Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05
Rika amat sangat tersentak kala Aleah berkata seperti itu pada sang pewaris tunggal Fernandez tech tersebut, ingin menyela pembicaraan mereka secepat nya namun suara Sagara kembali menginterupsi.
“Untuk ukuran wanita rendahan seperti mu, berani sekali kau berbicara seperti itu padaku .”
Aleah mendelik, ingin kembali membuka suaranya namun Rika dengan cepat menarik lengan gadis itu untuk cepat membawanya pergi dari sana, tak lupa sebelum itu ia menunduk hormat kepada Sagara.
“Kami permisi dulu tuan, sekali lagi maafkan kami.”
….
Setibanya di taman belakang dekat dengan kamar untuk para pelayan mengganti seragam, Rika segera melepaskan genggamannya setelah ia rasa cukup aman untuk berbicara disini.
“Astaga Aleah, aku tak menyangka kau mempunyai keberanian sebesar itu kepada tuan Sagara, padahal jelas- jelas aku sudah memperingatkan mu dengan mengucapkan namanya dengan keras di hadapan mu!”
Rika menepuk keningnya, sekarang mereka dalam masalah besar karena telah dinilai kurang ajar pada bos pemilik tempat ini, walaupun sebenarnya Aleah yang bersikap demikian namun ada Rika disana yang pasti dia akan terseret juga dalam masalah ini.
Aleah justru menggidikkan bahunya, acuh tak acuh, “jadi dia tuan muda Sagara yang kau ceritakan akan segera menikah itu?”
“Ya, dan kau malah memanggilnya pria angry bird yang sombong?”
Mata Aleah menerawang jauh sebelum menjawab, mengingat kembali kejadian sebelum ia sampai kesini yang sampai kini masih membuatnya dongkol setengah mati.
“Karena aku sudah lebih dulu bertemu dengan nya sebelum ke tempat ini.”
“Hah? Bagaimana bisa?”
Aleah teringat kembali, saat itu ia masih terlunta- lunta di jalan, dan hampir putus asa ketika tiba-tiba dari arah samping seseorang mengguyurnya dengan air hingga membuat tubuhnya basah kuyup.
Di saat ia menoleh untuk mencari tahu siapa pelakunya, sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir cantik di sampingnya dengan si pemilik mobil yang menjulurkan tangannya dan sengaja membuang botol berisikan air mineral hingga mengenai dirinya.
Aleah yang tak terima hendak memberikan protes, namun perkataan pria itu lebih dulu memotong tindakan nya.
“Hei, bisakah kau minggir? ini tempat parkir dan jika kau pengemis maka aku tidak mempunyai uang receh, jadi menyingkir lah.”
Aleah membelalak lebar, sudahlah terkena siraman air hingga tubuhnya basah kuyup, dirinya juga malah harus dapat hinaan itu, jelas ia tak terima.
“Maaf tuan, tapi anda yang lebih dulu menyiram kan air kepada saya, seharusnya saya disini yang lebih marah, anda tidak seharusnya berkata seperti itu.”
Lantas pria itu membuka kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya dengan alis menukik tajam persis seperti kartun angry bird, dia kemudian berucap.
“Benarkah? Haruskah aku meminta maaf kepada seseorang yang sembarangan berdiri di tempat parkir, harusnya kau memikirkan atitude mu.”
Berdenging kembali ucapan terakhir pria itu membuat emosi Aleah kembali mendidih, haish kenapa dia harus bertemu dan terlibat masalah lagi dengan pria sombong itu disini?
Mendengar cerita Aleah, Rika mengangguk- angguk seolah memahami kemarahan gadis itu. “Ya emang tuan muda Sagara itu bermulut pedas sih apalagi kalau mood nya sedang jelek begitu. Ku harap kamu tidak terlibat lagi masalah dengan nya.”
Aleah menggeleng pelan. “Tidak akan pernah.”
“Ya sudah kamu ganti baju gih, berdoa saja semoga tuan Sagara tidak memperpanjang masalah ini dan kau tetap bisa bekerja disini.”
“Tapi nyonya Citra—“
“Ssst, sudah kubilang kan jangan menyebut nama itu disini sembarangan, atau jika tuan Sagara mendengarnya kau akan dalam masalah besar. “ peringat Rika. “Sudah kamu ganti bajumu aja sana, seragam nya ada di dalam lemari ya, cepat karena sampai sore nanti kita akan ektra bekerja karena akan menyambut tamu nyonya Gracia.”
