpa mengumpat, cuma dengan kebenaran. Selamat datang di keluarga. Kami butuh perempuan seperti Kakak."

Aku tersenyum, lelah, kehabisan tenaga sampai ke tulang, tanganku diam-diam di atas perut yang tersembunyi.

Perang publik baru saja kumenangkan. Tapi Bu Ratna akan menjawab di pengadilan, Arga akan menemukan hal-hal yang tak dia bayangkan tentang dirinya sendiri, dan rahasiaku, Ikan Kecil, masih punya jalan panjang sampai lahir dengan selamat.

Satu per satu. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, akulah pemilik ceritaku sendiri. Dan tak seorang pun, tak akan pernah lagi, menuturkannya untukku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!