NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama

Tamu undangan sudah bubar, kini tersisa Gala bersama kedua orang tuanya, lalu Rea, Althan dan Bella.

Mereka tengah makan malam sebelum nanti kedua orang tua Gala akan pulang.

Untuk malam ini, Gala dan Rea akan menginap di rumah Althan.

Saat makan malam selesai, Rea bangkit untuk membantu Revin membereskan piring kotor.

Gala berdehem, kemudian melirik Rea singkat, yang dibalas tatapan dalam oleh gadis itu.

Saka dan Althan menatap Gala dengan alis terangkat, Rea dan Revin pergi ke wastafel untuk mencuci piring, sedangkan Bella sudah berlalu entah kemana.

"Kalau Rea tetap tinggal di sini sementara, gak apa-apa?" tanya Gala menatap Papanya dan Ayah mertuanya bergantian.

Mereka mengerutkan kening. "Kenapa?" tanya Saka.

Gala bergumam, lalu menjawab, "Gala mau cari rumah yang lebih nyaman untuk kita berdua."

Althan dan Saka menatap Gala dalam, mencari kebohongan di dalamnya.

"Kamu, kan punya apartemen?" tanya Saka lagi.

Gala segera mengalihkan pandangan. "Kalau tinggal di apartemen terlalu jauh dari kampus."

Saka menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap putranya datar.

"Kamu juga sering bolak-balik dari apartemen ke kampus, kan?"

Gala mengangguk pelan. "Gala juga sering capek, Pa. Kasihan kalau Rea harus kecapekan."

Saka dan Althan tersenyum mendengar jawabannya. "Boleh, tapi kamu juga ikut tinggal di sini."

Gala sontak menatap Althan dengan bibir terkatup rapat. "Gala tetap harus di apartemen, Om. Sayang kalau gak ditempatin, mubazir."

"Dijual aja, kan nantinya juga kamu tinggal di rumah baru," saran Saka yang membuat Gala diam-diam meneguk ludahnya.

"Rea mau tetap di sini, dan Kak Gala tinggal di apartemen. Setidaknya sampai Rea siap menjadi istri Kak Gala seutuhnya, baru Rea mau tinggal berdua sama dia," kata Rea yang baru kembali.

Gala menatap dalam gadis yang kini menatap Althan dan Saka penuh harap.

"Suami-istri itu harus tinggal bersama, gak boleh pisah rumah," kata Althan seraya menatap putrinya dengan tatapan dalam.

"Nanti Gala bakal sering nginap di sini kok, Om."

Semua saling tatapan, sebelum akhirnya menghela nafas pasrah.

"Ya sudah lah, terserah kalian aja. Kita juga gak bisa maksa, ini urusan rumah tangga kalian."

Gala dan Rea saling pandang dan tersenyum lega.

"Sekarang kalian istirahat, Papa sama Ibu pulang dulu."

Gala mengangguk, lalu menyalami kedua orang tuanya, diikuti Rea. Tak lupa, mereka juga mengantarkan Saka dan Revin sampai ke mobil.

"Kalian langsung ke kamar, ya? Ayah juga mau istirahat, capek."

Gala mengangguk dan tersenyum pada mertuanya, sedangkan Rea hanya mengangguk dan berlalu ke kamar.

Sampai di kamar, Rea segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, sedangkan Gala duduk di tepi ranjang dan mengedarkan pandangannya.

Kamar yang cukup luas dengan barang yang cukup banyak dan lengkap. Ada televisi, sofa, rak buku, meja belajar, lemari berukuran besar, meja rias, lalu ada juga karpet bulu.

Sangat mencerminkan jika pemiliknya adalah orang berada. Berbeda dengan rumah Gala yang terkesan sederhana dan apa adanya, meski memiliki barang yang hampir sama lengkapnya.

Menyadari keberadaan Gala, Rea kembali bangkit dan terduduk menatap Gala yang membelakanginya.

"Lo mau tidur di sini?"

Gala menoleh, lalu merebahkan tubuhnya dengan kaki menjulur ke bawah.

"Iya, lah. Dimana lagi?" tanyanya seraya menutup mata menggunakan lengan.

