Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Mutasi ke Lapangan
Pagi jam tujuh, papan pengumuman di depan kantor utama penuh.
Semua karyawan berkerumun, lihat kertas yang baru ditempel satpam jam enam tadi.
Kertas itu tulisan tangan Pak Hendra, manager pabrik.
PENGUMUMAN MUTASI KARYAWAN BULAN OKTOBER
Sehubungan dengan evaluasi kinerja dan kebutuhan lapangan, maka diputuskan:
Mbak Sari dipindahkan dari administrasi ke bagian gudang umum
Bu Lastri tetap di administrasi
Nadia dipindahkan dari administrasi ke bagian lapangan, sebagai admin timbangan lapangan, kerja bareng Arif
Berlaku mulai hari ini.
Ttd, Hendra
Nadia yang baru datang, lihat pengumuman itu, kaget. Tangannya yang pegang helm langsung gemetar.
Mutasi ke lapangan. Kerja bareng Arif. Tiap hari.
Di sebelahnya, Mbak Sari juga lihat, mukanya tidak senang, karena ia dipindah ke gudang umum yang lebih panas dan berdebu.
Bu Lastri yang tetap di administrasi, diam saja, tidak komentar.
Di mess putra, Arif juga dapat info dari grup WA. Ia baca pengumuman itu, senyum kecil. Akhirnya, setelah kemarin disuruh jaga jarak, sekarang malah disuruh kerja bareng.
Jam tujuh lewat tiga puluh, Pak Hendra panggil Nadia dan Arif ke ruangannya.
"Nadia, Arif, kalian sudah lihat pengumuman?" tanya Pak Hendra.
Mereka berdua mengangguk.
"Nadia, kamu saya pindah ke lapangan bukan karena hukuman, tapi karena saya butuh orang teliti seperti kamu di timbangan lapangan. Data timbangan lapangan bulan lalu berantakan, banyak selisih. Arif butuh admin yang rapi. Kamu yang paling rapi di administrasi," kata Pak Hendra.
"Siap Pak," jawab Nadia, suaranya masih pelan.
"Arif, kamu bimbing Nadia ya. Lapangan itu panas, berdebu, beda sama ruang AC administrasi. Jaga dia," lanjut Pak Hendra, lihat Arif.
"Siap Pak, saya jaga," jawab Arif tegas.
Setelah keluar dari ruangan manager, Nadia jalan pelan ke arah lapangan. Lapangan itu jauh, harus jalan kaki lima menit dari kantor utama, lewat gudang-gudang dan tempat bongkar truk.
Arif jalan di sebelahnya, bawa payung, karena matahari sudah terik.
"Kamu pernah ke lapangan belum?" tanya Arif.
Nadia mengggeleng.
"Belum pernah. Paling cuma lihat dari jendela kantor," jawab Nadia.
"Nanti panas banget. Kamu pakai topi ya, jangan cuma ikat kuda aja," kata Arif, lihat rambut kuda Nadia yang diikat kencang.
Nadia pegang ikat rambut kudanya.
"Iya, nanti aku pakai topi," jawab Nadia.
Sampai di ruang timbangan lapangan, ruangan kecil, hanya ada satu meja, satu kipas angin besar, dan tumpukan karung contoh TBS.
Tidak ada AC, hanya kipas angin yang bunyinya keras.
Nadia lihat ruangan itu, agak kaget, karena beda jauh sama ruang administrasi yang dingin dan wangi.
"Ini kantor kita mulai hari ini," kata Arif, buka kipas angin.
Angin kencang langsung menerbangkan rambut Nadia.
Nadia ketawa kecil.
"Wah, kencang banget kipasnya," kata Nadia.
"Ya, di sini kipasnya memang juara. Kalau gak kencang, kita mateng kepanasan," jawab Arif, ikut ketawa.
Jam delapan, truk pertama datang. Truk besar bawa TBS, mau ditimbang.
Arif langsung kerja, cek surat jalan, cek plat nomor.
