NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Detak Jantung di Ujung Waktu

Pagi itu, sinar matahari Jakarta merayap masuk melalui celah tirai kamar. Namun, kehangatan pagi sama sekali tak mampu mengusir rasa dingin yang mendadak menusuk hingga ke tulang belakang Alya.

Alya terbangun dengan napas memburu dan peluh dingin yang membasahi keningnya. Di dalam kepalanya, bayangan kelam dari masa lalu mendadak berputar bagaikan kaset rusak yang diputar ulang.

Sebuah ingatan yang teramat mengerikan.

Di kehidupan dan masa lalunya yang kelam, kedua orang tuanya tewas tragis dalam sebuah kecelakaan saat hendak berlibur ke Bali. Kejadian itu menjadi pukulan paling menghancurkan dalam hidup Alya—sebuah tragedi yang membuatnya kehilangan pilar pelindung terbesarnya, hingga Rendy dan Siska bisa dengan mudah menindas serta memanipulasi hidupnya tanpa ada keluarga yang membela.

Alya terduduk di tepi tempat tidur, memegangi dadanya yang berdetak teramat kencang.

Tanggal berapa hari ini? batin Alya menjerit dalam kepanikan yang luar biasa.

Ia menyambar ponselnya di atas meja samping tempat tidur. Matanya membelalak kaku. Tanggal yang tertera di layar adalah hari di mana kedua orang tuanya berencana berangkat menuju sebuah villa peristirahatan di pulau Bali!

Alya berhambur keluar dari kamar tanpa sempat mengganti gaun tidurnya, berlari cepat menuju lantai bawah. "Mama! Papa!" teriak Alya dengan suara gemetar.

Ia bergegas menuju meja makan. Di sana, piring sarapan dan cangkir kopi yang sudah dingin masih tergeletak di atas meja. Namun, ruang makan itu sunyi senyap. Tidak ada gelak tawa Papanya yang hangat atau usapan lembut Mamanya.

Seorang pelayan rumah yang sedang merapikan dapur terkejut melihat Alya berlari terengah-engah dengan wajah pucat pasi.

"Nona Alya? Ada apa, Nona?" tanya pelayan itu panik.

"Papa sama Mama mana?!" cerceh Alya, mencengkeram kedua bahu pelayan itu dengan mata yang membelalak penuh ketakutan. "Mereka di mana sekarang?!"

"Bapak dan Ibu baru saja berangkat sekitar lima belas menit yang lalu, Nona..." jawab pelayan itu cemas. "Bapak bilang mau ke Bandara Soekarno-Hatta untuk penerbangan pagi ke Bali. Bapak tidak mau membangunkan Nona karena kelihatannya Nona sangat lelah setelah acara kantor semalam..."

"TIDAK!" jerit Alya.

Dunia Alya serasa runtuh seketika. Kesadarannya terlambat beberapa menit! Rasa bersalah, ketakutan, dan kepanikan yang amat dahsyat mencengkeram dadanya hingga ia hampir sulit bernapas.

Ia tidak boleh membiarkan takdir kelam itu terulang! Ia tidak ingin kehilangan kedua orang tuanya untuk kedua kalinya!

Tanpa memikirkan penampilan, tanpa memedulikan sandal rumahan atau gaun tipis yang dikenakannya, Alya menyambar kunci mobil SUV hitam milik rumah yang terparkir di garasi. Ia melompat ke kursi kemudi, menekan tombol engine start, dan menancap gas sejadi-jadinya, membuat derit ban mobil terdengar nyaring membelah keheningan perumahan mewah itu.

Mobil SUV hitam itu membelah jalanan tol Jakarta dengan kecepatan tinggi. Alya menggenggam kemudi dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Air mata kecemasan menetes perlahan menembus Pipi mulusnya.

Sembari menembus kepadatan lalu lintas, Alya berulang kali menekan tombol panggilan cepat ke nomor ponsel Papanya, lalu berganti ke nomor Mamanya.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”

Suara mesin menjawab otomatis itu makin membakar kepanikan di dada Alya.

