DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Gadis Petualang
Sore itu, cahaya matahari mulai miring, menyinari lantai kayu toko Karya Baja dengan warna keemasan yang hangat. Bunyi sapu yang menyapu serbuk logam halus terdengar berirama, satu-satunya suara di ruangan luas itu selain detak jam dinding tua. Kakashi sedang merapikan deretan bilah pedang di rak bagian depan, menyusunnya tegak lurus, memastikan gagangnya sejajar, menata seolah-olah bukan sekadar benda mati, melainkan penghuni yang dihormati.
Bel pintu berbunyi tiba-tiba — nyaring, riuh, seakan membawa angin segar dari luar.
"Ada siapa di sini?" suara itu terdengar lantang, jernih, dan penuh semangat, sebelum sosoknya sepenuhnya tampak.
Kakashi menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang gadis muda, rambut hitam pendek berantakan tertiup angin, pakaiannya berupa jubah perjalanan berwarna cokelat kehijauan yang tahan cuaca, dipadukan dengan celana ketat dan sepatu bot kulit yang tebal. Di punggungnya tersampir busur panjang kayu cokelat tua yang terlihat sudah sering dipakai, di sampingnya tergantung tas berisi anak panah, dan di pinggangnya melingkar sabuk penuh kantong kecil berisi perlengkapan petualang. Wajahnya memancarkan keceriaan yang tak bisa disembunyikan, matanya berkeliling menatap rak-rak senjata dengan tatapan akrab, seakan sedang menyapa teman-teman lama.
Ia melangkah masuk tanpa ragu, berjalan mendekati rak tempat anak panah disusun, lalu menyentuh sebilah kayu runcing dengan jemarinya yang kasar namun lincah.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Kakashi pelan, melangkah maju.
Gadis itu tidak menoleh seketika, masih memperhatikan ujung anak panah yang dipegangnya.
"Ah, aku mau membeli selusin anak panah baru dan sekalian memperbaiki busurku," jawabnya santai, suaranya tetap ceria. "Bagian tali di sini mulai kendur, dan ujung kayu di sisi kiri terasa sedikit melengkung. Tak mau ambil risiko saat di hutan nanti."
Kakashi mengangguk pelan. "Baik. Silakan serahkan busurnya padaku, nanti akan kuperiksa."
Baru saat kata-kata itu terucap, gadis itu berhenti bergerak. Perlahan ia menoleh, menatap Kakashi dari ujung kepala hingga kaki, alisnya terangkat sedikit, matanya melebar penuh tanda tanya.
"Eh?" suaranya terdengar heran. "Hei... sejak kapan ada wajah baru di sini? Kau pegawai baru?"
Kakashi mengangguk tipis, tersenyum samar. "Ya. Namaku Kakashi. Aku mulai bekerja di sini beberapa minggu yang lalu."
"Kakashi..." gadis itu mengulang namanya sambil menatapnya lekat-lekat, lalu menoleh ke arah ruang belakang. "Lalu di mana Paman Kara? Biasanya dia sendiri yang menyambutku."
"Guru Kara sedang mengerjakan pesanan khusus di ruang pandai besi," jawab Kakashi. "Beliau menyuruhku melayani pelanggan sampai matahari terbenam."
Saat itu juga, tirai kain di bagian belakang tersibak, dan Kara muncul sambil mengelap tangannya dengan kain bersih. Wajahnya yang tadi serius seketika melebar tersenyum saat melihat sosok gadis itu.
"Yurika!" serunya hangat. "Kau datang juga. Kukira kau masih tertahan di perbatasan utara."
Gadis yang dipanggil Yurika itu tersenyum lebar, melambaikan tangan. "Paman Kara! Perjalanan lebih cepat dari perkiraan. Jadi aku langsung ke sini begitu sampai di kota."
Ia menunjuk Kakashi dengan dagunya. "Jadi dia murid Paman? Dia tidak bilang siapa-siapa, aku kira aku salah masuk toko."
Kara tertawa pelan, berjalan mendekat dan meletakkan tangan di bahu Kakashi.
"Benar, dia murid baruku. Kakashi, ini Yurika. Dia pelanggan tetapku sejak masih kecil. Hampir setiap bulan ia datang ke sini — membeli anak panah, memperbaiki busur, atau sekadar bercerita tentang tempat-tempat yang ia kunjungi."
Yurika menyilangkan tangan di dada, menatap Kakashi dengan tatapan menilai namun ramah.
"Petualang tingkat B," ucapnya bangga, lalu menunjuk ke arah busur di punggungnya. "Orang-orang di kota ini menjulukiku Mata Angin."
"Mata Angin?" Kakashi mengulang pelan.
"Karena panahnya tak pernah meleset walau angin bertiup sekuat apa pun," sambung Kara sambil tersenyum bangga. "Di hutan lebat, di tebing tinggi, di tempat yang pandangan mata biasa terhalang — Yurika tetap bisa menembak tepat sasaran. Itulah sebabnya namanya dikenal luas di kalangan petualang muda."
Kakashi menatap gadis itu dengan kagum. Di balik wajah yang ceria dan tingkah yang lincah, tersimpan kemampuan yang tak dimiliki banyak orang. Ia membungkuk sedikit dengan sopan.
