Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Di sebuah taman bunga yang nampak begitu indah, dari sisi bersebrangan Elio melihat Calista memandang sendu ke arahnya. "Calista....." Perlahan Elio berjalan ke arah istrinya. Namun, sosok Calista justru menjauh ketika ia semakin mendekat.
"Aku sangat merindukanmu, hubby...."
Elio mendengar lamat-lamat suara Calista mengungkapkan kerinduan kepadanya, sebelum akhirnya sosok Calista menghilang dari pandangannya.
"Calista...."
Elio terjaga dengan sekujur tubuh yang sudah bercucuran keringat. Elio langsung memandang ke arah tempat tidur, di mana saat ini sang istri nampak terlelap. "Ternyata cuma mimpi." Elio bergumam dengan perasaan lega, ternyata ia hanya bermimpi. "Tapi mengapa rasanya seperti nyata?." Kedua bola mata Elio sampai berkaca-kaca, seolah mimpinya barusan adalah sebuah kenyataan.
Elio kembali merebahkan tubuhnya di sofa, sedangkan pandangannya masih terus tertuju pada sang istri.
"Tenanglah Elio...Itu hanya bunga-bunga tidur saja!." Elio berusaha menenangkan diri sendiri hingga akhirnya kembali tertidur. Pada saat kembali tertidur, Elio justru kembali bermimpi. Dari kejauhan ia melihat sosok istrinya tengah berdiri di tepi jurang yang terjal sambil mengusap jejak air mata di pipi.
"Apa yang kamu lakukan di sana, Calista?." Elio yang panik perlahan mengayunkan langkah mendekat pada istrinya.
"Aku sudah tidak kuat lagi, Hubby...." Elio masih dapat mendengar dengan jelas suara istrinya.
"Jangan bicara seperti itu, sayang! Aku sangat mencintaimu Calista. Jangan melakukan tindakan konyol, sayang!." Elio terus mendekat ke arah istrinya, namun tiba-tiba Calista melompat ke jurang hingga membuat Elio berteriak histeris.
"Sayang...."
"Mas...." Diva mengguncang pelan bahu Elio agar pria itu terbangun dari tidurnya.
Beberapa saat lalu Diva terjaga karena ingin buang air kecil, namun setelah keluar dari kamar mandi ia mendengar Elio terus meracau dalam tidurnya. Awalnya Diva tidak mau terlalu ambil pusing, namun saat mendengar Elio tiba-tiba berteriak histeris, Diva memutuskan mendekat dan membangunkan pria itu.
Elio membuka mata.
"Calista...." Seru Elio, sedikit terkejut menyadari keberadaan istrinya merunduk dihadapannya. Tanpa banyak bicara lagi, Elio langsung duduk dan menarik pelan tubuh istrinya ke dalam pelukan.
Tubuh Diva membeku untuk sesaat ketika Elio tiba-tiba memeluknya.
"Aku bermimpi kamu melompat dari jurang, Calista." Sudut mata Elio mulai basah oleh air mata. Sungguh, mimpinya barusan seperti nyata hingga Elio tak sanggup membendung air mata.
Diva terdiam, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Apa mungkin mimpi tuan Elio ada hubungannya dengan jiwa Calista? Pertanyaan itu tiba-tiba terbesit di benak Diva.
"Apa mungkin jiwaku dan Calista tertukar?."
"Tidak mungkin.... itu tidak mungkin...." Batin Diva, menepis dugaan yang terlintas dibenaknya. Semakin Diva menepis malah semakin kuat dugaan itu menyeruak di benaknya.
"Aku harus segera kembali ke kota asalku! Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ragaku di sana." Diva masih sibuk membatin hingga tak menyadari jika kini Elio sudah mengurai pelukan diantara mereka dan menatapnya dengan intens.
Diva baru tersadar ketika merasakan hangatnya bi-bir Elio menempel pada bi-bir mungilnya. "Cup."
Diva spontan menarik diri untuk memberi jarak di antara mereka.
"Apa yang mas lakukan?."
"Maaf bila sikapku selama setahun terakhir telah melukai hatimu, sayang."
Diva tak merespon permintaan maaf Elio, ia hanya diam mematung.
"Aku tahu kamu masih marah, tapi tolong jangan pernah berpikir untuk melakukan hal konyol lagi, Calista!." Elio meraih tangan istrinya dan membawanya ke dalam genggaman.