"Jawab, Pa... tolong jawab..." bisik Alya tersedu-sedu, matanya menatap tajam ke arah jalanan tol yang membentang. "Jangan pergi... Alya mohon jangan pergi..."

Dalam deru kecepatan mobilnya, Alya merogoh ponsel dan menekan tombol panggilan ke nomor Kai.

Hanya dalam satu detik, panggilan itu langsung terhubung.

"Alya? Ada apa? Suaramu kenapa?" suara Kai Aditya terdengar sangat cekatan dan sarat akan kekhawatiran di seberang sana.

"Kai..." tangis Alya pecah, suaranya terengah-engah dipenuhi histeria. "Orang tuaku... Papa sama Mama pergi ke bandara... Mereka mau ke Bali pagi ini, Kai! Aku harus menghentikan mereka! Aku nggak boleh biarkan mereka naik pesawat itu!"

Di ujung telepon, Kai yang menangkap kepanikan tak biasa dari Alya langsung menegakkan tubuhnya di balik meja kerja. Kai tidak bertanya kenapa atau menganggap Alya berlebihan. Bagi Kai, setiap ketakutan Alya adalah prioritas utamanya.

"Alya, tenang. Dengar suara saya," bisik Kai dengan nada tegas namun teramat hangat untuk menenangkan histeria Alya. "Kamu sekarang di mana? Jangan menyetir terlalu kencang, itu berbahaya!"

"Aku di tol menuju bandara, Kai! Aku takut... aku takut terlambat!" jerit Alya dengan derai air mata.

"Saya meluncur ke bandara sekarang," kata Kai tanpa ragu sedikit pun. "Tim saya di bandara akan langsung melacak keberadaan orang tuamu di terminal keberangkatan. Kamu fokus menyetir dengan aman. Percaya sama saya, Alya. Kita tidak akan terlambat."

"Cepat, Kai... tolong aku..." tangis Alya sebelum mematikan sambungan telepon.

Setibanya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Alya menghentikan mobilnya secara sembarangan di area drop-off. Ia melompat keluar dari mobil, berlari kencang menerobos kerumunan calon penumpang yang berlalu-lalang.

Rambutnya berantakan, gaun tidurnya terkena hembusan angin keras, dan kakinya yang tanpa alas sepatu yang sesuai terasa lecet. Namun Alya tidak peduli pada rasa sakit atau pandangan aneh orang-orang di sekitarnya.

Mata Alya menyapu seluruh sudut area check-in dan ruang tunggu utama dengan pandangan liar.

"Papa! Mama!" panggil Alya dengan suara serak, menyusup di antara antrean panjang penumpat.

Pikirannya dipenuhi bayangan buruk. Apakah mereka sudah masuk ke dalam pesawat? Apakah pesawatnya sudah lepas landas? Apakah takdir kejam itu sedang mengintai kehidupan orang tuanya saat ini juga?

Alya berlari menuju papan layar informasi penerbangan raksasa di tengah terminal. Matanya mencari jadwal penerbangan menuju Denpasar, Bali.

Di sana tertera: Flight GA-408 - Denpasar (Bali) - DEPARTED (07:30).

Alya membatu di tempatnya. Jam di dinding menunjukkan pukul 08:00 WIB.

Pesawat itu sudah berangkat tiga puluh menit yang lalu.

Lutut Alya seketika lemas. Dunianya serasa berguncang kencang. Ia memegangi dadanya yang sesak luar biasa, air matanya menetes deras membasahi pipinya. Alya merasa gagal. Rasa putus asa yang teramat dalam meremas sanubarinya hingga ia hampir ambruk ke lantai dingin bandara.

"Alya!"

Sebuah suara tegap dan tegas memanggil namanya. Sebelum tubuh Alya menyentuh lantai, dua lengan kekar yang sangat familier menangkap tubuhnya dengan sigap, merengkuh pinggangnya dan menahan beban tubuhnya.

Kai Aditya telah tiba.

