Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 Kejujuran Pangkal Kemenangan
"Semuanya!" Suara Godot menggema lewat portal suara magis. "Ini pertandingan penutup! Mari kita saksikan pertarungan kelas Thief tingkat rookie!"
Begitu pengumuman itu selesai, Duke Welding langsung beranjak pergi meninggalkan balkon.
"Lah? Kamu masih di sini?"
panitia yang sebelumnya sempat mengawasiku tiba-tiba muncul kembali. Sambil mengaktifkan ulang cincin pendeteksi Mana di jarinya, ia kembali duduk di belakangku untuk menonton jalannya pertandingan. Dari kedisiplinan bawahannya yang bobrok ini, sudah jelas pengawasan Godot penuh celah—mereka bahkan sempat meninggalkanku sendirian di babak sebelumnya.
Suasana Colosseum kini tidak sesemarak tadi. Banyak penonton mulai meninggalkan kursi tribun. Terlebih lagi, Count Maxus turut beranjak pergi begitu menyadari sang Duke sudah tidak lagi berada di sisinya. Langit pun mulai meredup seiring datangnya malam, memaksa para prajurit menyalakan lampu minyak di setiap sudut stadion.
"Baiklah, tidak perlu berlama-lama lagi! Saksikan pertarungan antara Steven melawan Johan!"
Kedua peserta melangkah keluar dari terowongan sisi yang berlawanan. Sekilas, Johan sama sekali bukan tandingan bagi Steven. Tapi entah mengapa, instingku merasakan ada kejanggalan pada gerak-gerik pemuda itu.
"Bersiap!" Wasit berdiri di tengah arena, mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi. "Mulai!"
Alih-alih langsung menerjang, tidak ada satupun dari mereka yang membuka serangan pertama. Steven dan Johan menjaga jarak, bergerak melingkar menyusuri arena yang luas. Tangan masing-masing disembunyikan di balik jubah, bersiap mencabut bilah belati kapan saja.
Berbeda dengan kelas fighter yang mengandalkan tubuh besar, pedang berat, dan zirah tebal, para thief tampil sesederhana mungkin, namun mematikan. Mereka adalah aset berharga yang kerap direkrut negara untuk misi infiltrasi senyap, menjadikan mereka elemen militer terpenting kedua setelah para wizard dan mage.
Jam magis di atas Colosseum terus bergerak, menyisakan batas waktu yang semakin menipis. Namun, sudah sepuluh menit berlalu dan keduanya masih belum melepaskan satupun serangan.
"Steven!" seruku tanpa sadar. Tapi suaraku tenggelam oleh angin malam; tatapannya tetap terkunci tajam.
Dan tepat pada detik itu...
Shhh...
"Sekarang!"
Gerakan itu terjadi begitu cepat hingga nyaris luput dari penglihatan. Keduanya melompat berbarengan dalam satu kedipan mata. Seluruh isi Colosseum mendadak membeku dalam keheningan, sementara Godot di sisi panggung tampak menggigit bibir bawahnya. Meskipun berada di tingkatan terendah, pertarungan kelas thief selalu menjadi tontonan paling mendebarkan bagi mereka yang memuja ketegangan.
Belati mereka beradu di udara, menciptakan percikan api kecil. Benturan itu menahan langkah keduanya tepat di tengah arena.
"Waktu habis!"
Suara Godot menggema, menghentikan jalannya pertandingan. Kedua petarung itu segera menurunkan senjata, saling mengangguk sekilas, lalu berjalan ke pinggir arena untuk mempersiapkan diri menghadapi babak penentuan.
"Tuan?" panggilku sambil beranjak dari kursi. "Apakah aku diperbolehkan menggunakan mantra sebentar untuk mengecek sesuatu?"
Pria panitia di belakangku tampak menimbang-nimbang, menatapku dengan penuh curiga. "Memangnya mau ngapain kamu?"
"Bukan apa-apa, aku cuma ingin melihat kilas balik pergerakan cepat mereka tadi. Boleh, kan?" jawabku dengan nada polos.
