Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
"Udah, nggak usah dipikirin om galak itu. Mending sekarang kita duduk santai, aku kangen sama kamu, Sayang," ucap Vero lembut sambil merangkul pundak Bella, menuntun gadis itu menjauh dari area tangga dengan senyuman manis yang seolah mampu menghapus seluruh beban di kepala Bella.
Bella mengangguk menurut. Ia dan Vero segera mendudukkan diri berdampingan di atas sofa empuk ruang keluarga. Setelah insiden kecil dengan pamannya tadi, suasana hati Bella sedikit banyak kembali mencair berkat kehadiran sang kekasih yang selalu tahu cara memperlakukannya dengan manis.
Vero kemudian merogoh isi paperbag hitam berukuran sedang yang dibawanya tadi, lalu mengeluarkan satu kotak kecil berbalut pita satin rapi.
"Nih, ada satu lagi buat kamu," kata Vero sambil tersenyum hangat, menyerahkan kotak itu ke pangkuan Bella.
Mata Bella berbinar cerah. Ia membuka kotaknya dengan antusias dan mendapati sepotong slice cake strawberry kesukaannya dari toko kue ternama di kawasan Senopati. "Wah, strawberry shortcake! Kamu inget aja kalau aku lagi pengen ini, Ver!" seru Bella kegirangan.
"Tentu aja aku inget. Buat kesayangan aku, apa sih yang enggak," balas Vero lembut. Ia mengambil garpu kecil dari dalam kotak, memotong sepotong kue berukuran pas, lalu menyuapkannya secara romantis ke mulut Bella. "Ayo, buka mulutnya."
Bella menerima suapan itu dengan senang hati. Rasa manis kue berpadu dengan asam segar stroberi meleleh sempurna di lidahnya, berkesinambungan dengan kehangatan perhatian yang diberikan Vero. Suasana terasa begitu intim dan menyenangkan, membuat Bella melupakan sejenak segala aturan ketat dan tekanan yang baru saja dijatuhkan oleh Christian dari lantai atas.
Usai menyuapi kue, Vero mendekatkan wajahnya perlahan. Tanpa aba-aba, ia kembali mendaratkan ciuman-ciuman lembut di pipi, rahang, hingga sudut bibir Bella. Gadis itu terkikik geli, membiarkan Vero terus menghujaninya dengan kemesraan, hingga tangan prianya mulai melingkar posesif di pinggang rampingnya, menarik tubuh Bella agar semakin menempel erat di sisinya.
Namun, di tengah keasyikan itu, dering ponsel di dalam saku celana pendek Bella tiba-tiba bergetar nyaring, merusak momen romantis mereka.
Bella mendengus kesal. Ia merogoh ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar: Mama.
"Sebentar, Ver," bisik Bella setengah berbisik, lalu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Vero agar pria itu diam. Ia lantas menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ma?"
"Halo, Arabella. Kamu ini dihubungi dari semalam susah banget. Lagi sibuk apa sih sampai jarang banget angkat telepon Mama?" suara Karin, sang ibu, langsung menyambut dengan nada tajam khas wanita karier yang sibuk di luar negeri.
"Aku capek, Ma," dalih Bella cemberut, melirik ke arah Vero yang sedang tersenyum tipis memerhatikannya dengan sabar. "Oh ya, tumben Mama telepon pagi-pagi gini. Ada apa?"
"Bagaimana keadaanmu? Dan gimana keadaan di rumah? Om Christian sudah pindah ke mansion, kan? Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?" tanya Karin menyelidik penuh perhatian dari belahan bumi yang lain.
Mendengar nama pamannya disebut, emosi Bella yang tadinya mereda langsung meluap kembali. Dadanya mendadak panas.
"Baik dari mana, Ma?!" protes Bella dengan nada tinggi, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar jelas oleh Vero. "Om Tian itu galak banget! Asal Mama tahu ya, dia semena-mena sama aku! Uang saku aku dipangkas habis sama dia sampai cuma disisain seratus ribu rupiah sehari! Mana cukup uang segitu buat aku hidup di Jakarta, Ma?!"
Di ujung sambungan sana, Karin justru terdengar tertawa kecil, menganggap remeh keluhan putrinya. "Astaga, Arabella... cuma karena itu kamu marah-marah? Keputusan Tian itu sudah sangat tepat. Biar kamu nggak boros dan nggak keluyuran terus tiap malam. Mama setuju seratus persen sama tindakan om kamu."
Mata Bella membelalak tak percaya. "Ma! Kok Mama malah bela dia sih?! Aku ini anak Mama, bukan tahanan!"
