NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Bayangan Tiga Puluh Tahun Lalu

Setelah pertarungan mereda, mereka berkumpul di dalam rumah Su Mei, luka-luka kecil dibalut seadanya sementara malam terus merambat menuju dini hari. Xiao Mu duduk di pangkuan Ji Ming, cahaya matanya masih berpendar waspada meski ancaman sudah mundur untuk sementara.

"Ceritakan," Ji Ming berkata, suaranya masih sedikit gemetar dari sisa ketegangan pertarungan. "Tentang ekspedisi tiga puluh tahun lalu. Tentang Tetua Kang."

Su Mei menghela napas panjang, melepas gelang pusaka dari pergelangan tangannya dan meletakkannya kembali ke kotak kayu dengan hati-hati, seolah setiap gerakan itu membawa beban kenangan yang berat.

"Tiga puluh tahun lalu, tak lama setelah pemusnahan besar sekte kami, sekelompok kecil murid dari beberapa sekte—termasuk Puncak Elang Hitam—mengorganisir ekspedisi rahasia ke reruntuhan sekte pengukir jiwa yang belum sempat dijarah habis. Alasan resminya adalah memastikan tak ada relik berbahaya yang tersisa untuk disalahgunakan pihak jahat." Su Mei menatap api lilin di depannya. "Alasan sesungguhnya, seperti yang kudengar bertahun-tahun kemudian dari sumber yang tak ingin kusebut namanya, adalah keserakahan biasa—relik-relik itu bernilai luar biasa, baik sebagai senjata maupun sebagai barang koleksi terlarang."

"Dan Tetua Kang ikut ekspedisi itu," Yun Xia menyimpulkan.

"Sebagai murid biasa, saat itu. Bukan tetua." Su Mei mengangguk. "Ekspedisi itu masuk ke salah satu ruang tersegel yang belum dibuka siapa pun sejak pemusnahan—mirip dengan Makam Terlarang tempat kau menemukan Guru Chen, Ji Ming, tapi jauh lebih dalam, lebih berbahaya. Dari dua belas orang yang masuk, hanya satu yang keluar hidup-hidup."

"Tetua Kang."

"Tetua Kang." Su Mei mengulangi nama itu dengan nada yang sulit diartikan—bukan sepenuhnya menuduh, tapi juga tak sepenuhnya percaya pada versi resmi cerita itu. "Ia kembali dengan cerita bahwa formasi pelindung kuno di dalam ruang itu runtuh tiba-tiba, menewaskan semua rekannya sementara ia berhasil kabur di detik-detik terakhir. Cerita itu diterima begitu saja oleh sektenya—pahlawan yang selamat dari tragedi, bukan tersangka yang perlu diinterogasi."

"Kau tidak percaya cerita itu."

"Aku tidak pernah punya bukti untuk tidak percaya, sampai malam ini." Su Mei menatap Ji Ming lurus-lurus. "Tapi reaksi panik seorang tetua sekte, tiga puluh tahun kemudian, saat mengetahui seorang murid buangan membuka ruang tersegel di Makam Terlarang miliknya sendiri—itu bukan reaksi orang yang hanya takut relik curian terbongkar. Itu reaksi orang yang takut sesuatu yang lebih pribadi, lebih gelap, ikut terbongkar bersamanya."

Ji Ming teringat wajah Tetua Kang saat itu—kepanikan murni sebelum buru-buru ditutupi kemarahan yang dibuat-buat. Kini, dengan konteks baru ini, kepanikan itu terasa jauh lebih berarti daripada sekadar takut reputasi sekte tercoreng.

"Apa yang sebenarnya ada di ruang tersegel itu?" Yun Xia bertanya. "Yang menewaskan sebelas orang tapi menyisakan satu?"

Su Mei menggeleng pelan. "Aku tidak tahu pasti. Tapi ada satu kemungkinan yang selalu menghantuiku sejak dulu—bahwa Mo Yan, pemimpin faksi yang memulai semua kekejaman itu, tidak sepenuhnya musnah saat pemusnahan besar terjadi. Beberapa dari kami yang selamat mendengar rumor bahwa jiwanya, atau setidaknya sebagian besar tekadnya, berhasil disembunyikan dalam sebuah wadah khusus sebelum tubuh aslinya dihancurkan—warisan gelap yang mungkin masih menunggu, di suatu tempat, untuk seseorang yang cukup lemah atau cukup serakah untuk membangunkannya kembali."

Ruangan itu hening sejenak, hanya suara angin malam yang berdesir di luar jendela.

"Kau pikir Tetua Kang menemukan wadah itu," Ji Ming berkata pelan, "dan sesuatu terjadi padanya di dalam sana."

"Aku tidak tahu pasti," Su Mei mengulangi, "tapi kalau dugaanku benar, maka pengejaran ini bukan lagi sekadar tentang relik curian atau reputasi sekte. Ini tentang seseorang yang sangat takut rahasia gelap dalam dirinya sendiri akan terbongkar—dan orang seperti itu, Nak, seringkali jauh lebih berbahaya daripada musuh biasa, karena mereka akan melakukan apa pun untuk memastikan kebenaran tak pernah keluar."

Menjelang fajar, setelah Su Mei akhirnya beristirahat, Ji Ming duduk sendirian di luar bersama Yun Xia, keduanya menatap langit yang perlahan berubah warna dari hitam ke jingga muda.

"Kau baik-baik saja?" Yun Xia bertanya, memperhatikan wajah Ji Ming yang tampak jauh lebih tenang dibanding jam-jam sebelumnya, meski matanya menyimpan kelelahan yang dalam.

"Aku terus memikirkan kata-kata Su Mei tentang Guru Chen," Ji Ming menjawab. "Bahwa yang membuat seninya layak diwariskan bukan kemarahan, tapi karena ia melindungi orang lain sampai akhir." Ia menatap Xiao Mu yang tertidur—atau setidaknya tampak tertidur—di pangkuannya. "Aku ingin jadi seperti itu. Bukan hanya lari dari masa laluku, tapi benar-benar membangun sesuatu yang berarti."

Yun Xia tersenyum, senyum tulus yang jarang ia tunjukkan. "Itu awal yang baik." Ia menatap ke kejauhan, ke arah selatan tempat Puncak Elang Hitam berdiri jauh di luar pandangan. "Aku sendiri punya alasan pribadi kenapa aku pertama kali menolongmu di jurang itu, alasan yang belum pernah kuceritakan sepenuhnya pada siapa pun sejak aku mulai mengembara sendirian."

"Kau tidak harus cerita kalau belum siap," Ji Ming berkata, mengingat kata-kata yang sama pernah diucapkan Yun Xia padanya.

"Aku tahu." Yun Xia menatapnya, matanya menyimpan sesuatu yang dalam, sesuatu yang belum sepenuhnya terungkap. "Tapi mungkin, setelah semua ini, aku akan siap. Untuk sekarang, mari fokus pada satu masalah dalam satu waktu—dan masalah kita sekarang adalah mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di ruang tersegel itu tiga puluh tahun lalu, sebelum Tetua Kang, atau apa pun yang mungkin bersembunyi di dalam dirinya, memutuskan untuk datang sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!