Dengan hela napas berat, panitia itu akhirnya mengangguk. "Baiklah! Tapi ingat, maksimal cuma lima menit. Kalau lewat dari itu, kamu langsung didiskualifikasi!"
"Siap!" seruku mantap.
astaga, mudah sekali mengecoh pria ini!
Baiklah, sekarang saatnya membuktikan kecurigaanku. Menghela napas perlahan, aku memfokuskan aliran energiku.
"Dewa... Tunjukkan kebenaran yang tersembunyi di balik tabir kepalsuan—Open Truth."
Mantra ini sejatinya tidak hanya berfungsi untuk mengulang kilas balik waktu. Dengan sedikit memodifikasi kata 'waktu' menjadi 'kepalsuan' dalam rapalannya, fungsi utamanya bakal berubah—memungkinkan penggunanya untuk melihat aliran mana yang bergerak di lingkungan sekitar dalam radius tertentu.
Dalam sekejap, dunia di sekitarku memudar. Warna-warna menghilang, menyisakan pemandangan hitam-putih yang transparan.
Aku memutar pandangan menyapu seluruh arena. Firasat burukku soal Johan ternyata 100% akurat. Melalui pandangan mataku, aku bisa melihat aliran mana berwarna biru berpendar terang mengalir di dalam tubuhnya. Aku menyipitkan mata, menelusuri dari mana ujung 'benang' Mana biru itu berasal.
Jejaknya melayang ke arah tribun gelap yang agak sepi, terhubung langsung menuju sosok misterius yang duduk diam dengan wajah tertutup topeng.
Memperhatikan lebih teliti, aku sangat yakin orang itu bukanlah salah satu peserta kompetisi. Buktinya jelas: sebelum pertandingan dimulai, panitia mewajibkan seluruh peserta mengenakan ban lengan khusus di sebelah kanan. Ban itu berfungsi sebagai penanda dan tidak boleh dilepas selama peserta belum gugur atau masih berada di dalam Colosseum. Tapi saat aku mencari dimana ia mengenakannya, sama sekali tidak dapat menemukan.
Sialnya, tak ada satupun panitia yang menyadari keberadaannya karena perhatian mereka semua tertuju pada peserta. Hal itu membuatnya leluasa untuk melakukan kecurangan secara diam-diam.
Melihat karakteristik aliran sihir ini, aku tidak mungkin salah. Itu adalah Resonansian.
Mantra ini mampu membaca pergerakan lawan lima detik lebih awal sebelum serangan itu benar-benar dilancarkan, lalu mentransfer informasi tersebut secara real-time ke otak target yang di-buff. Tapi ini masih dalam skala yang sempit, penguna pasti berada di tingkat King.
Tidak ada pilihan lain. Aku harus melakukan ini...
"Argh... Kenapa kepalaku sakit sekali!" teriakku spontan. Beberapa penonton di sekitar langsung memandangiku dengan kaget. Tanpa membuang waktu, aku sengaja menjatuhkan diri ke lantai, meringkuk seolah-olah menahan siksaan hebat.
"Ada apa, Nak?!" Panitia yang tadi mengawasiku langsung bergegas menghampiriku dengan panik.
Melihatku tertatih-tatih dan memegang kepala saat berusaha bangun, ia langsung merangkul pundakku, membantuku berdiri.
"Tampaknya... cadangan mana-ku habis. Kepalaku pusing sekali..." rintihku dengan suara bergetar.
"Astaga! Seharusnya aku tidak mengizinkanmu menggunakan mantra tadi! Ayo, biar kuantar kamu ke ruang medis."
Mengangguk lemah, aku membiarkannya menuntunku perlahan menyusuri koridor remang-remang di luar arena, membawaku ke ruang medis tempat para peserta yang terluka parah dirawat.
Begitu aku dibaringkan di atas ranjang putih, panitia itu sempat duduk di sampingku sebentar untuk memastikan kondisiku membaik sebelum akhirnya beranjak pergi. "Tunggu sebentar, kucarikan Priest atau air hangat."
