NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Persiapan di Tengah Bayang-Bayang

Sejak malam pembicaraannya dengan Zhao Kai, kediaman Zhou Chen perlahan berubah.

Halaman belakang yang dulunya hanya menjadi tempat latihan sederhana kini mulai dilengkapi dengan pos-pos penjagaan kecil di sudut-sudut strategis. Zhao Kai, dengan pengalaman militernya yang mulai kembali terasah, menyusun jadwal patroli bergilir bagi kelima anggota kelompok, meski mereka masih harus menyeimbangkannya dengan tugas dan latihan harian.

"Kita tidak bisa terus-menerus hanya bertahan dari serangan yang bisa datang kapan saja," kata Zhao Kai suatu pagi, menunjukkan peta sederhana kediaman yang telah ia tandai dengan titik-titik penjagaan. "Kita butuh sistem peringatan dini, bukan sekadar menunggu sampai musuh sudah berada di depan pintu."

Zhou Chen mengangguk setuju, memperhatikan setiap detail rencana yang disusun Zhao Kai dengan saksama. Meski masih sederhana, ini adalah langkah penting menuju kelompok yang benar-benar terorganisir, bukan sekadar kumpulan orang-orang berbakat yang berlatih bersama.

"Bagaimana dengan Xiao Hei dan Yue Er?" tanya Zhou Chen. "Apakah mereka siap mengambil peran dalam sistem penjagaan ini?"

"Xiao Hei masih perlu waktu," jawab Zhao Kai jujur. "Tenaga dalamnya berkembang pesat, tapi pengalaman bertarungnya masih minim. Yue Er, di sisi lain, sudah cukup andal sebagai pengintai jarak jauh berkat kemampuan memanahnya."

Sementara persiapan pertahanan terus berjalan, Zhou Chen tidak melupakan aspek lain yang sama pentingnya: memperkuat hubungan dengan Zhou Feng dan memastikan rencana perbaikan wilayah utara tetap berjalan sesuai rencana.

Ia mengunjungi Zhou Feng beberapa hari kemudian, membawa kabar tentang perkembangan sistem irigasi yang mulai dibangun berdasarkan rencana yang telah mereka susun bersama.

"Pekerja sudah mulai menggali jalur pengalihan air dari sungai utara," lapor Zhou Feng, wajahnya menunjukkan semangat yang jauh berbeda dari kesan lesu yang biasa melekat padanya. "Menurut perkiraan kepala pekerja, jika cuaca mendukung, sistem ini bisa selesai dalam waktu dua bulan."

"Bagus," kata Zhou Chen. "Tapi aku juga ingin membicarakan hal lain denganmu."

Ia menjelaskan secara singkat tentang serangan di jalur dagang, keterlibatan mata-mata Xiao Mei, dan kelompok bayaran Gagak Hitam yang mulai muncul dalam penyelidikannya—tanpa menyebutkan detail tentang Mata Dewa atau Kitab Langit Tanpa Akhir, tentu saja.

Zhou Feng mendengarkan dengan seksama, wajahnya semakin serius seiring cerita berlanjut.

"Kakak," katanya akhirnya, "hamba pikir, mungkin sudah waktunya kita memperluas jaringan informasi kita sendiri. Rakyat di wilayahku sering mendengar berbagai kabar dari pedagang yang lewat—informasi yang mungkin tidak sampai ke telinga istana secara resmi."

Zhou Chen tersenyum tipis, menghargai inisiatif yang mulai tumbuh dari sekutunya ini. "Ide bagus. Kalau begitu, mulai sekarang, mari kita saling berbagi informasi yang kita dapatkan. Semakin banyak mata dan telinga yang bisa kita percaya, semakin sulit bagi pihak lain untuk bergerak diam-diam melawan kita."

Namun tidak semua perkembangan berjalan mulus.

Suatu sore, saat Zhou Chen sedang mengawasi latihan gabungan kelima anggota kelompoknya, seorang utusan dari istana utama datang membawa pesan resmi dari Raja Zhou Tian.

"Yang Mulia dipanggil menghadap Raja," kata utusan itu, nadanya formal namun terdengar sedikit tegang. "Segera, di ruang pribadi Baginda."

Zhou Chen menghentikan pengawasannya, sedikit terkejut dengan panggilan mendadak ini. Pertemuan pribadi dengan Raja bukanlah hal biasa, terutama bagi seorang pangeran yang selama ini dianggap tidak terlalu penting dalam struktur kekuasaan istana.

Apakah ini tentang serangan di jalur dagang? Atau mungkin, seseorang sudah melaporkan perubahan mencurigakan dalam diriku kepada Ayahanda?