Pria itu mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, napasnya agak terengah karena berlari menyusuri terminal. Wajah tampan Kai dipenuhi rasa cemas saat melihat kondisi Alya yang begitu rapuh dan berderai air mata.

"Alya! Kamu tidak apa-apa?" bisik Kai seraya mengusap lembut kepala Alya, menahan tubuh wanita itu di dalam pelukannya.

"Kai..." tangis Alya pecah di dada Kai, jemarinya mencengkeram erat kemeja hitam pria itu. "Aku terlambat, Kai... Pesawatnya sudah berangkat... Papa sama Mama sudah di dalam pesawat itu..."

Kai merengkuh bahu Alya lebih erat, berusaha memberikan ketenangan di tengah keputusasaan wanita yang dicintainya. "Ssstt... tenang, Alya. Dengarkan saya dulu—"

Sebelum Kai sempat menyelesaikan kalimatnya, suasana di sekitar hall utama bandara mendadak berubah gempar.

Gumam ketakutan dan bisik-bisik panik mulai terdengar dari ribuan calon penumpang di sekitar mereka. Orang-orang mulai menunjuk ke arah puluhan layar televisi siaran berita utama yang tergantung di sudut-sudut atas hall bandara.

Alya dan Kai refleks mengalihkan pandangan mereka ke arah layar televisi terdekat.

BREAKING NEWS: PESAWAT KOMERSIAL RUTE JAKARTA - DENPASAR (BALI) DENGAN NOMOR PENERBANGAN GA-408 DILAPORKAN HILANG KONTAK DUA PULUH MENIT SETELAH LEPAS LANDAS DI ATAS PERAIRAN LAUT JAWA.

Tulisan tebal berwarna merah menyala menyelimuti layar televisi tersebut. Pembawa berita dengan wajah tegang membacakan laporan darurat dari Badan SAR Nasional mengenai hilang kontak secara mendadak penerbangan tersebut.

DUAR!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, seluruh sendi tubuh Alya seketika kaku. Wajahnya berubah pucat pasi seputih kertas. Napasnya terhenti seketika.

Pesawat yang baru saja lepas landas tiga puluh menit lalu—pesawat yang Alya kira sedang ditumpangi oleh kedua orang tuanya—mengalami musibah hilang kontak di atas laut.

Dunia Alya mendadak menjadi senyap. Suara bising bandara menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah dentum kehancuran di dalam dadanya. Air mata Alya mengalir makin deras tanpa suara, matanya menatap layar televisi itu dengan pandangan kosong dan penuh trauma yang tak tertahankan.

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Alya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. "Papa... Mama..."

Kai menatap layar berita itu dengan raut wajah sangat tegang. Namun, alih-alih panik, Kai segera menepuk pelan bahu Alya untuk mengembalikan kesadarannya.

"Alya, lihat saya," bisik Kai tegas, menangkup kedua pipi Alya dengan tangan hangatnya. "Lihat saya, Alya!"

Alya menatap Kai dengan mata yang basah oleh duka yang mendalam.

"Orang tuamu tidak ada di pesawat itu," kata Kai pelan namun penuh kepastian.

Alya mengedipkan matanya yang basah, linglung. "A-apa...?"

"Tim saya baru saja memeriksa sistem manifests dan rekaman CCTV terminal," tutur Kai dengan tatapan mata yang jujur dan menenangkan. "Papa dan Mamamu tertinggal pesawat, Alya. Mereka terlambat masuk boarding gate karena jalanan tol sempat macet."

Alya membatu. Otaknya berusaha mencerna kata-kata Kai di tengah badai emosi yang menggejolak. "Ter... tertinggal?"

"Iya," jawab Kai seraya menyunggingkan senyum tipis yang penuh keharuan. "Mereka sedang menunggu jadwal penerbangan berikutnya di lounge area sebelah kanan."

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alya melepaskan diri dari dekapan Kai dan berbalik. Ia berlari sekuat tenaganya menuju area lounge eksekutif di sebelah kanan hall utama bandara.