"Gak mau di sofa aja?" tanya Rea sedikit ragu.

"Malas, gue mau di sini aja. Sudah sah juga, kan?"

Rea mendengus, lalu meletakkan guling di sampingnya. "Terserah! Awas lo macam-macam!"

Gala membuka mata dan mendongak, karena posisi Rea lebih tinggi darinya.

"Yang dimacam-macamin aja gak enak gitu, tepos," katanya seraya membetulkan posisi tidurnya agar sejajar dengan Rea.

Rea bergerak memukul wajah cowok itu dengan bantal di tangannya. "Gak usah body shaming!"

Gala memutar bola matanya malas, kemudian memeluk guling yang Rea gunakan sebagai sekat untuk mereka berdua.

"Itu guling gue." Rea berusaha menarik guling dari dekapan erat Gala.

"Buat gue."

Rea mendelik dan menariknya penuh paksaan, hingga ia berhasil mendapatkannya.

"Gue gak bisa tidur tanpa guling, asal lo tau!"

Gala menatap datar Rea yang kini bergerak merebahkan tubuhnya, dengan posisi membelakanginya.

Tanpa pikir panjang, Gala melingkarkan tangan di pinggang gadis itu, membuat Rea menegang.

"Gue juga," katanya seraya memejamkan mata.

Rea merasakan deru nafas Gala yang hangat menerpa tengkuknya, membuat ia bergidik geli.

"Geli, ish!"

Rea berusaha melepas pelukan Gala, yang justru membuat pelukan itu semakin erat.

"Lepas, Kak."

"Enggak."

"Gue geli," cicit Rea seraya menutup mata dan menggigit bibir bawahnya.

"Gue emgak akan macam-macam, cuma peluk doang. Gue juga gak bisa tidur kalau gak ada yang dipeluk."

Rea menghela nafas pasrah. Ia berusaha memejamkan mata, di tengah suasana hati yang porak-poranda. Gelenyar aneh menggelitik bagian dalam perutnya yang terdapat tangan Gala di sana.

Rea terus bergerak dalam dekapan hangat Gala, ia tidak nyaman dalam posisi ini.

"Tidur atau gue tidurin?"

Rea sontak menutup matanya erat dan diam bak patung. Ia tidak boleh bergerak atau nanti akan mengganggu Gala yang kini sudah mulai masuk ke alam mimpi.

Mungkin karena lelah setelah acara pernikahan tadi, tak lama kemudian Rea ikut masuk ke alam mimpi.

Sekitar tengah malam, Gala membuka mata saat merasakan udara yang cukup dingin dan terdengar hujan deras di luar.

Gala menyipitkan matanya, kemudian menunduk untuk menatap posisi tidur yang kini sudah berubah.

Dengan dia yang tidur terlentang dan kepala Rea ada di atas dadanya. Tangan gadis itu, pun melingkar sempurna di pinggangnya.

Tak ingin berpikir panjang, Gala beralih menarik selimut untuk membalut tubuh mereka berdua agar terasa lebih hangat. Tak lupa, ia juga meraih remote AC untuk mematikannya.

Gala kembali fokus menatap Rea, bergerak menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga, agar tidak lagi menutupi wajah cantiknya.

Gala mengecup singkat kening Rea, sebelum kembali memejamkan mata sambil membalas pelukan Rea.

Baru Gala memejamkan mata, Rea justru membuka mata dan sontak mendorong dada cowok itu.

"Lo ngapain peluk-peluk gue?!" pekik Rea menatap Gala tak terima.

Gala hanya menatap datar gadis itu. "Lo duluan yang peluk gue."

Malas merespons Rea yang tampak sedang mengumpulkan nyawa, Gala mengambil alih bantal guling yang menganggur, lalu berbalik membelakangi Rea untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.

Tiba-tiba terlihat kilat bersamaan dengan bunyi petir menggelegar, membuat Rea terkejut dan sontak memeluk Gala erat dari belakang.

Rea menciut takut, dengan kepala di cerukan leher Gala.

"Lo ngapain?" tanya Gala sambil menoleh bingung.

"Takut," cicit Rea tanpa melepas pelukannya.

Petir kembali terdengar, membuat pelukan Rea semakin mengetat di leher Gala.

