Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Di Balik Cincin Pernikahan
Setelah kembali ke meja kerja, Zinnia kesulitan memusatkan perhatian.
Ia membuka berkas desain yang dikirim Nita, tetapi beberapa kali harus membaca instruksi yang sama. Tangannya bahkan sempat meraih ponsel, membuka galeri, lalu berhenti pada foto cincin yang selama ini disimpannya.
Cincin itu masih ada.
Ia membawanya ke mana-mana karena benda tersebut merupakan satu-satunya petunjuk yang dimilikinya untuk menemukan pria di pantai.
Dulu, ia berpikir bahwa begitu menemukan pemiliknya, ia akan meminta penjelasan. Ia ingin tahu siapa pria itu, apa yang sebenarnya terjadi malam itu, dan mengapa ia pergi tanpa memastikan keadaan Zinnia.
Namun, ia tidak pernah membayangkan pria itu mungkin seorang CEO.
Terlebih lagi, seorang CEO yang kabarnya akan menikahi perempuan seperti Nita.
Zinnia menunduk menatap cincin tersebut.
Bagaimana jika memang benar?
Apa ia harus mendatanginya dan meminta pertanggungjawaban?
Pria itu memiliki jabatan tinggi, kekayaan, dan masa depan yang tampaknya sudah tertata. Sementara dirinya hanyalah karyawan baru yang bahkan belum tahu apakah ia sanggup bertahan di perusahaan ini.
Belum lagi Nita.
Jika kabar itu benar, berarti pria yang dicarinya mungkin sudah memiliki seseorang yang akan menjadi istrinya.
Zinnia memejamkan mata sebentar.
Ia tidak ingin merusak kehidupan siapa pun. Namun, ia juga tidak bisa terus menjalani hidup tanpa kejelasan tentang apa yang terjadi kepadanya.
Anak yang dikandungnya bukan sesuatu yang bisa ia hapus begitu saja dari kenyataan. Ia membutuhkan jawaban, dan pria itu adalah satu-satunya orang yang mungkin bisa memberikannya.
Tetapi, apakah Arvid akan mempercayainya?
Bagaimana jika pria itu menyangkal semuanya?
Bagaimana jika ia justru dituduh mencari keuntungan karena mengetahui siapa dirinya?
Zinnia menggenggam ponselnya erat-erat.
Selama ini, ia mencari Arvid karena ingin mendapatkan jawaban dan memastikan pria itu bertanggung jawab atas perbuatannya. Bukan karena kekayaannya, bukan pula karena kedudukannya.
Namun, setelah mendengar percakapan di pantry tadi, keberanian yang susah payah ia kumpulkan kembali terasa goyah.
Sebuah suara menyadarkannya.
“Zinnia.”
Ia segera mengangkat wajah.
Nita berdiri di samping mejanya sambil membawa beberapa lembar dokumen.
“Saya sudah kirim berkas desain yang perlu kamu pelajari. Tolong periksa bagian yang saya tandai, lalu buat catatan jika ada hal yang perlu direvisi.”
Zinnia buru-buru menyimpan ponselnya dan mengangguk.
Nita meletakkan dokumen di atas meja. “Bisa kamu selesain sebelum pulang?”
Zinnia mengetik jawaban.
Baik, Bu. Akan saya kerjakan.
“Bagus.”
Nita hendak pergi, tetapi tiba-tiba berhenti. “Oh, satu lagi. Kalo nanti ada rapat sama Pak Arvid, kamu mungkin bakal diminta nyiapin beberapa contoh desain. Untuk sementara, pelajari dulu standar koleksi yang biasa dipresentasikan pada beliau.”
Jantung Zinnia seakan berhenti sesaat.
Pak Arvid. Nama itu kembali terdengar dari mulut orang lain.
Nita tidak menyadari perubahan ekspresi Zinnia. Ia sudah berjalan menuju ruangannya sambil memeriksa ponsel.
Zinnia hanya bisa menatap punggung perempuan itu.
Jadi, pria bernama Arvid itu benar-benar CEO perusahaan ini, pikir Zinnia.
Tetapi apakah dia Arvid yang selama ini Zinnia cari?
Ia belum tahu. Dan kini, Zinnia merasa takut menghadapi kesempatan yang selama ini begitu ia inginkan.
