Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Beku di Atas Takhta
Matahari terbit menembus jendela kaca patri Ruang Takhta yang kini hanya tersisa bingkai tajam. Cahayanya pucat, tak sehangat kemarin, jatuh menyorot genangan darah yang sudah mulai mengering di lantai pualam.
Kaelen tidak tidur sepanjang malam. Ia duduk mematung di atas singgasana Adiwangsa, menatap tubuh kaku Paman Varian yang masih tergeletak di dasar tangga. Inti Leviathan di dadanya berdenyut dengan ritme rendah yang menenangkan, berbanding terbalik dengan kekacauan yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Pintu ganda berderit terbuka, membuyarkan keheningan. Lyra melangkah masuk. Gadis itu tidak lagi mengenakan jaket kulit lusuhnya, melainkan sebuah jubah militer klan berwarna hitam pekat yang ia temukan di gudang senjata, meski masih dipadukan dengan celana tempur dan sepatu bot kotor khas Sektor Empat.
Di belakangnya mengekor Dokter Silas, yang kini memikul tas penuh buku-buku kuno bersampul kulit naga yang ia selamatkan dari perpustakaan kastil.
"Kabar buruk dan kabar sangat buruk," sapa Lyra, melemparkan apel sisa semalam ke arah Kaelen.
Kaelen menangkap apel itu dengan satu tangan tanpa melihat, namun tidak memakannya. "Mulai dengan yang buruk."
"Orang-orang Rexor sudah gila," lapor Lyra, menyandarkan punggungnya ke dinding pilar yang retak. "Mereka menjarah habis sayap timur. Sayangnya, mereka tidak tahu bedanya hiasan emas biasa dengan kristal peledak yang disimpan di gudang alkimia. Tiga perwira Rexor tewas karena salah mencabut kristal."
"Keserakahan membunuh mereka lebih cepat daripada pasukan Ignis," tanggap Kaelen dingin. "Dan yang sangat buruk?"
Silas berdeham pelan, meletakkan setumpuk buku berat di atas meja bundar tak jauh dari takhta. "Pasukan elitmu... maksudku, sisa-sisa ksatria Ignis yang kemarin menyerah padamu. Mereka menolak keluar dari barak. Komandan Kael membarikade pintu masuk dengan gerbong kereta besi. Mereka berkata lebih baik mati kelaparan daripada diperintah oleh seseorang yang tidak memiliki sihir, apalagi harus tunduk pada mafia bawah tanah."
Kaelen menyandarkan kepalanya ke punggung takhta yang dingin. "Ksatria yang keras kepala adalah senjata yang baik, Silas, asalkan mereka tahu siapa yang memegang gagangnya."
"Masalahnya, Bos," potong Lyra, "Rexor tidak sesabar itu. Dia baru saja mengirim utusan ke barak ksatria. Rexor memberi ultimatum: jika Komandan Kael tidak keluar dan bersumpah setia pada Rexor sebelum lonceng tengah hari berbunyi, anak buah Rexor akan menyemprotkan gas beracun ke dalam barak dan membunuh mereka semua seperti tikus."
Kaelen membuka matanya perlahan. Pendar ungu di kedalaman pupilnya berkilat tajam. "Rexor menuntut sumpah setia padanya? Bukan padaku?"
"Kukira kau sudah tahu ini akan terjadi," Lyra tersenyum miring. "Kau menghancurkan pamanku, kau menumbangkan kastil, kau mematikan kubah. Bagi Rexor, kau adalah palu godamnya. Tapi sekarang palu itu sudah selesai merobohkan tembok. Dan si bos mafia merasa sudah saatnya ia yang duduk di kursi yang kau duduki sekarang."
Kaelen bangkit dari singgasana. Udara di sekitarnya mendadak turun beberapa derajat. Ia melangkah menuruni tangga pualam, melewati mayat pamannya seolah itu hanyalah gundukan debu, dan berjalan menuju pintu keluar.
"Lyra," panggil Kaelen tanpa menoleh. "Beri tahu orang-orang Rexor untuk berhenti mengotori karpetku. Dan Silas, cari tahu apa pun yang kau bisa tentang asal muasal Leviathan dari buku-buku itu. Kita tidak selesai dengan masa lalu hanya karena Varian mati."
"Kau mau ke mana?" tanya Silas cemas.
"Mengajari Rexor perbedaan antara sekutu dan raja."
Barak Ksatria Ignis dulunya adalah bangunan megah yang terbuat dari batu bata tahan api, terletak di sayap utara pelataran kastil. Kini, bangunan itu lebih mirip benteng yang terkepung. Gerbong kereta pengangkut suplai dan patung-patung batu yang hancur ditumpuk menutupi pintu masuk utama.
Di luar barak, ratusan anggota geng jalanan berkumpul bagai sekawanan lalat yang mengelilingi bangkai. Mereka membawa senjata modifikasi kotor, kapak, dan tabung-tabung baja berisi gas hijau yang berdesis pelan.
Di tengah kerumunan itu, Bos Rexor duduk santai di atas tumpukan peti emas rampasan. Ia mengenakan mantel bulu rubah putih yang jelas bukan miliknya, menghisap cerutu sambil menatap gerbang barak dengan seringai lebar.
