Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — Ular di Antara Serigala
Minggu pertama setelah makan malam di trattoria itu, Gerald mengiriminya pesan setiap pagi — tidak pernah panjang, kadang hanya sebaris tentang cuaca Milan atau sebuah lelucon kering tentang rapat yang membosankan, tapi selalu datang, seperti jam yang bisa diandalkan. Yao membalasnya dengan hati-hati pada awalnya, menghitung setiap kata sebelum mengirimnya, memastikan tidak ada satu pun yang bisa membongkar penyamarannya. Namun pada hari kesepuluh, ia mendapati dirinya membalas tanpa berpikir dua kali, tertawa sendirian di apartemennya membaca lelucon Gerald yang sebenarnya tidak terlalu lucu.
Ia membenci dirinya sendiri sedikit setiap kali itu terjadi.
Minggu kedua, Gerald mengajaknya jalan-jalan tengah malam di sepanjang Navigli, dua kali dalam satu minggu, keduanya berjalan dalam diam sesekali, keduanya sama-sama tidak terburu-buru untuk mengisi keheningan itu dengan kata-kata — sesuatu yang jarang dimiliki Yao dengan siapa pun, bahkan dengan Sofia. Ada satu malam ketika mereka berhenti di sebuah jembatan kecil, dan Gerald bercerita tentang seekor anjing yang pernah ia miliki saat kecil, satu-satunya makhluk hidup yang pernah benar-benar menyambutnya pulang sebelum ayahnya memutuskan anjing itu "mengganggu disiplin rumah tangga" dan menyingkirkannya. Yao mendengarkan cerita itu dengan dada sesak, menyadari betapa jarangnya Gerald membagikan potongan-potongan kecil masa lalunya seperti ini pada siapa pun.
Pada minggu ketiga, panggilan telepon larut malam mereka mulai berlangsung berjam-jam tanpa alasan jelas — percakapan yang dimulai dari hal-hal sepele dan berakhir dengan keduanya tertidur di telepon, hanya untuk bangun beberapa jam kemudian dan tertawa canggung karena menyadarinya. Yao tahu ini berbahaya. Setiap jam yang ia habiskan mengenal Gerald sebagai manusia, bukan sebagai target, adalah jam yang mengikis tembok yang telah ia bangun selama tujuh belas tahun.
Tapi Yao tidak melupakan tujuan sebenarnya. Setiap kali ia berada di mansion keluarga Moretti, matanya diam-diam mencatat setiap detail — rute keamanan, jadwal Enzo, ruangan mana yang paling sering digunakan untuk pertemuan rahasia. Ia membagi dirinya menjadi dua orang setiap malam: satu yang tertawa tulus pada lelucon Gerald, dan satu lagi yang menghitung langkah penjaga, mengukur jarak antara pintu dan jendela, menyimpan setiap detail kecil dalam ingatan seperti peluru yang disimpan untuk perang yang akan datang. Semakin lama, semakin sulit ia membedakan mana dari kedua wanita itu yang sebenarnya ia rasakan sebagai dirinya.
Malam itu, Gerald mengundangnya ke mansion untuk pertama kalinya, sebuah jamuan makan malam keluarga yang menurutnya "santai" tapi ternyata dipenuhi para kapten keluarga Moretti dan istri-istri mereka yang menatap Yao dengan campuran rasa ingin tahu dan kecurigaan.
Mansion itu sendiri jauh lebih megah dari yang Yao bayangkan — sebuah bangunan bergaya neoklasik dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang di pintu masuk, dikelilingi taman yang tertata rapi dengan air mancur di tengahnya. Di dalam, langit-langit tinggi dihiasi lukisan fresko yang menggambarkan adegan-adegan mitologi Yunani, sebuah kemewahan yang terasa aneh berdampingan dengan kekejaman yang Yao tahu bersembunyi di balik setiap sudutnya.
Contessa, seorang wanita berusia lima puluhan dengan postur tegak dan mata yang menilai setiap gerakan Yao, duduk di seberang meja panjang itu, jelas menjadi salah satu figur paling dihormati di antara para kapten yang hadir.
"Jadi Anda yang telah menyita begitu banyak perhatian Gerald akhir-akhir ini," katanya, suaranya manis namun mengandung nada menyelidik yang tidak bisa disembunyikan. "Kami semua penasaran, Signorina Lindqvist."
"Saya tidak bermaksud menyita apa pun," jawab Yao sopan, mencoba menjaga nada suaranya tetap ringan. "Gerald yang mengundang saya malam ini."
"Tentu saja," jawab Contessa, tersenyum tipis yang tidak sepenuhnya ramah.