Sebab, mungkin saja pekerjaan yang baru diraihnya justru membawanya semakin dekat kepada pria yang selama ini ia cari. Pria yang mungkin tidak pernah menduga bahwa perempuan yang pernah ia lukai kini berada di bawah atap perusahaan yang dipimpinnya.
***
Pagi itu, suasana ruang pengembangan desain perhiasan sedikit berbeda dari biasanya.
Pak Damar baru saja menerima kabar bahwa Merry Danendra akan datang untuk meninjau koleksi terbaru perusahaan. Sebagai bagian dari keluarga pemilik, perempuan itu sesekali mengunjungi divisi desain untuk melihat perkembangan produk sebelum koleksi dipresentasikan kepada direksi.
“Zinnia, tolong bantu siapin sampel koleksi terbaru di ruang display, ya,” ujar salah seorang staf senior.
Zinnia mengangguk, lalu membawa beberapa kotak kecil berisi cincin, kalung, dan anting ke ruangan yang dimaksud.
Ia sedang menyusun cincin di atas bantalan beludru ketika suara langkah terdengar dari arah pintu.
“Selamat pagi, Bu Merry.”
Zinnia menoleh sekilas.
Seorang perempuan anggun dengan setelan berwarna biru muda memasuki ruangan bersama Pak Damar dan seorang desainer senior bernama Laras. Usianya mungkin sudah melewati lima puluh tahun, tetapi penampilannya terawat. Perhiasan yang dikenakannya sederhana, meskipun jelas berkualitas tinggi.
“Selamat pagi, Pak Damar. Maaf, saya datang agak mendadak.”
“Nggak masalah, Bu. Kami sudah siapkan beberapa koleksi yang bisa Ibu lihat.”
Merry tersenyum sebelum mendekati meja display.
Zinnia segera menundukkan kepala dengan sopan, lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak berniat menguping percakapan mereka. Namun, karena ruangan itu tidak terlalu luas, suara mereka terdengar cukup jelas.
“Ini koleksi yang akan dipresentasikan bulan depan?” tanya Merry.
"Betul, Bu. Kami lagi ngembangin beberapa desain dengan pendekatan yang lebih modern, tapi tetap mempertahankan karakter elegan yang jadi ciri perusahaan," jawab Pak Damar.
Merry mengamati beberapa cincin yang diletakkan di atas bantalan beludru. Ia mengambil satu cincin emas putih dengan hiasan berlian kecil, kemudian memiringkannya untuk melihat detail bagian dalam.
“Desainnya bagus. Nggak terlalu ramai.”
“Tim kami memang mencoba mengutamakan bentuk yang elegan dan nyaman dipakai,” jelas Laras.
Merry mengangguk puas sebelum meletakkan cincin itu kembali.
“Ngomong-ngomong, saya juga ingin bicara sesuatu yang lebih pribadi.”
Pak Damar dan Laras menoleh kepadanya.
“Saya lagi mikirin cincin pernikahan buat Arvid.”
Tangan Zinnia yang sedang merapikan kotak kecil mendadak berhenti.
Arvid. Nama itu kembali membuat dadanya terasa sesak.
Cincin pernikahan. Untuk Arvid. Tangannya refleks menyentuh tas kecil di pinggangnya, tempat ia menyimpan cincin yang selama ini menjadi satu-satunya petunjuknya. Cincin yang diberikan pria itu sendiri, di tepi pantai, pada malam yang mengubah seluruh hidupnya.
Jika benar Arvid akan segera menikah, lalu di mana posisinya? Posisi anak yang kini tumbuh di dalam rahimnya?
Zinnia menatap bantalan beludru di hadapannya tanpa benar-benar melihatnya.
Kini ia bertanya-tanya, apakah menemukan Arvid benar-benar akan menjadi jawaban, atau justru awal dari kehancuran yang baru.
...🔸🔸🔸...
...“Terkadang, kita takut menemukan kebenaran bukan karena tidak menginginkannya, melainkan karena khawatir kenyataan akan menghancurkan satu-satunya harapan yang masih kita miliki.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
dan buktikan ke Zinnia kamu benar2 bertanggung jawab atas kejadian malam itu...
cerita ke orang tuamu kejadian malam itu vid biar mereka nantinya ga salah paham sama Zinnia...