Dengan pikiran yang berkecamuk, ia segera bergegas menuju ruang pribadi Raja, ditemani firasat bahwa pertemuan ini akan menjadi titik penting dalam perjalanannya di Kerajaan Zhou.

Ruang pribadi Raja jauh lebih sederhana dibandingkan Aula Utama yang megah—hanya sebuah ruangan kecil dengan meja kerja sederhana, rak-rak berisi dokumen kerajaan, dan sebuah jendela besar yang menghadap taman belakang istana.

Raja Zhou Tian duduk di belakang mejanya, wajahnya menunjukkan kelelahan yang jarang terlihat di hadapan publik. Ketika Zhou Chen masuk dan memberi hormat, sang Raja mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia duduk di kursi seberang.

"Li," katanya, menggunakan nama panggilan pribadi yang jarang ia pakai di luar percakapan keluarga, "aku mendengar berbagai kabar tentangmu belakangan ini."

Zhou Chen menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang, meski jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. "Kabar seperti apa, Ayahanda?"

"Bahwa kau mulai serius mengurus jalur dagang. Bahwa kau membantu adikmu, Feng, memperbaiki wilayah utara tanpa diminta. Bahwa kau mulai mengumpulkan orang-orang yang selama ini dianggap tidak berguna oleh yang lain." Raja Zhou Tian menatapnya lekat-lekat, matanya penuh selidik namun tidak sepenuhnya bermusuhan. "Perubahan macam apa yang terjadi padamu setelah insiden di Hutan Terlarang itu?"

Zhou Chen terdiam sejenak, menyadari bahwa ini adalah momen krusial—jawaban yang ia berikan bisa menentukan bagaimana sang Raja memandangnya untuk waktu yang lama ke depan.

Ia menarik napas dalam, lalu menjawab dengan hati-hati namun jujur sejauh yang bisa ia ungkapkan.

"Ayahanda," katanya, "hampir kehilangan nyawa membuatku menyadari sesuatu. Selama ini aku terlalu sibuk mengejar petualangan tanpa arah, tanpa benar-benar memikirkan masa depan kerajaan ini—atau masa depanku sendiri. Aku mungkin bukan yang terkuat di antara saudara-saudaraku, dan aku tidak berambisi merebut takhta dengan kekerasan. Tapi aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berguna bagi Zhou—dengan caraku sendiri."

Raja Zhou Tian menatapnya lama, mencoba membaca ketulusan di balik kata-kata itu. Setelah keheningan panjang yang terasa seperti berjam-jam bagi Zhou Chen, sang Raja akhirnya menghela napas pelan, sebuah senyum tipis—jarang terlihat—mulai muncul di wajahnya yang lelah.

"Kalau begitu," katanya, "buktikan itu. Kerajaan ini membutuhkan lebih banyak orang seperti yang baru saja kau gambarkan—bukan hanya yang haus kekuasaan, tapi yang benar-benar peduli pada masa depannya."

Ia mengambil sebuah gulungan dari mejanya, menyerahkannya kepada Zhou Chen.

"Aku memberimu wewenang resmi untuk mengelola sebagian dana kerajaan yang dialokasikan untuk pengembangan jalur dagang dan infrastruktur wilayah. Gunakan dengan bijak."

Zhou Chen menerima gulungan itu dengan tangan yang sedikit gemetar, menyadari betapa besar makna dari kepercayaan yang baru saja diberikan kepadanya—sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia dapatkan secepat ini.

"Terima kasih, Ayahanda," katanya, membungkuk dalam-dalam. "Hamba tidak akan mengecewakan kepercayaan ini."

Keluar dari ruang pribadi Raja, Zhou Chen berjalan menyusuri koridor istana dengan pikiran yang dipenuhi berbagai perasaan—lega, terkejut, namun juga waspada. Dukungan resmi dari sang Raja adalah langkah besar bagi rencananya, tetapi ia juga tahu, ini akan membuatnya semakin menonjol di mata saudara-saudaranya yang lain.

Sekarang aku bukan lagi sekadar Pangeran Keempat yang tidak berbahaya, pikirnya, menatap gulungan wewenang di tangannya. Aku baru saja menjadi seseorang yang harus diperhitungkan.

Di kejauhan, dari balik salah satu jendela istana, sepasang mata mengamatinya dengan seksama—Zhou Ming, yang telah lama menunggu kesempatan untuk memastikan dugaannya sendiri.

Jadi benar, pikirnya, menyaksikan Zhou Chen berjalan dengan langkah yang jauh lebih mantap dari biasanya. Pangeran Keempat memang sedang membangun sesuatu yang besar. Pertanyaannya sekarang—apakah dia akan menjadi sekutu, atau ancaman yang harus disingkirkan lebih dulu?

Bersambung ke Bab 12 — Tawaran dari Sang Pengumpul Informasi

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!