Enzo duduk di ujung meja, mengamati Yao sepanjang malam dengan mata yang tak pernah benar-benar berkedip lama.
"Jadi," kata Enzo akhirnya, suaranya halus tapi penuh muslihat, "Signorina Lindqvist. Dari mana asal keluarga Anda sebenarnya?"
Yao merasakan seluruh meja menajamkan perhatian mereka, meski berpura-pura sibuk dengan makanan masing-masing. "Ibu saya dari Swedia," jawabnya tenang, mengulangi kebohongan yang sudah ia latih beribu kali. "Ayah saya dari Italia Utara. Keduanya sudah lama meninggal."
"Menarik," kata Enzo, tersenyum tipis yang tidak menyentuh matanya sama sekali. "Karena Anda memiliki... bagaimana saya mengatakannya... kemiripan tertentu dengan seseorang yang pernah saya kenal."
Jantung Yao berdegup kencang, tapi wajahnya tetap datar seperti batu. "Dunia ini penuh kebetulan, Signor Bastiani."
"Memang," jawab Enzo, matanya masih menatap tajam. "Tapi dalam pengalaman saya, kebetulan jarang benar-benar kebetulan."
Gerald, yang duduk di sebelah Yao, merasakan ketegangan di udara dan segera menengahi. "Enzo, cukup interogasinya. Yao adalah tamuku."
"Aku hanya penasaran, Gerald," jawab Enzo, mengangkat bahu seolah tidak bersalah. "Kau tahu betapa pentingnya mengenal orang-orang yang mendekatimu."
Malam itu berlanjut dengan ketegangan yang tersembunyi di balik senyum-senyum sopan, dan saat jamuan berakhir, Yao merasa lega bisa keluar dari mansion itu tanpa insiden lebih lanjut.
Tapi saat ia hendak masuk ke mobilnya, sebuah suara memanggilnya dari kegelapan.
"Signorina Lindqvist." Enzo berdiri di bawah bayangan pohon cemara, wajahnya setengah tersembunyi dalam gelap. "Boleh saya beri sedikit nasihat?"
"Silakan," jawab Yao, waspada.
"Dunia kami tidak mengampuni mereka yang bermain terlalu dekat dengan api tanpa mengetahui apa yang sedang mereka bakar," kata Enzo pelan, matanya menusuk tajam ke arah Yao. "Siapa pun Anda sebenarnya — dan saya yakin Anda bukan siapa yang Anda klaim — berhati-hatilah. Gerald mungkin terlihat lembut untuk Anda sekarang, tapi darah Moretti mengalir dalam dirinya. Ia akan melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya, termasuk menghancurkan siapa pun yang mengkhianatinya."
Yao menatap balik, memaksa dirinya tetap tenang meski dadanya bergemuruh. "Terima kasih atas nasihatnya, Signor Bastiani. Tapi saya rasa Anda salah menilai saya."
"Kita lihat saja," jawab Enzo, tersenyum tipis sebelum berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan mansion.
Yao masuk ke mobilnya dengan tangan gemetar, menyadari bahwa Enzo mulai mencurigainya — dan bahwa waktu yang ia miliki untuk menyelesaikan misinya mungkin jauh lebih singkat dari yang ia kira.
Sepanjang perjalanan pulang, ia memutar kembali setiap kata yang diucapkan Enzo, mencoba mencari celah dalam ancaman tersembunyi itu — apakah ia benar-benar sudah tahu identitas aslinya, ataukah ini hanya kecurigaan umum yang biasa ditunjukkan seorang penasihat tepercaya terhadap orang asing yang mendekati keluarganya? Ia tidak bisa memastikannya, dan ketidakpastian itu sendiri terasa seperti pisau yang tergantung di atas kepalanya.
Ia mengirim pesan singkat pada Marco malam itu juga: Enzo mulai curiga. Aku butuh mempercepat rencana kita. Berapa lama lagi sebelum kau bisa mendapatkan akses ke arsip finansial keluarga Moretti?
Balasan Marco datang setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya: Aku sedang berusaha, tapi sistem keamanan digital mereka jauh lebih ketat dari yang kuduga. Beri aku waktu, Yao. Jangan bertindak gegabah hanya karena satu orang tua yang paranoid.
Yao menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang dingin, menyaksikan lampu-lampu Milan berkelap-kelip melewati pandangannya. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di kota ini, ia merasakan keraguan yang mengganggu — bukan tentang rencananya, tapi tentang seberapa jauh ia sudah membiarkan dirinya terjerat dalam kehangatan yang ditawarkan Gerald, kehangatan yang seharusnya tidak pernah ia izinkan untuk terasa senyata ini.