Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (30)
Penulis: Linda Lubi
"Tumben Mbak Kun, makannya pelan-pelan? Sariawan ya?" Nurdin menggigit daging di tulang iga.
"Ahihihi...bisa aja kamu, Nur." Mbak Kunti jadi malu.
Nurdin memang sangat perhatian. Sampai gaya makan aja diperhatikan. Tau aja Nurdin kalau Mbak Kunti selama dekat dengannya, gaya makan pasti gragas. Dalam hitungan Nurdin lupa bernapas pun, makanan Mbak Kunti pasti cepat
habis.
"Sambil makan sambil cerita dong, ngapa istrimu nggak ada di rumah?" Nurdin baru saja menghabiskan sup iga-nya.
Nurdin kembali ke mode awal, murung. Sebenarnya ia sangat merindukan anaknya, Tampan. Ditanya Mbak Kunti, ia pun jadi mendadak rindu pada Salima. Padahal dia berusaha melawan rindu pada Salima, agar Salima lebih lama di rumah mertua Nurdin.
"Jadi waktu itu....." Nurdin menceritakan semua tentang huru hara saat aqiqahan anaknya.
Nurdin bercerita dengan adegan cepat. Mbak Kunti ngangguk-ngangguk lalu geleng-geleng. Suasana mereka seperti adegan suara kaset kusut.
Kadang-kadang Nurdin menangis tanpa malu-malu depan Mbak Kunti. Kadang-kadang ia tertawa karena merasa gagal jadi suami yang baik. Mbak Kunti mendengarkannya dengan kusyuk sambil makan sate kambing dan sapi yang dicampurkan jadi 1 porsi. Bumbu kacangnya medok banget sedangkan kuah sate Matang-nya ia, terasing di bowl. Ia seruput dengan nikmat.
Nurdin terus curhat hingga makanan mereka habis semua. Nurdin melanjutkan curhatnya yang berepisode. Mbak Kunti lagi-lagi pakai koyok yang ia sihir, dicuri dari warung.
Mereka pun merebahkan diri sambil memandang atap sawung, bukan rembulan. Atap yang terbuat dari seng. Bukan atap daun nipah.
"Trus Mbak Kunti sekarang tinggal di mana? Cerita dong!" Nurdin terlonjak kaget begitu melihat jidat Mbak Kunti sudah ditempelin koyok, saat ia memiringkan badan agar bisa melihat wajah Mbak Kunti.
"Ahihihi...biasalah Nur, setiap mendengar curhatmu aku selalu pakai koyok. Radiasinya membuat kepalaku sakit," Nurdin dan Mbak Kunti ngakak bareng. "Begini ceritanya....." Lalu Mbak Kunti bercerita.
Ia bercerita tentang perjalanannya naik Fuso sampai bagaimana ia bisa bertahan hidup di Binjai. Mbak Kunti lupa kalau dia bukan manusia. Kok bertahan hidup? Gkgkgk. Ngadi-ngadi aja.
Nurdin tertidur. Mbak Kunti belum menyadarinya. Mbak Kunti masih saja curhat. Ekspresinya gonta ganti. Terkadang menangis. Terkadang tertawa. Ia benar-benar melepaskan semua resah di hatinya.
"Aku benar-benar merindukan-mu, Nur." Mbak Kunti berusaha jujur.
Masalah Nurdin mau marah atau senang itu urusan belakangan. Yang penting Nurdin harus tau bahwa Mbak Kunti jatuh cinta padanya. Mbak Kunti seperti mendengar suara dengkuran. Mbak Kunti memiringkan tubuhnya. Ia ingin melihat reaksi Nurdin. Ternyata Nurdin sudah mendengkur. Ia tertidur pulas.
Mbak Kunti jadi keki. Sudah capek-capek curhat, ia malah tertidur. Ihhh.....
Malam semakin larut. Mbak Kunti harus pulang. Ia pun menggendong Nurdin. Ia terbang membawa Nurdin pulang ke rumahnya. Andai saja Nurdin tidak tidur, ia pasti speechless melihat perjalanannya pulang ke rumah dengan terbang. Bukan menghilang seperti biasa.
Berat juga Nurdin. Mbak Kunti memutuskan untuk menghilang saja. Jangan terbang lagi. Bisa encok ia jika menggendong Nurdin. Cling.....
Nurdin sudah ada di kamarnya. Ia pulas banget. Mbak Kunti menyelimutinya. Ia jadi sedih karena harus berpisah dengan Nurdin. Mbak Kunti menyihir 2 cup kopi getir ada di tangannya.
Dua cup kopi getir sudah di tangannya. Ia harus pulang. Mbak Kunti memandang wajah Nurdin agak lama. Lalu ia menangis dan menghilang. Cling.