Rika segera mendorong Aleah pergi, mau tak mau Aleah mengikuti instruksi nya meski batinnya penasaran dengan setiap ucapan Rika soal nyonya Citra, dia akan menanyakan nya lagj nanti.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dan benar saja kata Rika, hingga sore mereka benar-benar disibukkan dengan berbagai pekerjaan, semua pekerja harus cekatan dan juga teliti, terlebih Aleah yang di tempatkan di bagian dapur, dia harus hati-hati dalam menyiapkan makanan.
Menjelang malam hari, para tamu nyonya Gracia mulai berdatangan, mulai mengisi aula mansion yang di sulap sedemikian rupa untuk menjadi tempat akad pernikahan sebelum resepsi yang akan di lakukan di ballroom hotel mewah nanti.
Aleah sedang bersama beberapa ART di meja prasmanan ketika matanya tiba-tiba menangkap seseorang yang terasa familier di matanya.
Saat menelisik lebih jauh, bola matanya melebar sempurna dengan ketakutan yang mulai merayap. “J- juragan Barnas? Kenapa dia bisa ada disini?” Batin Aleah, amat sangat terkejut.
Bukannya tidak tahu bagaimana rupa juragan tua itu karena dia memang sangat terkenal didesanya, tapi kenapa dia bisa sampai nyasar kesini?
Setelah ditelusuri lebih jauh, juragan Barnas ternyata memiliki hubungan bisnis dengan nyonya Gracia soal kelapa sawit yang menjadi sumber utama perdagangan pria tua itu, dia memang seorang juragan sawit. Tak mengherankan lagi kalau begitu, orang kaya seperti nya pastinya memiliki relasi yang luas.
Dan jika juragan Barnas ada di sini, bisa dipastikan ayahnya juga ada, karena Darto sudah seperti kacungnya Barnas yang mengikuti kemana pun pria itu pergi.
Aleah mulai merasakan perutnya bergolak dan panas dingin menjalar ke tengkuk nya, ia menggigit kukunya sendiri.
“Tempat ini sudah tak aman untuk ku, aku harus segera kabur!”
Aleah berlari, dia hendak pergi namun karena banyaknya orang-orang dan kericuhan yang terjadi membuat ia terjebak di keramaian terlebih bi Tuti menangkap basah dirinya yang kelimpungan sendiri.
“Astaga Aleah apa yang kau lakukan disini? Kau tidak bekerja?”
Aleah gelagapan.”a- anu bi, aku—“
“Aish, tidak ada waktu untuk membela diri, cepat sana kamu ke gudang belakang, ambil bahan- bahan untuk dimasak, lauk di prasmanan sudah mulai habis.”
Tak ingin wanita paruh baya itu curiga lebih jauh, mau tak mau Aleah mengikuti perintah nya, bi Tuti yang diam seolah mengamati ia bekerja membuat Aleah tak bisa bergerak.
”Cepatlah Aleah, besok akad tuan muda Sagara dan nona Xavia akan mulai diselenggarakan, kita akan mulai lebih sibuk.”
Aleah mengangguk, masuk ke dalam ruangan penyimpanan bahan baku sementara bi Tuti sudah menghilang di tempat nya, mungkin ingin mengecek pekerjaan yang lain.
Demi menghormati bi Tuti yang sudah baik menerimanya, ia melakukan tugas terakhirnya sebelum kabur dari sini.
Bagaimanapun ia tak boleh sampai terlihat oleh juragan Barnas atau lebih parah bertemu dengan sang ayah.
Setelah membawa bahan- bahan yang diperlukan Aleah segera berbalik, hendak keluar namun alangkah terkejutnya ketika pintunya tiba-tiba sudah tertutup sendiri dan saat ia berusaha membukanya ternyata pintu itu terkunci dari luar.
Brak! Brak!
“Siapapun tolong bukakan pintu ini! Aku terjebak!” Teriak Aleah namun sepertinya tak ada yang mendengar raungan Aleah.
----------------
Disisi lain, di ruangan paling ujung mansion yang gelap, Mayang dan Xavia bertemu.
Mayang melemparkan surat- surat dan paspornya untuk pergi ke luar negeri.
“Ini. Keberangkatan mu akan dijadwalkan malam hari, pergilah dari sini sebelum MUA datang untuk merias mu dan yang jelas ketika para tamu- tamu sudah mulai berdatangan.”
Xavia tersenyum lebar menerima berkas- berkas tersebut. “Di mengerti, selama kau menjamin pelarian ku di singapur nanti, rencana ini akan berjalan mulus.”
“Tenang saja, kau akan menempati salah satu hunian ku disana, jangan khawatirkan tentang kemarahan ayahmu dan cukup saksikan kekacauan yang akan terjadi sebentar lagi,” ujar Mayang menyeringai bak devil.
…..