NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Topeng Ramah di Atas Luka Lama

Berita mengenai tumbangnya Alya di koridor kantor menyebar cepat di kalangan petinggi perusahaan. Meski insiden keributan dengan Rendy berhasil diredam oleh tim Kai—dengan dalih Rendy telah melakukan tindakan tidak sopan yang memicu serangan cemas sang Direktur—Rendy sendiri kini berada dalam posisi yang sangat terdesak.

Namun di sisi lain, Rendy mulai dihantui kecurigaan yang makin membakar kepalanya. Kenapa reaksi Alya sewaktu melihatnya memegang benda tajam bisa se-histeris itu? Seolah-olah Alya tahu persis rasa sakit yang pernah ada... Seolah-olah Alya memandangnya seperti seorang pembunuh. Rendy bertanya-tanya apakah Alya menyimpan rahasia besar tentang perselingkuhannya dengan Siska. Tapi anehnya, selama ini sikap Alya kepada Siska selalu tampak biasa saja, tetap profesional, bahkan terkesan ramah dan tidak mencurigai apa pun.

Keesokan harinya, ruang rawat VIP Alya di Rumah Sakit Internasional tampak tenang. Bau harum bunga lili putih yang dikirimkan oleh keluarga menyebarkan aroma menenangkan. Alya sudah duduk bersandar di atas ranjang medis dengan wajah yang jauh lebih segar, ditemani oleh Kai yang setia duduk di sampingnya seraya mengupas buah apel untuknya.

Tiba-tiba, ketukan di pintu terdengar. Sebelum Alya sempat merespons, pintu terdorong terbuka.

Ibu Rendy—Hj. Endang—melangkah masuk dengan raut wajah yang dibuat-buat sangat cemas, disusul oleh Rendy yang tampak kaku dengan bekas lebam samar di sudut bibirnya, serta Siska yang berjalan mengekor di belakang mereka.

Siska tampak mengenakan gaun terusan sopan dengan warna lembut. Pria dan dua wanita itu datang membawa parsel buah berukuran besar. Siska, yang begitu terobsesi ingin menarik hati Hj. Endang dan membuktikan dirinya pantas menjadi menantu idaman, bertindak sangat cekatan. Ia mendahului langkah semua orang, mengambil alih parsel, dan menaruhnya di atas meja dengan senyuman yang paling manis.

"Alya... Ya Allah, kamu tidak apa-apa, Nak?" seru Hj. Endang dengan suara melengking dramatis, langsung mendekati sisi ranjang Alya. "Ibu kaget sekali waktu Rendy bilang kamu pingsan di kantor! Katanya kamu mendadak kena serangan jantung atau cemas? Aduh, makanya jangan terlalu sibuk kerja, Al. Nanti tubuhmu kaget!"

Kai meletakkan pisau buahnya di atas piring kecil. Tatapan matanya seketika berubah sangat dingin dan menusuk ketika melihat kehadiran tiga orang tersebut. Kai berdiri perlahan, memosisikan dirinya di sebelah ranjang Alya bagaikan benteng yang kokoh.

"Ibu Endang," panggil Kai dengan nada suara yang terkontrol namun sarat teguran keras. "Bu Alya butuh banyak istirahat. Dokter menyarankan agar tidak banyak tamu yang mengganggu."

Hj. Endang menyunggingkan senyum canggung, sedikit gentar melihat aura dominan dari Kai Aditya. Namun ia dengan cepat memasang kembali raut wajah keibuannya. "Aduh, Pak Kai... Saya ini kan ibunya Rendy, calon mertua Alya juga istilahnya. Masak iya saya melarang diri saya sendiri menjenguk calon menantu?"

Mendengar kata 'calon menantu', sudut bibir Alya mengukir senyuman tipis—sebuah senyuman dingin yang tersembunyi rapat di balik raut wajahnya yang tampak lembut.

Siska, yang melihat Hj. Endang selesai berbicara, segera menyela dengan suara yang sangat manis dan santun. "Iya, Pak Kai. Tadi Tante Endang khawatir sekali sewaktu mendengar kabar Alya pingsan. Saya langsung antar Tante ke sini supaya Tante bisa tenang. Alya, ini aku bukakan buah naga segar ya? Tante Endang bilang kamu suka buah naga."