Mendengarkan derap langkah kakinya mulai menjauh di ujung koridor, aku langsung melompat turun dari kasur. Mengendap-endap ke dekat pintu, aku mengintip keluar untuk memantau keadaan sekitar.
Bagus! Tidak ada priest ataupun petugas medis di dalam ruangan ini!
Dengan gerakan senyap, aku menggeser pintu geser. Di sudut ruangan, seorang peserta yang terluka dengan mata terperban sempat terbangun dan meraba-raba meja di sekitarnya. Untunglah ia hanya mengigau dan tidak menyadari keberadaanku. Aku langsung menyelinap keluar, berlari kecil menuju lorong belakang yang mengarah kembali ke area tribun penonton.
Sial, aku harus memutar jauh lewat koridor samping karena panitia yang menjagaku tadi masih terlihat berdiri dan mengobrol dengan rekan sesama petugas.
Waktu terus berjalan, dan pertandingan babak kedua pasti sudah dimulai. Kuharap Steven bisa bertahan sedikit lebih lama.
Bruk!
Begitu tiba di undakan tribun yang mengarah ke tempat duduk tersembunyi si sosok bertopeng, aku langsung melangkah mendekat lalu membentaknya.
"Oy!"
Sosok bertopeng itu menoleh ke arahku, lalu menjawab dengan suara datar, "Ada apa, bocah?"
"Dasar licik! Jangan kira aku enggak tahu kalau kamu menggunakan Mantra untuk membantu salah satu peserta!"
"Kamu pasti salah orang! Pergi sana, bocah!" ucapnya sambil mengibaskan tangan, berusaha mengusirku.
Di arena bawah, Steven mulai terpojok. Johan tidak lagi bermain defensif; ia melancarkan serangan bertubi-tubi, mengincar bilah belati di tangan Steven. Saat Steven berusaha menyapu kaki Johan untuk menjatuhkannya, Johan seolah sudah tahu ke mana arah serangan itu. Ia melompat tinggi ke belakang, menghindari sapuan.
Sial, dia benar-benar membaca gerakannya!
"Dasar pecundang!" teriakku geram.
Tanpa pikir panjang, aku menerjang ke arahnya dan sengaja menubruk tubuh orang bertopeng itu. Kami berdua langsung terjatuh, berguling-guling dari atas undakan podium.
"Siapa kamu, ha?!" seruku sambil mencengkeram topengnya, berusaha merenggut benda itu dari wajahnya. Ia balas menahan tanganku dengan kuat untuk mempertahankan penyamarannya.
Keributan kami luput dari perhatian penonton yang fokus ke arena. Hingga akhirnya ia berhasil berdiri lebih dulu. Topeng yang ia kenakan retak parah akibat benturan keras setelah jatuh dari ketinggian tiga lantai. Untungnya, tubuhnya menjadi peredam jatuhku, membuatku tidak mengalami luka serius.
"Kurang ajar..." desisnya penuh amarah.
Topeng itu akhirnya runtuh berkeping-keping, menampakkan wajah seorang wanita paruh baya berambut kusam dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya. Ia menatap sisa topengnya yang hancur, lalu melotot tajam kepadaku dengan penuh kebencian. Tangannya dengan cepat merogoh jubah hitamnya dan menarik keluar sebuah tongkat sihir pendek.
Tebakanku meleset—ia bukan seorang wizard, melainkan mage!
"Bocah kurang ajar, aku akan menghukummu!"
Mengarahkan tongkatnya tepat ke arahku, lalu merapalkan mantera dengan suara tajam. "Oh Dewa Charon—penguasa bumi! Hancurkan para bidah yang berani mencampuri urusanku—Earth Bullet!"
Dalam sekejap, debu dan bebatuan di sekitarku bergeming, memadat menjadi puluhan bola peluru tanah berukuran kelereng yang meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahku.
Tepat saat desingan angin peluru tanah itu hampir merobek perutku, aku melompat menjatuhkan diri, berguling menghindar. Hantaman peluru tanah itu sukses melubangi lantai batu di belakangku.
