NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:310.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Nama yang Terlambat Dikenali

Arga keluar dari rumah sakit seminggu setelah operasi.

Dokter Rendra memberi daftar obat, jadwal kontrol, dan larangan panjang yang membuat Arga ingin langsung membuang kertas itu. Bima mengambilnya lebih dulu dan memasukkan ke map.

"Saya yang simpan. Kalau Komandan pegang, hilang sebelum sampai mobil."

Arga tidak membantah.

Di lobi, Mama Renata sudah menunggu dengan wajah ketat. Di sampingnya Papa Surya berdiri seperti hakim. Arga tahu kepulangannya tidak akan disambut dengan pelukan hangat.

"Ma."

"Jangan manja. Kamu belum selesai dihukum."

Bima pura-pura melihat pilar.

Papa Surya mengambil tas Arga. "Pulang ke rumah dulu. Setelah itu kontrol sesuai jadwal."

Arga menatap pintu IGD.

Mama Renata langsung tahu. "Nadira sedang operasi. Jangan ganggu."

"Aku cuma..."

"Cuma apa? Mau berdiri di depan ruang operasi seperti orang paling menderita? Jangan bikin perawat gosip."

Arga terdiam.

Bima hampir tersedak.

Mama Renata melanjutkan, "Kalau kamu mau mengejar Nadira, lakukan dengan benar. Jangan ganggu pekerjaannya, jangan pakai anak buahmu untuk memata-matai berlebihan, dan jangan membuat dia merasa kamu mengepung hidupnya."

Arga menatap Bima.

Bima cepat berkata, "Saya tidak merasa disindir, Tante."

"Bagus kalau merasa."

Mereka pulang ke rumah Wijaya. Begitu masuk, Arga merasakan sesuatu yang berbeda.

Rumah itu masih sama. Sofa besar, foto keluarga, aroma masakan Mama Renata. Tapi ada ruang kosong yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.

Di meja ruang tengah biasanya ada mug Nadira. Di rak dekat tangga biasanya ada tas kerja Nadira. Di dapur biasanya ada catatan kecil jadwal obat Papa Surya yang ditulis tangan.

Semua hilang.

Arga berhenti di depan kamar yang dulu ditempati Nadira.

Pintunya terbuka.

Kamar itu rapi, terlalu rapi. Seperti kamar tamu. Tidak ada buku medis, tidak ada selimut favorit, tidak ada aroma sabun Nadira.

Arga berdiri di ambang pintu lama sekali.

Mama Renata muncul di belakangnya.

"Sepi, kan?"

Arga tidak menjawab.

"Empat tahun dia mengisi rumah ini. Kamu baru sadar setelah dia pergi."

"Ma, aku tahu aku salah."

"Belum cukup."

Arga menoleh.

Mama Renata masuk ke kamar dan membuka laci meja. Ia mengambil sebuah buku kecil. "Ini catatan Nadira. Jadwal obat Papa, jadwal kontrol Mama, nomor dokter jantung, daftar makanan yang tidak boleh Papa makan diam-diam. Dia tinggalkan supaya kami tidak kesulitan."

Arga menerima buku itu.

Tulisan Nadira rapi, kecil, penuh tanda warna.

Mama Renata berkata pelan, "Dia pergi tanpa mengambil apa pun yang bukan miliknya. Tapi yang dia tinggalkan justru hal-hal yang membuat Mama makin merasa kehilangan."

Arga menggenggam buku itu.

"Aku akan membawanya pulang."

"Jangan bicara seperti mengambil barang. Dia bukan milikmu yang bisa kamu bawa pulang kapan saja."

Arga mengangguk. "Aku akan membuat dia mau pulang."

"Itu lebih baik."

Hari-hari berikutnya, Arga belajar sesuatu yang lebih sulit daripada operasi lapangan: menunggu tanpa memaksa.

Ia mengirim makanan ke rumah sakit, tapi selalu atas nama Mama Renata. Ia mengirim obat untuk kaki Nadira, tapi tidak menuntut ucapan terima kasih. Ia datang kontrol tepat waktu, tapi tidak meminta Nadira mengganti dokter Rendra.

Namun ia tetap mencari celah untuk melihatnya.

Suatu sore, ia datang ke acara donor darah yang diadakan rumah sakit. Secara resmi, ia hadir sebagai perwakilan satuan yang menjadi mitra kegiatan. Secara tidak resmi, Bima tahu komandannya datang karena Nadira menjadi dokter pengawas.

"Komandan pakai batik rapi sekali," komentar Bima.

"Acara rumah sakit."

"Biasanya Komandan datang ke acara rumah sakit pakai jaket hitam dan muka mengancam."

"Diam."

Di aula rumah sakit, Nadira berdiri di meja pemeriksaan. Ia memeriksa tekanan darah calon pendonor, memberi instruksi, sesekali berbicara dengan relawan.

Di sisi lain ruangan, seorang pria tampan dengan setelan mahal berjalan mendekatinya.

Arga langsung mengenali pria itu dari informasi Bima.

Kevin Hartono.

Pengusaha muda dari keluarga Hartono, donatur besar rumah sakit. Kakak angkat Vania. Pria yang beberapa kali disebut media sebagai lajang paling diincar di Jakarta.

Kevin tersenyum pada Nadira.

"Dokter Nadira, akhirnya kita bertemu lagi."

