• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Aroma Pagi dan Sarapan Rahasia
Alarm ponsel Eca berbunyi nyaring tepat pukul lima pagi, memecah keheningan kamarnya yang masih gelap. Eca mengerang pelan, menarik selimutnya tinggi-tinggi untuk menutupi wajahnya yang masih terasa luar biasa mengantuk. Matanya terasa berat banget seperti ditempel lem besi. Wajar saja, setelah drama resleting macet di depan pagar semalam dan interogasi singkat dari ibunya, Eca baru bisa tidur nyenyak lewat tengah malam karena otaknya terus-menerus memutar ulang bisikan serak Angkasa di dekat telinganya.
"Sialan... gara-gara cowok psikopat itu, jam tidur gue resmi hancur berantakan minggu ini," gerutu Eca kesal sambil memaksakan tubuhnya untuk duduk di tepi kasur.
Dengan langkah gontai, Eca bersiap-siap. Dandanan gerilya cupunya kembali terpasang sempurna pagi ini. Rambut dikuncir dua kembar yang super rapi, kacamata bulat tebal bertengger di hidung, dan rok abu-abu yang ditarik hingga ke bawah lutut. Namun, ada satu hal tambahan yang harus dia siapkan pagi ini sebelum berangkat: sebuah kotak bekal plastik berwarna biru yang sudah terisi penuh dengan nasi goreng buatan rumah yang aromanya sangat menggugah selera. Eca terpaksa bangun lebih pagi untuk memasaknya sendiri agar tidak memicu kecurigaan ibunya di dapur.
Tepat pukul 06.25 WIB, kaki Eca sudah melangkah melewati gerbang SMA Taruna Bangsa. Suasana sekolah benar-benar masih sangat sepi dan senyap. Udara pagi yang dingin berembus menusuk kulit seragamnya, dan kabut tipis samar-samar masih terlihat di area lapangan utama. Baru ada satu-dua petugas kebersihan yang sibuk menyapu daun kering di halaman.
Eca mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga menuju koridor lantai satu, tempat ruang OSIS berada. Koridor itu tampak temaram karena sebagian besar lampu belum dinyalakan. Suara ketukan sepatu Eca bergema pelan di sepanjang dinding kayu, menciptakan suasana yang agak mistis sekaligus bikin deg-degan.
Begitu sampai di depan pintu kayu jati yang kokoh itu, Eca menarik napas dalam-dalam, lalu memutar knop pintu perlahan.
Klik.
Pintu terbuka dengan suara decitan halus. Kondisi di dalam ruang OSIS ternyata sudah terang benderang. Dan benar saja, di balik meja kerja ketua OSIS yang besar, Angkasa Argantara Mahendra sudah duduk tegak membelakangi jendela kaca besar. Cowok itu sedang membaca sebuah dokumen tebal dengan kening yang sedikit berkerut serius. Penampilannya pagi ini kelihatan sangat segar dan tampan—seragam putihnya yang bersih berpadu sempurna dengan jas almamater OSIS yang terpasang rapi tanpa cela. Rambut hitamnya yang basah sehabis mandi disisir santai ke belakang, memancarkan aroma wangi maskulin yang langsung memenuhi indra penciuman Eca begitu dia melangkah masuk.
Angkasa tidak langsung mendongak. Dia melirik jam tangan hitam mewahnya secara lambat sebelum akhirnya mengarahkan mata elangnya tepat ke arah Eca yang berdiri kaku di dekat pintu.
"Nggak telat. Jam 06.28. Lo datang dua menit lebih cepat dari batas waktu gue, Asisten," ucap Angkasa dengan suara baritonnya yang berat dan rendah, terdengar sangat khas di keheningan pagi yang sunyi.
