NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Namun momen yang paling tidak diduga terjadi beberapa minggu kemudian. Hari itu Ella demam. Tidak tinggi. Tetapi cukup membuat anak lima tahun itu rewel sepanjang hari. Vivi menemaninya sejak pagi. Mengompres. Menyuapi. Membacakan cerita. Menemaninya tidur. Menjelang sore, Ella akhirnya tertidur di pangkuannya. Lalu terbangun lagi beberapa jam kemudian. Masih setengah sadar. Masih mengantuk. "Mama..." gumam Ella pelan. Vivi membeku. "Mama..." ulang Ella lagi. Sambil memeluk pinggangnya.

Ruangan mendadak sunyi. Sean yang sedang membaca buku mengangkat kepala. Yuan berhenti menulis. Saka membelalakkan mata. Bahkan Vivi sendiri tidak bergerak. Karena ia tahu. Ella tidak sengaja mengucapkannya. Anak itu sedang demam. Sedang mengantuk. Namun beberapa detik kemudian Ella membuka mata. Menatap Vivi.Lalu sadar apa yang baru saja dikatakannya. Pipi kecil itu langsung memerah. "Aku..." Ella tampak panik.

Vivi tersenyum lembut. Lalu mengusap rambutnya. "Tidak apa-apa."

Air mata mendadak memenuhi mata Ella. "Aku kangen Mama."

Vivi memeluknya. "Aku tahu."

"Kalau aku panggil Mama..." Ella terisak. "Mama yang dulu marah nggak?" Pertanyaan itu membuat Vivi menahan napas. Lalu menjawab dengan gelengan kepala. "Kenapa?"

"Karena Mama yang dulu sangat menyayangimu."

Ella menangis semakin keras.Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia memeluk Vivi tanpa rasa bersalah.

Baskara yang Mulai Melihat Perubahan terbesar justru datang dari seseorang yang paling sulit dibaca. Selama ini hubungan mereka seperti kerja sama. Baskara menghormatinya. Tetapi belum benar-benar membuka hati. Sampai suatu malam. Ia pulang lebih awal. Dan mendapati sesuatu yang sederhana. Di ruang keluarga, Yuan sedang belajar. Saka merakit sesuatu. Ella tertidur di sofa. Lili tidur di pangkuan Vivi. Dan Sean sedang bercerita. Dengan semangat. Kepada Vivi.

Baskara berhenti di ambang pintu. Tidak ada yang menyadari kedatangannya. Ia hanya berdiri. Memperhatikan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama Rumah itu tidak terlihat seperti rumah yang kehilangan sesuatu. Melainkan rumah yang sedang sembuh.

Baskara memperhatikan Vivi yang mendengarkan Sean dengan sabar. Membantu Yuan. Menutupi tubuh Ella dengan selimut. Dan menggendong Lili yang tertidur. Semuanya dalam waktu yang bersamaan. Tidak ada yang memintanya melakukan itu. Tidak ada yang memaksanya. Tidak ada yang membayarnya. Ia melakukannya karena memang peduli.

Saat itu Baskara akhirnya menyadari sesuatu. Perempuan ini tidak sedang mencoba menggantikan siapa pun. Tidak sedang merebut posisi siapa pun. Tidak sedang mengambil alih keluarga mereka. Ia sedang membangun tempatnya sendiri di hati mereka. Dengan kesabaran. Dengan ketulusan. Dan dengan cinta yang tidak pernah dipaksakan. Malam itu, ketika Vivi hendak membawa Lili ke kamar, Baskara menghentikannya sebentar. "Vivi."

Perempuan itu menoleh. "Ya?"

Baskara terdiam beberapa saat. Seolah mencari kata yang tepat. Lalu akhirnya berkata, "Terima kasih." Sesederhana itu. Namun bagi Vivi, itu adalah ucapan yang telah lama ia tunggu. Karena untuk pertama kalinya Baskara tidak berbicara kepadanya sebagai guru. Bukan sebagai solusi. Bukan sebagai wanita yang dinikahinya karena keadaan. Melainkan sebagai seseorang yang benar-benar telah menjadi bagian dari keluarganya.

***

Minggu pagi itu untuk pertama kalinya sejak menikah, Vivi berdiri di depan cermin sambil memilih kerudung yang akan dipakainya. Tidak ada acara khusus. Ia hanya ingin pulang ke rumah orangtuanya. Rumah yang jaraknya bahkan tidak sampai satu jam perjalanan dari sini. Namun entah kenapa, setelah menikah dan tinggal di rumah Baskara, rumah itu terasa sangat jauh. Mungkin karena begitu banyak hal yang terjadi. Atau mungkin karena ia terlalu sibuk menjadi istri dan ibu sambung sampai lupa menjadi anak.