"Gue kecekik," kata Gala seraya berusaha melepas pelukan Rea.

"Takut," cicit Rea lagi.

Gala membuang nafas pelan, lalu melepas paksa kaitan tangan Rea di lehernya, lalu berbalik untuk memeluk gadis itu.

Rea menyembunyikan wajahnya di dada Gala, lalu melingkarkan tangannya di pinggang cowok itu.

Lagi dan lagi, petir menggelegar berulang kali dengan debuman yang sangat keras.

"Tidur lagi," titah Gala seraya mengusap kepala Rea.

"Gak bisa tidur kalau ada petir," kata Rea bersamaan dengan suara petir lagi.

"Ada gue, gak usah takut."

Gala terus mengusap kepala dan punggung gadis itu, menenangkannya.

Hening, mereka sama-sama diam di tengah suara gemuruh hujan lebat diselingi suara petir itu.

Mereka tidak tidur, tetapi sama-sama menikmati kehangatan yang mereka ciptakan lewat dekapan erat mereka.

"Peluk gini, gak apa-apa?" tanya Rea dengan mata terpejam.

Gala menatap Rea seraya mengusap rambut gadis itu. "Gak apa-apa, apanya?"

Rea membuka mata, lalu mendongak untuk menatap wajah Gala. "Pacar lo gak marah?"

Gala mengangkat sebelah alisnya. "Pacar lo marah?" tanya Gala balik.

"Gue tanya pacar lo, bukan pacar gue."

"Gue gak punya pacar."

Rea menatap Gala dengan mata menyipit. "Bohong banget."

"Gue gak pernah bohong kayak lo," kata Gala seraya nenyentil kening Rea.

Rea mengembungkan pipinya. "Gue juga gak pernah bohong, kalau gak kepepet."

Gala mencubit pipi Rea dengan gemas. "Sama aja bohong."

Rea mengusap pipinya yang terasa sakit, menatap Gala kesal.

"Gak usah cubit-cubit pipi gue, entar jadi gede."

"Gak apa-apa, biar tembam kayak cewek."

"Terus lo pikir gue kayak cowok, gitu?"

Gala terdiam. "Lo tau, kenapa kebanyakan cewek pipinya tembam atau chubby?"

Rea menatap Gala malas. "Apa?" tanyanya seraya menggambar pola abstrak di dada Gala.

Gala yang merasa geli, segera mengambil tangan itu untuk digenggamnya.

"Dalam Islam, pipi tembam seorang perempuan itu dijelaskan, bahwa di dalam pipinya menyimpan banyak beban dan air mata."

Rea mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa gitu?"

"Cara ampuh seorang perempuan menghilangkan bebannya adalah dengan mengeluarkan air mata. Makanya air mata perempuan itu berharga."

"Pernah dengar kata-kata ini gak, satu tetes air mata perempuan adalah seribu dosa bagi laki-laki yang menyakitinya?"

Rea mengangguk, ia pernah melihat kata-kata itu dari story remaja galau yang disakiti oleh pacarnya.

"Allah menciptakan perempuan istimewa. Segala yang ada di dalam diri perempuan itu berharga. Makanya dalam Islam ada mewajibkan menutup aurat bagi perempuan, karena itu. Karena perempuan itu berharga."

"Berarti kalau gue ada masalah terus nangis, boleh?"

"Kenapa enggak? Lo nangis, jungkir balik, mau salto juga boleh. Gue gak peduli juga."

Rea memukul dada Gala dengan kesal. Memang sesulit itu berbicara serius dengan seorang Gala yang menyebalkan.

"Berarti entar kalau gue nangis karena lo, lo bakal dapat seribu dosa, dong?"

Gala menatap Rea datar. "Gue gak akan bikin lo nangis, kecuali kalau lo cengeng."

"Baru nikah aja gue sudah tertekan, gimana nanti?"

"Lo tertekan sama gue?"

Rea mengangangguk, membuat kening Gala mengerut.

"Kenapa?"

"Setiap lihat muka lo, gue selalu enek. Tekanan banget gue, pengin ngusir lo dari muka bumi."

Gala sontak menyentil kening Rea keras, membuatnya meringis.

.

.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!