NovelToon NovelToon
ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Embun pagi taman kota terasa sangat dingin menusuk tulang belakang.

Hendra membuka matanya perlahan dengan tubuh yang terasa remuk redam karena tidur di atas bangku kayu keras.

"Sialan..." keluh Hendra pelan sambil memegang pinggangnya yang kaku.

Ia bangkit berdiri dengan susah payah dan menatap sekeliling taman yang masih sepi.

Rina dan Kevin masih terlelap tidur di atas rumput dengan tubuh menggigil kedinginan.

Hendra merogoh saku jas kusutnya untuk mencari ponsel miliknya.

"Ponselku mati karena kehabisan baterai," geram Hendra kesal.

Ia melangkah gontai menuju sebuah warung kopi kecil di sudut taman yang baru saja buka.

"Permisi, Pak, boleh saya pinjam telepon genggam sebentar untuk panggilan penting?" tanya Hendra memohon kepada pemilik warung.

Pemilik warung itu melirik Hendra dari atas sampai bawah dengan tatapan curiga.

"Mau pinjam telepon buat apa, Mas? Kelihatan seperti gelandangan begitu," jawab pemilik warung ketus.

"Saya pengusaha besar yang sedang ada masalah darurat, tolonglah sebentar saja!" bujuk Hendra memaksa.

Pemilik warung akhirnya menyerahkan ponsel jadul miliknya dengan wajah ragu-ragu.

"Nih, cepat ya, jangan lama-lama," kata pemilik warung menyerahkan benda itu.

Hendra segera menekan nomor telepon salah satu rekan bisnis terdekatnya yang dulu sering menjilat kepadanya.

Triliing...

Suara dering panggilan berbunyi cukup lama di ujung sana.

"Halo, siapa ini pagi-pagi menelepon?" tanya suara seorang pria paruh baya dengan nada terganggu.

"Pak Harto! Ini aku Hendra, tolong aku, perusahaanku butuh pinjaman dana darurat sekarang!" ucap Hendra panik setengah mati.

Suara tawa dingin langsung terdengar dari ujung telepon milik Pak Harto.

"Hendra? Wah, kamu sudah jadi gelandangan jalanan masih saja berani minta pinjaman uang?" cibir Pak Harto meremehkan.

"Jangan bicara begitu, Pak Harto! Dulu aku sering membantumu saat proyekmu hampir bangkrut!" bela Hendra mati-matian.

"Dulu ya dulu, sekarang perusahaanmu sudah pailit dan disita kurator, jadi jangan ganggu hidupku lagi!" bentak Pak Harto lalu memutus sambungan.

Pip...

Sambungan telepon terputus begitu saja tanpa ampun.

Hendra tertegun kaku menatap layar ponsel di tangannya dengan napas memburu.

"Bagaimana, Pak? Dia mau meminjamkan uang?" tanya pemilik warung penasaran.

Hendra menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata kekalahan hampir tumpah di pipinya.

Ia mengembalikan ponsel itu dengan tangan gemetar tanpa berkata apa-apa lagi.

Hendra berjalan kembali ke arah taman tempat Rina dan Kevin masih tertidur pulas.

"Pa, bagaimana? Apa kita bisa dapat uang untuk makan pagi ini?" tanya Rina terbangun dengan mata sembab.

"Semua orang menolak kita, Rina... tidak ada satu pun rekan bisnis yang mau kenal dengan kita lagi," jawab Hendra putus asa.

Kevin ikut terbangun dan langsung mengeluh karena perutnya terasa sangat perih kelaparan.

"Aku lapar sekali, Pa! Kenapa Papa tidak becus cari uang?!" teriak Kevin marah-marah.

"Diam kamu, Kevin! Jangan nambah-nambah beban pikiran Papa!" bentak Hendra meluapkan emosinya.

Mereka bertiga kembali terlibat pertengkaran mulut di tengah keramaian pagi hari kota yang mulai sibuk.

Sementara itu, di sebuah kafe mewah di pusat kota, suasana jauh dari kata suram.

Bima duduk santai di dekat jendela besar sambil menyeruput secangkir cokelat panas.

"Bagaimana laporan situasi keluarga Hendra pagi ini, Rian?" tanya Bima lewat sambungan telepon nirkabel di telinganya.

"Mereka baru saja diusir dari taman kota karena dianggap mengganggu ketertiban umum, Tuan Bima," jawab Rian melaporkan dari ujung sana.

Bima tersenyum tipis mendengar penderitaan yang harus ditanggung oleh ayah kandungnya sendiri.

"Bagus, biarkan mereka merasakan bagaimana rasanya menjadi sampah masyarakat tanpa tempat berlindung," ucap Bima dingin.

"Semua persiapan untuk Rapat Umum Pemegang Saham luar biasa besok sudah beres, Tuan," kata Rian melanjutkan laporannya.

"Pak Hartawan sudah mengonfirmasi kehadirannya dan siap memberikan dukungan penuh untuk melengserkan Hendra," tambah Rian meyakinkan.

"Kerja bagus, pastikan tidak ada celah hukum yang bisa dimanfaatkan oleh pengacara mereka," instruksi Bima tegas.

"Siap, Tuan Bima, saya akan kawal proses hukumnya sampai tuntas," balas Rian profesional.

Pip...

Panggilan telepon terputus dan Bima mematikan layarnya dengan tenang.

Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela kafe yang jernih.

"Besok adalah hari di mana kursi kekuasaan itu berpindah tangan ke tanganku," batin Bima penuh keyakinan.