Diva hanya meresponnya dengan anggukan singkat, sebelum sesaat kemudian pamit kembali ke tempat tidur.
*
Keesokan paginya, Diva langsung menelepon Rika guna menyampaikan rencananya yang akan berangkat ke kota asal mereka pagi ini juga. Awalnya Rika mencoba mencegahnya karena tidak ingin sampai Diva mendapat masalah karena pergi tanpa izin dari Elio, namun setelah mendengar cerita Diva tentang mimpinya dan juga mimpi Elio semalam, pada akhirnya Rika menawarkan diri untuk menemani Diva kembali ke kota asal mereka.
Setelah mengantarkan Elhan ke sekolah, Diva lanjut menuju kontrakan Rika dengan mengemudikan mobil milik Calista. Tak lupa sebelum meninggalkan kediaman Dirgantara beberapa saat yang lalu, Diva berpesan pada sopir pribadi keluarga untuk menjemput Elhan sepulang sekolah nanti, dengan alasan ia masih ada urusan sehingga tak sempat menjemput Elhan di sekolahnya. Untuk menghindari kecurigaan semua orang terutama Elio, Diva bahkan tidak membawa pakaian selembar pun, selain pakaian dibadan. Dengan bermodalkan petunjuk dari google maps, Diva berhasil menemukan keberadaan kontrakan Rika. Setelah menjemput Rika, Diva kembali melajukan mobilnya menuju bandara.
"Apa kau yakin tidak perlu meminta izin pada tuan Elio?." Rika khawatir Diva akan mendapat masalah nantinya.
"Tidak perlu." Jika ia meminta izin, pasti akan ada banyak pertanyaan dari Elio.
*
Di gedung Dirgantara Group, tepatnya di ruang pimpinan, Elio nampak duduk melamun di kursi kebesarannya. Pria itu masih saja kepikiran dengan mimpi buruknya semalam.
"Sebaiknya aku menghubungi Calista." Gumam Elio yang khawatir istrinya diam-diam kembali melakukan tindakan konyol seperti sebelum-sebelumnya, dan amit-amit mimpi buruknya semalam benar-benar kejadian.
Saat melakukan panggilan telepon ternyata nomor kontak Calista sedang berada di luar jangkauan. Elio jadi cemas, hingga meminta asisten pribadinya untuk mengecek keberadaan istrinya melalui GPS yang terpasang pada mobil Calista.
Beberapa saat kemudian Elio diberitahu oleh sang asisten bahwa saat ini keberadaan GPS mobil Calista terdeteksi di area bandara.
"Di area bandara?." Cicit Elio.
"Benar tuan."
"Antarkan saya ke sana sekarang!." Elio bangkit dari duduknya dan berlalu, sementara sang asisten mengekor dibelakang langkah pria itu.
"Lebih cepat lagi!." Elio memerintahkan kepada asisten pribadinya untuk menambah kecepatan mobilnya agar mereka segera tiba di bandara.
"Baik, tuan."
Benar saja, saat memperhatikan satu-persatu mobil yang terparkir di area bandara, Elio menangkap keberadaan mobil istrinya terparkir bersama deretan mobil pengunjung lainnya.
Elio berlari kecil memasuki Gedung bandara untuk mencari keberadaan istrinya. Namun hingga dua puluh menit mengelilingi area gedung, Elio tak juga menemukan keberadaan istrinya. Hingga akhirnya, Elio memutuskan bertanya pada petugas resepsionis bandara dan menurut informasi dari petugas tersebut nama istrinya berada dalam list penumpang pesawat dengan tujuan kota P.
"Untuk kepentingan apa Calista ke kota itu?." Elio dibuat bertanya-tanya, mengingat selama ini Calista tidak pernah cerita padanya kalau memiliki kerabat di kota itu.
"Pesan tiket sekarang! Aku akan menyusul istriku!." Titah Elio pada asisten pribadinya.
"Baik, tuan."
Di saat Elio sedang menunggu asisten pribadinya mengurus tiket keberangkatan mereka, Diva justru baru saja menginjakkan kaki kembali di kota asalnya.
Jantung Diva berdebar lebih kencang dari biasanya ketika ia dan Rika telah berada di dalam sebuah taksi online yang kini melaju menuju kontrakan orang tuanya.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