"Waktunya hampir habis, Kael!" teriak Rexor, suaranya diperkuat oleh corong besi. "Klan Adiwangsa sudah runtuh! Api kalian sudah padam! Menyerahlah, jadilah anjing penjaga baruku, dan aku mungkin akan mengizinkan kalian makan sisa daging dari mejaku!"
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam barak.
Rexor mendengus, lalu memberi isyarat tangan pada anak buahnya yang berjaga di depan tabung gas. "Persetan dengan mereka. Buka katupnya. Bunuh mereka semu—"
"Tutup katup itu."
Suara itu pelan, nyaris seperti bisikan, namun anehnya terdengar jelas memotong kebisingan ratusan preman jalanan.
Kerumunan penjahat perlahan membelah. Kaelen melangkah maju menembus barisan para algojo yang menatapnya dengan campuran rasa takut dan marah. Jubah kulitnya yang menjuntai nyaris menyentuh tanah.
Rexor menepis abunya dan menyeringai lebar, merentangkan kedua tangan. "Ah, sang pahlawan kita! Kaelen! Aku baru saja akan menyelesaikan tugas bersih-bersih sisa sampah dari kastil ini. Kau tidak perlu repot-repot turun tangan."
"Pasukan itu bukan sampah, Rexor," ucap Kaelen, matanya tertuju lurus pada sang bos mafia. "Mereka adalah prajurit terlatih. Dan barak itu adalah bagian dari wilayahku. Siapa yang memberimu izin untuk mengeksekusi mereka?"
Seringai Rexor perlahan memudar. Ia menyingkap mantel bulunya, memperlihatkan pistol mana raksasa berlapis emas yang terselip di pinggangnya. "Wilayahmu? Dengar, Nak. Tanpa pasukan dan dinamitku semalam, kau masih membusuk di selokan. Kita membuat kesepakatan: aku membantumu menghancurkan pamanmu, dan kita berbagi kekaisaran ini. Tapi melihatmu duduk di takhta sendirian pagi ini... kurasa kau butuh pengingat siapa yang memiliki pasukan sesungguhnya di sini."
Tiba-tiba, suara derik logam terdengar serentak di sekeliling Kaelen. Ratusan anak buah Rexor mengangkat senjata mereka, mengarahkannya tepat ke kepala sang pemuda. Laras senapan mesin, panah beracun, dan pistol mana.
"Kau mungkin bisa mematikan sihir api dan membantai monster, Kaelen," desis Rexor, matanya menyipit kejam. "Tapi kau kebal terhadap timah murni? Jika aku memberikan perintah, kau akan hancur menjadi serpihan daging sebelum kau sempat menyedot napas."
Kaelen melirik sekelilingnya. Moncong-moncong senjata itu terfokus padanya. Satu kedipan saja, ia bisa mati. Namun, tidak ada sedikit pun kepanikan di matanya. Ia hanya memancarkan kekecewaan yang sangat dingin.
"Kau mengingatkan pada pamanku, Rexor," bisik Kaelen, tangannya perlahan bergerak ke arah dada, tempat Inti Leviathan bersemayam. "Terlalu bergantung pada apa yang kalian lihat, hingga melupakan apa yang tidak terlihat."
"Tembak baji—"
Sebelum perintah Rexor selesai diteriakkan, Kaelen menghentakkan kakinya ke tanah.
Bukan domain ketiadaan yang ia lepaskan kali ini. Melainkan energi murni, energi fisik bertekanan tinggi yang ia kumpulkan dari Akar Magma semalam, yang ia tembakkan lurus ke bawah, menembus aspal.
Gelombang kejut yang dahsyat meledak dari bawah telapak kaki Kaelen, merambat melalui tanah seperti gempa tektonik skala kecil. Permukaan batu pelataran hancur berhamburan. Para algojo dan penembak jitu Rexor terlempar ke udara layaknya boneka jerami sebelum mereka sempat menarik pelatuk. Senapan mesin bertebaran, peti emas terbalik, dan tabung gas beracun pecah menyemprotkan isinya ke udara terbuka.
Rexor terpelanting dari tempat duduknya, cerutunya terlempar entah ke mana.
Di tengah badai debu dan kekacauan itu, Kaelen melesat dengan kecepatan bayangan. Sebelum Rexor sempat menarik pistol emasnya, Kaelen sudah mencengkeram kerah mantel pria raksasa itu dan mengangkatnya ke udara hanya dengan satu tangan.
"Kau mengira aku selamat di Distrik Bawah karena bantuanmu?" geram Kaelen, mencengkeram leher Rexor hingga pria itu tersedak hebat. Pendar ungu kelam di matanya menyala, memancarkan kengerian yang membuat lutut Rexor seketika mati rasa.
"Aku tidak berbagi takhta, Rexor. Dan aku tidak butuh anjing yang menggonggong di belakangku," bisik Kaelen, suaranya mematikan. "Jika kau tidak menunduk, aku akan mematahkan lehermu di hadapan seluruh tikusmu ini. Pilih."