"Sudah, jangan membantah, Bella. Tian itu jauh lebih tahu cara mendidik kamu daripada Mama yang sibuk di sini," jawab Karin tegas tanpa celah toleransi. "Oh ya, Mama tutup dulu teleponnya. Ada urusan mendadak di kantor papa kamu."
"Ma, tunggu dulu! Papa sama Mama kapan pul—"
Tit. Tit. Tit.
Sambungan telepon terputus begitu saja secara sepihak.
*
Bella mendengus geram, menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca penuh kekecewaan yang mendalam. "Nyebelin banget! Semua orang sama aja! Papa Mama nggak peduli sama aku, Kak Nathan sibuk sendiri, dan sekarang Om Tian seenaknya ngatur hidup aku!" jerit Bella tertahan, air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
Melihat kekasihnya menangis, Vero langsung memasang wajah penuh simpati. Ia menarik tubuh Bella ke dalam dekapannya, mengelus rambut panjang gadis itu dengan penuh kelembutan.
"Sstt... udah, jangan nangis, Sayang," bisik Vero menenangkan, sementara bibirnya tersenyum tipis penuh perhitungan di balik helai rambut Bella. "Kan masih ada aku di sini. Aku bakal selalu ada buat nemenin kamu."
Bella memeluk pinggang Vero erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu dan menangis sesenggukan. "Aku capek, Vero... aku ngerasa sendirian banget di rumah ini..."
"Aku tahu, Bella. Makanya aku pengen kita cepat lulus dan hidup bersama," ucap Vero dengan nada lirih yang terdengar begitu tulus di telinga Bella. Ia mengurai pelukan mereka sejenak, menatap mata Bella lekat-lekat dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah muram dan penuh beban. "Sebenarnya... kedatangan aku ke sini selain buat bawain oleh-oleh, aku juga mau minta tolong sama kamu, Bell."
Bella mengerjap, menyapu sisa air matanya dengan punggung tangan. "Minta tolong apa, Ver? Bilang aja, aku bakal lakuin apa pun buat kamu."
Vero menghela napas berat, pura-pura tampak sangat tertekan. "Usaha rintisan yang lagi aku bangun sama temen-temen lagi ngalamin krisis besar, Bell. Ada kesalahan audit, dan kita butuh dana talangan cepat sebesar sepuluh juta rupiah buat nutupin kerugian minggu ini. Kalau nggak, usahaku bisa hancur."
Mendengar angka itu, Bella mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Selama ini, Bella memang terbiasa memberikan uang dalam jumlah fantastis dari tabungan dan jatah kartu kreditnya untuk mendukung gaya hidup serta modal bisnis Vero.
Namun, sedetik kemudian, dahi Bella berkerut cemas. "Tapi, Ver... uang sakuku kan sekarang dibatasi jadi seratus ribu sehari sama Om Tian. Kartu kreditku juga diblokir. Aku takut nggak bisa minjemin kamu sekarang..."
Vero mendadak panik, kedok tenangnya hampir runtuh. "Hah? Jadi uang kamu bener-bener ditahan sama om kamu itu?"
"Iya... tapi tenang aja!" buru-buru Bella meyakinkan saat melihat raut kecewa di wajah Vero. "Aku masih punya sedikit uang tabungan darurat di kamar! Walau nggak sebanyak biasanya, tapi pasti cukup buat nutupin sepuluh juta itu. Nanti aku ambilkan, ya?"
Wajah Vero seketika berubah cerah. Senyuman lebarnya langsung merekah kembali. "Beneran, Bell? Kamu serius mau bantuin aku?"
"Iya, Vero. Demi kamu, aku bakal usahain apa aja. Lagi pula, usaha yang kamu rintis itu nantinya untuk masa depan kita juga kan..." jawab Bella manis, kembali tersenyum penuh harap pada kekasihnya.
"Tentu saja. Begitu kita lulus nanti, kita akan menikah secepatnya. Dan kita bangun usaha kecil itu bersama," puji Vero penuh kemesraan palsu.
Pria itu kembali menangkup wajah Bella, lalu mencium bibir gadis itu dengan penuh gairah. Ciuman yang awalnya lembut itu perlahan berubah menjadi liar dan menuntut.
Bella yang kembali terbuai oleh sentuhan hangat Vero menutup matanya, membiarkan tangan pria itu mulai meraba dan menjelajahi lekuk tubuhnya di atas sofa ruang keluarga, tanpa menyadari bahwa dari lantai atas, sepasang mata tajam sedang mengawasi mereka dalam keheningan yang mematikan.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang