Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, akhirnya kereta yang membawa Dera memasuki stasiun pusat kota Jakarta. Dera yang sejak tadi bersandar di kursi langsung membuka matanya ketika mendengar pengumuman bahwa kereta akan segera berhenti.
Ia menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi mulai terlihat. Orang-orang berjalan terburu-buru di peron, sebagian membawa tas kerja, sebagian lagi menyeret koper.
Untuk pertama kalinya, Dera akhirnya benar-benar menginjakkan kakinya di kota Jakarta. Kota yang selama ini hanya ia kenal melalui cerita orang. Kota tempat ia berharap bisa memulai hidup baru.
Kereta akhirnya berhenti. Dera menarik napas panjang sebelum mengambil tas dan berdiri. Ia menurunkan koper dari tempat penyimpanan, lalu berjalan mengikuti arus penumpang yang keluar dari gerbong.
Langkahnya terasa berat karena koper yang cukup besar, tetapi hatinya justru sedikit lebih ringan. Di Jakarta, Dera ingin menjadi dirinya sendiri.
Begitu keluar dari area peron, Dera langsung mencari seseorang di antara kerumunan. Matanya menyapu satu per satu wajah yang ada di depannya. Lalu tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Dera!"
Dera menoleh. Di dekat pintu keluar, seorang perempuan melambaikan tangan dengan antusias.
Dia adalah Rere sahabatnya.
Wajah Dera yang sejak tadi terlihat lelah langsung berubah. Senyum kecil muncul di bibirnya.
"Rere..."
Rere kembali melambaikan tangan.
"Dera!"
Dera menarik kopernya dan berjalan cepat menghampiri sahabatnya. Begitu jarak mereka semakin dekat, Rere langsung membuka kedua tangannya.
Hap...
Tanpa banyak bicara, Dera memeluknya. Pelukan itu sederhana. Namun bagi Dera, pelukan itu terasa begitu berarti. Ia merasa ada seseorang yang benar-benar menyambut kedatangannya.
Rere mengusap punggung Dera. "Akhirnya kamu sampai Jakarta juga."
Dera mengangguk di bahu sahabatnya. "Iya, Re. Aku bahagia akhirnya bisa bertemu denganmu" Suaranya terdengar lirih.
Rere langsung bisa merasakan ada yang berbeda.
Dera bukan Dera yang dulu. Biasanya sahabatnya itu akan datang dengan banyak cerita, tertawa, lalu mengomel tentang perjalanan panjang. Namun kali ini Dera lebih banyak diam.
Rere mengurai pelukan mereka dan menatap wajah Dera. "Kamu capek?" tanya Rere.
Dera tersenyum kecil. "Sedikit." jawabnya.
Rere memperhatikan mata Dera yang terlihat sembap."Kamu habis nangis?" tanyanya memastikan.
Dera refleks mengusap sudut matanya. "Enggak kok, aku tadi ketiduran di kereta" jawab Dera bohong.
"Jangan bohong." Rere tidak percaya dengan jawaban sahabatnya. Dia bisa membedakan orang yang habis menangis, sama orang yang baru bangun tidur.
Rere mengenal Dera terlalu baik. Namun melihat sahabatnya tidak ingin bercerita di tempat ramai, Rere memilih tidak memaksanya.
Dera tersenyum tipis. "Terima kasih sudah menjemputku, Re."
Rere mengangguk. "Ya ampun, jangan ngomong begitu. Kamu kan sahabatku."
Dera kembali tersenyum. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya kembali terasa hangat.
Setidaknya masih ada seseorang yang menerimanya tanpa bertanya apa yang telah ia lakukan.
Rere kemudian mengambil alih pegangan koper Dera. "Sini, biar aku bantu." tawar Rere.
Dera segera menahannya, tidak enak merepotkan sahabatnya itu."Enggak usah, Re. Aku bisa."
"Sudah, jangan sok kuat." Rere menarik koper tersebut dengan paksa. "Kamu dari perjalanan jauh. Biar aku yang bawa."
Dera akhirnya menyerah. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar stasiun. "Ayo, kamu sudah makan belum?" tanya Rere.
Dera berpikir sejenak. "Belum."
Rere langsung berhenti. "Belum? Sejak kapan?"