"Senang berkenalan denganmu, Yurika."
Yurika tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangan dengan jabat tangan yang kuat dan tegas.
"Saling mengenal, Kakashi! Semoga kita bisa akrab. Toko ini sudah seperti rumah keduaku, jadi jangan kaku-kaku padaku, ya."
Ia melepaskan busur dari punggungnya dan menyerahkannya kepada Kakashi. Kayunya halus karena sering dipegang, talinya terlihat kokoh namun benar-benar mulai kendur di bagian tengah.
"Lihat, tali ini sudah tidak kencang lagi. Kalau dipakai menembak jarak jauh, arahnya bisa melenceng," katanya sambil menunjuk bagian itu. "Dan aku butuh anak panah dengan ujung besi yang tajam tapi tidak terlalu berat — aku akan pergi ke hutan di kaki gunung bulan depan, jalannya semak belukar, jadi butuh yang bisa menembus dedaunan tanpa kehilangan tenaga."
Kakashi memegang busur itu dengan hati-hati, merasakan keseimbangannya. Ia memutarnya perlahan, memperhatikan lengkungan kayunya, lalu mengangguk mantap.
"Akan kuperbaiki secepatnya. Tali akan kuganti dengan yang lebih kuat dan lentur, lalu kusetel ketegangannya agar pas dengan kekuatan tarikan tanganmu. Anak panahnya akan kusiapkan sesuai permintaan."
Yurika terkejut mendengar jawabannya yang begitu yakin. Ia menoleh ke arah Kara.
"Dia sudah pandai begitu cepat?"
Kara tersenyum bangga. "Kakashi belajar dengan sungguh-sungguh. Ia tidak hanya melihat benda, tapi merasakannya. Percayalah padanya, pekerjaannya rapi dan teliti."
Mendengar itu, wajah Yurika berseri-seri. Ia kembali menatap Kakashi dengan pandangan yang lebih hangat.
"Baiklah, aku percaya! Kalau begitu aku tunggu tiga hari lagi, boleh?"
"Boleh," jawab Kakashi sambil tersenyum tipis. "Pasti selesai sebelum itu."
Yurika mengangguk puas, lalu berjalan berkeliling melihat senjata-senjata baru yang dipajang. Sesekali ia bertanya kepada Kara — tentang pedang yang baru ditempa, tentang bahan yang dipakai untuk tameng, tentang berita petualang lain yang juga pernah datang ke toko. Kakashi memperhatikannya dari kejauhan, merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Di sini, di ruangan yang dipenuhi benda-benda tempur, gadis itu berbicara dengan antusiasme yang tulus, tanpa beban, tanpa rasa takut.
Sebelum beranjak pulang, Yurika berhenti di depan pintu, menoleh ke arah Kakashi yang sedang menyimpan busurnya ke tempat kerja.
"Kakashi!" panggilnya ceria.
Pemuda itu menoleh. "Ya?"
"Besok sore aku datang lagi, boleh kan? Aku ingin lihat-lihat sambil menunggu pesananku selesai."
Kakashi mengangguk. "Tentu saja. Pintu selalu terbuka."
"Baiklah! Sampai jumpa!"
Ia melambaikan tangan lalu pergi, meninggalkan jejak langkah yang ringan di jalanan kota. Kakashi berdiri di ambang pintu sejenak, melihat punggungnya yang menjauh, merasakan udara sore yang sejuk menyapu wajahnya.
"Dia gadis yang baik," ucapnya pelan.
Kara berdiri di sampingnya, ikut menatap ke arah pintu.
"Ya," jawabnya lembut. "Ayahnya juga seorang petualang, tewas saat melindungi rombongan beberapa tahun lalu. Sejak itu ia berjuang sendirian — belajar memanah, menerima tugas-tugas, menafkahi dirinya dan ibunya. Ia tersenyum riang setiap hari, tapi sebenarnya ia memikul beban yang tak kalah berat darimu."
Kakashi terdiam. Ternyata di balik senyum yang begitu cerah, tersembunyi perjuangan yang tak terlihat.
"Jadi kami sama..." gumamnya pelan. "Sama-sama berjalan sendirian."
Kara menepuk bahunya pelan.
"Karena itulah pertemuan kalian mungkin bukan kebetulan. Kadang, orang yang paling paham akan kesepian adalah orang yang bisa menemanimu melewatinya."
Sore itu, saat Kakashi mulai bekerja mengencangkan tali busur Yurika, ia melakukannya dengan hati-hati, penuh perhatian, seakan sedang merawat sesuatu yang berharga. Cahaya api tungku menyinari wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia datang ke kota itu, ia merasa ada sesuatu yang baru sedang tumbuh — bukan sekadar pekerjaan, bukan sekadar tempat tinggal, melainkan awal dari sebuah persahabatan yang mungkin akan mengubah jalannya perjalanannya.
Busur itu kembali kokoh di tangannya. Sempurna, siap dipakai. Dan di luar sana, angin sore bertiup lembut, membawa kabar bahwa perjalanan panjangnya belum berakhir — kini ia tidak lagi sendirian.