Eca mendengus hambar, berjalan mendekati meja kerja Angkasa dengan langkah dihentakkan pelan mengekspresikan rasa dongkolnya. Dia meletakkan kotak bekal plastik berwarna biru itu tepat di atas meja kaca di depan Angkasa dengan suara debukan pelan. "Nih. Sarapan pesanan lo. Nasi goreng buatan gue sendiri. Puas?" ketus Eca, membuang format bahasa lugunya karena di ruangan ini belum ada murid lain yang datang.
Angkasa menatap kotak bekal biru itu sejenak, lalu pandangannya beralih naik, menatap lekat-lekat ke arah wajah Eca. Mata elangnya menangkap lingkaran hitam samar di bawah mata Eca yang tersembunyi di balik lensa kacamata tebalnya. Sebuah seringai licik namun terkesan lembut terukir di bibir tipis Angkasa.
"Lo masak sendiri? Lo nggak lagi nyoba buat ngeracunin gue lewat nasi goreng ini kan, Alesya?" goda Angkasa santai sambil menarik kotak bekal itu mendekat.
Eca memutar bola matanya malas, bersedekap dada sambil bersandar di pinggiran meja kerja. "Kalau mau ngeracunin lo, gue pasti bakal pilih racun yang paling mahal biar lo lenyap sekalian dari sekolah ini. Nggak usah banyak alasan deh, tinggal dimakan aja susah banget. Gue capek-capek bangun jam lima pagi buat bikin itu tahu!" cerocos Eca tanpa sadar menumpahkan kekesalannya.
Mendengar ucapan Eca yang meledak-ledak penuh kekesalan, Angkasa justru terkekeh pelan. Suara tawa rendahnya yang terdengar sangat langka itu mendadak bikin dada Eca berdesir aneh. Cowok itu membuka tutup kotak bekal, aroma harum nasi goreng bumbu tradisional bercampur telur dadar iris langsung menyeruak keluar, sukses memancing selera.
Angkasa mengambil sendok plastik yang sudah disiapkan Eca, menyendok nasi goreng itu perlahan, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Eca menahan napasnya tanpa sadar, memantau ekspresi wajah Angkasa dengan cemas. Biar bagaimana pun, egonya sebagai perempuan agak dipertaruhkan di sini untuk urusan masakan.
Angkasa mengunyah makanannya dengan lambat, matanya terpejam sejenak seolah sedang meresapi rasanya, sebelum akhirnya dia kembali menatap Eca dengan pandangan mata yang sangat dalam dan sulit dibaca.
"Gimana? Kurang garam? Atau keasinan?" tanya Eca ketus untuk menutupi kegugupannya.
"Rasanya... lumayan enak," ucap Angkasa jujur dengan suara yang melembut samar. Dia kembali menyendok nasi goreng itu dengan gerakan yang lebih cepat, menandakan kalau dia bener-bener menyukai masakan Eca. "Bumbu bawangnya pas. Jauh lebih mending daripada makanan kantin sekolah yang hambar."
Wajah Eca mendadak terasa menghangat mendengar pujian jujur dari cowok arogan di depannya. Dia buru-buru membuang mukanya ke arah sudut ruangan, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan gugup yang sangat kentara. Duh, kenapa gue malah salting cuma gara-gara dipuji nasi goreng sih! Sadar, Ca! Dia itu musuh lo! jerit Eca dalam hati, memaki dirinya sendiri yang mendadak tidak konsisten.
Suasana di dalam ruang OSIS kembali hening selama beberapa menit, hanya dipenuhi oleh suara dentingan sendok plastik Angkasa yang sibuk menghabiskan sarapannya. Eca berdiri canggung di dekat meja, memperhatikan pergerakan tangan Angkasa dengan sudut matanya. Di bawah temaram sinar matahari pagi yang mulai menembus jendela kaca besar di belakang mereka, sosok Angkasa yang sedang makan dengan tenang kelihatan berkali-kali lipat lebih menawan, kehilangan aura kejam yang biasa ditunjukkannya di depan umum.