Siska mengambil mangkuk buah di meja, bersikap sangat rajin, patuh, dan perhatian. Ia ingin memamerkan di depan Hj. Endang betapa dirinya adalah wanita serba bisa, perhatian, dan jauh lebih pantas mendampingi Rendy ketimbang Alya.

Alya menatap Siska yang sedang berpura-pura menjadi calon menantu idaman di depan Hj. Endang. Pemandangan itu seketika memicu gelombang memori kelam dari kehidupan pertamanya untuk kembali berputar tajam di dalam benak Alya.

Kilas Balik Kehidupan Pertama...

Dalam kehidupan pertamanya, setelah resmi menikah dengan Rendy, Alya menjalani neraka dunia yang tak terlihat. Selama lima tahun berumah tangga, satu hal yang selalu menjadi senjata Hj. Endang untuk menindas dan memeras mental Alya adalah perkara keturunan.

Alya ingat betul bagaimana ia berjuang setengah mati agar bisa hamil. Ia menuruti semua tuntutan Hj. Endang dan Rendy. Alya menjalani diet ketat hingga tubuhnya kerap lemas, rutin mengonsumsi berbagai macam pil penyubur kandungan ber dosis tinggi yang membuat hormonnya berantakan, serta menjalani terapi medis yang menyakitkan. Namun, selama lima tahun itu, rahimnya tetap hampa.

Setiap kali acara keluarga, Hj. Endang selalu mencibir dan memojokkan Alya di depan kerabat lainnya.

"Kamu ini jadi wanita kok mandul, Al?" kata Hj. Endang kala itu dengan suara ketus tanpa perasaan. "Rendy itu anak tunggal Ibu! Dia butuh penerus! Kalau kamu tidak bisa kasih anak, buat apa kamu jadi istrinya? Kamu beruntung ya Rendy masih mau bertahan sama kamu. Kalau bukan karena orang tuamu kaya dan punya perusahaan, mana mau keluarga kami terima menantu yang tidak bisa memberikan keturunan seperti kamu!"

Cibiran itu menghantam dada Alya setiap hari, membakar rasa percaya dirinya hingga hancur berkeping-keping. Alya merasa dirinya adalah wanita yang serba kekurangan dan tidak berguna, sehingga ia pasrah saja saat hartanya dikuras habis oleh Rendy dan ibunya.

Dan puncaknya adalah pada malam berdarah itu...

Saat Alya tergeletak sekarat di atas lantai marmer yang dingin dengan perut tertusuk pisau oleh Rendy, pandangan mata Alya yang makin meredup sempat menangkap sosok Siska yang berjalan mendekat dari arah pintu.

Di detik-detik terakhir sebelum Alya memejamkan matanya untuk selamanya, ia melihat baby bump—perut Siska yang membuncit hamil anak hasil perselingkuhan haramnya dengan Rendy. Alya melihat bagaimana Rendy dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang merangkul pinggang Siska, mengusap perut hamil wanita itu dengan binar mata bangga dan bahagia—sebuah tatapan kasih sayang yang tidak pernah sekali pun Rendy berikan kepada Alya selama lima tahun pernikahan mereka.

Rendy menyayangi anak di dalam kandungan Siska... sementara nyawa Alya dihabisi tanpa ampun.

"Alya? Kamu melamun lagi?"

Suara halus Siska menghentak Alya kembali ke alam sadar. Siska sudah berdiri di samping ranjang seraya menyodorkan semangkuk buah yang sudah dipotong rapi, sementara Hj. Endang memandangnya dengan raut wajah menilai.

Alya menghembuskan napas pelan melalui hidungnya. Sensasi dingin bekas memori mengerikan itu menyapu dadanya, namun kali ini tidak ada lagi histeria atau rasa takut. Yang ada di dalam dada Alya saat ini hanyalah kebencian yang teramat dingin dan dendam yang telah tertata dengan sangat rapi.

Alya menatap Siska, lalu mengalihkan pandangannya pada Hj. Endang.

"Terima kasih perhatiannya, Bu Endang... dan Siska," kata Alya dengan nada suara yang sangat tenang, halus, dan penuh kesopanan yang berpura-pura. "Siska memang rajin sekali ya. Perhatian sekali pada Bu Endang, seperti sudah menjadi menantu kandung sendiri."

Wajah Siska mendadak merona merah gembira. Ia merasa pujian dari Alya adalah tanda bahwa aktingnya berhasil luar biasa dan Alya benar-benar polos tanpa rasa curiga sedikit pun.