Di sana, di dekat jajaran sofa kulit bernuansa cokelat, duduk dua sosok yang teramat diundangi dan dicintainya.

Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan kacamata baca, dan seorang wanita anggun berambut sanggul rapi. Mereka adalah Papa dan Mama Alya.

Keduanya sedang duduk bersandar seraya menatap layar televisi besar yang terpasang di dinding lounge—layar televisi yang sedang menayangkan berita duka hilang kontaknya pesawat GA-408. Wajah kedua orang tua Alya tampak amat syok, terperanjat, dan gemetar ketakutan melihat berita musibah penerbangan yang seharusnya mereka tumpangi beberapa menit lalu.

"Pak..." bisik Mama Alya dengan suara gemetar, memegangi lengan suaminya. "Itu... itu kan pesawat yang harusnya kita naiki tadi? Ya Tuhan... kita... kita selamat karena tertinggal pesawat..."

Papa Alya hanya bisa menelan ludah dengan wajah pucat, tak sanggup berkata-kata menyaksikan takdir ajaib yang baru saja meloloskan mereka dari maut.

Tiba-tiba, Papa Alya merasakan dorongan firasat emosional. Pria tua itu perlahan melirik ke sebelah kanan area pintu masuk lounge.

Pandangannya seketika terkunci pada sosok putri tunggalnya.

Alya berdiri di sana. Berdiri dengan gaun tidur yang terurai, tanpa alas kaki yang sempurna, rambutnya berantakan, dan air mata yang berlinang deras membasahi seluruh wajah cantiknya.

Alya menatap kedua orang tuanya dengan napas memburu dan tubuh yang bergetar hebat oleh rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta. Takdir kelam itu... berhasil diubahnya. Orang tuanya masih hidup. Mereka ada di depan matanya, utuh dan tak tersentuh oleh maut.

"Alya...?" panggil Mamanya kaget, berdiri dari sofa saat melihat putrinya berada di bandara dalam kondisi berderai air mata. "Alya! Kamu kenapa ada di sini, Nak? Kenapa kamu menangis seperti ini?"

Tanpa sanggup menahan ledakan emosinya lagi, Alya berlari dan berhambur ke dalam pelukan kedua orang tuanya.

Alya memeluk leher Papa dan Mamanya dengan teramat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu mereka seraya terisak keras di tengah keramaian bandara.

"Papa... Mama..." tangis Alya pecah, terisak-isak bagaikan anak kecil yang baru saja terbebas dari mimpi buruk yang mengerikan. "Jangan pergi... tolong jangan pernah tinggalkan Alya..."

Papa Alya yang masih terkejut refleks melingkarkan kedua tangannya, memeluk erat putri tercintanya dengan penuh kehangatan, sementara Mamanya mengusap punggung Alya seraya meneteskan air mata haru.

"Ada apa, Sayang? Papa sama Mama ada di sini..." bisik Papanya lembut, mencium kepala Alya dengan rasa kasih sayang yang melimpah. "Kami aman, Nak... Kami selamat..."

Beberapa meter dari tempat mereka berpelukan, Kai Aditya berdiri tegap.

Pria itu menyaksikan pemandangan hangat keluarga tersebut dengan senyuman tipis yang teramat tulus di bibirnya. Mata Kai yang tajam berkilat oleh keharuan. Ia tahu betapa besarnya beban trauma yang dipikul Alya selama ini, dan melihat wanita yang dicintainya akhirnya bisa menyelamatkan orang tuanya dari takdir kelam membuat dada Kai dipenuhi kedamaian yang tak ternilai.

Kai perlahan berbalik, memberi ruang emosional bagi Alya dan keluarganya, seraya merogoh ponselnya untuk memberikan satu perintah terakhir kepada tim hukum dan tim korporatnya:

"Persiapkan seluruh dokumen eksekusi untuk rapat komisaris besok pagi," bisik Kai dingin dan tegas di telepon. "Saatnya kita mengakhiri semua tikus yang pernah membuat Alya menderita."

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!