"Nadia, kamu catat beratnya ya, di buku ini," kata Arif, kasih buku timbangan.
Nadia mengangguk, mulai catat. Tangannya agak gemetar karena truknya besar, sopirnya lihat Nadia terus.
Arif lihat sopir itu lihat Nadia, langsung berdiri di depan Nadia, halangi pandangan sopir.
"Pak, suratnya mana?" kata Arif keras ke sopir.
Sopir itu kaget, kasih surat.
Nadia lihat Arif bela dia lagi, senyum kecil.
Siang jam dua belas, matahari paling panas. Suhu di lapangan bisa 35 derajat.
Nadia kepanasan, keringat di dahinya banyak, rambut kuda nya basah kuyup.
Arif lihat itu, ambil botol air minum dingin dari coolbox.
"Minum dulu," kata Arif, kasih botol itu ke Nadia.
Nadia terima, minum banyak.
"Terima kasih ya, Arif," kata Nadia, panggil nama tanpa Pak lagi.
Arif senang dengar itu.
"Sama-sama. Kamu kuat gak di sini? Kalau gak kuat, bilang ke Pak Hendra, minta balik ke administrasi," kata Arif.
Nadia mengggeleng, kencang.
"Gak, aku kuat. Di sini malah enak, gak ada yang bisik-bisik. Cuma ada kamu sama truk-truk," jawab Nadia.
Arif ketawa.
"Enak dibilang enak, padahal panasnya minta ampun," kata Arif.
Jam lima sore, kerjaan selesai. Total 15 truk sudah ditimbang.
Nadia tutup buku timbangan, tangannya kotor kena debu.
Arif lihat tangan Nadia kotor.
"Sini, cuci dulu," kata Arif, bawa Nadia ke keran air di belakang ruangan.
Mereka cuci tangan bareng di keran kecil, airnya dingin.
Tangan mereka hampir bersentuhan, tapi Arif tahan.
Setelah cuci tangan, mereka jalan pulang bareng, lewat jalan setapak yang sepi, di antara pohon sawit.
Jalan itu sepi, tidak ada orang, hanya mereka berdua dan suara jangkrik.
Nadia jalan di depan, rambut kuda nya bergoyang-goyang karena angin sore.
Arif jalan di belakang, jaga jarak, tapi matanya tidak lepas dari Nadia.
"Arif," kata Nadia tiba-tiba, berhenti jalan, balik badan.
"Ya?" jawab Arif.
"Terima kasih ya, hari ini. Aku senang kerja di lapangan. Gak seseram yang aku kira," kata Nadia, tatap mata Arif langsung.
Arif angguk, senyum.
"Aku juga senang kamu di sini. Jadi gak sepi lagi di lapangan," jawab Arif.
Mereka lanjut jalan, sampai di pertigaan, mess putri ke kiri, mess putra ke kanan.
"Sampai besok ya, Arif," kata Nadia.
"Sampai besok, Nadia. Jangan lupa pakai topi besok, rambut kuda kamu kasian kepanasan," kata Arif.
Nadia ketawa, betulkan ikat kudanya.
"Iya, siap!"
Malam itu, di mess putri, Nadia tulis lagi di buku catatannya: "Hari pertama di lapangan. Panas, berdebu, tapi ada Arif. Tidak takut lagi."
Di mess putra, Arif tulis di notes HP: "Hari pertama kerja bareng Nadia. Lapangan jadi tidak panas lagi."
Mutasi yang bagi orang lain hukuman, bagi mereka berdua justru hadiah. Karena akhirnya, setelah disuruh jaga jarak, mereka malah disuruh kerja bareng tiap hari, di ruangan kecil yang hanya ada kipas angin besar dan tumpukan karung TBS.
Dan besok, di lapangan itu akan ada hujan deras lagi, dan mereka akan terjebak lagi berduaan, tapi kali ini bukan di gudang arsip, tapi di ruang timbangan lapangan yang atapnya bocor.
Bersambung
---