"Ah, tidak kok, Al," jawab Siska seraya tersenyum malu-malu yang dibuat-buat, melirik ke arah Rendy yang berdiri kaku di sudut ruangan. "Aku cuma mau membantu Tante Endang. Tante Endang kan sudah seperti ibuku sendiri. Lagipula, aku senang kalau bisa bikin suasana keluarga kalian jadi hangat."

Hj. Endang tertawa terkekeh, mengusap bahu Siska dengan penuh rasa bangga. "Nah, dengar itu, Al! Siska ini memang pintar sekali mengambil hati orang tua. Kนrang apa coba? Sudah cantik, rajin, perhatian lagi. Zaman sekarang jarang ada wanita karier yang mau repot-repot melayani orang tua seperti Siska."

Rendy yang berdiri di dekat pintu mengusap tengkuknya yang tegang. Melihat Alya tersenyum ramah pada Siska membuat kewaspadaannya sedikit mengendur. Alya sepertinya memang tidak tahu apa-apa soal hubunganku dan Siska, pikir Rendy lega. Reaksinya kemarin pasti cuma karena dia kaget melihat ujung pulpen tajam itu.

"Alya," panggil Rendy seraya melangkah mendekat dengan raut wajah sok penyesalan. "Soal kejadian kemarin di kantor... aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud bikin kamu kaget atau takut. Aku cuma panik dan emosi karena laporan kerjaan."

Kai, yang berdiri di sisi lain ranjang, melangkah satu tapak lebih maju, memotong pandangan Rendy ke arah Alya. "Pak Rendy," potong Kai dengan suara yang sangat dingin dan memotong tajam. "Saya pikir penjelasan Anda di depan polisi besok akan jauh lebih berguna daripada minta maaf di kamar rawat ini."

Rendy tersentak. "M-maksud Pak Kai apa? Polisi?"

Alya mengangkat tangannya pelan, mengisyaratkan agar Kai memberi ruang padanya untuk berbicara. Kai melirik Alya sebentar, lalu mengangguk pelan dan mundur setengah langkah, tetap bersiap menjaga Alya.

Alya menatap Rendy dan Hj. Endang bergantian dengan binar mata yang jernih namun penuh arti terselubung.

"Rendy, Bu Endang," tutur Alya santai. "Kemarin saya memang sangat tertekan karena pekerjaan. Tapi soal hubungan kita... saya pikir kita memang perlu mengevaluasi semuanya dari awal."

Hj. Endang membelalakkan matanya, kaget. "Mengevaluasi bagaimana maksudmu, Al? Kamu jangan emosi dulu! Rendy itu cinta sekali sama kamu. Kalau soal pernikahan, Ibu kan sudah bilang, keluarga kami selalu terbuka untuk menerima kamu kapan saja! Walaupun... ya, nanti setelah nikah kamu harus pinter-pinter bagi waktu dan jaga kesehatan rahimmu ya. Jangan sampai telat punya anak."

Sindiran halus khas Hj. Endang tentang anak kembali keluar secara refleks.

Alya terkekeh pelan—sebuah tawa tipis yang membuat Siska dan Rendy mendadak merasa ada sesuatu yang aneh.

"Soal keturunan..." kata Alya, tatapan matanya mengunci wajah Siska dengan sangat dalam, "Ibu Endang tidak perlu cemas. Saya yakin, tidak lama lagi Bu Endang akan mendapatkan calon cucu dari wanita yang sangat tepat. Bukankah begitu, Siska?"

Siska mendadak membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Kenapa Alya menatapku seperti itu? Apa dia tahu sesuatu?!

"M-maksud kamu apa, Al?" tanyanya terbata-bata dengan wajah yang mulai sedikit pucat. "Kenapa... kenapa tanya ke aku?"

"Lho, bukannya Siska selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kita?" senyum Alya makin lebar dan manis, sangat sempurna menutup racun di balik kata-katanya. "Aku cuma bilang, orang se-rajin dan se-perhatian kamu pasti akan memberikan banyak kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarmu."

Hj. Endang yang tidak menyadari kejanggalan dalam dialog itu justru mengangguk-angguk setuju. "Betul itu! Siska ini memang membawa keberuntungan. Tapi tetap saja, Al, yang bakal jadi menantu utama di rumah besar kami kan kamu. Asal kamu nurut sama Rendy dan Ibu, semuanya pasti lancar."

Rendy mendekati ibunya, merasa atmosfer di dalam kamar rawat itu makin tidak nyaman dan berisiko. "Ibu, sebaiknya kita biarkan Alya beristirahat dulu. Dokter tadi bilang Alya tidak boleh terlalu banyak bicara."

"Ah, iya benar," sahut Hj. Endang. Ia lalu berpaling menatap Alya. "Ya sudah, Al. Ibu pulang dulu ya. Kamu cepat sembuh. Biar nanti kalau kamu sudah keluar rumah sakit, kita bisa bahas lagi soal rencana acara pertunangan kamu dan Rendy."

"Terima kasih atas kunjungannya, Bu Endang," jawab Alya dengan suara yang sangat santun.

Siska meletakkan mangkuk buah di atas meja samping ranjang, lalu menatap Alya dengan senyuman kaku. "Aku pamit dulu ya, Alya. Cepat sembuh."

"Iya, Siska. Hati-hati di jalan ya," balur Alya datar. "Jaga kesehatanmu baik-baik. Jangan sampai terlalu lelah... kasihan tubuhmu."

Siska makin merinding mendengar ucapan terakhir Alya. Tanpa menjawab lagi, Siska bergegas menyusul Rendy dan Hj. Endang yang sudah melangkah keluar dari kamar rawat.

Pintu kayu tebal itu akhirnya tertutup rapat, mengunci kembali keheningan di dalam ruang rawat VIP.

Begitu ketiga orang itu menghilang dari pandangan, raut wajah manis dan santun pada wajah Alya seketika runtuh sepenuhnya. Wajahnya berubah menjadi sangat dingin, matanya menatap pintu dengan kilatan ketajaman yang menakutkan.

Kai melangkah mendekat, duduk kembali di kursi di sebelah Alya. Ia meraih telapak tangan Alya yang terasa agak dingin, menggenggamnya rapat-rapt untuk menyalurkan kehangatan.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kai dengan suara yang sangat lembut dan penuh kepedulian. "Saya bisa saja mengusir mereka sejak detik pertama mereka melangkahkan kaki ke dalam ruangan ini."

Alya menoleh menatap Kai. Senyuman hangat yang tulus kini benar-benar terukir di bibirnya saat memandangi pria yang selalu melindunginya itu.

"Tidak perlu, Kai," bisik Alya pelan. "Melihat mereka bertingkah sok suci dan merasa di atas angin justru membuatku makin yakin... bahwa kejatuhan mereka nanti akan terasa sepuluh kali lebih menyakitkan."

Kai menatap Alya dengan senyuman bangga. Tangan Kai terulur, mengusap pipi Alya secara lembut. "Rendy dan ibunya tidak tahu saja... bahwa perangkap untuk dana tiga miliar dan kasus manipulasi anggaran mereka sudah selesai dipasang oleh tim hukum saya pagi ini."

Alya menaikkan alisnya, berbinar gembira. "Sudah selesai?"

"Sudah," jawab Kai mantap, matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. "Senin besok, begitu Rendy melangkah masuk ke kantor, surat pemanggilan dari Kepolisian dan kejaksaan atas dugaan penggelapan dana dan penipuan investasi akan langsung diserahkan ke tangannya. Dan soal Siska..."

Kai menggantungkan kalimatnya sebentar, menatap Alya dengan binar jahil. "...bukti perselingkuhan mereka dan hasil pemeriksaan medis rahasia dari klinik kandungan sudah ada di tangan Maya. Tinggal menunggu aba-aba darimu kapan bom itu ingin kamu ledakkan di depan muka Hj. Endang."

Alya menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kai yang berada di dekatnya. Ia menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari tubuh Kai, merasakan kedamaian luar biasa yang tidak pernah ia dapatkan di kehidupan pertamanya.

Dulu, ia membiarkan dirinya diinjak-injak, dihina mandul, dan diselingkuhi hingga tewas mengenaskan di ujung pisau Rendy. Tapi sekarang, takdir telah berputar balik. Alya adalah pemegang kendali atas kehidupan dan kematian karier mereka semua.

"Biarkan Hj. Endang menikmati mimpi indahnya punya menantu kaya sebentar lagi, Kai," bisik Alya dingin seraya menggenggam erat jemari Kai. "Karena begitu hari Senin tiba... aku akan memastikan seluruh kesombongan dan kebohongan keluarga mereka hancur berkeping-keping tanpa sisa."

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!