NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

anak buah reza mendatangi rumah maya

Malam mencekam di lorong belakang restoran akhirnya berlalu setelah kepolisian dan tim darurat berdatangan akibat laporan warga sekitar yang mendengar suara tembakan.

Di tengah kekacauan itu, Maya berhasil menyelinap kabur sewaktu anak buah Reza teralih perhatiannya oleh kedatangan sirine polisi dari kejauhan.

Dengan napas memburu dan tubuh gemetaran hebat, Maya berlari tanpa henti menyusuri gang-gang kecil hingga akhirnya tiba di kamar kos sempitnya di lantai dua sebuah bangunan tua.

​Malam itu, Maya tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah dingin Reza dan pria bertato yang tewas bersimbah darah di depan matanya terus berkelebat.

Maya mengunci pintu rapat-rapat, menggeser lemari kayu kecil untuk menahan daun pintu, dan meringkuk di sudut kasur sambil memeluk kedua lututnya sampai fajar menyingsing.

​Saat matahari mulai terbit, suasana kota perlahan kembali ramai. Suara deru sepeda motor dan penjual makanan keliling mulai terdengar dari luar jendela. Rasa takut Maya sedikit berkurang. Ia mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

​"Mungkin dia cuma menakut-nakuti," bisik Maya pada dirinya sendiri sambil mengusap mukanya yang pucat.

"Semalam kan polisi sudah datang. Tempat itu sudah dipasang garis polisi. Pria berjas itu pasti sibuk mengurus masalahnya sendiri dan tidak punya waktu untuk mencari pelayan biasa seperti aku."

​Satu hari berlalu. Maya sengaja meminta izin tidak masuk kerja di restoran dengan alasan sakit. Ia memilih mengurung diri di dalam kamar kos, memakan mie instan seadanya, dan berusaha meyakinkan diri bahwa hidupnya sudah kembali normal. Masalah mengerikan itu sudah selesai, pikirnya. Ia aman di kamar kosnya yang tersembunyi di dalam pemukiman padat penduduk ini.

​Namun, ketenangan bersahaja itu tidak bertahan lama.

​Pada hari kedua, sekitar pukul dua siang, ketika Maya sedang melipat pakaian di atas kasur, suara langkah kaki berat bertumit kaku terdengar menaiki tangga kayu kos-kosannya.

Langkah kaki itu tidak hanya satu orang, melainkan beberapa pasang kaki yang bergerak dengan ritme konstan dan berat.

​Maya mendadak membeku. Tangannya berhenti mengemas baju.

​TOK! TOK! TOK!

​Ketukan di pintu kamarnya terdengar sangat keras dan penuh penekanan, membuat pintu kayu yang lapuk itu bergetar.

​"Si-siapa?" suara Maya gemetar, berdiri perlahan dari tepi kasur.

​Tidak ada jawaban dari luar. Yang ada hanyalah ketukan sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya.

​"Siapa di luar? Kalau tidak menjawab, saya panggil warga ya!" ancam Maya dengan sisa-sisa keberaniannya, meski tangannya sudah gemetaran hebat.

​Dari balik pintu, terdengar suara berat yang sangat asing namun terasa begitu mengintimidasi. "Nona Maya. Buka pintunya sekarang. Kami diutus oleh Tuan Reza untuk menjemput Nona."

​Bagaikan disambar petir di siang bolong, jantung Maya rasanya berhenti berdetak saat mendengar nama itu dipanggil.

Wajahnya yang semula agak segar mendadak pucat pasi. Pria berjas hitam itu benar-benar menemukannya! Padahal ia sama sekali tidak pernah memberitahukan alamat kosannya kepada siapa pun di restoran.

​"T-tidak mau! Tolong pergi! Aku tidak punya urusan sama bos kalian!" teriak Maya penuh kepanikan, mundur perlahan hingga punggungnya menempel ke tembok.

​"Jangan bikin rumit suasana, Nona," balas suara di luar pintu dengan nada datar tanpa emosi. "Tuan Reza tidak suka menunggu lama. Kalau nona maya tidak buka pintunya secara baik-baik, kami terpaksa membukanya sendiri."

​"Pergi! Jangan ganggu aku! Tolong! Ada orang jahat!" teriak Maya histeris, berharap tetangga kamar kosnya mendengar dan memberikan bantuan.

​Namun, tidak ada satu pun tetangga yang keluar. Pemukiman ini dikenal sangat acuh tak acuh, dan suara beberapa pria berbadan besar di luar pintu sudah cukup untuk membuat tetangga lain mengunci pintu rapat-rapat karena takut ikut campur.

​KREAAAK... BRAK!

​Hanya dengan satu kali tendangan keras, engsel pintu kayu yang lapuk itu jebol seketika.

Pintu terdorong jatuh ke dalam, menampilkan tiga orang pria tinggi besar berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam rapi— persis seperti anak buah yang mengawal Reza malam itu.

​Maya terpekik kaget, merapat ke sudut tembok sambil memeluk bantal rapat-rapat di dadanya.

"J-jangan mendekat! Aku mohon, lepaskan aku! Aku tidak tahu apa-apa!"

​Pria di posisi tengah, yang bertubuh paling jangkung dengan luka parut tipis di pelipisnya, melangkah masuk ke dalam kamar kos Maya yang sempit.

Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan pandangan dingin sebelum akhirnya tertuju pada Maya.

​"Nona Maya," kata pria itu sambil mengeluarkan sebuah ponsel pintar dari saku jasnya. "Tuan Reza ingin bicara."

​Pria itu menekan sesuatu di layar ponsel lalu menyodorkannya ke arah Maya dengan posisi panggilan suara yang sudah terhubung lewat pengeras suara.

​Dari speaker ponsel, suara berat, dingin, dan sangat familiar itu langsung menggema di dalam kamar sempit milik Maya.

​"Maya," panggil Reza dari seberang telepon dengan nada santai namun penuh tekanan dominan.

​Maya menelan ludah, air matanya mulai menetes karena merasa sangat terdesak. "Tuan Reza... tolong, jangan ganggu hidup aku lagi. Aku tidak akan bilang apa-apa sama polisi, aku bersumpah..."

​Di seberang sana, terdengar terkekeh pelan dari Reza yang terkesan sangat dingin. "Kamu pikir kamu punya pilihan, Maya? Sudah kubilang kan malam itu, hidup kamu bukan lagi milik kamu sendiri."

​"Aku punya keluarga! Aku cuma pelayan biasa! Kenapa harus aku?!" jerit Maya frustrasi.

​"Karena kamu sudah melihat wajah orang-orang yang seharusnya tidak boleh kamu lihat," jawab Reza datar. "Kemasi barang-barang kamu sekarang juga. Anak buah saya akan membawa kamu ke tempat baru."

​"Aku tidak mau! Aku tidak mau ikut!" tegas Maya menolak keras.

​Reza hening sejenak di seberang telepon. Heningnya pria itu justru terasa sepuluh kali lipat lebih menakutkan daripada bentakan.

​"Dengar baik-baik, Maya," kata Reza dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Maya berdiri tegak seketika.

"Kamu ikut anak buah saya sekarang secara sukarela, atau saya suruh mereka membawa kamu dalam keadaan tidak bernyawa? Pilihannya ada di tangan kamu."

​Maya membeku, menatap ketiga pria berjas hitam di depannya yang kini mulai melangkah mendekat secara perlahan.

​Bersambung

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!