Dera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sejak pagi"
Rere menatapnya tidak percaya. "Dera! Kamu mau sakit?" kesal Rere
"Aku tidak selera makan." jawab Dera.
"Alasan." Rere menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu kita makan dulu." tegas Rere. Sekarang dia merasa bertanggung jawab pada sahabatnya. Dia tidak ingin Dera sakit, terus merepotkan dirinya.
Dera melihat ke arah pintu keluar. "Ke kosanmu dulu aja. Repot bawa-bawa koper, Re."
Rere menghela napas. "Ya sudah. Kita ke kosanku dulu. Nanti kita cari makan di dekat sana." putusnya.
Dera mengangguk.
Mereka pun keluar dari stasiun. Begitu melangkahkan kaki ke luar, Dera langsung disambut hiruk-pikuk Jakarta.
Kendaraan berlalu-lalang. Suara klakson terdengar dari berbagai arah. Orang-orang berjalan cepat. Gedung-gedung tinggi berdiri menjulang di kejauhan.
Dera berhenti sebentar. Ia menatap suasana kota itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Ini Jakarta," gumamnya.
Rere tersenyum."Iya. Selamat datang di kota yang katanya tidak pernah tidur." kata Rere bercanda.
Dera tertawa kecil. "Semoga aku bisa bertahan."
"Kamu pasti bisa. Di sini ada aku yang akan selalu menemanimu. Tenang saja, kamu pasti betah hidup denganku" gurau Rere sambil menepuk bahu Dera. Mereka berdua tertawa lepas.
"Kamu cuma perlu mulai dari awal." kata Rere yang tahu jika Dera sedang ada masalah. Sahabatnya itu sangat penakut, jika tidak ada masalah dia tidak akan berani ke Jakarta sendirian.
Dera menatap sahabatnya.
"Re..."
"Hmm?"
"Kalau nanti aku gagal?"
Rere langsung menjawab tanpa berpikir panjang.
"Ya bangun lagi."
Dera terdiam. "Kalau aku tidak punya uang?"
"Kita cari jalan keluar, Der. Aku akan membantumu di sini" ucap Rere tulus.
"Kalau aku tidak mendapatkan pekerjaan?"
"Kita cari sampai dapat."
Dera tersenyum. "Kalau aku ingin menyerah?"
Rere menggenggam tangannya."Aku yang akan melarangmu untuk menyerah. Kamu tidak boleh pesimis"
Dengan Rere, akhirnya Dera bisa tertawa kembali, sejenak dia bisa melupakan sedikit masalahnya.
"Terima kasih."
Rere mengangguk."Jangan berterima kasih dulu. Kamu belum tahu betapa sempitnya kosanku."
Dera tertawa. "Yang penting aku punya tempat untuk tidur."
"Kalau soal tidur, tenang. Kamu bisa tidur di kasurku."
"Terus kamu?"
"Aku tidur di lantai."
Dera langsung menggeleng. "Jangan. Aku bisa tidur di lantai."
"Nah, baru benar. Kamu ternyata masih punya hati."
Mereka tertawa kecil. Namun ketika mereka berjalan menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke kos, Dera kembali menatap langit Jakarta. Ada luka yang masih tertinggal di hatinya.
Ada keluarga yang belum mampu ia maafkan. Ada masa lalu yang belum benar-benar selesai. Tetapi hari ini, Dera memilih untuk tidak memikirkan semuanya.
Ia sudah sampai di Jakarta. Ia ingin percaya bahwa hidupnya masih bisa berubah. Ia hanya belum tahu, perubahan itu akan datang jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Setelah melewati jalanan yang macet oleh kendaraan, akhirnya mereka tiba di sebuah kosan yang terlihat sederhana. Sebab, Rere tidak mampu menyewa kosan yang bagus, harganya sudah pasti mahal.
Mereka turun dari motor. Rere membuka kunci kosannya, lalu membukanya.
Ceklek.....
Rere masuk kedalam kosannya, di ikuti oleh Dera.
"Kamu tidak apa kan tinggal di tempat seperti ini? Kosan di sini mahal-mahal, aku tidak mampu menyewanya yang lebih mewah dari ini" keluh Rere.
"Tidak apa Re. Aku bisa tinggal dimana aja kok" ucap Dera.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa