Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Malam di Bawah Lampu Meja
Gedung pencakar langit Lu Group telah lama tenggelam dalam keheningan malam ketika Lu Jingyan menyelesaikan seluruh dokumen akhir restrukturisasi di ruang kerjanya. Jam dinding antik berukir kayu mahoni di sudut ruangan menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh malam. Tidak ada lagi suara dering telepon kantor, tidak ada lagi langkah kaki sibuk para direktur atau suara ketukan dokumen di atas meja marmer. Di lantai paling atas itu, dunia luar seolah berhenti berputar, menyisakan ruang seluas ratusan meter persegi bagi seorang pria yang hidup di ambang batas hitungan mundur takdirnya.
Jingyan menyandarkan punggungnya yang letih pada kursi kerja kulit hitam. Ia melepas kacamata bacanya, lalu memijit pelipisnya yang berdenyut pelan. Di hadapannya, layar komputer jinjing masih menyala redup, menampilkan sebuah tab peramban internet yang sengaja ia buka sejak tadi sore—sebuah tautan halaman prapemesanan novel terbaru karya Aksara Handini yang berjudul Bayang-Bayang Mahoni.
Ia menatap sampul buku digital itu lekat-lekat. Desain sampulnya sederhana namun elegan: siluet bayangan seorang wanita berdiri di bawah temaram lampu jalan kota dengan latar belakang gedung-gedung tinggi, ditemani sehelai kelopak bunga kamboja putih di sudut bawahnya. Di bawah judul besar itu, tertera nama pena yang kini mulai merajai daftar pencarian populer sastra digital: Aksara Handini.
Jemari Jingyan terulur perlahan, menyentuh layar kaca seolah ia bisa merasakan tekstur kertas dari buku fisik yang sebentar lagi akan dicetak dan dipajang di etalase toko-toko buku seluruh negeri. Sebuah senyum tipis, tulus, dan teramat rapuh tersungging di sudut bibirnya.
"Kau berhasil, Meiying..." bisik Jingyan lirih, suaranya tenggelam dalam keheningan malam. "Kau terbang tinggi dengan sayapmu sendiri, jauh dari reruntuhan tempat aku dulu jatuh."
Namun, di balik kelegaan yang membuncah di dadanya, ada rasa perih yang merayap dingin di balik tulang rusuknya. Semakin cemerlang masa depan yang diraih oleh Meiying dan putrinya, semakin tipis pula sisa waktu yang ia miliki di dunia ini. Sisa detik kehidupan dalam raga Lu Jingyan kian meluruh bagaikan pasir yang lolos dari sela-sela jemari.
Di belahan kota yang berbeda, di dalam kamar ruko kecil di distrik utara yang kini telah direnovasi menjadi ruang kerja yang nyaman, sebuah lampu meja berlensa kuning menyala terang memancarkan pendar hangat di atas tumpukan kertas naskah.
Lin Meiying duduk bersimpuh di kursi kayunya. Matanya tampak lelah, namun binar semangat yang luar biasa jelas terpancar dari kedua bolanya. Di hadapannya terbentang cetakan halaman proof pertama dari penerbit nasional—salinan fisik mentah dari novel Bayang-Bayang Mahoni yang dikirimkan khusus untuk pemeriksaan akhir sebelum dicetak massal.
Meiying membalik halaman demi halaman naskah tersebut. Setiap kalimat yang ia baca bukan sekadar fiksi karangan semata, melainkan rekaman emosi dari perjalanan hidupnya sendiri. Tentang seorang buruh kasar yang hilang di balik beton dingin, tentang air mata seorang ibu tunggal di tengah malam yang sunyi, dan tentang bayangan seorang pelindung tak berwajah yang datang menyelamatkan di saat-saat paling putus asa.
Tangannya berhenti pada halaman terakhir bab penutup. Di sana, ia menuliskan sebuah kata pengantar khusus yang didedikasikan untuk seseorang yang tidak pernah sempat ia ucapkan terima kasihnya secara langsung:
“Untuk jiwa-jiwa yang hilang di balik reruntuhan malam, dan bagi bayangan mahoni yang selalu menjaga langkah kami di bawah terang fajar... terima kasih telah mengajariku arti ketegaran yang sesungguhnya.”
Seutas air mata hangat menetes perlahan, jatuh tepat di atas lembar kertas cetakan tersebut. Meiying segera mengusapnya dengan ujung jarinya, lalu tersenyum tipis. Ia tahu, meskipun raga suaminya telah tiada dan pria misterius berjas hitam itu memilih untuk menghilang dari kehidupannya secara perlahan, jejak keberadaan mereka telah meresap ke dalam setiap tarikan napas dan setiap huruf yang ia goreskan di atas kertas.
Ia meraih telepon genggamnya yang tergeletak di samping meja, membuka aplikasi pesan singkat, lalu menatap layar kontak yang tertera atas nama Pak Han. Jarinya sempat melayang di atas tombol ketik, berniat mengirimkan pesan ucapan terima kasih atas segala bantuan logistik dan moril yang terus diberikan oleh yayasan selama ini. Namun, ia membatalkannya. Ada batas-batas tak kasat mata yang menghormati privasi masing-masing pihak—sebuah jarak aman yang harus ia jaga agar ia bisa terus berdiri tegak sebagai seorang penulis independen yang mandiri.
Meiying beralih membuka aplikasi peramban internet, memeriksa forum diskusi pembaca novel digitalnya. Ribuan komentar positif memenuhi kolom ulasan Aksara Handini. Banyak dari mereka yang memuji bagaimana cara penulis menggambarkan ketulusan cinta seorang pelindung yang rela berkorban dalam diam tanpa meminta balasan apa pun.
Membaca ulasan-ulasan itu membuat dada Meiying bergemuruh. Ia mendongakkan kepalanya, menatap jendela kaca kamarnya yang memperlihatkan langit malam ibu kota yang mulai disapu oleh semburat fajar kebiruan di ujung timur.
"Apakah kau melihat ini dari sana...?" bisik Meiying pelan pada angin malam yang berhembus pelan melalui celah ventilasi. "Buku kita akan segera terbit, Guowei. Dan aku akan merawat Anqi dengan baik, sampai kapan pun."
Kembali ke ruang kerja pribadi lantai paling atas menara Lu Group, jarum jam kini menunjuk tepat pukul tiga pagi.
Lu Jingyan berdiri dari kursi kerjanya. Langkah kakinya terasa sedikit berat, namun ia memaksakan diri berjalan mendekati dinding kaca panorama yang menghadap langsung ke arah distrik utara kota—ke arah di mana rumah kecil tempat Meiying beristirahat berada.
Ia merentangkan napasnya dalam-dalam. Di dalam dadanya, denyut kehidupan itu kini berdetak semakin lambat, seolah bersiap untuk berhenti selamanya. Partikel-partikel cahaya keemasan yang sangat halus mulai berpendar tipis di ujung jemari tangannya, menandakan bahwa ikatan magis antara jiwanya dan raga Lu Jingyan telah mencapai batas akhir masa pinjamannya.
Jingyan menutup matanya rapat-rapat. Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan. Ia telah melihat wanita yang dicintainya tersenyum, putrinya tumbuh dengan aman, dan musuh-musuhnya tersingkir dari muka bumi.
Dari sudut ruangan yang gelap, sosok bayangan bergeser pelan. Sang penjaga takdir hadir tanpa suara, menatap Jingyan dengan sorot mata penuh kedamaian, mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa batas waktu telah genap.
"Aku siap," gumam Jingyan tanpa suara, membiarkan senyum terakhirnya terukir jelas di bawah temaram fajar yang mulai merekah di ufuk timur kota.