Nadira membalas sopan. "Pak Kevin. Terima kasih sudah mendukung acara ini."

"Kalau yang meminta Cakra Medika, saya sulit menolak. Apalagi kalau dokter pengawasnya Anda."

Bima di samping Arga langsung menegang. Ia bisa merasakan suhu tubuh komandan naik.

Nadira tidak terpancing. "Silakan daftar kalau ingin donor. Tim akan cek kondisi Bapak."

Kevin tertawa. "Langsung formal sekali."

"Ini acara medis, Pak."

"Baik. Kalau begitu setelah acara medis selesai, boleh saya mengundang Dokter Nadira makan malam?"

Arga melangkah.

Bima refleks menahan lengannya. "Komandan."

Arga berhenti, tapi matanya tetap tajam.

Nadira juga diam sedetik. Ia tahu Arga ada di ruangan itu. Ia melihatnya sejak pria itu masuk dengan batik gelap dan wajah sok tenang.

"Maaf, Pak Kevin. Saya ada jadwal."

"Besok?"

"Besok juga."

"Kalau begitu kapan Dokter kosong?"

Nadira tersenyum tipis. "Untuk pasien, silakan buat janji lewat rumah sakit. Untuk makan malam, saya tidak membuka jadwal."

Beberapa relawan yang mendengar menahan tawa.

Kevin mengangkat tangan menyerah. "Baik. Saya mundur sementara."

Ia pergi dengan tetap tersenyum.

Arga merasa bahunya sedikit turun.

Bima berbisik, "Komandan tidak perlu bertindak. Beliau bisa menolak sendiri."

Arga menatap Nadira.

Benar.

Nadira tidak butuh diselamatkan dari setiap pria. Ia bisa menjaga batasnya sendiri.

Namun beberapa menit kemudian, ponsel Arga bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal lagi.

Kevin Hartono tidak mudah menyerah. Dokter Nadira mungkin lebih cocok dengan pria yang tidak pernah meninggalkannya empat tahun.

Arga menatap pesan itu.

Kali ini ia tidak langsung terbakar. Ia justru mengirim nomor itu ke Bima.

"Lacak."

Bima mengangguk. "Siap."

Arga berjalan mendekati meja Nadira setelah antrean pendonor berkurang. Ia berhenti pada jarak yang sopan.

"Dokter Nadira."

Nadira tidak mengangkat kepala dari formulir. "Mayor Arga."

"Saya mau daftar donor."

Nadira akhirnya menatapnya. "Anda baru operasi."

"Jadi tidak boleh?"

"Tidak boleh."

"Saya ingin berpartisipasi."

"Partisipasi terbaik Anda adalah duduk dan tidak membuat dokter jaga marah."

Bima menunduk, bahunya bergetar.

Arga menahan senyum. "Baik."

Nadira kembali menulis.

Arga tidak pergi.

"Ada lagi?"

"Aku menemukan buku catatanmu di rumah."

Tangan Nadira berhenti.

"Jadwal obat Papa dan Mama?"

"Iya."

"Itu untuk mereka. Bukan untuk Mas."

"Aku tahu. Aku cuma ingin bilang, terima kasih."

Nadira tidak menjawab.

Arga melanjutkan, "Aku tidak pernah tahu kamu melakukan sebanyak itu."

"Karena Mas tidak ada."

Kalimat itu pendek, tapi Arga menerimanya.

"Iya."

Nadira mengangkat kepala, mungkin tidak menyangka ia tidak membantah.

Arga berkata, "Aku tidak akan meminta kamu memaafkan hari ini. Aku hanya akan mulai tahu hal-hal yang dulu tidak kupedulikan."

Nadira menatapnya beberapa detik.

Sebelum ia menjawab, seorang perawat memanggil dari pintu aula.

"Dokter Nadira, ada telepon dari ruang IGD. Pasien kecelakaan masuk."

Nadira langsung berdiri. "Saya ke sana."

Arga mundur memberi jalan.

Saat Nadira melewatinya, ia berkata pelan, "Jangan pulang sendiri malam ini. Kalau kamu tidak mau aku antar, minta Maya atau Fadli."

Nadira berhenti.

"Mas masih memberi perintah?"

"Bukan. Ini permintaan."

Nadira menatapnya, lalu berkata, "Saya akan hubungi Maya."

Itu bukan jawaban hangat, tapi bagi Arga, itu lebih baik daripada diam.

Nadira pergi cepat ke IGD.

Di ujung aula, Vania Hartono berdiri sambil memegang gelas kopi. Ia melihat interaksi Arga dan Nadira dari awal.

Kevin menghampirinya.

"Kamu lihat?"

Vania tersenyum tipis. "Dokter itu menarik."

"Jangan ganggu dia."

"Kenapa? Kak Kevin suka?"

Kevin tidak menjawab.

Vania melihat ke arah Arga. "Kalau begitu kita punya masalah yang sama. Aku juga tidak suka dia terlalu dekat dengan pria yang bukan miliknya."

Kevin mengerutkan kening. "Vania."

Vania menyesap kopi. "Tenang. Aku cuma bicara."

Tapi di ponselnya, pesan untuk Laras sudah terkirim.

Malam ini kita bertemu. Aku tahu cara membuat Nadira terlihat buruk di mata semua orang.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!