"Wah, refleks yang bagus juga untuk ukuran anak kecil!" tawanya sinis. "Tapi pastikan kamu bisa menghindari serangan berikutnya!"
Deretan peluru tanah itu kembali berdesing di udara, meluncur ke arahku. Kalau aku terus-terusan menghindar seperti ini, hanya tinggal menunggu waktu sampai salah satu dari proyektil itu meremukkan tulangku.
Tidak ada jalan keluar lain. Aku harus melawan!
"Masih bisa berdiri ya, kamu?!" seru wanita paruh baya itu dengan mata melotot, kembali mengayunkan tongkatnya untuk mempercepat rentetan tembakan.
Ini saatnya. Aku harus memanfaatkan kejutannya dengan silent casting.
Tanpa menggerakkan bibir atau mengeluarkan sepatah kata pun, aku memusatkan mana di telapak tangan.
“Oh... Dewi Charlotte. Lindungi hambamu ini dari serangan musuh yang kejam—Shield Protection!”
Tepat sedetik sebelum peluru tanah terdepan menembus dadaku, sebuah perisai transparan berpendar kebiruan mendadak muncul. Bum! Bum! Peluru-peluru itu menghantam penghalang magis tersebut dan langsung hancur berkeping-keping menjadi butiran debu yang berhamburan.
"Apa?!" Wanita itu terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Bagaimana bisa kamu merapal mantra—!"
"Belum selesai," gumamku dingin.
Aku tidak memberinya waktu untuk bernapas. Tanganku bergerak cepat, merapal mantra.
“Oh, Dewa Astromov, kuasakan angin dan badai di ujung jariku—Wind Attack!”
Saat ia masih terjebak dalam kebingungan, aku langsung melancarkan serangan balasan. Sirkulasi angin bertekanan tinggi berputar liar di telapak tanganku, memadat hingga membentuk sebilah jarum angin tipis yang transparan.
Tanpa ragu, aku melangkah maju dan melemparkannya dengan kuat ke arahnya.
Syuuup!
Jarum angin itu melesat membelah udara. Wanita itu terlambat bereaksi; meski ia sempat memiringkan tubuhnya untuk menghindar, jarum tersebut telak menembus daging di bagian lengan kanannya.
Jleb!
"Argh!"
Darah segar langsung merembes keluar dari balik jubah hitamnya. Ia terhuyung mundur dua langkah, mencengkeram lengannya yang terluka sambil mendesis kesakitan. Tongkat sihir di tangan kirinya hampir terlepas dari genggaman.
Aku sengaja tidak menargetkan titik vitalnya.
"Tolong hentikan!" teriaknya panik. "Aku mengaku! Ya, aku mengaku kalau aku curang!"
Aku sempat berniat meluncurkan serangan angin berikutnya untuk berjaga-jaga, tapi segera mengurungkan niat itu. Menurunkan tangan, aku melangkah mendekatinya, lalu berjongkok dan menatapnya dengan sebelah mata mengejek.
"Udah tua, tapi masih doyan curang sama anak kecil. Nggak malu, hah?"
"Apa yang kamu lakukan!"
Teriakan seseorang dari undakan atas membuyarkan fokusku. Saat aku mendongak, panitia yang tadinya menjaga dan sempat kuakali di ruang medis turun dengan tergesa-gesa. Cincin pendeteksi sihir di jarinya berdenyut merah menyala, bergetar hebat.
"Kamu didiskali—"
"Tunggu dulu, Tuan. Coba lihat orang ini," potongku cepat sambil menunjuk ke arah mage yang masih mengerang kesakitan di lantai.
Panitia itu tertegun. Pandangannya beralih dari diriku ke arah genangan darah di lengan wanita paruh baya itu, lalu turun pada tongkat sihir yang tergeletak di dekatnya. Tanpa buang waktu, aku langsung memaparkan semua bukti kecurangan yang ia lakukan—bagaimana wanita itu menggunakan Resonansian untuk membocorkan gerakan Steven kepada Johan secara real-time.