Setelah kotak bekal itu bersih tanpa sisa, Angkasa menutupnya kembali dengan rapi. Dia meneguk segelas air putih yang sudah ada di mejanya, lalu menegakkan tubuh jangkungnya, berjalan mendekati tempat Eca berdiri.
Langkah kaki Angkasa yang mendekat sukses membuat firasat Eca kembali waspada. Dia refleks mundur satu langkah, namun punggungnya mendadak membentur rak buku lemari arsip kayu yang tinggi di sudut ruangan. Angkasa tidak menghentikan langkahnya hingga tubuh jangkungnya kini kembali berdiri tepat di depan Eca, mengunci pergerakan cewek itu di sudut ruangan yang sempit.
Angkasa meletakkan satu tangan kekarnya di lemari kayu tepat di sebelah kepala Eca, mencondongkan wajah tampannya ke bawah hingga jarak di antara hidung mereka kembali menipis secara ekstrem. Eca bisa merasakan hembusan napas hangat Angkasa yang beraroma segar menyapu permukaan kulit keningnya. Jantung Eca langsung berdegup brutal secara tidak ngotak, bunyinya kayak mau meledak di dalam rongga dadanya.
"Tugas sarapan pagi selesai dengan nilai sempurna, Asisten," bisik Angkasa tepat di depan wajah Eca, sepasang mata elangnya berkilat penuh posesif tersembunyi yang sangat kuat, mengunci bola mata Eca sepenuhnya. Jemari tangan Angkasa yang hangat tiba-tiba bergerak naik, menyentuh lembut helai rambut kuncir dua Eca yang sedikit keluar dari ikatannya, merapikannya ke belakang telinga Eca dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh perhatian tersembunyi.
Sentuhan hangat di telinganya sukses bikin seluruh tubuh Eca merinding kaku seperti kesetrum aliran listrik tegangan tinggi. Rona merah padam langsung meledak hebat di kedua pipi Eca, menjalar cepat sampai ke lehernya. Dia bener-bener salting tingkat dewa sampai tidak berani bernapas dengan keras.
"M-maksud lo apa lagi sih dekat-dekat gini... lepasin nggak..." cicit Eca dengan suara yang super gugup, kedua tangannya meremas ujung seragam putihnya sendiri erat-erat.
Angkasa tersenyum tipis yang sangat menawan di bibirnya melihat kepanikan Eca. Dia memajukan wajahnya satu sentimeter lagi, membuat bibir mereka nyaris bersentuhan di keheningan pagi. "Gue cuma mau mastiin... kalau mulai hari ini, lo nggak akan bisa ngelupain aroma pagi di ruangan ini bareng gue, Alesya," bisik Angkasa pelan namun penuh dengan penekanan tersembunyi yang mutlak di dekat telinga Eca, sukses bikin lutut Eca mendadak lemas luar biasa.
TENG! TENG! TENG!
Bel tanda masuk jam literasi pagi mendadak berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah, memecah ketegangan ekstrem yang sangat intim di antara mereka berdua di sudut ruangan.
Angkasa perlahan menarik kembali tubuh jangkungnya dengan lambat, memberikan Eca ruang untuk menghirup oksigen banyak-banyak dengan napas terengah-engah salting. Cowok itu mengambil tas ransel hitamnya dari sofa, memakainya di satu bahu, lalu berjalan santai menuju pintu keluar ruang OSIS. Sebelum membuka pintu, dia menoleh sekilas ke arah Eca yang masih berdiri mematung menahan debar jantung yang gila di dekat lemari arsip.
"Masuk ke kelas lo sekarang, Asisten. Dan jangan lupa... nanti siang pas jam istirahat kedua, tugas baru lo udah nunggu di ruangan ini. Jangan telat semenit pun," ucap Angkasa dingin, kembali ke mode ketua OSIS-nya yang mutlak sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan suara klik pelan. Eca langsung merosot terduduk di kursi kerja sambil memegangi pipinya yang terasa panas membara luar biasa.