Ia melangkah keluar dari kafe menuju mobil jemputan yang sudah menunggunya di depan lobi.

Di tempat lain, Hendra yang kebingungan mencoba mendatangi kantor salah satu bank swasta kenalannya.

Langkah kakinya terhenti tepat di depan gedung bank megah berlantai sepuluh.

Hendra bernapas lega sejenak dan melangkah masuk melalui pintu kaca otomatis.

Wus...

Udara dingin ber-AC langsung menyambut tubuhnya yang berkeringat lelah.

Seorang satpam berbadan tegap langsung menghalangi jalan Hendra begitu melihat penampilannya yang mirip gelandangan.

"Maaf, Pak, mau ada keperluan apa ya? Silakan keluar kalau tidak ada urusan perbankan," tegur satpam itu sopan namun tegas.

"Saya mau bertemu dengan Kepala Cabang Bank ini, saya kenal baik dengan beliau!" ucap Hendra bersikeras.

"Kepala cabang sedang tidak ada di tempat, silakan Anda pergi dari sini sebelum saya panggilkan petugas keamanan," ancam satpam itu.

"Jangan kurang ajar kamu! Aku ini pelanggan VIP di bank ini!" bentak Hendra mulai kehilangan kesabaran.

Keributan kecil di lobi bank itu langsung menarik perhatian para nasabah lain yang sedang antre.

Beberapa orang menatap Hendra dengan pandangan jijik dan merendahkan.

"Lihat itu orang gila mana yang bikin keributan di bank pagi-pagi begini," bisik seorang nasabah wanita.

"Paling juga pengemis jalanan yang mau bikin masalah," timpal nasabah di sebelahnya.

Hendra merasa harga dirinya diinjak-injak di tempat yang dulu sangat menghormatinya.

"Aku tidak gila! Panggil Kepala Cabang sekarang juga!" teriak Hendra histeris di tengah ruangan.

Dua orang petugas keamanan bank langsung datang mendekat dan mencengkeram kedua lengan Hendra secara paksa.

"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku?!" ronta Hendra berusaha melepaskan diri.

Brak!

Hendra diseret keluar dan dilempar begitu saja ke atas lantai trotoar di depan gedung bank.

"Jangan pernah berani datang lagi ke sini, pengemis sialan!" bentak satpam itu lalu menutup pintu kaca rapat-rapat.

Hendra terduduk lemas di trotoar yang panas dengan debu jalanan mengotori pakaian jas mahalnya.

Air mata keputusasaan tumpah begitu saja membasahi pipinya yang sudah kotor.

"Kenapa dunia berbalik menghancurkanku secepat ini?" rintih Hendra meratapi nasib sialnya.

Tidak ada satu pun orang yang lewat menolong atau memberinya rasa kasihan sedikit pun.

Semua kekuasaan yang ia miliki terbukti hanyalah ilusi semu yang langsung lenyap saat uangnya habis.

Dan di saat yang bersamaan, Rina dan Kevin datang menghampiri Hendra dengan wajah marah besar.

"Kenapa malah bikin keributan di bank, Pa?! Kita makin dipermalukan orang banyak!" bentak Rina emosi.

"Aku cuma mau pinjam uang untuk makan, Rina! Kenapa semua orang jahat sama kita?!" jawab Hendra menangis tersedu-sedu.

Kevin mendengus kesal dan menendang kaleng kosong di dekat kakinya.

Prang!

Kaleng itu terpental jauh ke tengah jalan raya.

"Kalau begini terus caranya, kita bisa mati kelaparan di jalanan kota!" keluh Kevin frustrasi.

Keluarga toksik itu benar-benar merasakan hukuman paling telak atas semua dosa masa lalu mereka.

Sementara itu, Bima sedang menikmati waktu sorenya di ruang kerja paviliun sambil merapikan dokumen penting.

Ia tahu betul bahwa kehancuran fisik mereka di jalanan hanyalah permulaan dari rasa sakit yang sesungguhnya.

Besok pagi, pukulan telak terakhir akan dijatuhkan langsung di ruang rapat dewan komisaris perusahaan.

Bima menutup map hitam di atas mejanya dengan senyum penuh kemenangan.

1
Aman Wijaya
lanjut terus Thor di tunggu updatenya 💪💪💪
Cherlly: iya kak ku😘😘
total 1 replies
Cherlly
makasih kaka suport nya😘😍
Aman Wijaya
gaaas njeduk pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat dalam berkarya
Cherlly: makasih kaka udah membaca sejauh ini😘😘😘
total 1 replies
Aman Wijaya
top markotop top lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll mantab Thor lanjut terus
Cherlly: trimakasih sudah baca sejauh ini kaka😍😍😍
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus
Cherlly: iya kaka kami akan lanjyutin cerita nya sampai tuntas😊😊😊😘
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor lanjut terus
Cherlly: siap kaka semangat kaka adalah motivasi saya untuk berkarya😍
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Bima lanjut
Cherlly: siap kaka ikutin ya keseruan nya😊😊😊

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
rahasia Bima mulai terkuak sedikit demi sedikit
Cherlly: iya kaka lanjutin biat nambah seru😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Bima
Cherlly: makasih kaka

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Tatiek Faruq
aku mampir thor, lama² dibaca seru juga
Cherlly: ttimakasih kaka sudah mampir ikutin keseruan cerita nya ya kaka biar saya nambah semangat untuk berkarya😍😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ
kak mampir novelku "Vampir vs Serigala versi novel" makasih
Cherlly: makasih kaka nanti sama2 baca kita
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!