Wajah sang panitia langsung berubah pias. Tanpa pikir panjang, ia merogoh saku, mengeluarkan sebuah peluit perak, dan meniupnya tajam-tajam untuk memanggil bala bantuan. Dalam hitungan detik, dua prajurit kekaisaran datang berlari dan langsung meringkus wanita bertopeng tersebut.
"Maaf... Aku benar-benar minta maaf sempat meragukanmu," ucap panitia itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penyesalan.
Aku langsung melambaikan tangan, melerainya agar menghentikan sikap sungkan yang berlebihan itu. Rasanya tidak pantas melihat orang yang jauh lebih tua merendahkan diri di depan anak seusia diriku.
"Sudahlah, yang penting masalahnya beres. Jadi, bagaimana dengan pertandingannya?" tanyaku mengalihkan topik.
"Pertandingan... sepertinya belum selesai sepenuhnya."
Mendengar jawaban itu, aku tidak membuang waktu lagi dan bergegas menaiki tangga tribun menuju barisan teratas.
"... Dan pemenang untuk pertandingan babak ini adalah Johan!"
Suara Godot menggema keras melalui portal suara magis. Ia mengangkat tangan Johan tinggi-tinggi, mendeklarasikan kemenangannya ke seluruh penjuru Colosseum. Riuh tepuk tangan penonton langsung memecah keheningan malam.
Di tengah arena, Steven tampak tertunduk lesu, meratapi kekalahannya yang tak adil. Dari jarak sekecil ini, aku bisa melihat kilatan air mata hampir menetes di sudut matanya.
"Tenang saja, tonton dulu sebentar lagi," bisik panitia yang menyusulku dari belakang.
Tepat pada detik itu, seorang staf lainnya berlari tergopoh-gopoh dan membisikkan sesuatu di telinga Godot.
Ekspresi Godot seketika berubah pucat. Tanpa pikir panjang, tanpa memedulikan kebingungan penonton, ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Johan, lalu berbalik dan meraih tangan Steven, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
"Mohon perhatian semuanya! Ada ralat dan kesalahan teknis dari pihak pengawas. Pemegang kemenangan yang sah untuk pertandingan ini adalah—Steven!"
Steven mengangkat kepalanya perlahan, menatap sekeliling dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. Penonton di tribun pun langsung bersorak gaduh, menyuarakan kebingungan dan protes atas perubahan keputusan yang mendadak.
Suara protes mereka seketika terbungkam saat sebuah proyektor sihir transparan berukuran besar mendadak muncul di atas langit-langit Colosseum. Layar magis itu memutar ulang rekaman detik-detik kecurangan Johan dan mage bertopeng yang tertangkap basah olehku tadi. Meski tidak menampilkan wajahku, aku memang meminta mereka menyensor seluruh aksiku sebelumnya.
Seketika itu juga, suasana stadion berbalik arah. Gemuruh sorak pujian untuk Johan langsung berubah menjadi cemoohan, cacian, dan lemparan sampah dari para penonton.
Johan yang kesal sontak melangkah maju, memprotes keras keputusan mendadak tersebut. Tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, dua prajurit kekaisaran langsung menerjang dan menyeretnya keluar lapangan secara paksa. Johan sempat meronta dan mencoba melawan, tetapi seorang wizard di dekat gerbang arena langsung mengalirkan sengatan listrik bertegangan tinggi lewat ujung jarinya, membuatnya jatuh tak sadarkan diri dalam sekejap.
Di tengah kehebohan itu, Steven menarik napas panjang, lalu membalas sorak-sorai penonton dengan lambaian tangan canggung. Pandangannya tidak sengaja menangkap sosokku di tribun. Ia menatapku sejenak, lalu melontarkan senyuman tipis seolah berkata, "Terima kasih."
Aku mengangguk tegas, membalasnya dengan gestur ibu jari yang teracung ke atas.
"Kamu hebat, Steven!" seruku dari atas tribun.
Bersambung...