Saat turun ke ruang makan, Vivi mendapati Baskara sedang membaca koran digital di tablet. Anak-anak masih sarapan. Lili bahkan masih duduk di pangkuannya. Vivi menarik kursi. "Mas."

Baskara menoleh. Masih terasa aneh dipanggil seperti itu. Namun kini tidak lagi secanggung dulu. Mereka memang selamat, setelah anak-anak menerima Vivi maka mereka akan mengubah panggilan untuk membuat keadaan benar-benar seperti keluarga. "Hm?"

"Hari ini aku mau pulang sebentar ke rumah Bapak dan Ibu."

Baskara langsung mengangkat kepala. "Pulang?"

"Iya."

Baskara tampak berpikir. Lalu berkata, "Tapi jangan lama-lama ya. Tolong jangan menginap juga." Kini bahkan Yuan dan Sean ikut memperhatikan. Karena nada suara ayah mereka terdengar aneh.

"Kenapa memangnya?" tanya Vivi.

Baskara menatapnya beberapa detik. Seolah sedang mempertimbangkan apakah harus jujur atau tidak. Lalu akhirnya ia menyerah. "Karena kami semua akan merindukanmu."

Vivi berkedip. Sekali. Dua kali. Ia benar-benar tidak menyangka jawaban itu. Yang lebih mengejutkan Baskara mengatakannya dengan wajah serius. Seolah itu fakta yang sangat wajar. "Kami?" ulang Vivi. "Siapa kami?"

"Ya..." Baskara mulai salah tingkah. Terlambat. Karena semua anak sekarang sedang menatapnya. Sean menyeringai kecil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya melihat ayahnya terlihat gugup.

"Ayah ketahuan." kata Yuan.

"Diam." jawab Baskara cepat.

Namun Saka langsung ikut menimpali. "Aku juga bakal kangen."

Ella mengangkat tangan. "Aku juga."

Lili yang tidak sepenuhnya mengerti ikut berteriak, "Aku juga!"

Ruangan langsung dipenuhi tawa. Vivi menatap satu per satu wajah di meja makan itu. Anak-anak yang dulu ingin mengusirnya. Rumah yang dulu terasa asing. Keluarga yang dulu terasa seperti beban besar. Dan tanpa sadar matanya mulai hangat. Karena baru beberapa minggu lalu ia duduk sendirian di dapur, bertanya-tanya apakah keluarga ini akan pernah membalas perasaannya. Apakah ada tempat untuknya. Apakah ada yang akan benar-benar merindukannya jika ia pergi. Hari ini ia mendapatkan jawabannya. Mungkin belum sempurna. Mungkin belum sepenuhnya. Namun jawabannya ada. "Baiklah." Vivi tersenyum. "Aku nggak akan menginap."

"Pulang sebelum makan malam?" tanya Sean.

Vivi menoleh kaget. Karena pertanyaan itu datang dari orang yang dulu paling keras menolaknya.

Sean langsung pura-pura fokus pada sarapannya. "Aku cuma nanya." gumamnya.

Senyum Vivi semakin lebar. "Iya." katanya lembut. "Aku pulang sebelum makan malam." Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, kata "pulang" tidak lagi hanya berarti rumah orangtuanya. Karena tanpa disadari, rumah Baskara dan kelima anak itu juga sudah mulai menjadi rumahnya.

***

Rumah sederhana itu terasa sama seperti biasanya. Teras yang dipenuhi pot bunga milik ibunya. Pohon mangga di halaman. Kursi kayu tua yang selalu dipakai ayahnya setiap sore. Tidak ada yang berubah. Namun entah kenapa, Vivi merasa dirinya yang berubah.

Belum sempat mengetuk untuk kedua kalinya, pintu sudah terbuka. Ibunya muncul dengan wajah berbinar. "Vivi!" Perempuan itu langsung memeluk putrinya. Seolah Vivi baru pulang setelah bertahun-tahun merantau.

"Ibu..." Vivi tertawa. "Aku cuma tinggal beberapa kilometer dari sini."

"Tetap saja." Ibunya memegang kedua pipinya. "Ini pertama kalinya kamu pulang setelah menikah."

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!